إقامة الحدود والتعزير لا تكون إلا لولي أمر المسلمين
Penegakan Hukum Hudud dan Ta‘zir Hanya Menjadi Wewenang Wali Amr Kaum Muslimin
Alih Bahasa : Reza Ervani bin Asmanu
Artikel Penegakan Hukum Hudud dan Ta‘zir Hanya Menjadi Wewenang Wali Amr Kaum Muslimin ini masuk dalam Kategori Tanya Jawab Fiqh Pidana Islam
السؤال:
Pertanyaan:
بعض الأخوة يقومون بعمل لجان شرعية تحكم بين الناس بالأحكام الشرعية وأحيانا يعزرون الناس بالمال وتدفع هذه الأموال لمسجد فهل هذا العمل صحيح؟ وهل التعزير من حق ولي الأمر فقط؟ أم يجوز لأي جماعة مسلمة أن تفعل ذلك؟
Sebagian ikhwan membentuk komite-komite syariat untuk memutuskan perkara di antara manusia dengan hukum-hukum syariat, dan terkadang mereka menerapkan sanksi ta‘zir berupa denda harta kepada warga yang mana uangnya diserahkan ke masjid. Apakah perbuatan ini benar? Dan apakah hak menerapkan ta‘zir merupakan wewenang khusus wali amr (pemerintah/penguasa) saja? Serta apakah boleh bagi kelompok muslim mana pun untuk melakukan hal tersebut?
أفتونا جزاكم الله خيراً.
Mohon berikan fatwa kepada kami, semoga Allah membalas Anda sekalian dengan kebaikan.
الإجابــة:
Jawaban:
الحمد لله، والصلاة والسلام على رسول الله، وعلى آله وصحبه، أما بعد:
Segala puji bagi Allah, shalawat dan salam semoga tercurah kepada Rasulullah, keluarga, dan para sahabat beliau. Amma ba‘du:
فأما إقامة اللجان والجمعيات للإصلاح بين الناس، وبناء المساجد والمشاريع الخيرية، فذلك من البر والخير الذي ينبغي أن يعانوا عليه.
Adapun pembentukan komite atau organisasi untuk mendamaikan (ishlah) perselisihan antarmanusia, membangun masjid, maupun proyek-proyek kebajikan, maka hal tersebut tergolong perbuatan bakti dan kebaikan yang semestinya didukung.
وأما إقامة الحدود والتعزير فلا يكون إلا لولي أمر المسلمين، لأن القول بخلاف ذلك مدعاة للفساد والإفساد، فربما حدث خلاف بين اثنين فقام أحدهما بقتل صاحبه، فإذا حوكم قال: كان المقتول تاركاً للصلاة، أو نحو ذلك. وانظر الفتوى الأخرى.
Adapun penegakan sanksi hudud dan ta‘zir, maka tidak boleh dilaksanakan kecuali oleh wali amr (pemerintah/pimpinan) kaum muslimin. Sebab berpandangan sebaliknya hanya akan menjadi pemicu timbulnya kerusakan dan pengrusakan. Boleh jadi timbul perselisihan di antara dua orang, lalu salah satunya membunuh rekannya, kemudian ketika diadili dia berkilah: “Orang yang terbunuh itu dahulu adalah orang yang meninggalkan shalat,” atau alasan semisalnya. Silakan merujuk ke fatwa lainnya di sini :
ويستثنى من ذلك ما إذا كانوا بأرض لا إمام فيها للمسلمين، فيكون إلى أعلم الناس إقامة الأحكام الشرعية من حدود وتعازير ونحوهما.
Dan dikecualikan dari ketentuan tersebut apabila mereka berada di suatu wilayah yang tidak terdapat seorang imam/pemerintah bagi kaum muslimin di dalamnya; maka penegakan hukum-hukum syariat—baik berupa sanksi hudud, ta‘zir, maupun yang semisalnya—diserahkan wewenangnya kepada orang yang paling berilmu (ulama) di antara warga setempat.
قال الإمام الشربيني رحمه الله: ولو خلا الزمان عن إمام رجع الناس إلى العلماء، فإن كثر علماء الناحية فالمتبع أعلمهم، فإن استووا وتنازعوا أقرع كما قال الإمام. ا.هـ
Imam Asy-Syirbini rahimahullah memaparkan: “Sekiranya suatu zaman kosong dari keberadaan seorang imam/pemimpin, maka manusia hendaknya merujuk kepada para ulama. Jika terdapat banyak ulama di wilayah tersebut, maka yang diikuti adalah orang yang paling alim di antara mereka. Apabila mereka setingkat dan berselisih, dilakukan pengundian sebagaimana yang disampaikan oleh Al-Imam (Al-Haramain).” Sekian kutipan.
ولاشك أن هذا مقيد بعدم حصول فتنة، ومفسدة أكبر يغلب على الظن وقوعها.
Dan tidak diragukan lagi bahwa hal tersebut disyaratkan tidak menimbulkan fitnah (kekacauan) maupun kerusakan (mabsadah) yang lebih besar yang kuat dugaannya akan terjadi.
والله أعلم.
Wallahu a’lam.
Sumber : IslamWeb
Leave a Reply