Kebahagiaan Dunia dan Akhirat Terletak Pada Agama Yang Hak



السعادة الدنيوية والأخروية تكمن في الدين الحق

Kebahagiaan Dunia dan Akhirat Terletak Pada Agama Yang Hak

Alih Bahasa : Reza Ervani bin Asmanu

Artikel Kebahagiaan Dunia dan Akhirat Terletak Pada Agama Yang Hak ini masuk dalam Kategori Tanya Jawab Aqidah

السؤال:

Pertanyaan:

بسم الله الرحمن الرحيم
السلام عليكم ورحمة الله وبركاته:
معظم الشباب بل معظم الناس يعتقدون أن البهجة والانبساط تكمن فقط في الأفعال التي قد تغضب الله هل لي أن تدلوني على بعض الأشياء التي تسعد الناس دونما يكون فيها معصية لله وكيف لنا أن نستمتع بعبادتنا ونحس فيها بالسعادة وكيف لنا أن نوطن النفوس ونجعلها تستكين وتحس في عبادتها لله بكل سعادة ، افيدونا أفادكم الله وجزاكم الله خيراً والسلام عليكم ورحمة الله وبركاته.

Bismillahirrahmanirrahim.
Assalamu ‘alaikum warahmatullahi wabarakatuh.
Sebagian besar pemuda, bahkan sebagian besar manusia meyakini bahwasanya kegembiraan dan kesenangan itu hanya terletak pada perbuatan-perbuatan yang dapat memancing kemurkaan Allah. Maukah Anda menunjukkan kepada saya beberapa hal yang dapat membahagiakan manusia tanpa mengandung kemaksiatan kepada Allah? Bagaimanakah cara agar kita dapat menikmati ibadah kita dan merasakan kebahagiaan di dalamnya? Dan bagaimanakah cara melatih jiwa agar merasa tenang dan menikmati ibadahnya kepada Allah dengan penuh kebahagiaan? Mohon beri kami penjelasan, semoga Allah memberikan faedah ilmu kepada Anda dan membalas Anda dengan kebaikan.
Wassalamu ‘alaikum warahmatullahi wabarakatuh.

الإجابــة:

Jawaban:

الحمد لله، والصلاة والسلام على رسول الله، وعلى آله وصحبه، أما بعد:

Segala puji bagi Allah, shalawat dan salam semoga tercurah kepada Rasulullah, keluarga, dan para sahabat beliau. Amma ba‘du:

فإن كثيراً من الشباب اليوم -لفرط جهلهم وقلة فهمهم- يعتقدون أن كل من تمسك بهذا الدين يجب أن يكون له شكل معين.

Maka sesungguhnya banyak di antara pemuda hari ini—dikarenakan besarnya ketidaktahuan dan minimnya pemahaman mereka—meyakini bahwasanya setiap orang yang berpegang teguh pada agama ini harus memiliki bentuk atau penampilan fisik yang terisolasi dari masyarakat.

ولم يكن أصحاب رسول الله صلى الله عليه وسلم يتميزون عن الناس بشيء، وإنما كانوا جزءا من مجتمعهم يعيشون معه الأفراح والأتراح، بل كان الرسول صلى الله عليه وسلم مخالطاً للناس يداعبهم ويضحك معهم، وينشد معهم الأناشيد ثبت ذلك كله في السنة.

Padahal para sahabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak pernah mengasingkan diri dari manusia dalam kehidupan sehari-hari, melainkan mereka merupakan bagian dari masyarakatnya yang menjalani kegembiraan dan duka bersama. Bahkan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sendiri biasa berbaur dengan masyarakat, bersendagurau dengan mereka, tertawa bersama mereka, serta mendendangkan bait-bait syair/nasyid bersama mereka, yang mana keseluruhan hal tersebut telah shahih penjelasannya di dalam As-Sunnah.

وكان صلى الله عليه وسلم وهو الأسوة الحسنة أنظف الناس ثياباً وأطيبهم ريحا، يقول أنس رضي الله عنه، خدمت رسول الله صلى الله عليه وسلم عشر سنين.. فما رأيت أنظف منه ثياباً ولا أطيب ريحا.

Dan beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam—yang merupakan teladan terbaik—adalah orang yang paling bersih pakaiannya dan paling harum aromanya. Anas radhiyallahu ‘anhu berkata: “Aku telah melayani Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam selama sepuluh tahun, maka tidak pernah aku melihat pakaian yang lebih bersih dari pakaian beliau dan tidak pula wewangian yang lebih harum dari aroma beliau.”

فهذه هي تعاليم الإسلام ونبينا صلى الله عليه وسلم كان خلقه القرآن، يقول الله تعالى:

Maka inilah ajaran Islam, dan Nabi kita shallallahu ‘alaihi wa sallam akhlaknya adalah Al-Qur’an. Allah Ta‘ala berfirman:

﴿ وَابْتَغِ فِيمَا آتَاكَ اللَّهُ الدَّارَ الْآخِرَةَ وَلَا تَنْسَ نَصِيبَكَ مِنَ الدُّنْيَا ﴾ [القصص: ٧٧]

“Dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu (kebahagiaan) negeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan bagianmu dari (kenikmatan) dunia.” [Surah Al-Qashash: 77]

ويقول تعالى:

Dan Allah Ta‘ala berfirman:

﴿ يَا بَنِي آدَمَ خُذُوا زِينَتَكُمْ عِنْدَ كُلِّ مَسْجِدٍ وَكُلُوا وَاشْرَبُوا وَلَا تُسْرِفُوا إِنَّهُ لَا يُحِبُّ الْمُسْرِفِينَ ﴾ [الأعراف: ٣١]

“Wahai anak cucu Adam! Pakailah pakaianmu yang indah di setiap (memasuki) masjid, makan dan minumlah, dan jangan berlebih-lebihan. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berlebih-lebihan.” [Surah Al-A‘raf: 31]

فهذا الدين ملائم لفطرة الإنسان يلبي كل رغباته المادية والروحية، ففي الصحيحين عن عبد الله بن عمرو رضي الله عنهما، أن النبي صلى الله عليه وسلم قال له:

Maka agama ini sangat sesuai dengan fitrah manusia, memenuhi seluruh kebutuhan jasmani dan rohaninya secara seimbang. Di dalam Ash-Shahihain dari ‘Abdullah bin ‘Amr radhiyallahu ‘anhuma bahwasanya Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda kepadanya:

((إن لربك عليك حقا، وإن لبدنك عليك حقا، وإن لأهلك عليك حقا، وإن لزورك عليك حقا، فأعط كل ذي حق حقه))

“Sesungguhnya Rabbmu memiliki hak atas dirimu, jasadmu memiliki hak atas dirimu, istrimu/keluargamu memiliki hak atas dirimu, dan tamumu memiliki hak atas dirimu; maka berikanlah kepada setiap yang memiliki hak haknya masing-masing.”

وفي صحيح مسلم عن حنظلة بن ربعي رضي الله عنه، أن رسول الله صلى الله عليه وسلم قال له:

Dan di dalam Shahih Muslim dari Hanzhalah bin ar-Rabi‘ radhiyallahu ‘anhu bahwasanya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda kepadanya:

((ولكن يا حنظلة ساعة وساعة))

“Akan tetapi wahai Hanzhalah, sesaat untuk ibadah dan sesaat untuk urusan duniawi (keluarga/mencari nafkah).”

فهذا التوازن الذي يضع كل شيء في محله ويعطي كل ذي حق حقه، لا يوجد إلا في دين الله الذي لم يحرف ولم يبدل.. وهو دين الإسلام.

Maka keseimbangan (at-tawazun) yang menempatkan segala sesuatu pada porsinya serta memberikan hak kepada setiap pemiliknya ini tidak akan dijumpai melainkan di dalam agama Allah yang tidak terdistorsi dan tidak diubah… yaitu agama Islam.

ولهذا نلاحظ طغيان الجانب الروحي على الديانة المسيحية المحرفة مما جعلهم يرفضونها، ويتمردون عليها لأنها تصطدم بالفطرة الإنسانية، ونرى الفلسفة المادية الغربية تهمل الجانب الروحي مما أدى بكثير منهم إلى الفرار منها لإشباع خوائهم الروحي… بل ربما أدى بهم ذلك إلى الانتحار -والعياذ بالله- وذلك للتخلص من الهموم.

Oleh karena itulah kita melihat dominasi aspek spiritual secara berlebihan pada agama Kristen yang telah terdistorsi, sehingga membuat para pemeluknya menolak dan memberontak terhadapnya karena bertabrakan dengan fitrah kemanusiaan. Di sisi lain, kita melihat filsafat materialisme Barat mengabaikan aspek spiritual yang menyebabkan banyak di antara mereka berusaha lari darinya untuk memenuhi kekosongan rohani mereka… bahkan hal itu terkadang mengantarkan mereka pada tindakan bunuh diri—wal-‘iyadzu billah—untuk melepaskan diri dari himpitan kecemasan.

فالذي يسعد الناس في هذه الحياة وبعد الممات هو التوازن الطبيعي الذي فطر الله عليه الناس، وإعطاء كل ذي حق حقه بحيث لا يطغى جانب على جانب.

Maka hal yang membahagiakan manusia di dalam kehidupan ini dan setelah kematian adalah keseimbangan alaminya yang telah Allah fitrahkan bagi manusia, serta pemberian hak kepada setiap pemiliknya tanpa ada satu aspek yang mengorbankan atau mendominasi aspek lainnya.

والذي يجعل المسلم يسعد بعبادة ربه هو الإيمان العميق والحب لله ولرسوله ودينه، فبذلك يطمئن قلبه ويسعد بعبادته.

Dan hal yang menjadikan seorang muslim bahagia dalam beribadah kepada Rabbnya adalah keimanan yang mendalam serta rasa cinta (al-hubb) kepada Allah, Rasul-Nya, dan agama-Nya. Dengan itulah hatinya menjadi tenteram dan dia merasakan kebahagiaan dalam ibadahnya.

﴿ الَّذِينَ آمَنُوا وَتَطْمَئِنُّ قُلُوبُهُمْ بِذِكْرِ اللَّهِ أَلَا بِذِكْرِ اللَّهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ * الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ طُوبَى لَهُمْ وَحُسْنُ مَآبٍ ﴾ [الرعد: ٢٨-٢٩]

“(Yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenteram. Orang-orang yang beriman dan mengerjakan kebajikan, bagi mereka kebahagiaan dan tempat kembali yang baik.” [Surah Ar-Ra‘d: 28-29]

ولهذا كان صلى الله عليه وسلم إذا حزبه أمر فزع إلى الصلاة ويقول: جعلت قرة عيني في الصلاة. ويقول: أرحنا بها يا بلال.

Oleh karena itulah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam apabila ditimpa suatu permasalahan pelik, beliau bersegera mendirikan shalat seraya bersabda: “Dijadikan penyejuk mataku berada di dalam shalat.” Dan beliau bersabda: “Istirahatkanlah kami dengan shalat, wahai Bilal!”

وكان الصحابي يذهب إلى أخيه ليحدثه عن الإيمان فيقول له :اجلس بنا نؤمن ساعة.. لأنه يجد السعادة والمتعة في العبادة والحديث عن الدين.

Dan dahulu seorang sahabat mendatangi saudaranya untuk membicarakan tentang keimanan seraya berkata kepadanya: “Duduklah bersama kami, mari kita beriman sejenak (meningkatkan iman).” Sebab dia mendapati kebahagiaan dan kenikmatan dalam beribadah serta memperbincangkan agama.

وأخطر شيء على قلب المسلم هو البعد عن الله وكثرة المعاصي ومخالطة أهل الغفلة، وطول الأمل.

Dan perkara yang paling berbahaya bagi hati seorang muslim adalah menjauh dari Allah, banyaknya kemaksiatan, bergaul erat dengan orang-orang yang lalai, serta panjang angan-angan duniawi (thul al-amal).

والله أعلم.

Wallahu a’lam.

Sumber : IslamWeb



Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*


This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.