مشاهد وصور من الهجرة
Pemandangan dan Potret dari Peristiwa Hijrah (Bagian 2 – Selesai)
Alih Bahasa : Reza Ervani bin Asmanu
Artikel Pemandangan dan Potret dari Peristiwa Hijrah (Bagian 2 – Selesai) ini masuk dalam Kategori Sirah Nabawiyah
ومن أبرز مشاهد الهجرة ، ما حدث لعمر بن الخطاب و عياش بن أبي ربيعة و هشام بن العاص بن وائل السهمي ، حين اتّفقوا على اللقاء سرّاً خارج مكّة للرحيل ، وفي الموعد المحدّد حضر عمر بن الخطّاب و عياش بن أبي ربيعة ولم يحضر هشام ، فقد استطاعت قريشٌ القبض عليه وتعذيبه ، حتى فتنوه عن دينه .
Dan di antara potret hijrah yang paling menonjol adalah apa yang terjadi pada Umar bin al-Khaththab, ‘Ayyasy bin Abi Rabi’ah, dan Hisyam bin al-‘Ash bin Wa-il as-Sahmi, ketika mereka bersepakat untuk bertemu secara sembunyi-sembunyi di luar Makkah untuk berangkat. Pada waktu yang telah ditentukan, Umar bin al-Khaththab dan ‘Ayyasy bin Abi Rabi’ah hadir sedangkan Hisyam tidak hadir, karena kaum Quraisy berhasil menangkap dan menyiksanya, hingga mereka memfitnahnya (memalingkannya) dari agamanya.
وعندما وصل عمر و عياش إلى المدينة أرادت قريشٌ أن تقوم بحيلة لاختطاف عياش ، فبعثوا أبا جهل ، والحارث بن هشام ، وذلك لقرابتهما منه ، ولما قدما المدينة بحثا عن عياش حتى وجداه في ( قباء ) فقالا له : ” إن أمك قد نذرت أن لا يمس رأسها مشط ، ولا تستظل من شمس حتى تراك ” ، فشقّ عليه أن يكون سبباً في إيذاء والدته ، لكنّ عمر بن الخطّاب أدرك منذ اللحظة الأولى أنها مكيدة ، فقال له : ” والله إن يريدك القوم إلا ليفتنوك عن دينك ، فاحذرهم ، فوالله لو آذى أمك القمل لامتشطت ، ولو اشتدّ عليها حرّ مكة لاستظلت ” ، فردّ عليه عيّاش قائلاً : ” أبرّ قسم أمي ، ولي هناك مال فآخذه ” ، فقال له عمر : ” والله إنك لتعلم أني لمن أكثر قريش مالاً، فلك نصف مالي ولا تذهب معهما ” ، لكنّه أصرّ على الخروج ، فلم يجد عمر ما يفعله سوى أن يعطيه ناقته كي يفرّ بها عند الحاجة .
Dan ketika Umar dan ‘Ayyasy sampai di Madinah, kaum Quraisy ingin melakukan tipu daya untuk menculik ‘Ayyasy. Maka mereka mengutus Abu Jahal dan Al-Harits bin Hisyam karena hubungan kekerabatan keduanya dengannya. Tatkala keduanya tiba di Madinah, mereka mencari ‘Ayyasy hingga menyelesaikannya di Quba, lalu keduanya berkata kepadanya: “Sesungguhnya ibumu telah bernazar untuk tidak menyentuh kepalanya dengan sisir dan tidak akan berteduh dari terik matahari sampai ia melihatmu.” Maka terasa berat baginya untuk menjadi sebab penderitaan ibunya, akan tetapi Umar bin al-Khaththab menyadari sejak saat pertama bahwasanya itu adalah makar, lalu ia berkata kepadanya: “Demi Allah, tidaklah kaum itu menginginkanmu melainkan untuk memfitnahmu dari agamamu, maka waspadailah mereka! Demi Allah, seandainya kutu mengganggu ibumu niscaya ia akan menyisir rambutnya, dan seandainya panas Makkah menyiksanya niscaya ia akan berteduh.” Namun ‘Ayyasy membalasnya seraya berkata: “Aku akan memenuhi sumpah ibuku, dan aku memiliki harta di sana yang akan kuambil.” Maka Umar berkata kepadanya: “Demi Allah, engkau sungguh mengetahui bahwa aku termasuk orang Quraisy yang paling banyak hartanya, maka bagimu separuh hartaku dan janganlah engkau pergi bersama keduanya.” Akan tetapi ‘Ayyasy tetap bersikeras untuk keluar, sehingga Umar tidak menemukan hal yang bisa dilakukannya selain memberikannya untanya agar ia bisa melarikan diri dengannya saat dibutuhkan.
وفي طريق العودة طلب أبو جهل من عياش أن يركبه على ناقته ، وما أن نزل عياش عن ظهر الناقة حتى هجما عليه وأحكما وثاقه ، ثم دخلا به مكّة وعذّباه حتى فُتن عن دينه .
Dan di tengah perjalanan pulang, Abu Jahal meminta ‘Ayyasy untuk memboncengkannya di atas untanya. Begitu ‘Ayyasy turun dari punggung unta, keduanya langsung menyerangnya dan mengikatnya dengan kuat, kemudian membawanya masuk ke Makkah dan menyiksanya hingga ia terfitnah dari agamanya.
ولما وصل الخبر إلى المسلمين أحزنهم ذلك ، وكانوا يظنّون أن الله تعالى لن يقبل منه ومن أمثاله توبةً ؛ وذلك لكفرهم بعد أن عرفوا الله وآمنوا برسوله ، حتى أنزل الله تعالى :
Ketika kabar tersebut sampai kepada kaum muslimin, hal itu membuat mereka sedih, dan mereka mengira bahwasanya Allah Ta‘ala tidak akan menerima taubat darinya dan dari orang-orang yang sepertinya; hal itu karena kekafiran mereka setelah mereka mengenal Allah dan beriman kepada Rasul-Nya, hingga Allah Ta‘ala menurunkan firman-Nya:
قُلْ يَا عِبَادِيَ الَّذِينَ أَسْرَفُوا عَلَىٰ أَنفُسِهِمْ لَا تَقْنَطُوا مِن رَّحْمَةِ اللَّهِ ۚ إِنَّ اللَّهَ يَغْفِرُ الذُّنُوبَ جَمِيعًا ۚ إِنَّهُ هُوَ الْغَفُورُ الرَّحِيمُ ﴿٥٣﴾ وَأَنِيبُوا إِلَىٰ رَبِّكُمْ وَأَسْلِمُوا لَهُ مِن قَبْلِ أَن يَأْتِيَكُمُ الْعَذَابُ ثُمَّ لَا تُنصَرُونَ ﴿٥٤﴾ وَاتَّبِعُوا أَحْسَنَ مَا أُنزِلَ إِلَيْكُم مِّن رَّبِّكُم مِّن قَبْلِ أَن يَأْتِيَكُمُ الْعَذَابُ بَغْتَةً وَأَنتُمْ لَا تَشْعُرُونَ ﴿٥٥﴾ [الزمر: ٥٣-٥٥]
“Katakanlah: ‘Hai hamba-hamba-Ku yang melampaui batas terhadap diri mereka sendiri, janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya. Sesungguhnya Dia-lah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. Dan kembalilah kamu kepada Rabb-mu, dan berserah dirilah kepada-Nya sebelum datang azab kepadamu kemudian kamu tidak dapat ditolong (lagi). Dan ikutilah yang paling baik dari apa yang telah diturunkan kepadamu dari Rabb-mu sebelum datang azab kepadamu dengan tiba-tiba, sedang kamu tidak menyadarinya.'” [Az-Zumar: 53-55]
فأسرع عمر بن الخطّاب رضي الله عنه يبشّر هشام بن العاص بقبول التوبة ، وأرسل إليه تلك الآيات على صحيفة ، ولما قرأها هشام لم يفهمها ، فدعا الله أن يلهمه معناها ، فألقى الله في قلبه أنها نزلت فيه وفي أمثاله ، فعاد إلى المدينة تائباً مسلما ، وتبعه عياش بعد أن استطاع الفرار من قريش .
Maka Umar bin al-Khaththab radhiyallaahu ‘anhu bergegas memberikan kabar gembira kepada Hisyam bin al-‘Ash tentang diterimanya taubat, dan ia mengirimkan ayat-ayat tersebut kepadanya di atas lembaran kertas (shahifah). Tatkala Hisyam membacanya, ia belum memahaminya, lalu ia berdoa kepada Allah agar mengilhamkan maknanya kepadanya. Maka Allah mengilhamkan ke dalam hatinya bahwasanya ayat tersebut turun berkenaan dengan dirinya dan orang-orang yang sepertinya, lalu ia kembali ke Madinah dalam keadaan bertaubat lagi berserah diri (muslim), dan ‘Ayyasy mengikutinya setelah ia berhasil meloloskan diri dari Quraisy.
إنها نماذج حيّة ، وصور صادقة للمواقف الصعبة التي واجهها المهاجرون في سبيل الحصول على حرّيتهم الدينية ، والتخلّص من أذى قريشٍ واضطهادها ، لتكون تلك التضحيات الخطوة الأخيرة لتأسيس الدولة الإسلامية ، وإقامة مجتمعها الآمن .
Sesungguhnya ini merupakan teladan-teladan yang hidup, dan gambaran-gambaran yang jujur tentang sikap-sikap sulit yang dihadapi oleh para muhajirin demi memperoleh kebebasan beragama mereka, serta membebaskan diri dari gangguan kaum Quraisy dan penindasan mereka, agar pengorbanan-pengorbanan tersebut menjadi langkah terakhir dalam mendirikan negara Islam dan menegakkan masyarakatnya yang aman.
والله أعلم.
Wallahu a’lam.
Sumber : IslamWeb
Leave a Reply