غزوة الطائف
Perang Tha-if
Alih Bahasa : Reza Ervani bin Asmanu
Artikel Perang Tha-if ini masuk dalam Kategori Sirah Nabawiyah
بعد أن كتب الله النصر للمؤمنين في غزوة حنين ، توجه رسول الله صلى الله عليه وسلم في شوال عام 8هـ قاصداً الطائف يريد فتحها، وانتدب لتلك المهمة خالد بن الوليد رضي الله عنه ؛ حيث جعله على مقدمة الجيش ، وطلب منه أن يسير أولاً لمحاصرتها .
Setelah Allah menetapkan kemenangan bagi orang-orang beriman dalam Perang Hunain, Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam bertolak pada bulan Syawal tahun 8 H menuju Tha-if dengan maksud untuk menaklukkannya. Beliau menunjuk Khalid bin al-Walid radhiyallaahu ‘anhu untuk tugas tersebut, di mana beliau menjadikannya sebagai garis depan pasukan dan memintanya untuk berjalan terlebih dahulu guna mengepungnya.
وكانت قبيلة ثقيف – وهم أهل الطائف- قد حصنت مواقعها ، وأعدت عدتها ، وتهيأت للقتال ، والدفاع عن أرضها.
Dan kabilah Tsaqif —mereka adalah penduduk Tha-if— telah memperkuat benteng-benteng posisi mereka, menyiapkan perbekalan mereka, serta bersiap siap untuk berperang dan mempertahankan tanah mereka.
ولما وصل رسول الله صلى الله عليه وسلم إلى الطائف نزل قريباً من الحصن ، وأقام معسكره فيه ، فانتهزت ثقيف الفرصة ، وأخذت توجه سهامها إلى معسكر المسلمين ، فأصابت منهم اثنا عشر رجلاً ، كان منهم : عبدالله بن أبي بكر رضي الله عنه الذي استشهد على أثر رمية أصابت منه مقتلاً.
Ketika Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam sampai di Tha-if, beliau singgah di dekat benteng dan mendirikan markas pasukannya di sana. Kabilah Tsaqif pun memanfaatkan kesempatan tersebut dan mulai mengarahkan anak-anak panahnya ke markas kaum muslimin, sehingga mengenai dua belas orang pria di antara mereka. Termasuk di antara mereka adalah Abdullah bin Abi Bakar radhiyallaahu ‘anhu yang gugur sebagai syahid akibat lemparan anak panah yang mengenai bagian mematikan pada tubuhnya.
واستمر حصار رسول الله صلى الله عليه وسلم للطائف قرابة أربعين يوماً ، تخللها العديد من المناوشات بين المسلمين والمشركين ، ورغبة في إضعاف معنويات ثقيف ، أخذ المسلمون في تحريق نخلهم ، فناشدوا رسول الله صلى الله عليه وسلم أن يدعها لله وللرحم ، فاستجاب لهم ، ثم نادى منادي رسول الله صلى الله عليه وسلم : ” أيما عبد نزل من الحصن وخرج إلينا فهو حر” ، فخرج منهم بضعة عشر رجلاً ، فأعتقهم رسول الله صلى الله عليه وسلم ، ودفع كل رجلٍ منهم إلى رجلٍ من المسلمين ليقوم بشأنه واحتياجاته.
Pengepungan Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam terhadap Tha-if berlangsung selama hampir empat puluh hari, yang di selang-selangi oleh banyak pertempuran kecil antara kaum muslimin dan musyrikin. Karena berkeinginan untuk melemahkan mental kabilah Tsaqif, kaum muslimin mulai membakar pohon-pohon kurma mereka. Maka mereka memohon kepada Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam agar meninggalkannya demi Allah dan demi hubungan kekerabatan (rahim), lalu beliau mengabulkan permohonan mereka. Kemudian penyeru Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam menyerukan: “Barangsiapa dari hamba sahaya yang turun dari benteng dan keluar menuju kami, maka ia merdeka.” Maka keluarlah belasan pria dari mereka, lalu Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam memerdekakan mereka, dan menyerahkan setiap pria dari mereka kepada seorang pria kaum muslimin untuk mengurus urusan dan kebutuhannya.
ولما طال الحصار ، وأصيب عدد من المسلمين استشار الرسول صلى الله عليه وسلم بعض القوم ، ثم قرر رفع الحصار والرحيل ، فعن عبد الله بن عمرو قال :
Ketika pengepungan telah berlangsung lama dan sejumlah kaum muslimin terluka, Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam bermusyawarah dengan sebagian orang, kemudian memutuskan untuk menghentikan pengepungan dan bertolak pulang. Dari Abdullah bin ‘Amr, ia berkata:
حاصر رسول الله صلى الله عليه وسلم أهل الطائف ، فلم ينل منهم شيئا ، فقال : ( إنا قافلون إن شاء الله ، قال أصحابه : نرجع ولم نفتتحه ، فقال لهم رسول الله صلى الله عليه وسلم : اغدوا على القتال ، فغدوا عليه فأصابهم جراح ، فقال لهم رسول الله صلى الله عليه وسلم : إنا قافلون غدا ، فأعجبهم ذلك، فضحك رسول الله صلى الله عليه وسلم )
“Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam mengepung penduduk Tha-if, namun beliau belum berhasil mendapatkan sesuatu pun dari mereka. Maka beliau bersabda: ‘Sesungguhnya kita akan kembali pulang insya Allah.’ Para shahabatnya berkata: ‘Apakah kita akan kembali pulang padahal kita belum menaklukkannya?’ Maka Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda kepada mereka: ‘Pagi-pagi bertolaklah kalian untuk berperang!’ Maka mereka pun bertolak pagi-pagi untuk berperang lalu mereka ditimpa luka-luka. Lantas Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda kepada mereka: ‘Sesungguhnya kita akan kembali pulang besok.’ Hal itu membuat mereka kagum (gembira), maka Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam pun tertawa.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim)
وتروي كتب السير أن بعض الصحابة أتوا رسول الله وقت الحصار ، وقالوا : يا نبي الله ، ادعُ الله على ثقيف ، فقال رسول الله صلى الله عليه وسلم :
Dan kitab-kitab sirah menceritakan bahwasanya sebagian shahabat mendatangi Rasulullah pada saat pengepungan, lalu mereka berkata: “Wahai Nabi Allah, berdoalah kepada Allah untuk keburukan bagi kabilah Tsaqif!” Maka Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam berdoa:
اللهم اهد ثقيفاً وأت بهم
“Ya Allah, berilah petunjuk kepada kabilah Tsaqif dan hadirkanlah mereka (dalam keadaan beriman)!”
ثم أذن مؤذن رسول الله بالرحيل ، فرحل الجيش وهم يقولون :
Kemudian penyeru Rasulullah mengumandangkan izin untuk berangkat pulang, maka pasukan pun bertolak seraya mengucapkan:
آيبون تائبون عابدون لربنا حامدون
“Kami kembali, kami bertaubat, kami beribadah, dan kepada Rabb kami, kami memuji.”
وهكذا عاد المسلمون من غزوة الطائف ، منتصرين وإن لم يفتحوا الحصن ، منتصرين بإيمانهم ، وثباتهم ، وصبرهم ، إضافة لما حصل من استسلام بعض أهل الطائف وإسلامهم .
Demikianlah kaum muslimin kembali dari Perang Tha-if dalam keadaan menang meskipun belum menaklukkan benteng tersebut. Mereka menang dengan keimanan, keteguhan, dan kesabaran mereka, di samping apa yang telah terjadi berupa penyerahan diri sebagian penduduk Tha-if dan masuk Islamnya mereka.
ومما يستفاد من هذه الغزوة سرعة استجابة الصحابة لرسول الله صلى الله عليه وسلم ، فبعد غزوة حنين مباشرة ساروا مع الرسول صلى الله عليه وسلم إلى الطائف لنشر دعوتهم ، ومواجهة المعارضين لها ، والواقفين في سبيلها .
Dan di antara hal yang dapat dipetik manfaatnya dari perang ini adalah cepatnya respons keikutsertaan para shahabat kepada Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam. Tepat setelah Perang Hunain, mereka langsung berjalan bersama Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam menuju Tha-if untuk menyebarkan dakwah mereka, serta menghadapi orang-orang yang menentangnya dan yang menghalangi jalannya.
ويستفاد أيضاً ضرورة الأخذ بالوسائل الحربية ، والاستراتيجية ، والخطط النافعة ، كما فعل الرسول صلى الله عليه وسلم ؛ حيث استخدم المنجنيق ، وكان أول ما رمي به في الإسلام.
Dipetik manfaatnya pula bahwasanya penting untuk mengambil sarana-sarana peperangan, strategi, dan rencana-rencana yang bermanfaat, sebagaimana yang dilakukan oleh Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam; di mana beliau menggunakan pelontar batu (manjaniq), dan itu merupakan hal pertama yang dilontarkan dengannya dalam Islam.
ويستفاد أيضاً ضرورة التشاور وخاصة وقت المحن والشدائد ، وعدم التفرد باتخاذ القرار ، فالرسول صلى الله عليه وسلم شاور في فك الحصار ، وذلك لبيان أهمية هذا المبدأ العظيم مبدأ الشورى .
Dipetik manfaatnya pula pentingnya bermusyawarah terutama pada saat cobaan dan kesulitan, serta tidak menyendiri dalam mengambil keputusan. Maka Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam bermusyawarah dalam menghentikan pengepungan, dan hal tersebut untuk menjelaskan pentingnya prinsip yang agung ini, yaitu prinsip musyawarah (syuuraa).
وقبل هذا وذاك نستفيد من أحداث هذه الغزوة ما كان عليه الرسول صلى الله عليه وسلم من رحمة وشفقة بالآخرين ، ولو لم يكونوا مسلمين ، لأن مهمته تتمثل في هداية الآخرين وليس النيل منهم والكيد بهم ، وفي دعوته صلى الله عليه وسلم لثقيف -وليس الدعاء عليهم- أبلغ دليل على ما ذكرنا.
Dan sebelum ini dan itu, kita memetik manfaat dari peristiwa-peristiwa perang ini tentang bagaimana kasih sayang dan kepedulian Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam kepada orang lain, meskipun mereka belum menjadi muslim. Karena tugas beliau berwujud pada memberi petunjuk kepada orang lain, bukan untuk menghabisi mereka atau membalas makar mereka. Dan dalam doa beliau shallallaahu ‘alaihi wa sallam untuk kebaikan kabilah Tsaqif —bukan doa keburukan atas mereka— terdapat bukti paling jelas atas apa yang telah kita sebutkan.
والله أعلم.
Wallahu a’lam.
Sumber : IslamWeb
Leave a Reply