Pemandangan dan Potret dari Peristiwa Hijrah (1)



مشاهد وصور من الهجرة

Pemandangan dan Potret dari Peristiwa Hijrah (Bagian 1)

Alih Bahasa : Reza Ervani bin Asmanu

Artikel Pemandangan dan Potret dari Peristiwa Hijrah (Bagian 1) ini masuk dalam Kategori Sirah Nabawiyah

( إني أُريت دار هجرتكم ذات نخل ، فإذا هي المدينة ) كانت هذه الرؤيا التي رآها النبي – صلى الله عليه وسلم – سفينة النجاة من أذى قريشٍ واضطهادها ، للوصول إلى برّ الأمان وموطن الحرّية التي افتقدها المسلمون طويلاً ، فتجهّزوا للهجرة إلى المدينة ، وتوجّه إليها المهاجرون الذين كانوا في أرض الحبشة .

Sungguh telah diperlihatkan kepadaku negeri tempat hijrah kalian yang memiliki pohon-pohon kurma, dan ternyata negeri itu adalah Madinah.” Penglihatan (mimpi) yang dilihat oleh Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam ini merupakan bahtera penyelamat dari gangguan kaum Quraisy serta penindasan mereka, guna mencapai pantai keselamatan dan tanah kebebasan yang telah lama dirindukan oleh kaum muslimin. Maka mereka pun bersiap-siap untuk berhijrah ke Madinah, dan para muhajirin yang berada di negeri Habasyah (Ethiopia) juga bertolak menujunya.

ولم تكن قريشٌ لتسمح للمؤمنين بالخروج من مكّة بهذه السهولة ، فاستخدمت أبشع وسائل القمع والتعذيب ، ظنّاً منها أنها قادرة على إفشال هذه الهجرة الجماعيّة ، ولكنّ المؤمنين كانوا قد وطّنوا أنفسهم على التضحية والفداء ، ومواجهة جميع المؤامرات بالصبر والثبات مهما كانت النتائج والتبعات ، مما نتج عنه أروع الأمثلة الجديرة بالوقوف عندها وقفة اعتبار وتأمّل .

Dan kaum Quraisy tidak akan membiarkan orang-orang beriman keluar dari Makkah dengan kemudahan seperti ini, sehingga mereka menggunakan sarana-sarana penindasan dan penyiksaan yang paling kejam, karena mengira bahwasanya mereka mampu menggagalkan hijrah massal ini. Akan tetapi, orang-orang beriman telah menyiapkan diri mereka untuk berkorban dan menebus, serta menghadapi seluruh konspirasi dengan kesabaran dan keteguhan betapa pun hasil dan dampaknya. Hal tersebut melahirkan contoh-contoh yang sangat indah yang patut dijadikan bahan renungan dan pelajaran.

فهذا أبو سلمة رضي الله عنه ، انطلق مهاجراً إلى الله ورسوله ، مصطحباً معه زوجته وولده ، إلا أنّ أهل زوجته منعوه من أخذها ، وأمسكوا ولدها ، فغضب لذلك قوم أبي سلمة وقالوا: ” لا والله ، لا نترك ابننا عندها ” ، فتجاذب الفريقان الولد حتى خلعوا يده ، ثم أخذه أهل أبيه ، وواصل أبو سلمة طريق وحده حتى بلغ المدينة .

Inilah Abu Salamah radhiyallaahu ‘anhu, ia bertolak berhijrah menuju Allah dan Rasul-Nya dengan membawa serta istri dan anaknya. Akan tetapi pihak keluarga istrinya melarangnya untuk membawanya, dan menahan anaknya. Maka kaum Abu Salamah pun marah karena hal tersebut seraya berkata: “Tidak demi Allah, kami tidak akan membiarkan anak kami berada di sisinya.” Lalu kedua belah pihak saling tarik-menarik anak tersebut hingga mereka membuat tangannya terlepas (terdislokasi), kemudian keluarga ayahnya mengambilnya, dan Abu Salamah melanjutkan perjalanannya sendirian hingga sampai di Madinah.

وهكذا استقبل أبو سلمة هذه المحنة بصبر وثبات ، وزوجته تتجرّع مرارة الألم على فراقه وفراق ابنها ، وبقيت نحو عامٍ تخرج كل يومٍ تبكي على فراق زوجها حتى المساء ، إلى أن رآها رجلٌ من قومها ، فأدركته الشفقة عليها ، وشفع لها عند قومها حتى سمحوا لها بالهجرة ، فلما سمع أهل زوجها بذلك ردّوا عليها ولدها ، وانطلقت مهاجرة تحمل وليدها وليس معهما أحد ، وفي الطريق رآها عثمان بن طلحة وهي على هذه الحال ، فأركبها راحلته ومشى بها حتى وصل إلى مشارف قريةٍ قرب المدينة ، وقال لها : ” زوجك في هذه القرية ، فادخليها على بركة الله ” ، ثم انصرف راجعاً إلى مكة .

Demikianlah Abu Salamah menghadapi ujian ini dengan kesabaran dan keteguhan, sementara istrinya menelan kepahitan rasa sakit atas perpisahan darinya dan perpisahan dari anaknya. Istrinya menetap selama sekitar satu tahun keluar setiap hari menangisi perpisahan dengan suaminya hingga sore hari, sampai seorang pria dari kaumnya melihatnya, lalu timbullah rasa iba padanya, dan ia memberikan pembelaan (syafaat) baginya di hadapan kaumnya hingga mereka mengizinkannya untuk berhijrah. Tatkala keluarga suaminya mendengar hal tersebut, mereka mengembalikan anaknya kepadanya, lalu ia pun bertolak berhijrah menggendong bayinya dalam keadaan tidak ada seorang pun bersama keduanya. Di tengah perjalanan, Utsman bin Thalhah melihatnya dalam kondisi demikian, lalu ia menaikkannya ke atas hewan tunggangannya dan berjalan menuntunnya hingga sampai di pinggiran sebuah desa dekat Madinah, lalu berkata kepadanya: “Suamimu berada di desa ini, maka masuklah ke dalamnya atas keberkahan Allah,” kemudian ia berbalik pulang kembali ke Makkah.

وكانت هجرة صهيب بن سنان الرومي رضي الله عنه صورةٌ أخرى من صور الهجرة ، تجلّت فيها معاني التضحية بالمال وبذله رخيصاً في سبيل الله ، فبعد أن عقد العزم على الهجرة ، حاول كفّار قريشٌ أن يلحقوا به ويمنعوه ، فلما رآهم أخرج سهامه ، وهدّدهم أن يقاتلهم حتى آخر رمق ، فقالوا له : ” أتيتنا صعلوكا فكثُر مالك عندنا ، ثم تريد أن تخرج بنفسك ومالك ؟ ، والله لا يكون ذلك ” ، فرد عليهم : ” أرأيتم إن تركت مالي لكم هل تخلون سبيلي ؟ ” ، قالوا : ” نعم ” ، فدلّهم على الموضع الذي خبّأ فيه ماله بمكّة ، فسمحوا له بإتمام رحلته إلى المدينة ، بعد أن ضحّى بكل ما يملك في سبيل عقيدته ودعوته ، ولما بلغ خبره النبي – صلى الله عليه وسلم -قال : ( ربح البيع أبا يحي ) ، وتلا قوله تعالى:

Dan hijrah Shuhaib bin Sinan Ar-Rumi radhiyallaahu ‘anhu merupakan gambaran lain dari potret-potret hijrah, yang menampakkan di dalamnya makna-makna pengorbanan harta dan menganggapnya murah di jalan Allah. Setelah ia membulatkan tekad untuk berhijrah, orang-orang kafir Quraisy berusaha menyusul dan menghalanginya. Tatkala ia melihat mereka, ia mengeluarkan anak-anak panahnya dan mengancam akan memerangi mereka hingga nafas terakhir. Maka mereka berkata kepadanya: “Engkau mendatangi kami dalam keadaan miskin (sha’luuk), lalu hartamu menjadi banyak di tempat kami, kemudian engkau ingin keluar membawa dirimu dan hartamu? Demi Allah hal itu tidak akan terjadi!” Maka ia menjawab mereka: “Bagaimana pendapat kalian jika aku tinggalkan hartaku untuk kalian, apakah kalian akan membiarkan jalanku?” Mereka menjawab: “Ya.” Maka ia menunjukkan kepada mereka tempat di mana ia menyembunyikan hartanya di Makkah, lalu mereka mengizinkannya untuk menyempurnakan perjalanannya ke Madinah, setelah ia mengorbankan segala yang dimilikinya demi akidah dan dakwahnya. Ketika kabar tentangnya sampai kepada Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda: “Sangat beruntung jual beli itu wahai Abu Yahya!” Dan beliau membaca firman Allah Ta‘ala:

وَمِنَ النَّاسِ مَن يَشْرِي نَفْسَهُ ابْتِغَاءَ مَرْضَاتِ اللَّهِ وَاللَّهُ رَءُوفٌ بِالْعِبَادِ [البقرة: ٢٠٧]

“Dan di antara manusia ada orang yang mengorbankan dirinya karena mencari keridaan Allah; dan Allah Maha Penyayang kepada hamba-hamba-Nya.” [Al-Baqarah: 207] (HR. Al-Hakim)

Bersambung ke bagian berikutnya in sya Allah

Sumber : IslamWeb



Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*


This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.