Bukan Wewenang Rakyat Biasa Mengesekusi Hukum Hudud



ليس لأفـراد الناس استيفاء الحدود

Bukan Wewenang Rakyat Biasa Mengesekusi Hukum Hudud

Alih Bahasa : Reza Ervani bin Asmanu

Artikel Bukan Wewenang Rakyat Biasa Mengesekusi Hukum Hudud ini masuk dalam Kategori Tanya Jawab Fiqh Pidana Islam

السؤال:

Pertanyaan:

ذكرتم في بعض فتاويكم أن تارك الصلاة وجب قتله إن لم يتب وأنا أبي كان يصلي ثم انقطع عن الصلاة فهل يجوز لي قتله ؟

Anda sekalian telah menyebutkan dalam sebagian fatwa Anda bahwasanya orang yang meninggalkan shalat wajib dihukum mati jika dia tidak bertobat. Ayah saya dahulu senantiasa mendirikan shalat lalu dia berhenti dari shalat, maka apakah boleh bagi saya untuk membunuhnya?

الإجابــة:

Jawaban:

الحمد لله، والصلاة والسلام على رسول الله، وعلى آله وصحبه، أما بعد:

Segala puji bagi Allah, shalawat dan salam semoga tercurah kepada Rasulullah, keluarga, dan para sahabat beliau. Amma ba‘du:

فنسأل الله لأبيك الهداية والعودة إلى إقامة الصلاة، ثم اعلم أن الواجب عليك تجاه أبيك في هذه الحالة هو النصح، وعدم اليأس والقنوط، ولك أن تتخذ في نصحك له أساليب متعددة ومتنوعة مباشرة وغير مباشرة، ثم بالاستعانة بمن تراه يقدره ويحترمه حتى تجد أثر ذلك إن شاء الله تعالى على أبيك ويصلح حاله ويستقيم، وما ذلك على الله بعزيز.

Maka kami memohon kepada Allah agar memberikan hidayah kepada ayah Anda dan mengembalikannya untuk senantiasa mendirikan shalat. Kemudian ketahuilah bahwasanya kewajiban Anda terhadap ayah Anda dalam kondisi seperti ini adalah memberinya nasihat, serta tidak boleh berputus asa atau patah semangat. Anda dapat menempuh ragam metode yang bervariasi dalam menasihatinya, baik secara langsung maupun tidak langsung, lalu meminta bantuan dari orang yang Anda nilai dihormati dan disegani olehnya, sampai Anda mendapati pengaruh positifnya—insya Allah Ta‘ala—pada diri ayah Anda sehingga keadaannya menjadi baik dan lurus. Dan hal itu bukanlah perkara yang sulit bagi Allah.

أما بخصوص ما ذكرته من إقامة الحد عليه بتركه الصلاة.. فهذا وغيره من الحدود ليس من حق أي أحد أن يفعله إلا السلطان أو نائبه كالقاضي، وهذا مانص عليه أهل العلم.

Adapun berkenaan dengan apa yang Anda sebutkan berupa penegakan sanksi hadd atasnya dikarenakan meninggalkan shalat… maka hal ini serta sanksi-sanksi hudud lainnya bukanlah hak siapapun untuk mengeksekusinya selain pemerintah/penguasa (as-sulthan) atau wakilnya seperti hakim (al-qadhi). Dan inilah yang ditegaskan oleh para ulama.

قال الإمام النووي رحمه الله في المجموع: أما الأحكام فإنه متى وجب حد الزنا أو السرقة أو الشرب لم يجز استيفاؤه إلا بأمر الإمام، أو بأمر من فوض إليه الإمام النظر في الأمر بإقامة الحد، لأن الحدود في زمن النبي صلى الله عليه وسلم، وفي زمن الخلفاء الراشدين رضي الله عنهم لم تستوف إلا بإذنهم، ولأن استيفاءها للإمام. والمراد بالإمام الخليفة العام.

Imam An-Nawawi rahimahullah memaparkan di dalam kitab Al-Majmu‘: “Adapun hukum-hukumnya, sesungguhnya kapan pun telah wajib sanksi hadd zina, pencurian, atau minum khamr, tidak boleh dieksekusi melainkan dengan perintah imam (pemerintah/penguasa), atau dengan perintah dari orang yang diserahi wewenang oleh imam untuk menangani perkara penegakan hadd tersebut. Karena sanksi-sanksi hudud pada zaman Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan pada zaman Al-Khulafa’ Ar-Rasyidun radhiyallahu ‘anhum tidak pernah dieksekusi melainkan dengan izin mereka, dan karena pelaksanaan eksekusinya adalah wewenang imam. Dan yang dimaksud dengan imam di sini adalah khalifah/pemerintah umum.”

والله أعلم.

Wallahu a’lam.

Sumber : IslamWeb



Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*


This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.