Hijrah Nabi ke Madinah (3)



الهجرة النبوية إلى المدينة

Hijrah Nabi ke Madinah (Bagian 3 – Selesai)

Alih Bahasa : Reza Ervani bin Asmanu

Artikel Hijrah Nabi ke Madinah (Bagian 3 – Selesai) ini masuk dalam Kategori Sirah Nabawiyah

وقادت الجهود قريشاً إلى غار ثورٍ ، وصعدوا إلى باب الغار ، وبات الخطر وشيكاً ، وبلغت أصواتهم سمع أبي بكر فقال رضي الله عنه : ” يا رسول الله ، لو أن أحدهم نظر إلى قدميه لأبصرنا ” ، فأجابه الرسول – صلى الله عليه وسلم – إجابة الواثق المطمئنّ بموعود الله :

Dan berbagai upaya menuntun kaum Quraisy menuju Gua Tsur, lalu mereka naik hingga sampai ke mulut gua, dan bahaya pun menjadi sangat dekat. Suara-suara mereka sampai ke pendengaran Abu Bakar, maka ia berkata radhiyallaahu ‘anhu: “Wahai Rasulullah, seandainya salah seorang dari mereka melihat ke bawah kedua kakinya, niscaya mereka pasti dapat melihat kita.” Maka Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam menjawabnya dengan jawaban sosok yang yakin lagi tenang akan janji Allah:

يا أبا بكر ، ما ظنّك باثنين الله ثالثهما ؟

“Wahai Abu Bakar, bagaimana prasangkamu terhadap dua orang yang mana Allah adalah pihak ketiganya?”

وصدق ظنّه بربه ، فإن قريشاً استبعدت وجود النبي – صلى الله عليه وسلم – في هذا المكان ، و انصرفت تجرّ أذيال الخيبة .

Dan terbuktilah kebenaran prasangkanya kepada Rabb-nya, karena sesungguhnya kaum Quraisy menganggap mustahil keberadaan Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam di tempat tersebut, sehingga mereka berpaling pergi seraya menyeret ekor-ekor kegagalan (pulang dengan tangan hampa).

وأقام النبي – صلى الله عليه وسلم -في الغار ثلاث ليالٍ ، وكان عبدالله بن أبي بكر رضي الله عنهما يأتي كل يوم ليبلغهما أخبار قريش ، و عامر بن فهيرة يأتي بالأغنام ليشربا من لبنها ، ويخفي آثار عبدالله بن أبي بكر ، حتى جاء عبدالله بن أريقط في الموعد المنتظر ، ومعه رواحل السفر .

Dan Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam menetap di dalam gua selama tiga malam. Abdullah bin Abi Bakar radhiyallaahu ‘anhuma selalu datang setiap hari untuk menyampaikan kabar-kabar tentang Quraisy kepada keduanya, sedangkan Amir bin Fuhairah datang membawa kambing-kambing perahan agar keduanya dapat meminum susunya, sekaligus menyamarkan jejak-jejak langkah Abdullah bin Abi Bakar, hingga akhirnya Abdullah bin Uraiqith datang pada waktu yang ditunggu-tunggu dengan membawa hewan-hewan tunggangan untuk perjalanan (rawaahil as-safar).

وفي ليلة الإثنين من شهر ربيع الأوّل انطلق الركب إلى المدينة متّخذاً طريق الساحل ، وظلوا يسيرون طيلة يومهم ، و أبو بكر رضي الله عنه يمشي مرّة أمام النبي – صلى الله عليه وسلم – ، ومرّة خلفه ، ومرّة عن يمينه ، ومرّة عن يساره ، خوفاً عليه من قريش ، حتى توسّطت الشمس كبد السماء ، فنزلوا عند صخرةٍ عظيمةٍ واستظلّوا بظلّها ، وبسط أبو بكر رضي الله عنه المكان للنبي – صلى الله عليه وسلم – وسوّاه بيده لينام ، وبينما هم كذلك إذ أقبل غلام يسوق غنمه قاصداً تلك الصخرة ، فلما اقترب قال له أبوبكر رضي الله عنه : لمن أنت يا غلام ؟ ، فقال : لرجل من أهل مكة ، فقال له : أفي غنمك لبن ؟ ، فقال : نعم ، فحلب للنبي – صلى الله عليه وسلم -في إناء ، فشرب منه حتى ارتوى .

Pada malam Senin di bulan Rabi’ul Awwal, rombongan bertolak menuju Madinah dengan mengambil jalur pesisir pantai. Mereka terus berjalan sepanjang hari, sementara Abu Bakar radhiyallaahu ‘anhu kadang berjalan di depan Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam, kadang di belakang beliau, kadang di sebelah kanan beliau, dan kadang di sebelah kiri beliau, karena rasa khawatir terhadap kejaran kaum Quraisy. Hingga ketika matahari berada tepat di tengah langit, mereka singgah di dekat sebuah batu besar dan berteduh di bawah naungannya. Abu Bakar radhiyallaahu ‘anhu membentangkan alas tempat untuk Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam dan meratakannya dengan tangannya agar beliau bisa tidur. Ketika mereka sedang dalam keadaan demikian, tiba-tiba seorang anak muda datang menggembalakan kambingnya menuju ke arah batu besar tersebut. Ketika ia mendekat, Abu Bakar radhiyallaahu ‘anhu bertanya kepadanya: “Milik siapa engkau wahai anak muda?” Ia menjawab: “Milik seorang pria dari penduduk Makkah.” Abu Bakar bertanya lagi kepadanya: “Apakah pada kambingmu ada susu?” Ia menjawab: “Ya.” Maka ia pun memerah susu untuk Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam ke dalam sebuah wadah, lalu beliau meminumnya hingga puas.

وفي هذه الأثناء استطاع أحد المشركين أن يلمح النبي – صلى الله عليه وسلم – من بعيد ، فانطلق مسرعاً إلى سراقة بن مالك وقال له : يا سراقة ، إني قد رأيت أناساً بالساحل ، وإني لأظنّهم محمداً وأصحابه ، فعرف سراقة أنهم هُم ، ولكنّه أراد أن يُقنع الرجل بأنّه واهم حتى يفوز بالجائزة وحده ، ولبث سراقة في المجلس ساعة حتى لا يثير انتباه من معه ، ثم تسلّل من بينهم وأخذ فرسه ورمحه وانطلق مسرعاً ، فلما دنا منهم عثرت به فرسه حتى سقط ، فتشاءم من سقوطه ، وعاد مرة أخرى وامتطى فرسه وانطلق ، فسقط مرة ثانيةً وتعاظم شؤمه ، لكن رغبته في الفوز بالجائزة أنسته هواجسه ومخاوفه ، ولما اقترب من النبي – صلى الله عليه وسلم – غاصت قدما فرسه في الأرض إلى الركبتين ، وتصاعد الدخان من بينهما ، فعلم أنهم محفوظون بحفظ الله ، فطلب منهم الأمان وعاهدهم أن يخفي عنهم ، وكتب له النبي – صلى الله عليه وسلم – كتاب أمان ووعده بسواريْ كسرى ، وأوفى سراقة بوعده فكان لا يلقى أحداً يبحث عن النبي – صلى الله عليه وسلم -إلا أمره بالرجوع ، وكتم خبرهم حتى وصلوا إلى المدينة .

Di saat yang sama, salah seorang musyrik berhasil sekilas melihat Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam dari kejauhan. Maka ia bergegas menuju Suraqah bin Malik dan berkata kepadanya: “Wahai Suraqah, sungguh aku telah melihat beberapa orang di pesisir pantai, dan aku benar-benar menduga mereka adalah Muhammad dan para shahabatnya.” Suraqah pun menyadari bahwa itu memang mereka, namun ia ingin meyakinkan orang tersebut bahwa ia hanya berhalusinasi agar ia bisa memenangkan hadiah itu sendirian. Suraqah pun berdiam diri di majelis tersebut sebentar agar tidak menimbulkan kecurigaan orang-orang yang bersamanya, kemudian ia menyelinap dari tengah-tengah mereka, mengambil kudanya serta tombaknya, lalu bertolak dengan cepat. Ketika ia sudah dekat dengan mereka, kudanya tersandung hingga ia terjatuh. Ia merasa sial (*tasyatsa’um*) karena kejatuhannya tersebut, lalu ia kembali lagi menunggangi kudanya dan bertolak, namun ia terjatuh untuk kedua kalinya sehingga timbul rasa sial yang semakin besar. Akan tetapi, keinginannya untuk memenangkan hadiah membuat dirinya melupakan bisikan dan ketakutannya. Dan ketika ia semakin mendekat kepada Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam, kedua kaki depan kudanya terperosok ke dalam tanah hingga ke lutut, dan membubunglah debu seperti asap dari antara keduanya. Maka ia pun mengetahui bahwa mereka benar-benar dilindungi dengan perlindungan Allah, lalu ia meminta jaminan keamanan dari mereka dan berjanji kepada mereka untuk menyembunyikan keberadaan mereka. Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam pun menuliskan baginya surat jaminan keamanan dan menjanjikannya dua gelang Kisra. Suraqah pun menepati janjinya, di mana ia tidak bertemu dengan seorang pun yang sedang mencari Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam melainkan ia memerintahkannya untuk kembali, dan ia menyembunyikan kabar tentang mereka hingga mereka sampai di Madinah.

وفي طريقهم إلى المدينة نزل الرسول – صلى الله عليه وسلم -وصاحبه بخيمة أم معبد ، فسألاها إن كان عندها شيء من طعامٍ ونحوه ، فاعتذرت بعدم وجود شيء سوى شاة هزيلة لا تدرّ اللبن ، فأخذ النبي – صلى الله عليه وسلم -الشاة فمسح ضرعها بيده ودعا الله أن يبارك فيها ، ثم حلب في إناء ، وشرب منه الجميع ، وكانت هذه المعجزة سبباً في إسلامها هي وزوجها .

Dan dalam perjalanan mereka menuju Madinah, Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam beserta shahabatnya singgah di kemah Ummu Ma’bad. Keduanya bertanya kepadanya apakah ia memiliki sesuatu dari makanan atau sejenisnya, lalu ia meminta maaf karena tidak ada sesuatu apa pun kecuali seekor kambing kurus yang tidak menghasilkan susu. Maka Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam mengambil kambing tersebut, lalu mengusap ambing susunya dengan tangan beliau dan berdoa kepada Allah agar memberkahinya, kemudian beliau memerah susunya ke dalam wadah dan mereka semua pun meminumnya. Mukjizat ini menjadi sebab masuk Islamnya Ummu Ma’bad beserta suaminya.

وانتهت هذه الرحلة بما فيها من مصاعب وأحداثٍ ، ليصل النبي – صلى الله عليه وسلم -إلى أرض المدينة ، يستقبله فيها أصحابه الذين سبقوه بالهجرة ، وإخوانه الذين أعدّوا العدة لضيافته في بلدهم ، وتلك وقفة أخرى .

Dan berakhirlah perjalanan ini beserta segala kesulitan dan peristiwa di dalamnya, hingga sampai Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam di tanah Madinah, di mana beliau disambut oleh para shahabatnya yang telah mendahuluinya berhijrah, serta saudara-saudaranya yang telah mempersiapkan segala perlengkapan untuk menyambut kedatangannya di negeri mereka. Dan itu merupakan pembahasan di kesempatan yang lain.

Sumber : IslamWeb



Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*


This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.