Mukjizat Terbelahnya Bulan



معجزة انشقاق القمر

Mukjizat Terbelahnya Bulan

Alih Bahasa : Reza Ervani bin Asmanu

Artikel Mukjizat Terbelahnya Bulan ini masuk dalam Kategori Sirah Nabawiyah

من المعجزات التي أيَّد الله بها نبيه محمداً صلى الله عليه وسلم، معجزة انشقاق القمر إلى شقين، حتى رأى بعض الصحابة جبل حراء بينهما. وكان وقوع هذه المعجزة قبل الهجرة النبوية عندما طلب منه كفار مكة آية تدل على صدق دعوته ، ففي الحديث : ( أن أهل مكة سألوا رسول الله صلى الله عليه وسلم أن يريهم آية ، فأراهم القمر شقين حتى رأوا حراء بينهما ) متفق عليه، وعن ابن مسعود رضي الله عنه قال: ( انشق القمر على عهد رسول الله صلى الله عليه وسلم فرقتين، فرقة فوق الجبل وفرقة دونه، فقال رسول الله صلى الله عليه وسلم اشهدوا ) متفق عليه. وعن ابن مسعود رضي الله عنه قال: لقد رأيت جبل حراء من بين فلقتي القمر.

Di antara mukjizat-mukjizat yang dengannya Allah menguatkan Nabi-Nya Muhammad shallallaahu ‘alaihi wa sallam adalah mukjizat terbelahnya bulan menjadi dua bagian, hingga sebagian shahabat melihat Gunung Hira di antara keduanya. Peristiwa terjadinya mukjizat ini adalah sebelum hijrah kenabian ketika orang-orang kafir Makkah meminta kepada beliau suatu tanda yang menunjukkan atas kebenaran dakwahnya. Maka dalam hadits disebutkan: (Bahwasanya penduduk Makkah meminta kepada Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam agar memperlihatkan kepada mereka suatu tanda, lalu beliau memperlihatkan kepada mereka bulan terbelah menjadi dua bagian hingga mereka melihat Gunung Hira di antara keduanya). (Muttafaq ‘Alaih). Dan dari Ibnu Mas’ud radhiyallaahu ‘anhu, ia berkata: (Bulan terbelah pada masa Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam menjadi dua bagian, satu bagian berada di atas gunung dan satu bagian lagi di bawahnya, lalu Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Saksikanlah!“). (Muttafaq ‘Alaih). Dan dari Ibnu Mas’ud radhiyallaahu ‘anhu, ia berkata: “Sungguh aku telah melihat Gunung Hira dari celah di antara dua belahan bulan.”

وهذه المعجزة إحدى علامات الساعة التي حدثت، ففي الحديث الصحيح ( خمس قد مضين الدخان والقمر والروم والبطشة واللزام ) متفق عليه. واللزام: القحط، وقيل التصاق القتلى بعضهم ببعض يوم بدر، والبطشة : القتل الذي وقع يوم بدر.

Dan mukjizat ini merupakan salah satu dari tanda-tanda hari kiamat yang telah terjadi. Maka dalam hadits shahih disebutkan: (Lima perkara yang telah berlalu: Ad-Dukhan, Al-Qamar, Ar-Rum, Al-Bathsyah, dan Al-Lizam). (Muttafaq ‘Alaih). Al-Lizam artinya paceklik, dan dikatakan pula menempelnya jasad orang-orang yang terbunuh satu sama lain pada hari Badar. Sedangkan Al-Bathsyah artinya pembunuhan yang terjadi pada hari Badar.

وجاء ذكر هذه الحادثة في القرآن الكريم مقروناً باقتراب الساعة ، قال تعالى:

Dan penyebutan peristiwa ini tercantum di dalam Al-Qur’anul Karim yang diiringkan dengan semakin dekatnya hari kiamat, Allah Ta‘ala berfirman:

اقْتَرَبَتِ السَّاعَةُ وَانشَقَّ الْقَمَرُ [القمر: ١]

“Telah dekat datangnya saat itu dan telah terbelah bulan.” [Al-Qamar: 1]

ولما كان من عادة قريش التعنت والتكذيب فقد أعرضوا عما جاءهم، ووصفوا ما رأوه بأنه سحر ساحر. وقد حكى القرآن لسان حالهم ومقالهم فقال تعالى:

Tatkala sudah menjadi kebiasaan kaum Quraisy untuk bersikap keras kepala dan mendustakan, maka mereka berpaling dari apa yang mendatangi mereka, serta menggambarkan apa yang mereka lihat sebagai sihir dari seorang penyihir. Dan Al-Qur’an telah menceritakan keadaan serta ucapan mereka, Allah Ta‘ala berfirman:

وَإِن يَرَوْا آيَةً يُعْرِضُوا وَيَقُولُوا سِحْرٌ مُّسْتَمِرٌّ [القمر: ٢]

“Dan jika mereka (orang-orang musyrikin) melihat suatu tanda (mukjizat), mereka berpaling dan berkata: ‘(Ini adalah) sihir yang terus menerus.'” [Al-Qamar: 2]

واحتجاجهم ذلك شبهة مدحوضة، وقد أُجيب عن مثل هذه الشبهة قديماً، فقد نُقل عن أبي إسحاق الزجاج في معاني القرآن أنه قال: “أنكر بعض المبتدعة الموافقين لمخالفي الملة انشقاق القمر، ولا إنكار للعقل فيه لأن القمر مخلوق لله، يفعل فيه ما يشاء، كما يكوره يوم البعث ويفنيه” .

Dan bantahan mereka itu merupakan syubhat yang gugur, dan syubhat semacam ini telah dijawab sejak dahulu. Sungguh telah dinukilkan dari Abu Ishaq Az-Zajjaj dalam Ma’ani al-Qur’an bahwasanya ia berkata: “Sebagian ahli bidah yang menyetujui para penentang agama mengingkari peristiwa terbelahnya bulan, padahal tidak ada pengingkaran secara akal padanya karena bulan adalah makhluk ciptaan Allah, Dia berbuat padanya apa yang Dia kehendaki, sebagaimana Dia akan menggulungnya pada hari kebangkitan dan memusnahkannya.”

ومما احتج به البعض: أنه لو وقع ذلك الانشقاق لجاء متواتراً ، ولاشترك أهل الأرض في معرفته، ولما اختص به أهل مكة.

Dan di antara apa yang dijadikan alasan oleh sebagian orang adalah: Bahwa seandainya terbelahnya bulan itu benar-benar terjadi, niscaya kabarnya akan datang secara mutawatir, dan seluruh penduduk bumi akan berserikat dalam mengetahuinya, serta tidak hanya khusus diketahui oleh penduduk Makkah saja.

وجوابه أن ذلك وقع ليلاً ، وأكثر الناس نيام، والأبواب مغلقة، وقلَّ من يرصد السماء إلا النادر، وقد يقع في العادة أن يخسف القمر، وتبدو الكواكب العظام، وغير ذلك في الليل ولا يشاهدها إلا الآحاد من الناس، فكذلك الانشقاق كان آية وقعت في الليل لقومٍ سألوا وتعنتوا، فلم يرصده غيرهم، ويحتمل أن يكون القمر ليلتئذٍ كان في بعض المنازل التي تظهر لبعض أهل الآفاق دون بعض، كما يظهر الكسوف لقوم دون قوم.

Jawaban atas hal tersebut adalah bahwasanya peristiwa itu terjadi pada malam hari, saat mayoritas manusia sedang tidur, pintu-pintu terkunci, dan sangat sedikit orang yang mengamati langit kecuali sangat jarang. Dan secara kebiasaan terkadang terjadi gerhana bulan, tampak bintang-bintang besar, dan selainnya di malam hari namun tidak disaksikan melainkan oleh perseorangan saja. Demikian pula peristiwa terbelahnya bulan merupakan suatu tanda kekuasaan yang terjadi di malam hari bagi kaum yang meminta dan berlaku keras kepala, sehingga tidak ada yang mengamatinya selain mereka. Dan ada kemungkinan pula bahwa posisi bulan pada malam itu berada di beberapa tempat (manzil) yang tampak bagi sebagian penduduk belahan bumi dan tidak tampak bagi sebagian lainnya, sebagaimana gerhana tampak bagi suatu kaum dan tidak tampak bagi kaum yang lain.

ونُقل عن الخطابي قوله: “انشقاق القمر آية عظيمة لا يكاد يعدلها شيءٌ من آيات الأنبياء، وذلك أنه ظهر في ملكوت السماء خارجاً من جملة طباع ما في هذا العالم المركب من الطبائع، فليس مما يطمع في الوصول إليه بحيلة، فلذلك صار البرهان به أظهر”.

Dan dinukilkan dari Al-Khaththabi perkataannya: “Terbelahnya bulan adalah tanda kekuasaan yang sangat agung yang hampir tidak tertandingi oleh sesuatu pun dari tanda-tanda kenabian para nabi. Hal itu karena peristiwa tersebut tampak di kerajaan langit, keluar dari seluruh karakter hukum alam yang ada di dunia yang tersusun dari hukum-hukum alam ini, sehingga tidak termasuk perkara yang dapat dicapai dengan rekayasa. Oleh karena itu, bukti dengannya menjadi sangat jelas.”

وقد أظهرت بعض الدراسات الحديثة التي اعتنت بدراسة سطح القمر أنه يوجد به آثار انشقاق وانقسام، مما كان له أثر في إسلام البعض لمـّا علم أن القرآن تكلم عن ذلك قبل قرون ، فسبحان الذي أظهر الدلائل والآيات الدالة على ألوهيته وعظيم خلقه، قال تعالى :

Dan beberapa studi modern yang menaruh perhatian pada penelitian permukaan bulan telah menunjukkan bahواسnya pada bulan terdapat bekas-bekas keretakan dan pembelahan, yang mana hal itu memberikan pengaruh pada masuk Islamnya sebagian orang tatkala mengetahui bahwa Al-Qur’an telah membicarakan hal tersebut berabad-abad yang lalu. Maka Maha Suci Zat yang telah menampakkan bukti-bukti dan tanda-tanda kekuasaan yang menunjukkan atas keilahian-Nya serta keagungan ciptaan-Nya, Allah Ta‘ala berfirman:

سَنُرِيهِمْ آيَاتِنَا فِي الْآفَاقِ وَفِي أَنفُسِهِمْ حَتَّىٰ يَتَبَيَّنَ لَهُمْ أَنَّهُ الْحَقُّ ۗ أَوَلَمْ يَكْفِ بِرَبِّكَ أَنَّهُ عَلَىٰ كُلِّ شَيْءٍ شَهِيدٌ [فصلت: ٥٣]

“Kami akan memperlihatkan kepada mereka tanda-tanda (kekuasaan) Kami di segenap ufuk dan pada diri mereka sendiri, sehingga jelaslah bagi mereka bahwa Al-Qur’an itu adalah benar. Dan apakah Rabb-mu tidak cukup (bagi kamu) bahwa sesungguhnya Dia menyaksikan segala sesuatu?” [Fushshilat: 53]

والله أعلم.

Wallahu a’lam.

Sumber : IslamWeb



Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*


This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.