Perbedaan Antara Hukum Hadd dan Ta‘zir



الفرق بين الحد والتعزير

Perbedaan Antara Hukum Hadd dan Ta‘zir

Alih Bahasa : Reza Ervani bin Asmanu

Artikel Perbedaan Antara Hukum Hadd dan Ta‘zir ini masuk dalam Kategori Tanya Jawab Fiqh Pidana Islam

السؤال:

Pertanyaan:

ما الفرق بين عقوبة الحد والتعزير؟ وأيهما أعلى مرتبة؟

Apakah perbedaan antara sanksi hadd dan ta‘zir? Dan manakah di antara keduanya yang lebih tinggi tingkatan sanksinya?

الإجابــة:

Jawaban:

الحمد لله، والصلاة والسلام على رسول الله، وعلى آله وصحبه، أما بعد:

Segala puji bagi Allah, shalawat dan salam semoga tercurah kepada Rasulullah, keluarga, dan para sahabat beliau. Amma ba‘du:

فالفروق بين الحد والتعزير قد ذكرها أهل العلم على النحو التالي، كما ورد في رد المحتار: الفرق بين الحد والتعزير أن الحد مقدر والتعزير مفوض إلى رأي الإمام, وأن الحد يدرأ بالشبهات والتعزير يجب معها, وأن الحد لا يجب على الصبي والتعزير شرع عليه. والرابع أن الحد يطلق على الذمي والتعزير يسمى عقوبة له لأن التعزير شرع للتطهير. وزاد بعض المتأخرين أن الحد مختص بالإمام والتعزير يفعله الزوج والمولى وكل من رأى أحدا يباشر المعصية, وأن الرجوع يعمل في الحد لا في التعزير, وأنه يحبس المشهود عليه حتى يسأل عن الشهود في الحد لا في التعزير, وأن الحد لا تجوز الشفاعة فيه وأنه لا يجوز للإمام تركه وأنه قد يسقط بالتقادم بخلاف التعزير. فهي عشرة. اهـ بتصرف يسير.

Maka perbedaan-perbedaan antara hadd dan ta‘zir telah disebutkan oleh para ulama sebagaimana tercantum di dalam kitab Radd al-Muhtar: Perbedaan antara hadd dan ta‘zir yaitu bahwa hadd itu kadarnya ditentukan oleh syariat, sedangkan ta‘zir diserahkan kepada pertimbangan imam (hakim/penguasa). Kedua: hadd digugurkan dengan adanya keraguan (syubhat), sedangkan ta‘zir justru wajib diterapkan bersamanya. Ketiga: hadd tidak wajib dijatuhkan atas anak kecil, sedangkan ta‘zir disyariatkan atasnya (sebagai pendidikan). Keempat: hadd tetap dinamakan hadd bagi kafir dzimmi, sedangkan ta‘zir dinamakan sanksi/hukuman (‘uqubah) baginya, karena ta‘zir pada dasarnya disyariatkan untuk penyucian dosa (at-tathhir). Sebagian ulama belakangan menambahkan: Bahwa hadd itu wewenang khusus imam, sedangkan ta‘zir dapat dilakukan oleh suami, tuan/majikan, dan setiap orang yang melihat seseorang melakukan kemaksiatan. Dan bahwa penarikan kembali pengakuan (ar-ruju‘) dapat membatalkan hadd namun tidak berlaku pada ta‘zir. Dan bahwa terdakwa dipenjara terlebih dahulu sampai ditanyakan rekam jejak para saksi pada hukuman hadd, berbeda dengan ta‘zir. Serta bahwa hadd tidak boleh diberikan syafaat/pembelaan padanya, tidak boleh bagi imam untuk meninggalkannya/memaafkannya, dan hadd bisa gugur dengan lewatnya waktu (kedaluwarsa), berbeda halnya dengan ta‘zir. Maka semuanya ada sepuluh perbedaan. Sekian kutipan dengan sedikit penyesuaian.

وأما الفرق بينهما من حيث العقوبة، فالحد يكون بالقتل والصلب وجلد مائة أو ثمانين جلدة وقطع اليد والسجن والنفي ونحو ذلك، بحسب الذنب الذي اقترفه الشخص.

Adapun perbedaan antara keduanya dari segi bentuk sanksi/hukuman: Maka hadd berbentuk hukuman mati, penyaliban, cambukan seratus atau delapan puluh kali, pemotongan tangan, pemenjaraan, pengasingan, dan yang semisalnya, sesuai dengan kadar dosa yang dilakukan oleh seseorang.

وأما التعزير فليس فيه شيء محدد، وإنما يوكل إلى اجتهاد الإمام فيضرب أو يسجن أو يفعل غير ذلك مما يراه رادعا عن المعصية، ولكن لا ينبغي له الزيادة في الجلد على عشرة أسواط، لقوله صلى الله عليه وسلم:

Adapun ta‘zir, tidak ada ketetapan sanksi yang spesifik di dalamnya, melainkan diserahkan kepada ijtihad imam (hakim); dia boleh menerapkan cambukan, pemenjaraan, atau tindakan lainnya yang dipandangnya mampu mencegah dari kemaksiatan. Namun tidak sepatutnya baginya menambah cambukan melebihi sepuluh kali cambukan, berdasarkan sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam:

((لا يجلد فوق عشر جلدات، إلا في حد من حدود الله))

“Tidak boleh dicambuk di atas sepuluh kali cambukan, kecuali dalam salah satu hukum dari hukum-hukum (hadd) Allah.” (HR. Al-Bukhari, Muslim, dan selain keduanya, dan lafaz ini milik Al-Bukhari).

ومن ذلك يتبن لك أن عقوبة الحد أعلى من عقوبة التعزير.

Dari penjelasan tersebut menjadi jelas bagi Anda bahwasanya sanksi hadd lebih tinggi tingkatan dan bobotnya dibandingkan sanksi ta‘zir.

والله أعلم.

Wallahu a’lam.

Sumber : IslamWeb



Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*


This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.