Generasi Awal Muhajirin dari Para Shahabat (1)



أوائل المهاجرين من الصحابة

Generasi Awal Muhajirin dari Para Shahabat (Bagian 1)

Alih Bahasa : Reza Ervani bin Asmanu

Artikel Generasi Awal Muhajirin dari Para Shahabat (Bagian 1) ini masuk dalam Kategori Sirah Nabawiyah

اشتد الأذى بالمؤمنين في مكة حتي صارت جحيماً لايطاق ، فأذن النبي صلى الله عليه وسلم للمسلمين بالهجرة إلى المدينة حتي يأمنوا على أنفسهم ، ويقيموا شعائر دينهم ، فاستجاب المؤمنون لله ورسوله فهاجروا ، وكان منهم سابقون إلى الهجرة، فمن أول من هاجر من الصحابة ؟ هذا ما سنستعرضه في مقالنا التالي

Gangguan terhadap orang-orang beriman di Makkah semakin mendalam hingga kota itu menjadi seperti neraka yang tidak tertahankan. Maka Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam mengizinkan kaum muslimin untuk berhijrah ke Madinah agar mereka aman atas diri mereka dan dapat menegakkan syiar-syiar agama mereka. Orang-orang beriman pun menyambut seruan Allah dan Rasul-Nya lalu berhijrah, dan di antara mereka terdapat orang-orang yang mendahului dalam berhijrah. Maka siapakah orang pertama yang berhijrah dari kalangan shahabat? Inilah yang akan kita paparkan dalam artikel kita berikut ini.

يتفق موسى بن عقبة و ابن إسحاق على أن أبا سلمة بن عبد الأسد هو أول من هاجر من مكة إلى المدينة بعد أن آذته قريش إثر عودته من هجرة الحبشة ، فتوجه إلى المدينة قبل بيعة العقبة بسنة .

Musa bin ‘Uqbah dan Ibnu Ishaq bersepakat bahwasanya Abu Salamah bin ‘Abdul Asad adalah orang pertama yang berhijrah dari Makkah ke Madinah setelah kaum Quraisy menyakitinya seusai kepulangannya dari hijrah Habasyah. Maka ia bertolak menuju Madinah satu tahun sebelum peristiwa Bai’at ‘Aqabah.

وكذلك فإن مصعب بن عمير و ابن مكتوم كانا من أوائل المهاجرين حيث كانا يقرئان الناس القرآن . وقد تتابع المهاجرون فقدم المدينة بلال بن رباح و سعد ابن أبي وقاص و عمار بن ياسر ثم عمر بن الخطاب في عشرين من الصحابة .

Demikian pula Mush’ab bin ‘Umair dan Ibnu Ummi Maktum termasuk generasi awal kaum muhajirin di mana keduanya membacakan dan mengajarkan Al-Qur’an kepada manusia. Kemudian kaum muhajirin datang beruntun, maka tibalah di Madinah Bilal bin Rabah, Sa’ad bin Abi Waqqash, dan ‘Ammar bin Yasir, kemudian ‘Umar bin al-Khaththab bersama dua puluh orang dari para shahabat.

وقد سعت قريش بشتى الطرق إلى عرقلة الهجرة إلى المدينة ، وإثارة المشاكل أمام المهاجرين ، مرة بحجز أموالهم ومنعهم من حملها ، ومرة بحجز زوجاتهم وأطفالهم ، وثالثة بالاحتيال لإعادتهم إلى مكة ، لكن شيئاً من ذلك كله لم يعق موكب الهجرة ، فالمهاجرون كانوا على أتم الاستعداد للانخلاع عن أموالهم وأهليهم ودنياهم كلها تلبية لداعي العقيدة .

Dan kaum Quraisy berusaha dengan berbagai cara untuk merintangi hijrah ke Madinah serta memicu masalah di hadapan kaum muhajirin; terkadang dengan menahan harta-harta mereka dan melarang mereka membawanya, terkadang dengan menahan istri-istri serta anak-anak mereka, dan pada kali yang lain dengan tipu daya untuk mengembalikan mereka ke Makkah. Akan tetapi, tidak ada satu pun dari seluruh hal tersebut yang mampu menghalangi rombongan hijrah, sebab kaum muhajirin berada dalam kesiapan penuh untuk melepaskan harta, keluarga, dan seluruh dunia mereka demi menyambut panggilan akidah.

قالت أم المؤمنين أم سلمة رضي الله عنها: لما أجمع أبو سلمة الخروج إلى المدينة رحل لي بعيره ، ثم حملني عليه ، وحمل معي ابني سلمة بن أبي سلمة في حجري ، ثم خرج بي يقود بعيره ، فلما رأته رجال بني المغيرة بن عبد الله بن عمرو ابن مخزوم قاموا إليه فقالوا : هذه نفسك غلبتنا عليها ، أرأيت صاحبتنا هذه علام نتركك تسير بها في البلاد ؟ قالت : فنزعوا خطام البعير من يده فأخذوني منه ، قالت : وغضب عند ذلك بنو عبد الأسد رهط أبي سلمة . قالوا : لا والله لاتترك ابننا عندها إذ نزعتموها من صاحبنا ، قالت : فتجاذبوا ابني سلمة بينهم حتى خلعوا يده ، وانطلق به بنو عبد الأسد وحبسني بنو المغيرة عندهم ، وانطلق زوجي أبو سلمة إلى المدينة ، قالت : ففرق بيني وبين زوجي وبين ابني ، قالت : فكنت أخرج كل غداة فأجلس بالأبطح ، فما أزال أبكي حتى أمسي ، سنة أو قريباً منها ، حتى مرّ بي رجل من بني عمي – أحد بني المغيرة – فرأى مابي ، فرحمني , فقال لبني المغيرة : ألا تخرجون هذه المسكينة فرّقتم بينها وبين زوجها وبين ولدها ؟ قالت : فقالوا لي : الحقي بزوجك إن شئت ، قالت : وردّ بنو عبد الأسد إليّ عند ذلك ابني .

Ummul Mukminin Ummu Salamah radhiyallaahu ‘anha berkata: Tatkala Abu Salamah telah bulat tekadnya untuk keluar menuju Madinah, ia menyiapkan unta bagiku lalu menaikkanku ke atasnya dan membawa serta anakku, Salamah bin Abi Salamah, di pangkuanku. Kemudian ia keluar membawaku seraya menuntun untanya. Tatkala orang-orang dari Banu al-Mughirah bin ‘Abdullah bin ‘Amr bin Makhzum melihatnya, mereka mendatangi Abu Salamah dan berkata: “Mengenai dirimu engkau telah mengalahkan kami, namun bagaimana dengan putri kami ini, atas dasar apa kami membiarkanmu membawanya pergi berjalan di berbagai negeri?” Ummu Salamah berkata: Maka mereka merebut tali kendali unta dari tangannya lalu mengambilku darinya. Ummu Salamah berkata: Pada saat itu Banu ‘Abdul Asad —kerabat Abu Salamah— menjadi marah. Mereka berkata: “Tidak demi Allah, kami tidak akan membiarkan anak kami berada di sisinya setelah kalian merebut wanita itu dari saudara kami!” Ummu Salamah berkata: Maka mereka saling tarik-menarik anakku, Salamah, di antara mereka hingga mereka membuat tangannya terlepas (terdislokasi). Lalu Banu ‘Abdul Asad membawa anak itu pergi, sedangkan Banu al-Mughirah menahanku di tempat mereka, dan suamiku, Abu Salamah, berangkat menuju Madinah. Ummu Salamah berkata: Maka dipisahkanlah antara diriku, suamiku, dan anakku. Ia berkata: Dahulu aku keluar setiap pagi lalu duduk di Al-Abthah, aku terus-menerus menangis hingga sore hari selama satu tahun atau mendekatinya. Hingga lewatlah seorang pria dari sepupuku —salah seorang dari Banu al-Mughirah— lalu ia melihat kondisiku dan merasa iba kepadaku. Ia berkata kepada Banu al-Mughirah: “Mengapa kalian tidak membiarkan wanita miskin ini keluar, kalian telah memisahkan antara dirinya, suaminya, dan anaknya?” Ummu Salamah berkata: Maka mereka berkata kepadaku: “Susullah suamimu jika engkau mau!” Dan pada saat itu Banu ‘Abdul Asad mengembalikan anakku kepadaku.

قالت : فارتحلت بعيري ، ثم أخذت ابني فوضعته في حجري ، ثم خرجت أريد زوجي بالمدينة ، وما معي أحد من خلق الله . قالت : فقلت : أتبلغ بمن لقيت حتى أقدم على زوجي . حتى إذا كنت بالتنعيم لقيت عثمان بن طلحة بن أبي طلحة أخا بني عبد الدار , فقال لي : إلى أين يا بنت أبي أمية ؟ قالت : فقلت : أريد زوجي بالمدينة . قال : أو معك أحد ؟ قالت : فقلت : لا والله إلا الله وبنيّ هذا . قال : والله مالك من مترك فأخذ بخطام البعير . فانطلق معي يهوي بي ، فوالله ماصحبت رجلاً من العرب قط أرى أنه كان أكرم منه ، كان إذا بلغ المنزل أناخ بي ، ثم استأخر عني ، حتى إذا نزلت عنه استأخر ببعيري فحط عنه ، ثم قيده في الشجرة ، ثم تنحّى إلى الشجرة فاضطجع تحتها ، فإذا دنا الرواح قام إلى بعيري فقدّمه فرحّله ، ثم استأخر عني فقال : اركبي ، فإذا ركبت فاستويت على بعيري أتى فأخذ بخطامه ، فقاد بي حتى ينزل بي ، فلم يزل يصنع ذلك بي حتى أقدمني المدينة ، فلما نظر إلى قرية بني عمرو بن عوف بقباء قال : زوجك في هذه القرية – وكان أبوسلمة بها نازلاً – فادخليها على بركة الله ، ثم انصرف راجعاً إلى مكة . قال فكانت تقول : والله ما أعلم أهل بيت في الإسلام أصابهم ما أصاب آل أبي سلمة . وما رأيت صاحباً قط أكرم من عثمان بن طلحة ).

Ummu Salamah berkata: Maka aku menyiapkan untaku lalu mengambil anakku dan mendudukkannya di pangkuanku, kemudian aku keluar hendak menuju suamiku di Madinah, dan tidak ada seorang pun dari ciptaan Allah yang bersamaku. Ia berkata: Maka aku berkata (dalam hati): Aku akan menyambung perjalanan dengan siapa saja yang kutemui hingga aku sampai kepada suamiku. Hingga ketika aku berada di At-Tan’im, aku bertemu dengan ‘Utsman bin Thalhah bin Abi Thalhah, saudara dari Banu ‘Abdiddar. Ia berkata kepadaku: “Hendak ke mana wahai putri Abu Umayyah?” Aku menjawab: “Aku hendak menuju suamiku di Madinah.” Ia bertanya: “Apakah ada seseorang yang bersamamu?” Aku menjawab: “Tidak demi Allah, tidak ada melainkan Allah dan anakku ini.” Ia berkata: “Demi Allah, engkau tidak boleh dibiarkan terlunta-lunta!” Maka ia mengambil tali kendali unta lalu bertolak bersamaku berjalan menuntunku. Demi Allah, aku tidak pernah mendampingi seorang pria pun dari bangsa Arab yang aku lihat lebih mulia daripada dirinya. Dahulu apabila telah sampai di tempat persinggahan, ia menderumkan unta bagiku lalu ia mundur menjauh dariku. Hingga tatkala aku telah turun darinya, ia mundur membawa untaku lalu menurunkan perbekalan darinya, kemudian mengikat unta itu di pohon, lalu ia menyendiri menuju pohon yang lain dan berbaring di bawahnya. Apabila telah dekat waktu keberangkatan sore, ia bangkit menuju untaku lalu mendekatkannya dan memasang pelana di atasnya, kemudian ia mundur menjauh dariku seraya berkata: “Naiklah!” Tatkala aku telah naik dan duduk dengan mantap di atas untaku, ia datang lalu mengambil tali kendalinya dan menuntunku hingga menahankanku untuk singgah. Ia terus-menerus melakukan hal itu kepadaku hingga ia membawaku sampai ke Madinah. Tatkala ia melihat ke arah desa Banu ‘Amr bin ‘Auf di Quba, ia berkata: “Suamimu berada di desa ini” —dan Abu Salamah saat itu singgah di sana— “maka masuklah ke dalamnya atas keberkahan Allah!” Kemudian ia berbalik pulang kembali ke Makkah. Ummu Salamah berkata: Dahulu ia selalu mengucapkan: “Demi Allah, aku tidak mengetahui satu keluarga pun dalam Islam yang ditimpa penderitaan seperti apa yang menimpa keluarga Abu Salamah, dan aku tidak pernah melihat teman perjalanan sama sekali yang lebih mulia daripada ‘Utsman bin Thalhah.”

Bersambung ke bagian berikutnya in sya Allah

Sumber : IslamWeb



Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*


This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.