Apakah Orang yang Membunuh Dirinya Sendiri Dapat Diampuni, Didoakan, Dihajikan, dan Disedekahkan Atas Namanya?



هل يغفر لقاتل نفسه وهل يدعى له ويحج ويتصدق عنه

Apakah Orang yang Membunuh Dirinya Sendiri Dapat Diampuni, Didoakan, Dihajikan, dan Disedekahkan Atas Namanya?

Alih Bahasa : Reza Ervani bin Asmanu

Artikel Apakah Orang yang Membunuh Dirinya Sendiri Dapat Diampuni, Didoakan, Dihajikan, dan Disedekahkan Atas Namanya? ini masuk dalam Kategori Tanya Jawab Fiqh Pidana Islam

السؤال:

Pertanyaan:

أفتوني جزاكم الله خيرآ

Berilah saya fatwa, semoga Allah membalas Anda dengan kebaikan.

لي صديق أصيب بحاله نفسية أو مرض المس، ولمدة عامين وهو يعاني وكان لايتحدث إلى أحد ويحب أن يظل بعزلة لوحده، ومن يومين شرب سما وتوفي. فهل يغفر له الله؟ وهل يجوز أن أحج له وأن أستغفر له وأتصدق إلى روحه، مع العلم أنه كان قبل أن يمرض ملتزما ومطلعا على أمور الشرع والفقه؟

Saya mempunyai seorang teman yang mengalami gangguan kejiwaan atau penyakit akibat gangguan jin. Selama dua tahun ia menderita. Ia tidak berbicara kepada siapa pun dan senang tetap menyendiri dalam keterasingan. Dua hari yang lalu ia meminum racun lalu meninggal dunia. Apakah Allah akan mengampuninya? Apakah saya boleh menunaikan haji untuknya, memohonkan ampun untuknya, dan bersedekah untuknya? Perlu diketahui bahwa sebelum sakit, ia adalah orang yang taat dan memiliki pengetahuan tentang perkara-perkara syariat dan fikih.

الإجابــة:

Jawaban:

الحمد لله والصلاة والسلام على نبينا محمد وعلى آله وصحبه ومن والاه، أما بعد:

Segala puji bagi Allah, shalawat dan salam semoga tercurah kepada Nabi kita Muhammad, keluarga, para sahabat beliau, dan orang-orang yang loyal kepada beliau. Amma ba‘du:

فلا شك أن قتل الإنسان نفسه كبيرة من أكبر الكبائر, وقد ثبت عن النبي صلى الله عليه وسلم أنه قال : … وَمَنْ تَحَسَّى سُمًّا فَقَتَلَ نَفْسَهُ فَسُمُّهُ فِي يَدِهِ يَتَحَسَّاهُ فِي نَارِ جَهَنَّمَ خَالِدًا مُخَلَّدًا فِيهَا أَبَدًا … . رواه البخاري, ولكن هذا الذنب من جملة الذنوب التي هي دون الشرك وصاحبها تحت مشيئة الله تعالى, إن شاء عاقبه وإن شاء غفر له.

Tidak diragukan lagi bahwa seseorang membunuh dirinya sendiri merupakan salah satu dosa besar yang paling besar. Telah sahih dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bahwa beliau bersabda:

“… وَمَنْ تَحَسَّى سُمًّا فَقَتَلَ نَفْسَهُ فَسُمُّهُ فِي يَدِهِ يَتَحَسَّاهُ فِي نَارِ جَهَنَّمَ خَالِدًا مُخَلَّدًا فِيهَا أَبَدًا …”

“… Barang siapa meminum racun lalu membunuh dirinya sendiri, maka racunnya berada di tangannya dan ia akan terus meminumnya di dalam neraka Jahannam, kekal dan dikekalkan di dalamnya selama-lamanya …” (HR. Al-Bukhari).

Namun dosa ini termasuk di antara dosa-dosa yang tingkatannya berada di bawah syirik. Pelakunya berada di bawah kehendak Allah Ta’ala. Jika Allah menghendaki, Dia akan mengazabnya, dan jika Allah menghendaki, Dia akan mengampuninya.

وقد قال الله تعالى:

Allah Ta’ala berfirman:

إِنَّ اللَّهَ لاَ يَغْفِرُ أَن يُشْرَكَ بِهِ وَيَغْفِرُ مَا دُونَ ذَلِكَ لِمَن يَشَاء … النساء : 48

“Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa mempersekutukan-Nya, dan Dia mengampuni dosa selain syirik itu bagi siapa yang Dia kehendaki.” (QS. An-Nisa’: 48).

وثبت أن النبي صلى الله عليه وسلم دعا للصحابي الذي قتل نفسه دعا له بالمغفرة ورآه أحد الصحابة في المنام أن الله غفر له , ففي صحيح مسلم من حديث جَابِرٍ رضي الله عنه أَنَّه لَمَّا هَاجَرَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِلَى الْمَدِينَةِ هَاجَرَ إِلَيْهِ الطُّفَيْلُ بْنُ عَمْرٍو وَهَاجَرَ مَعَهُ رَجُلٌ مِنْ قَوْمِهِ، فَاجْتَوَوْا الْمَدِينَةَ فَمَرِضَ فَجَزِعَ فَأَخَذَ مَشَاقِصَ لَهُ فَقَطَعَ بِهَا بَرَاجِمَهُ فَشَخَبَتْ يَدَاهُ حَتَّى مَاتَ، 

Dan telah sahih bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mendoakan seorang sahabat yang membunuh dirinya sendiri, memohonkan ampun baginya. Salah seorang sahabat juga melihatnya dalam mimpi bahwa Allah telah mengampuninya. Dalam Shahih Muslim, dari hadits Jabir radhiyallahu ‘anhu, disebutkan bahwa ketika Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berhijrah ke Madinah, Ath-Thufail bin ‘Amr ikut berhijrah kepada beliau, dan bersamanya ikut berhijrah seorang laki-laki dari kaumnya. Mereka merasa tidak cocok dengan iklim Madinah. Laki-laki tersebut kemudian jatuh sakit dan merasa sangat gelisah. Ia lalu mengambil anak-anak panah miliknya dan memotong ruas-ruas jarinya dengannya. Darah mengalir deras dari kedua tangannya hingga ia meninggal dunia.

فَرَآهُ الطُّفَيْلُ بْنُ عَمْرٍو فِي مَنَامِهِ فَرَآهُ وَهَيْئَتُهُ حَسَنَةٌ وَرَآهُ مُغَطِّيًا يَدَيْهِ فَقَالَ لَهُ: مَا صَنَعَ بِكَ رَبُّكَ فَقَالَ غَفَرَ لِي بِهِجْرَتِي إِلَى نَبِيِّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ: مَا لِي أَرَاكَ مُغَطِّيًا يَدَيْكَ قَالَ قِيلَ لِي لَنْ نُصْلِحَ مِنْكَ مَا أَفْسَدْتَ فَقَصَّهَا الطُّفَيْلُ عَلَى رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: اللَّهُمَّ وَلِيَدَيْهِ فَاغْفِرْ . اهـ.

Ath-Thufail bin ‘Amr kemudian melihatnya dalam mimpi. Ia melihat laki-laki itu dalam keadaan yang baik, tetapi kedua tangannya tertutup. Ath-Thufail bertanya kepadanya, “Apa yang dilakukan Rabb-mu terhadapmu?” Ia menjawab, “Dia mengampuniku karena hijrahku kepada Nabi-Nya shallallahu ‘alaihi wa sallam.” Ath-Thufail bertanya, “Mengapa aku melihat kedua tanganmu tertutup?” Ia menjawab, “Dikatakan kepadaku: Kami tidak akan memperbaiki bagian yang telah engkau rusak sendiri.” Ath-Thufail kemudian menceritakan hal itu kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

اللَّهُمَّ وَلِيَدَيْهِ فَاغْفِرْ

“Ya Allah, ampunilah pula kedua tangannya.”

Sekian kutipan.

قال النووي: فِيهِ حُجَّة لِقَاعِدَةٍ عَظِيمَةٍ لِأَهْلِ السُّنَّة أَنَّ مَنْ قَتَلَ نَفْسه أَوْ اِرْتَكَبَ مَعْصِيَة غَيْرهَا وَمَاتَ مِنْ غَيْر تَوْبَةٍ فَلَيْسَ بِكَافِرٍ، وَلَا يُقْطَع لَهُ بِالنَّارِ ، بَلْ هُوَ فِي حُكْم الْمَشِيئَة . اهـ.

An-Nawawi berkata: “Di dalam hadits ini terdapat hujjah bagi sebuah kaidah besar Ahlus Sunnah, yaitu bahwa orang yang membunuh dirinya sendiri atau melakukan kemaksiatan lainnya, kemudian meninggal tanpa bertaubat, maka ia tidak dihukumi kafir dan tidak dapat dipastikan bahwa ia masuk neraka. Akan tetapi, ia berada di bawah hukum kehendak Allah.” Sekian kutipan.

فصاحبك أيها السائل إن كان قتل نفسه وهو بكامل قواه العقلية فهو تحت مشيئة الله تعالى إن شاء عاقبه وإن شاء غفر له , ولا مانع من الحج والصدقة عنه والدعاء له بالمغفرة لأنه من جملة المسلمين ونسأل الله تعالى أن يغفر له.

Maka teman Anda, wahai penanya, apabila ia membunuh dirinya sendiri dalam keadaan kekuatan akalnya masih sempurna, maka ia berada di bawah kehendak Allah Ta’ala. Jika Allah menghendaki, Dia akan mengazabnya, dan jika Allah menghendaki, Dia akan mengampuninya. Tidak ada larangan untuk menunaikan haji dan bersedekah atas namanya serta mendoakan ampunan baginya, karena ia masih termasuk kaum muslimin. Kami memohon kepada Allah Ta’ala agar mengampuninya.

وإن كان قتل نفسه وهو فاقد عقله فإنه غير مؤاخذ شرعا.

Adapun apabila ia membunuh dirinya sendiri dalam keadaan kehilangan akalnya, maka secara syariat ia tidak dikenai pertanggungjawaban atas perbuatannya tersebut.

والله أعلم.

Wallahu a’lam.

Sumber : IslamWeb



Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*


This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.