عقوبة نشر الفواحش والموسيقى وبيع الخمر
Sanksi Terhadap Penyebar Kekejian, Musik, dan Penjual Khamr
Alih Bahasa : Reza Ervani bin Asmanu
Artikel Sanksi Terhadap Penyebar Kekejian, Musik, dan Penjual Khamr ini masuk dalam Kategori Tanya Jawab Fiqh Pidana Islam
السؤال:
Pertanyaan:
هل هناك في الشرع عقوبة على إفساد العقل والفطرة؟ أي على الذي يفسد عقول الناس بأمور محرمة؟ مثلا ينشر الفواحش بواسطة الإنترنت، أو يبيع الخمر، أو يفتح موسيقى بصوت عال حتى يسمعه الغير؟
Apakah di dalam syariat terdapat sanksi atas perbuatan merusak akal dan fitrah? Maksudnya terhadap orang yang merusak akal manusia dengan perkara-perkara yang diharamkan? Misalnya menyebarkan kekejian (porno/fahsya) melalui internet, menjual khamr, atau memutar musik dengan suara keras hingga terdengar oleh orang lain?
الإجابــة:
Jawaban:
الحمد لله، والصلاة والسلام على رسول الله، وعلى آله وصحبه، أما بعد:
Segala puji bagi Allah, shalawat dan salam semoga tercurah kepada Rasulullah, keluarga, dan para sahabat beliau. Amma ba‘du:
فالعقوبات الشرعية تنقسم باعتبار أنواعها إلى ثلاثة أقسام رئيسة، هي: القصاص، والحد، والتعزير.
Maka sanksi-sanksi hukuman dalam syariat terbagi berdasarkan jenis-jenisnya menjadi tiga bagian utama, yaitu: qishash, hadd, dan ta‘zir.
فأما القصاص فهو: أن يفعل بالفاعل الجاني مثل ما فعل.
Adapun qishash yaitu: Diberlakukannya tindakan kepada pelaku kejahatan serupa dengan apa yang telah diperbuatnya.
وأما الحد فهو: عقوبة مقدرة شرعا، تجب حقا لله تعالى، وهي معينة، محددة، لا تقبل التعديل والتغيير، ولكل جريمة حدية عقوبة معلومة، لكنها تختلف حسب اختلاف موجبها من جرائم الحدود، وهذه الجرائم هي: الزنا، والقذف، وشرب الخمر، والسرقة، وقطع الطريق (الحرابة) باتفاق الفقهاء، وكذلك الردة، والبغي مع اختلاف فيهما. واعتبر المالكية، والشافعية قتل تارك الصلاة عمدا من الحدود، في حين يعتبر بعض الشافعية القصاص أيضا من الحدود.
Adapun hadd yaitu: Hukuman yang telah ditetapkan kadarnya oleh syariat, yang wajib ditegakkan sebagai hak bagi Allah Ta‘ala; sifatnya tertentu, terikat, serta tidak menerima perubahan maupun penyesuaian. Setiap tindak pidana hadd memiliki sanksi yang telah diketahui, namun berbeda-beda sesuai dengan penyebabnya dari tindak pidana hudud. Dan tindak-tindak pidana tersebut adalah: zina, penuduhan zina (qadzaf), meminum khamr, pencurian, dan penyamunan/penghadangan jalan (hirabah) berdasarkan kesepakatan para ahli fikih; demikian pula murtad dan pemberontakan (baghyu) dengan adanya perselisihan padanya. Dan mazhab Maliki serta Syafi’i mengategorikan hukuman mati bagi orang yang meninggalkan shalat secara sengaja sebagai bagian dari hudud, sementara sebagian ulama Syafi’iyah juga mengategorikan qishash sebagai bagian dari hudud.
وما عدا ذلك من الجرائم، والآثام التي لا كفارة فيها، فعقوبته عقوبة تعزير، وهي عقوبة غير مقدرة شرعت حقا لله تعالى، أو للأفراد. والغرض من مشروعيتها ردع الجاني، وزجره، وإصلاحه وتأديبه، كما صرح به الفقهاء. (مستفاد من الموسوعة الفقهية) وراجع الفتوى الأخرى.
Adapun tindak kejahatan dan dosa-dosa selain itu yang tidak ada kafarat padanya, maka sanksinya adalah sanksi ta‘zir. Dan ta‘zir adalah hukuman yang tidak ditentukan kadarnya yang disyariatkan sebagai hak bagi Allah Ta‘ala atau bagi individu. Tujuan dari disyariatkannya adalah untuk menindak pelaku kejahatan, mencegahnya, memperbaikinya, serta mendidiknya, sebagaimana yang ditegaskan oleh para ahli fikih. (Diambil dari Al-Mausu‘ah al-Fiqhiyyah) dan silakan merujuk ke fatwa lainnya di sini :
ومن أمثلة ذلك الخمر، فلشاربه حد السكر، وهو مقدر، وأما بائعه فليست له عقوبة مقدرة، فيعزره السلطان بعقوبة زاجرة تناسب حاله، وراجع في ذلك الفتوى الأخرى.
Di antara contoh hal tersebut adalah khamr; bagi peminumnya dijatuhi sanksi hadd mabuk yang telah ditetapkan kadarnya, adapun bagi penjualnya maka tidak ada sanksi yang ditetapkan kadarnya secara spesifik, sehingga penguasa (pemerintah) memberikan sanksi ta‘zir kepadanya berupa hukuman tegas yang sesuai dengan kondisinya. Silakan merujuk ke fatwa lainnya di sini mengenai hal tersebut :
وكذلك الحال في كل من يفسد عقول الناس وفطرتهم، يعاقبهم السلطان بما يناسب حالهم، ويصلح أحوال الناس.
Demikian pula halnya pada setiap orang yang merusak akal dan fitrah manusia; penguasa (pemerintah) memberikan sanksi hukuman kepada mereka dengan tindakan yang sesuai dengan keadaan mereka serta membawa kebaikan bagi kemaslahatan masyarakat.
والله أعلم.
Wallahu a’lam.
Sumber : IslamWeb
Leave a Reply