Generasi Awal Muhajirin dari Para Shahabat (2)



أوائل المهاجرين من الصحابة

Generasi Awal Muhajirin dari Para Shahabat (Bagian 2 – Selesai)

Alih Bahasa : Reza Ervani bin Asmanu

Artikel Generasi Awal Muhajirin dari Para Shahabat (Bagian 2 – Selesai) ini masuk dalam Kategori Sirah Nabawiyah

وقد سقت الخبر بطوله لما فيه من دلالة على الصعوبات التي واجهها المهاجرون وهي تشير إلى أصر العصبية في اتخاذ العشائر القرشية مواقفها من الأحداث ، فقد انحاز قوم أبي سلمة إليه رغم مخالفتهم له في العقيدة ، ثم إن الخبر يكشف عن صورة من صور المروءة التي عرفها المجتمع القرشي قبل الإسلام تتمثل في موقف عثمان بن طلحة وتطوعه في مصاحبة المرأة وإحسان معاملتها مما يدل على سلامة الفطرة التي قادته أخيراً إلى الإسلام بعد صلح الحديبية ، ولعل إضاءة قلبه بدأت منذ تلك الرحلة مع المرأة المسلمة .

Dan aku memaparkan kabar tersebut secara panjang lebar karena di dalamnya terdapat petunjuk atas kesulitan-kesulitan yang dihadapi oleh kaum muhajirin, serta mengisyaratkan tentang pengaruh fanatisme kesukuan (‘ashabiyyah) pada kabilah-kabilah Quraisy dalam mengambil sikap mereka terhadap berbagai peristiwa. Kaum Abu Salamah berpihak kepadanya meskipun mereka berselisih dengannya dalam hal akidah. Kemudian kabar tersebut juga menyingkap salah satu bentuk kedermawanan dan harga diri (muruu-ah) yang dikenal oleh masyarakat Quraisy sebelum Islam, yang terwujud dalam sikap ‘Utsman bin Thalhah dan kesukarelaannya dalam mendampingi wanita tersebut serta memperlakukannya dengan baik. Hal ini menunjukkan atas kesucian fitrah yang akhirnya menuntunnya menuju Islam setelah Perjanjian Hudaibiyah, dan barangkali pancaran cahaya di hatinya telah bermula sejak perjalanan bersama wanita muslimah tersebut.

وثمة صورة تاريخية لحدث آخر هو هجرة عمر بن الخطاب كما حدّث بها بنفسه قال : ( اتعدت – لما أردنا الهجرة إلى المدينة – أنا و عياش بن أبي ربيعة ، و هشام بن العاص بن وائل السهمي التناضب – موضع – من أضاءة بني غفار فوق سرف ، وقلنا أينا لا يصبح عندها فقد حبس ، فليمض صاحباه .قال : فأصبحت أنا و عياش بن أبي ربيعة التناضب ، وحبس عنها هشام ، وفتن فافتتن .

Dan ada gambaran sejarah untuk peristiwa yang lain, yaitu hijrah ‘Umar bin al-Khaththab sebagaimana yang ia ceritakan sendiri, ia berkata: (Aku membuat janji bertemu —ketika kami hendak berhijrah ke Madinah— antara diriku, ‘Ayyasy bin Abi Rabi’ah, dan Hisyam bin al-‘Ash bin Wa-il as-Sahmi di At-Tanadhub —sebuah tempat— dari kolam Banu Ghifar di atas Sarif. Kami berkata: ‘Siapa saja di antara kita yang tidak berada di sana pada waktu pagi, berarti ia telah ditahan, maka hendaklah dua orang temannya melanjutkan perjalanan.’ Ia berkata: Maka aku dan ‘Ayyasy bin Abi Rabi’ah berada di At-Tanadhub pada waktu pagi, sedangkan Hisyam ditahan darinya, dan ia difitnah lalu terfitnah.)

فلما قدمنا المدينة نزلنا في بني عمرو بن عوف بقباء ، وخرج أبو جهل بن هشام ، و الحارث بن هشام إلى عياش ابن أبي ربيعة – وكان ابن عمهما وأخاهما لأمهما – حتى قدما علينا المدينة – ورسول الله صلى الله عليه وسلم بمكة – فكلماه وقالا : إن أمك قد نذرت ألا يمسّ رأسها مشط حتى تراك ، فرقّ لها . فقلت له : يا عياش إنه والله إن يريدك القوم إلا ليفتنوك عن دينك فاحذرهم .فقال : أبرّ قسم أمي ، ولي هناك مال فآخذه .

(Tatkala kami sampai di Madinah, kami singgah di Banu ‘Amr bin ‘Auf di Quba. Dan keluarlah Abu Jahal bin Hisyam serta Al-Harits bin Hisyam menuju ‘Ayyasy bin Abi Rabi’ah —dan ‘Ayyasy adalah sepupu keduanya sekaligus saudara seibu mereka— hingga keduanya mendatangi kami di Madinah —sementara Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam masih berada di Makkah—. Keduanya mengabarkan padanya dan berkata: ‘Sesungguhnya ibumu telah bernazar untuk tidak menyentuh kepalanya dengan sisir sampai ia melihatmu,’ maka hatinya menjadi lembut kasihan padanya. Lalu aku berkata kepadanya: ‘Wahai ‘Ayyasy, demi Allah tidaklah kaum itu menginginkanmu melainkan untuk memfitnahmu dari agamamu, maka waspadailah mereka!’ Namun ia berkata: ‘Aku akan memenuhi sumpah ibuku, dan aku memiliki harta di sana yang akan kuambil.’)

فقلت : والله إنك لتعلم أني لمن أكثر قريش مالاً , فلك نصف مالي ولا تذهب معهما . فأبى عليّ إلا أن يخرج معهما . فلما أبى إلا ذلك قلت : أما إذ قد فعلت ما فعلت فخذ ناقتي هذه فإنها ناقة نجيبة ذلول ، فالزم ظهرها ، فإن رابك من القوم ريب فانج عليها ، فخرج عليها معهما . حتى إذا كانوا ببعض الطريق قال له أبو جهل : والله يا أخي لقد استغلظت بعيري هذا , أفلا تعقبني على ناقتك هذه ؟ قال : بلى . قال : فأناخ وأناخ ليتحول عليها ، فلما استووا بالأرض عدوا عليه فأوثقاه وربطاه ، ثم دخلا به مكة وفتناه فافتتن .قال : فكنا نقول : ما الله بقابل ممن افتتن صرفاً ولا عدلاً ولا توبةً ؛ قوم عرفوا الله ثم رجعوا إلى الكفر لبلاء أصابهم .

(Maka aku berkata: ‘Demi Allah, engkau sungguh mengetahui bahwa aku termasuk orang Quraisy yang paling banyak hartanya, maka bagimu separuh hartaku dan janganlah engkau pergi bersama keduanya!’ Akan tetapi ia menolak melainkan harus keluar bersama keduanya. Tatkala ia tetap menolak melainkan hal tersebut, aku berkata: ‘Adapun karena engkau telah melakukan apa yang engkau lakukan, maka ambillah untaku ini, karena sesungguhnya ia adalah unta yang tangguh lagi penurut. Tetaplah berada di atas punggungnya, dan jika engkau merasa ragu akan sesuatu dari kaum itu, maka selamatkanlah dirimu di atasnya!’ Maka ia keluar di atas unta tersebut bersama keduanya. Hingga ketika mereka berada di sebagian jalan, Abu Jahal berkata kepadanya: ‘Demi Allah wahai saudaraku, sungguh untaku ini terasa berat/kasar, tidakkah engkau mau memboncengkanku di atas untamu ini?’ ‘Ayyasy menjawab: ‘Tentu.’ ‘Umar berkata: Maka ‘Ayyasy menderumkan untanya dan Abu Jahal menderumkan untanya agar berpindah ke atasnya. Tatkala mereka bertiga telah berdiri di atas tanah, keduanya menyerang ‘Ayyasy, mengikatnya dengan kuat dan membelenggunya, kemudian keduanya membawanya masuk ke Makkah dan memfitnahnya hingga ia terfitnah. ‘Umar berkata: Maka dahulu kami berkata: ‘Allah tidak akan menerima amalan wajib (sharf), amalan sunnah (‘adl), dan tidak pula taubat dari orang yang terfitnah; mereka adalah kaum yang telah mengenal Allah kemudian kembali kepada kekufuran karena cobaan yang menimpa mereka.’)

قال : وكانوا يقولون ذلك لأنفسهم فلما قدم رسول الله صلى الله عليه وسلم المدينة أنزل الله تعالى فيهم وفي قولنا وقولهم لأنفسهم :

(‘Umar berkata: Dan dahulu mereka juga mengucapkan hal itu untuk diri mereka sendiri. Tatkala Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam tiba di Madinah, Allah Ta‘ala menurunkan firman-Nya mengenai mereka serta mengenai perkataan kami dan perkataan mereka untuk diri mereka sendiri):

قُلْ يَا عِبَادِيَ الَّذِينَ أَسْرَفُوا عَلَىٰ أَنفُسِهِمْ لَا تَقْنَطُوا مِن رَّحْمَةِ اللَّهِ ۚ إِنَّ اللَّهَ يَغْفِرُ الذُّنُوبَ جَمِيعًا ۚ إِنَّهُ هُوَ الْغَفُورُ الرَّحِيمُ ﴿٥٣﴾ وَأَنِيبُوا إِلَىٰ رَبِّكُمْ وَأَسْلِمُوا لَهُ مِن قَبْلِ أَن يَأْتِيَكُمُ الْعَذَابُ ثُمَّ لَا تُنصَرُونَ ﴿٥٤﴾ وَاتَّبِعُوا أَحْسَنَ مَا أُنزِلَ إِلَيْكُم مِّن رَّبِّكُم مِّن قَبْلِ أَن يَأْتِيَكُمُ الْعَذَابُ بَغْتَةً وَأَنتُمْ لَا تَشْعُرُونَ ﴿٥٥﴾ [الزمر: ٥٣-٥٥]

“Katakanlah: ‘Hai hamba-hamba-Ku yang melampaui batas terhadap diri mereka sendiri, janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya. Sesungguhnya Dia-lah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. Dan kembalilah kamu kepada Rabb-mu, dan berserah dirilah kepada-Nya sebelum datang azab kepadamu kemudian kamu tidak dapat ditolong (lagi). Dan ikutilah yang paling baik dari apa yang telah diturunkan kepadamu dari Rabb-mu sebelum datang azab kepadamu dengan tiba-tiba, sedang kamu tidak menyadarinya.'” [Az-Zumar: 53-55]

قال عمر بن الخطاب : فكتبتها بيدي في صحيفة ، وبعثت بها إلى هشام بن العاص . قال فقال هشام : فلما أتتني جعلت أقرؤها بذي طوى أصعد بها فيه وأصوّب ولا أفهمها . حتى قلت : اللهم فهمنيها . قال : فألقى الله تعالى في قلبي أنها إنما أنزلت فينا وفيما كنا نقول لأنفسنا ويقال فينا . قال : فرجعت إلى بعيري فجلست عليه فلحقت برسول الله صلى الله عليه وسلم .

‘Umar bin al-Khaththab berkata: Maka aku menulisnya dengan tanganku di atas sebuah lembaran kertas (shahifah), lalu aku mengirimkannya kepada Hisyam bin al-‘Ash. Ia berkata: Maka Hisyam berkata: Tatkala lembaran itu sampai kepadaku, aku mulai membacanya di Dzi Thuwa, aku membawanya naik dan turun di sana namun aku tidak memahaminya. Hingga aku berdoa: “Ya Allah, pemahamkanlah ia bagiku!” Ia berkata: Maka Allah Ta‘ala mengilhamkan ke dalam hatiku bahwasanya ayat ini hanyalah diturunkan berkenaan dengan kami dan berkenaan dengan apa yang dahulu kami katakan untuk diri kami serta apa yang dikatakan tentang kami. Ia berkata: Maka aku kembali ke untaku lalu duduk di atasnya dan menyusul menyatu bersama Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam.

وأما ما روي من إعلان عمر لهجرته وتهديده من يلحق به بثكل أمه فلم يصح .

Adapun apa yang diriwayatkan mengenai pengumuman ‘Umar atas hijrah-nya dan ancamannya kepada siapa saja yang menyusulnya dengan kehilangan ibunya (kematian), maka hal tersebut tidaklah shahih.

وهكذا وصلت طلائع الهجرة إلى المدينة المنورة ، ووجدوا الأمن والأمان ، والأخوة الصادقة من الأنصار، وأقاموا شعائر دينهم ، فلله الحمد والمنة.

Demikianlah garis depan rombongan hijrah sampai di Madinah al-Munawwarah, dan mereka menemukan keamanan, ketenteraman, serta persaudaraan yang jujur dari kaum Anshar, dan mereka menegakkan syiar-syiar agama mereka, maka hanya bagi Allah segala pujian dan karunia.

والله أعلم.

Wallahu a’lam.

Sumber : IslamWeb



Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*


This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.