بيان أن التعزير مفوض إلى رأي الإمام بما تقتضيه المصلحة ويمنع الجريمة
Penjelasan Bahwa Ta‘zir Diserahkan Kepada Pertimbangan Imam Berdasarkan Maslahat dan Mencegah Kejahatan
Alih Bahasa : Reza Ervani bin Asmanu
Artikel Penjelasan Bahwa Ta‘zir Diserahkan Kepada Pertimbangan Imam Berdasarkan Maslahat dan Mencegah Kejahatan ini masuk dalam Kategori Tanya Jawab Fiqh Pidana Islam
السؤال:
Pertanyaan:
ما هي عقوبة من يعاكس الفتيات؟ لم أجد في الشريعة الإسلامية عقوبة لمعاكس الفتيات, ليس هذا فحسب، وإنما قام بعض القضاة بإطلاق تشريعات خاصة ومتضاربة فيما بينها، ففي القضاء السعودي منهم من حكم بستين جلدة أمام مكان تجمع الفتيات والنساء، وقاض آخر حكم بثمانين جلدة في المكان الذي عاكس فيه البنات، وآخر حكم بتغسيل خمس جنائز، والسؤال: على أي أساس شرعي أصدر هؤلاء القضاة أحكامهم؟ وهل يعتبر هذا حكما بغير ما أنزل الله؟.
Apakah hukuman bagi orang yang menggoda/mengganggu para wanita (catcalling)? Saya tidak mendapati dalam syariat Islam adanya ketetapan hukuman spesifik bagi orang yang menggoda para wanita. Tidak hanya itu, bahkan sebagian hakim menetapkan vonis-vonis khusus yang bervariasi satu sama lain; di mana dalam peradilan Arab Saudi ada hakim yang memvonis dengan enam puluh kali cambukan di depan tempat berkumpulnya para wanita, hakim lain memvonis delapan puluh kali cambukan di lokasi tempat dia menggoda wanita, dan hakim lainnya memvonis memandikan lima jenazah. Pertanyaannya: Atas dasar syariat apakah para hakim tersebut mengeluarkan putusan-putusan mereka? Dan apakah hal ini tergolong sebagai menetapkan hukum dengan selain apa yang diturunkan oleh Allah?
الإجابــة:
Jawaban:
الحمد لله، والصلاة والسلام على رسول الله، وعلى آله وصحبه، أما بعد:
Segala puji bagi Allah, shalawat dan salam semoga tercurah kepada Rasulullah, keluarga, dan para sahabat beliau. Amma ba‘du:
فنشكرك على الاتصال بنا ـ بارك الله فيك ـ وما ذكرته عن القضاة إن ثبت عنهم فليس من الحكم بغير ما أنزل الله، وإنما هو من التعزير، فقد أجمعت الأمة على مشروعية التعزير في كل معصية لا حدَّ فيها ولا كفارة، والتعزير يكون بالضرب والحبس والتوبيخ ونحوه، وليس فيه شيء مقدر، وإنما هو مفوض إلى رأي الإمام على حسب ما تقتضيه المصلحة، ويتحقق به الردع عن الجريمة، قال ابن القيم ـ رحمه الله: اخْتَلَفَ الْفُقَهَاءُ في مِقْدَارِ التَّعْزِيرِ على أَقْوَالٍ:
Kami mengucapkan terima kasih kepada Anda atas komunikasi dengan kami—semoga Allah memberkahi Anda. Dan apa yang Anda sebutkan mengenai para hakim tersebut, sekiranya hal itu terbukti sahih dari mereka, maka hal itu bukanlah termasuk menetapkan hukum dengan selain apa yang diturunkan oleh Allah, melainkan tergolong bagian dari ta‘zir. Sungguh umat Islam telah sepakat atas disyariatkannya ta‘zir pada setiap kemaksiatan yang tidak ada sanksi hadd dan tidak ada kafarat padanya. Dan ta‘zir itu berbentuk pukulan/cambukan, pemenjaraan, teguran keras, dan yang semisalnya. Tidak ada ketetapan angka/kadar yang ditentukan padanya, melainkan diserahkan sepenuhnya kepada pertimbangan imam (penguasa/hakim) sesuai dengan apa yang dituntut oleh maslahat serta tercapai dengannya efek jera dari kejahatan. Ibnul Qayyim—rahimahullah—memaparkan: “Para ahli fikih berselisih pendapat mengenai kadar besaran ta‘zir menjadi beberapa pendapat:
أحدها: أَنَّهُ بِحَسَبِ الْمَصْلَحَةِ وَعَلَى قَدْرِ الْجَرِيمَةِ، فَيَجْتَهِدُ فيه وَلِيُّ الْأَمْرِ.
Pertama: Bahwasanya besaran ta‘zir disesuaikan dengan kemaslahatan dan seukuran bobot kejahatannya, maka wali amr (pemerintah/hakim) berijtihad padanya.
الثَّانِي: وهو أَحْسَنُهَا أَنَّهُ لَا يَبْلُغُ بِالتَّعْزِيرِ في مَعْصِيَةٍ قَدْرَ الْحَدِّ فيها.. وَهَذَا قَوْلُ طَائِفَةٍ من أَصْحَابِ الشَّافِعِيِّ وَأَحْمَدَ.
Kedua: Dan ini yang paling baik, yaitu sanksi ta‘zir pada suatu kemaksiatan tidak boleh mencapai kadar sanksi hadd dalam jenis kemaksiatan tersebut… Dan ini merupakan pendapat sekelompok ulama dari kalangan mazhab Syafi’i dan Hanbali.
وَالْقَوْلُ الثَّالِثُ: أَنَّهُ يَبْلُغُ بِالتَّعْزِيرِ أَدْنَى الْحُدُودِ إمَّا أَرْبَعِينَ وَإِمَّا ثَمَانِينَ، وَهَذَا قَوْلُ كَثِيرٍ من أَصْحَابِ الشَّافِعِيِّ وَأَحْمَدَ وَأَبِي حَنِيفَةَ.
Pendapat ketiga: Bahwasanya sanksi ta‘zir diperbolehkan mencapai batas terendah dari sanksi hudud, baik itu empat puluh kali atau delapan puluh kali. Dan ini merupakan pendapat banyak ulama dari kalangan mazhab Syafi’i, Hanbali, dan Hanafi.
وَالْقَوْلُ الرَّابِعُ: أَنَّهُ لَا يُزَادُ في التَّعْزِيرِ على عَشَرَةِ أَسْوَاطٍ، وهو أَحَدُ الْأَقْوَالِ في مَذْهَبِ أَحْمَدَ وَغَيْرِهِ.
Pendapat keempat: Bahwasanya sanksi ta‘zir tidak boleh ditambahkan melebihi sepuluh kali cambukan. Dan ini merupakan salah satu pendapat di dalam mazhab Ahmad dan selainnya.
وَعَلَى الْقَوْلِ الْأَوَّلِ هل يَجُوزُ أَنْ يَبْلُغَ بِالتَّعْزِيرِ الْقَتْلَ؟ فيه قَوْلَانِ: أحدهما: يَجُوزُ، كَقَتْلِ الْجَاسُوسِ الْمُسْلِمِ إذَا اقْتَضَتْ الْمَصْلَحَةُ قَتْلَهُ، وَهَذَا قَوْلُ مَالِكٍ وَبَعْضُ أَصْحَابِ أَحْمَدَ، وَاخْتَارَهُ ابن عَقِيلٍ..
Berdasarkan pendapat pertama, apakah boleh sanksi ta‘zir mencapai hukuman mati? Dalam hal ini terdapat dua pendapat: Salah satunya: Boleh, seperti eksekusi mati bagi mata-mata (jasus) muslim apabila kemaslahatan menuntut hukuman mati baginya. Dan ini merupakan pendapat Imam Malik dan sebagian ulama Hanbali, serta dipilih oleh Ibnu ‘Aqil…
ثم قال ـ رحمه الله: وَالْمَنْقُولُ عن النبي صلى اللَّهُ عليه وسلم وَخُلَفَائِهِ ـ رضي اللَّهُ عَنْهُمْ ـ يُوَافِقُ الْقَوْلَ الْأَوَّلَ، فإن النبي صلى اللَّهُ عليه وسلم أَمَرَ بِجَلْدِ الذي وَطِئَ جَارِيَةَ امْرَأَتِهِ وقد أَحَلَّتْهَا له مِائَةً، وأبو بَكْرٍ وَعُمَرُ ـ رضي اللَّهُ عنهما ـ أَمَرَا بِجَلْدِ من وُجِدَ مع امْرَأَةٍ أَجْنَبِيَّةٍ في فِرَاشٍ مِائَةَ جَلْدَةٍ، وعمر بن الخطاب ـ رضي الله عنه ـ ضرب الذي زور عليه خاتمه فأخذ من بيت المال مائة، وَعَلَى هذا يُحْمَلُ قَوْلُ النبي صلى اللَّهُ عليه وسلم: من شَرِبَ الْخَمْرَ فَاجْلِدُوهُ، فَإِنْ عَادَ فَاجْلِدُوهُ فَإِنْ عَادَ في الثَّالِثَةِ أو في الرَّابِعَةِ فَاقْتُلُوهُ، فَأَمَرَ بِقَتْلِهِ إذَا أَكْثَرَ منه، وَلَوْ كان ذلك حَدًّا لَأَمَرَ بِهِ في الْمَرَّةِ الْأُولَى. انتهى.
Kemudian beliau—rahimahullah—berkata: ‘Dan apa yang diriwayatkan dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam serta para khalifahnya—radhiyallahu ‘anhum—sejalan dengan pendapat pertama. Sebab Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah memerintahkan untuk mencambuk seratus kali orang yang menyetubuhi budak perempuan istrinya padahal istrinya telah menghalalkannya baginya. Dan Abu Bakar serta ‘Umar—radhiyallahu ‘anhuma—pernah memerintahkan untuk mencambuk seratus kali orang yang didapati bersama wanita asing (bukan mahram) di dalam satu tempat tidur. Dan ‘Umar bin Al-Khaththab—radhiyallahu ‘anhu—mencambuk orang yang memalsukan stempelnya lalu mengambil harta dari kas negara (baitul mal) seratus kali. Dan atas dasar inilah dimaknakan sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam: “Barang siapa meminum khamr maka cambuklah dia, jika dia mengulanginya maka cambuklah dia, dan jika dia mengulanginya pada kali ketiga atau keempat maka bunuhlah dia.” Beliau memerintahkan hukuman mati baginya apabila dia terlampau sering melakukannya; sekiranya hal itu merupakan sanksi hadd niscaya beliau akan memerintahkannya sejak kali pertama.’ Sekian kutipan.
وهذا الذي رجحه ابن القيم من أن التعزير يَجْتَهِدُ فيه وَلِيُّ الْأَمْرِ بِحَسَبِ الْمَصْلَحَةِ وَعَلَى قَدْرِ الْجَرِيمَةِ، هو الأتبع للأدلة والأوفق للمصلحة، وهو مذهب شيخ الإسلام ابن تيمية، حتى لقد قال رحمه الله: أفتيت ولاة الأمور في شهر رمضان سنة أربع بقتل من أمسك في سوق المسلمين وهو سكران وقد شرب الخمر مع بعض أهل الذمة وهو مجتاز بشقة لحم يذهب بها إلى ندمائه، وكنت أفتيتهم قبل هذا بأنه يعاقب عقوبتين: عقوبة على الشرب وعقوبة على الفطر، فقالوا: ما مقدار التعزير؟ فقلت: هذا يختلف باختلاف الذنب وحال المذنب وحال الناس، وتوقفت عن القتل، فكبر هذا على الأمراء والناس حتى خفت أنه إن لم يقتل ينحل نظام الإسلام على انتهاك المحارم في نهار رمضان، فأفتيت بقتله. انتهى.
Dan pendapat yang dikuatkan oleh Ibnul Qayyim ini—bahwa ta‘zir itu merupakan ijtihad wali amr (pemerintah/hakim) sesuai dengan kemaslahatan dan bobot kejahatan—adalah pendapat yang paling mengikut dalil dan paling sesuai dengan maslahat. Ini juga merupakan mazhab Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah, hingga beliau—rahimahullah—pernah berkata: ‘Aku pernah memfatwakan kepada para penguasa pada bulan Ramadhan tahun 704 H untuk membunuh orang yang ditangkap di pasar kaum muslimin dalam keadaan mabuk, padahal dia telah meminum khamr bersama sebagian kafir dzimmi dan sedang membawa sepotong daging menuju teman-teman minumnya. Sebelumnya aku memfatwakan kepada mereka bahwa orang itu dijatuhi dua hukuman: Hukuman atas meminum khamr dan hukuman atas berbuka (membatalkan puasa). Lalu mereka bertanya: Berapakah kadar ta‘zir-nya? Aku menjawab: Ini berbeda-beda sesuai dengan perbedaan dosa, kondisi pelaku, dan kondisi masyarakat; dan aku menahan diri dari hukuman mati. Namun perkara ini menjadi sangat berat dirasakan oleh para penguasa dan masyarakat hingga aku khawatir sekiranya dia tidak dibunuh niscaya tatanan Islam akan goyah akibat pelanggaran keharaman di siang hari Ramadhan, maka aku pun memfatwakan untuk membunuhnya.’ Sekian kutipan.
ومما يذكر في ذلك أن هشام بن عبد الله المخزومي ـ وهو قاضي المدينة ومن صالح قضاتها ـ أُتِيَ برجل خبيث معروف باتباع الصبيان قد لصق بغلام في ازدحام الناس حتى أفضى، فبعث به هشام إلى مالك وقال: أترى أن أقتله؟ فقال مالك: أما القتل فلا, ولكن أرى أن تعاقبه عقوبة موجعة, فقال: كم؟ قال: ذلك إليك، فأمر به هشام فجلد أربع مائة سوط, وأبقاه في السجن, فما لبث أن مات، فذكروا ذلك لمالك فما استنكر, ولا رأى أنه أخطأ. اهـ.
Dan di antara apa yang disebutkan mengenai hal itu bahwa Hisham bin ‘Abdullah Al-Makhzumi—seorang hakim Kota Madinah dan tergolong hakim yang saleh—dihadapkan kepadanya seorang laki-laki jahat yang terkenal suka mengganggu anak-anak laki-laki, yang mana dia menempelkan dirinya pada seorang anak laki-laki di tengah kerumunan manusia hingga berbuat keji. Maka Hisham mengirim orang tersebut kepada Imam Malik seraya bertanya: Apakah engkau berpandangan agar aku membunuhnya? Imam Malik menjawab: ‘Adapun hukuman mati maka tidak, melainkan aku berpandangan agar engkau menghukumnya dengan hukuman yang sangat menyakitkan.’ Hisham bertanya: Berapa banyak? Beliau menjawab: ‘Hal itu terserah kepadamu.’ Maka Hisham memerintahkan agar orang itu dicambuk empat ratus kali cambukan dan menahannya di dalam penjara, hingga tak berapa lama orang itu meninggal dunia. Lalu hal itu disebutkan kepada Imam Malik, dan beliau tidak mengingkarinya serta tidak berpandangan bahwa hakim itu telah bersalah. Sekian kutipan.
وننصحك في الرجوع لهيئة كبار العلماء بالمملكة، فإنهم سيفيدونك في الموضوع إن شاء الله.
Dan kami menasihatkan Anda untuk merujuk kepada Hai’ah Kibar al-‘Ulama di Kerajaan Arab Saudi, karena sesungguhnya mereka akan memberikan faedah penjelasan kepada Anda dalam topik ini, insya Allah.
والله أعلم.
Wallahu a’lam.
Sumber : IslamWeb
Leave a Reply