Hukum Hudud Adalah Pencegah Yang Membawa Perbaikan



الحدود زواجر إصلاحية

Hukum Hudud Adalah Pencegah Yang Membawa Perbaikan

Alih Bahasa : Reza Ervani bin Asmanu

Artikel Hukum Hudud Adalah Pencegah Yang Membawa Perbaikan ini masuk dalam Kategori Tanya Jawab Fiqh Pidana Islam

السؤال:

Pertanyaan:

أريد معرفة العقوبة كالحدود في الإسلام و قوانينا الوضعية بشكل عام عادة تفرض فقط للردع وللتخويف فقط أم حتى للإصلاح وان كانت للإصلاح كيف ذلك لمن أعدم؟

Saya ingin mengetahui apakah hukuman seperti hudud dalam Islam dan hukum positif kita pada umumnya biasanya diterapkan hanya untuk memberikan efek jera dan menakut-nakuti saja, ataukah juga untuk perbaikan (al-ishlah)? Dan jika ditujukan untuk perbaikan, bagaimanakah hal itu berlaku bagi orang yang dihukum mati (dieksekusi)?

الإجابــة:

Jawaban:

الحمد لله، والصلاة والسلام على رسول الله، وعلى آله وصحبه، أما بعد:

Segala puji bagi Allah, shalawat dan salam semoga tercurah kepada Rasulullah, keluarga, dan para sahabat beliau. Amma ba‘du:

فالعقوبة مثل الحدود في الإسلام والتعازير إنما وضعت لما تجلبه من الزجر والردع عن ارتكاب المخالفات.

Maka hukuman seperti sanksi hudud dan ta‘zir dalam Islam pada dasarnya disyariatkan dikarenakan adanya efek pencegahan (az-zajr) dan pemicu rasa jera (ar-rad‘u) dari melakukan berbagai bentuk pelanggaran.

قال الماوردي في الأحكام السلطانية: والحدود زواجر وضعها الله -تعالى- للردع عن ارتكاب ما حظر، وترك ما أمر به؛ لما في الطمع من مغالبة الشهوات الملهية عن وعيد الآخرة بعاجل اللذة , فجعل الله -تعالى- من زواجر الحدود ما يردع به ذا الجهالة حذرا من ألم العقوبة وخيفة من نكال الفضيحة ليكون ما حظر من محارمه ممنوعا، وما أمر به من فروضه متبوعا فتكون المصلحة أعم والتكليف أتم, قال الله -تعالى-: وَمَا أَرْسَلْنَاكَ إِلَّا رَحْمَةً لِلْعَالَمِينَ، يعني في استنقاذهم من الجهالة, وإرشادهم من الضلالة وكفهم عن المعاصي وبعثهم على الطاعة.

Al-Mawardi memaparkan di dalam kitab Al-Ahkam as-Sulthaniyyah: “Hukum hudud adalah sarana-sarana pencegah yang ditetapkan oleh Allah Ta‘ala untuk menimbulkan efek jera dari melakukan hal yang dilarang dan meninggalkan apa yang diperintahkan; dikarenakan pada kehalobaan manusia terdapat dorongan hawa nafsu yang mengalihkan dari ancaman akhirat demi kelezatan sesaat. Maka Allah Ta‘ala menjadikan sanksi-sanksi hudud sebagai pencegah yang dengannya orang jahil dapat ditahan karena takut akan rasa sakitnya hukuman dan kehinaan dari terbongkarnya aib, agar apa yang dilarang dari keharaman-Nya menjadi tercegah dan apa yang diperintahkan dari kewajiban-Nya menjadi diikuti, sehingga kemaslahatan menjadi lebih merata dan beban syariat menjadi lebih sempurna. Allah Ta‘ala berfirman: ‘Dan tidaklah Kami mengutus kamu melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi semesta alam’, maksudnya adalah dalam menyelamatkan mereka dari kebodohan, membimbing mereka dari kesesatan, menahan mereka dari kemaksiatan, serta mendorong mereka pada ketaatan.”

وكون الحدود زواجر لا يتنافى مع ما يراد منها من الإصلاح ولو أدت إلى الإعدام، بل إنها هي الإصلاح بعينه إذا أحسن استخدامها، لما فيها من صيانة دماء المجتمعات والحفاظ على أمنهم وأعراضهم وأموالهم.

Dan keberadaan hudud sebagai sarana pencegah tidaklah bertentangan dengan tujuan perbaikan (al-ishlah) yang diinginkan darinya meskipun sampai berujung pada hukuman mati. Bahkan hal itu merupakan perbaikan itu sendiri apabila diterapkan dengan baik, dikarenakan di dalamnya terdapat perlindungan atas darah masyarakat serta penjagaan terhadap keamanan, kehormatan, dan harta benda mereka.

وذلك لأن من تسول له نفسه ارتكاب الجريمة، إذا تحقق من أنه سيؤاخذ بجريمته فلا بد أن يكف عنها خوفا مما سيلحقه من تبعتها، وبذلك يستتب الأمن ويسود الهدوء والاطمئنان، وتطيب الحياة وتتم النعمة بانقماع أهل الشر والفساد، وصدق الله عز وجل حيث يقول:

Hal tersebut lantaran siapapun yang jiwanya membujuk untuk melakukan kejahatan, apabila dia yakin bahwa dirinya akan ditindak atas kejahatannya, niscaya dia akan menahan diri dari kejahatan itu karena takut akan akibat buruk yang menimpanya. Dengan demikian keamanan menjadi stabil, ketenangan dan ketenteraman tercipta, kehidupan menjadi baik, serta nikmat menjadi sempurna dengan tertumpasnya para pelaku kejahatan dan kerusakan. Dan benarlah Allah ‘Azza wa Jalla saat berfirman:

﴿ وَلَكُمْ فِي الْقِصَاصِ حَيَاةٌ يَا أُولِي الْأَلْبَابِ ﴾ [البقرة: ١٧٩]

“Dan dalam qishash itu ada (jaminan kelangsungan) hidup bagimu, wahai orang-orang yang berakal.” [Surah Al-Baqarah: 179]

والله أعلم.

Wallahu a’lam.

Sumber : IslamWeb



Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*


This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.