كل مولود يولد متهيئاً للإسلام
Setiap Bayi Lahir Dalam Keadaan Siap Menerima Islam
Alih Bahasa : Reza Ervani bin Asmanu
Artikel Setiap Bayi Lahir Dalam Keadaan Siap Menerima Islam ini masuk dalam Kategori Tanya Jawab Aqidah
السؤال:
Pertanyaan:
السلام عليكم
فى يوم من الأيام سألني سائل وهو غير مسلم وقال لي لماذا أنت مسلم ولست نصرانيا؟ وقال لي أيضا أنني سأجيبه بأني ولدت لأبوين مسلمين ولكنني أجبت عليه بأن التقليد ليس مقاما حقيقيا للإيمان الصادق إلا أني لم أستطع أن أرد عليه قوله لي بأن أًصبح مسلما وليس نصرانيا وسؤالي: لماذا اتبعنا ملة الإسلام ولم نتبع دين النصارى؟
Assalamu ‘alaikum.
Pada suatu hari seseorang yang non-muslim bertanya kepada saya: “Mengapa Anda menjadi seorang muslim dan bukannya seorang Nasrani?” Dia juga berkata kepada saya bahwa saya pasti akan menjawab karena saya terlahir dari kedua orang tua muslim. Namun saya menjawabnya bahwa taklid (mengikut secara buta) bukanlah tingkatan hakiki bagi keimanan yang jujur. Hanya saja saya tidak mampu membantah ucapannya ketika dia bertanya mengapa saya menjadi muslim dan bukannya Nasrani. Pertanyaan saya: Mengapa kita mengikuti agama Islam dan tidak mengikuti agama Nasrani?
أسأل الله تعالى أن يفتح عليكم بالحق إنه على كل شئ قدير.
Saya memohon kepada Allah Ta‘ala agar membukakan kebenaran bagi Anda sekalian, sesungguhnya Dia Mahakuasa atas segala sesuatu.
والسلام عليكم ورحمة الله.
Wassalamu ‘alaikum warahmatullahi wabarakatuh.
الإجابــة:
Jawaban:
الحمد لله، والصلاة والسلام على رسول الله، وعلى آله وصحبه، أما بعد:
Segala puji bagi Allah, shalawat dan salam semoga tercurah kepada Rasulullah, keluarga, dan para sahabat beliau. Amma ba‘du:
فقد روى البخاري ومسلم في صحيحيهما عن أبي هريرة رضي الله عنه، وهذا لفظ البخاري قال: قال رسول الله صلى الله عليه وسلم:
Sungguh Al-Bukhari dan Muslim telah meriwayatkan di dalam Ash-Shahihain dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu—dan ini adalah lafaz Al-Bukhari—beliau berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
((ما من مولود إلا يولد على الفطرة، فأبواه يهودانه أو ينصرانه أو يمجسانه، كما تنتج البهيمة بهيمة جمعاء، هل تحسون فيها من جدعاء))
“Tidak ada seorang bayi pun yang terlahir melainkan dilahirkan di atas fitrah, maka kedua orang tuanyalah yang menjadikannya Yahudi, Nasrani, atau Majusi. Sebagaimana hewan ternak melahirkan seekor anak hewan yang utuh anggota tubuhnya, apakah kalian merasakan ada yang cacat/terpotong telinganya pada anak hewan itu?”
ثم يقول أبو هريرة -رضي الله عنه- فطرة الله التي فطر الناس عليها لا تبديل لخلق الله ذلك الدين القيم.
Kemudian Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu membaca firman Allah: "(Tetaplah atas) fitrah Allah yang telah menciptakan manusia menurut fitrah itu. Tidak ada perubahan pada ciptaan Allah. (Itulah) agama yang lurus." (QS. Ar-Rum: 30).
فقد دل هذا الحديث على أن الأصل في كل مولود أنه يولد مسلماً، وأن التهود أو التنصر أو التمجس أمر طارئ على أصل الفطرة، قال ابن حجر في فتح الباري: الكفر ليس من ذات المولود ومقتضى طبعه بل إنما حصل بسبب خارجي، فإن سلم من ذلك السبب استمر على الحق. انتهى
Hadits ini menunjukkan bahwasanya hukum asal pada setiap bayi yang terlahir adalah dia terlahir sebagai seorang muslim. Sedangkan menjadi Yahudi, Nasrani, atau Majusi merupakan perkara baru yang datang kemudian merusak asal fitrah tersebut. Ibnu Hajar memaparkan di dalam kitab Fath al-Bari: “Kekufuran itu bukanlah bagian dari zat sang bayi dan bukanpula tuntutan tabiat bawaannya, melainkan hal itu terjadi karena sebab eksternal dari luar. Apabila sang bayi selamat dari sebab eksternal tersebut, dia akan terus bertahan di atas kebenaran.” Sekian kutipan.
ولهذا فإن النبي صلى الله عليه وسلم قال: فأبواه يهودانه أو ينصرانه أو يمجسانه….. ولم يقل: “أو يسلمانه” لأنه يولد مسلماً، ويؤيد ذلك ما في رواية مسلم قال: وفي رواية أبي كريب عن أبي معاوية: ليس من مولود يولد إلا على الفطرة، حتى يعبر عنه لسانه.
Oleh karena itulah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: "Maka kedua orang tuanyalah yang menjadikannya Yahudi, Nasrani, atau Majusi..." dan beliau tidak bersabda: “atau menjadikannya muslim”, karena dia memang sudah terlahir sebagai seorang muslim. Hal ini dikuatkan oleh riwayat di dalam Shahih Muslim melalui jalur Abu Kuraib dari Abu Mu‘awiyah: “Tidak ada seorang bayi pun yang terlahir melainkan di atas fitrah, hingga lisannya mampu mengutarakannya.”
وفي رواية أخرى له من حديث ابن نمير: ما من مولود يولد إلا وهو على الملة.
Dan di dalam riwayat lainnya di sisi Imam Muslim dari hadits Ibnu Numair disebutkan: “Tidak ada seorang bayi pun yang terlahir melainkan dia berada di atas agama ini (Islam).”
قال النووي: والأصح أن معناه: أن كل مولود يولد متهيئاً للإسلام، فمن كان أبواه أو أحدهما مسلماً استمر على الإسلام في أحكام الآخرة والدنيا، وإن كان أبواه كافرين جرى عليه حكمهما في أحكام الدنيا. انتهى
Imam an-Nawawi menjelaskan: “Dan pendapat yang paling shahih adalah bahwa maknanya: Setiap bayi terlahir dalam keadaan siap untuk menerima Islam. Barang siapa yang kedua orang tuanya atau salah satu dari keduanya beragama Islam, maka dia terus berstatus di atas Islam dalam hukum-hukum dunia dan akhirat. Dan jika kedua orang tuanya kafir, berlaku padanya hukum kedua orang tuanya dalam hukum-hukum dunia.” Sekian kutipan.
ونقل ابن حجر عن الطيبي قال: والمراد تمكُّن الناس من الهدى في أصل الجبلة والتهيؤ لقبول الدين، فلو ترك المرء عليها لاستمر على لزومها ولم يفارقها إلى غيرها، لأن حسن هذا الدين ثابت في النفوس، وإنما يعدل عنه لآفة من الآفات البشرية كالتقليد. انتهى
Dan Ibnu Hajar mengutip dari At-Thiibi yang berkata: “Yang dimaksud adalah kesiapan manusia menerima petunjuk sejak asal watak bawaannya serta kesiapannya untuk menerima agama ini. Sekiranya seseorang dibiarkan berada di atasnya, niscaya dia akan terus berada padanya dan tidak akan berpisah meninggalkannya menuju agama lain. Sebab keindahan agama ini telah tertanam kokoh di dalam jiwa, dan hanyalah seseorang berpaling darinya dikarenakan suatu penyakit dari penyakit-penyakit manusia seperti taklid (ikut-ikutan buta).” Sekian kutipan.
ومن هذا يتبين أن الذي يولد لأبوين مسلمين فليس مقلداً لهما بل هو باق على أصل فطرته، وإنما يحصل التقليد ممن يتهود أو يتنصر أو يتمجس وغير ذلك من الملل.
Dari penafsiran ini menjadi jelas bahwasanya orang yang terlahir dari kedua orang tua yang muslim bukanlah seorang yang bertaklid (ikut-ikutan) kepada keduanya, melainkan dia tetap bertahan di atas asal fitrahnya. Sungguh taklid (ikut-ikutan yang menyimpang) itu justru terjadi pada orang yang menjadi Yahudi, Nasrani, Majusi, atau penganut agama-agama selainnya.
ولعل فيما ذكرناه كفاية في بيان المطلوب، ولمزيد من الفوائد راجع الفتوى الأخرى.
Semoga apa yang telah kami sebutkan ini cukup dalam menjelaskan maksud yang dicari. Dan untuk faedah tambahan, silakan merujuk ke fatwa lainnya di sini :
- Syariat Beragam Namun Pokok Maksudnya Adalah Tauhid
- Hukum Ahli Kitab
- Dalil-Dalil dan Bukti-Bukti atas Keabsahan Agama Islam
- Kebahagiaan Dunia dan Akhirat Terletak Pada Agama Yang Hak
والله أعلم.
Wallahu a’lam.
Sumber : IslamWeb
Leave a Reply