ما الفرق بين من يقام عليه الحد ومن لا يقام عليه وكلاهما تائب
Perbedaan Antara Orang Yang Dikenakan Hukum Hadd dan Yang Tidak Dikenakan Hadd Ketika Keduanya Bertobat
Alih Bahasa : Reza Ervani bin Asmanu
Artikel Perbedaan Antara Orang Yang Dikenakan Hukum Hadd dan Yang Tidak Dikenakan Hadd Ketika Keduanya Bertobat ini masuk dalam Kategori Tanya Jawab Fiqh Pidana Islam
السؤال:
Pertanyaan:
ما الفرق بين أن يتوب الإنسان و يقام عليه الحد في الدنيا و بين أن يتوب بينه و بين الله و لا يقام عليه الحد.؟
Apakah perbedaan antara seseorang yang bertobat lalu dijatuhi hukuman hadd atasnya di dunia, dengan seseorang yang bertobat secara rahasia antara dirinya dengan Allah tanpa dijatuhi hukuman hadd atasnya?
الإجابــة:
Jawaban:
الحمد لله، والصلاة والسلام على رسول الله، وعلى آله وصحبه، أما بعد:
Segala puji bagi Allah, shalawat dan salam semoga tercurah kepada Rasulullah, keluarga, dan para sahabat beliau. Amma ba‘du:
ففي كل خير، وقد وردت النصوص بالأمر بالستر على النفس عند الوقوع في الذنب، ومن ذلك ما رود في قصة توبة ماعز رضي الله عنه وقول النبي صلى الله عليه وسلم: من أصاب شيئا من هذه القاذورات فليستتر بستر الله. رواه الحاكم عن ابن عمر وأصل قصة ماعز في الصحيحين.
Maka pada masing-masing dari kedua kondisi tersebut terdapat kebaikan. Sungguh telah ada nash-nash yang memerintahkan untuk menutupi aib diri sendiri ketika terjerumus ke dalam dosa; di antaranya apa yang tercantum dalam kisah tobat Ma‘iz radhiyallahu ‘anhu serta sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam: “Barang siapa yang terjerumus ke dalam sesuatu dari perbuatan-perbuatan kotor ini, hendaklah dia menutupi dirinya dengan tutupan Allah.” (HR. Al-Hakim dari Ibnu ‘Umar, dan asal kisah Ma‘iz diriwayatkan dalam Ash-Shahihain).
وقد أخذ بعض العلماء من هذا استحباب الستر، وأنه أفضل من الإقرار بالذنب ليقام الحد، وذهب آخرون إلى أن الإقرار أفضل على كل حال، وذهب فريق ثالث إلى أن الستر أفضل في حق غير من اشتهر ذلك عنه.
Sebagian ulama mengambil kesimpulan dari dalil ini berupa dianjurkannya (sunnah) menutupi aib diri, dan bahwasanya hal itu lebih utama daripada mengakui dosa agar dijatuhi hukuman hadd. Ulama lainnya berpendapat bahwa mengakui dosa itu lebih utama dalam setiap keadaan. Sementara kelompok ulama ketiga berpendapat bahwa menutupi aib diri lebih utama bagi orang yang tidak terkenal/termasyhur suka melakukan dosa tersebut.
واختار الحافظ ابن حجر أن من اعترف ليقام عليه الحد مبالغة في طلب التطهير أفضل ممن استتر وتاب بينه وبين ربه.
Dan Al-Hafiz Ibnu Hajar memilih pendapat bahwa barang siapa yang mengaku agar dijatuhi hukuman hadd atasnya demi bersungguh-sungguh dalam menuntut penyucian dosa (at-tathhir), maka hal itu lebih utama daripada orang yang menutupi aibnya lalu bertobat secara rahasia antara dirinya dengan Rabbnya.
قال الحافظ في الفتح وهو يشرح قصة ماعز:
Al-Hafiz memaparkan di dalam Fath al-Bari ketika menjelaskan kisah Ma‘iz:
ويؤخذ من قضيته أنه يستحب لمن وقع في مثل قضيته أن يتوب إلى الله تعالى ويستر نفسه ولا يذكر ذلك لأحد كما أشار به أبو بكر وعمر على ماعز، وأن من اطلع على ذلك يستر عليه بما ذكرنا ولا يفضحه ولا يرفعه إلى الإمام كما قال صلى الله عليه وسلم في هذه القصة ” لو سترته بثوبك لكان خيرا لك ” وبهذا جزم الشافعي رضي الله عنه فقال: أحب لمن أصاب ذنبا فستره الله عليه أن يستره على نفسه ويتوب ، واحتج بقصة ماعز مع أبي بكر وعمر.
“Dan diambil faedah dari kasus Ma‘iz bahwasanya dianjurkan (sunnah) bagi siapa saja yang terjerumus ke dalam perkara serupa untuk bertobat kepada Allah Ta‘ala, menutupi aib dirinya, dan tidak menyebutkan hal itu kepada seorang pun sebagaimana yang diisyaratkan oleh Abu Bakar dan ‘Umar kepada Ma‘iz. Dan bahwasanya barang siapa yang mengetahui hal tersebut hendaklah menutupi aib saudaranya itu sebagaimana yang telah kami sebutkan, tidak membeberkan keburukannya, dan tidak melaporkannya kepada imam (penguasa/pemerintah), sebagaimana sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam kisah ini: ‘Sekiranya engkau menutupinya dengan pakaianmu niscaya hal itu lebih baik bagimu.’ Dan dengan pendapat inilah yang ditegaskan oleh Imam Asy-Syafi’i radhiyallahu ‘anhu, di mana beliau berkata: ‘Aku menyukai bagi siapa saja yang terjerumus ke dalam dosa lalu Allah menutupi aibnya, agar dia menutupi dosa itu pada dirinya sendiri dan bertobat,’ serta beliau berdalil dengan kisah Ma‘iz bersama Abu Bakar dan ‘Umar.
وقال ابن العربي : هذا كله في غير المجاهر، فأما إذا كان متظاهرا بالفاحشة مجاهرا فإني أحب مكاشفته والتبريح به لينزجر هو وغيره.
Dan Ibnul ‘Arabi berkata: ‘Keseluruhan hal ini berlaku pada orang yang tidak terang-terangan (ghair al-mujahir). Adapun jika dia terang-terangan memperlihatkan kekejian dan berbuat dosa secara terbuka, maka sesungguhnya aku menyukai untuk membongkar perbuatannya dan memprosesnya secara tegas agar dia dan orang lain merasa jera.’
وقد استشكل استحباب الستر مع ما وقع من الثناء على ماعز والغامدية، وأجاب شيخنا ” في شرح الترمذي ” بأن الغامدية كان ظهر بها الحبل مع كونها غير ذات زوج فتعذر الاستتار للاطلاع على ما يشعر بالفاحشة، ومن ثم قيد بعضهم ترجيح الاستتار حيث لا يكون هناك ما يشعر بضده، وإن وجد فالرفع إلى الإمام ليقيم عليه الحد أفضل انتهى .
Dan telah dianggap sulit (istisykal) dianjurkannya menutupi aib bersamaan dengan adanya pujian yang ditujukan kepada Ma‘iz dan wanita Al-Ghamidiyah. Maka guru kami menjawab dalam Syarh at-Tirmidzi bahwasanya wanita Al-Ghamidiyah telah tampak kehamilannya padahal dia tidak bersuami, sehingga menjadi sulit untuk menutupi aib dikarenakan adanya bukti nyata yang mengindikasikan terjadinya perbuatan keji tersebut. Oleh karena itu, sebagian ulama mengaitkan keunggulan menutupi aib adalah selama tidak ada indikator yang menunjukkan kebalikannya; dan jika indikator itu ada, maka melaporkannya kepada imam agar menjatuhkan hukuman hadd atasnya adalah lebih utama. Sekian kutipan.
والذي يظهر أن الستر مستحب والرفع لقصد المبالغة في التطهير أحب والعلم عند الله تعالى .اهـ
Dan yang tampak jelas bahwasanya menutupi aib hukumnya dianjurkan (sunnah), namun melaporkan diri dengan maksud bersungguh-sungguh dalam menuntut penyucian dosa adalah lebih dicintai. Dan ilmu itu berada di sisi Allah Ta‘ala.” Sekian kutipan.
والله أعلم.
Wallahu a’lam.
Sumber : IslamWeb
Leave a Reply