Hukum Orang yang Bunuh Diri dan Menshalatkannya



أحكام المنتحر والصلاة عليه

Hukum Orang yang Bunuh Diri dan Menshalatkannya

Alih Bahasa : Reza Ervani bin Asmanu

Artikel Hukum Orang yang Bunuh Diri dan Menshalatkannya ini masuk dalam Kategori Tanya Jawab Fiqh Pidana Islam

السؤال:

Pertanyaan:

شخص فجّر نفسه، وعندما أراد أهله دفنه رفض أهل القرية الصلاة عليه ودفنه، ورموه بالحجارة.

Seseorang meledakkan dirinya sendiri. Ketika keluarganya hendak menguburkannya, penduduk desa menolak menshalatkan dan menguburkannya, bahkan mereka melemparinya dengan batu.

السؤال هنا: مثل هذا الشخص هل يجوز الصلاة عليه مثل باقي المسلمين أم يعتبر خارجًا عن الدين؟

Pertanyaannya adalah: Apakah orang seperti ini boleh dishalatkan sebagaimana kaum muslimin lainnya, ataukah ia dianggap telah keluar dari agama?

الإجابــة:

Jawaban:

الحمد لله، والصلاة والسلام على رسول الله، وعلى آله وصحبه، أما بعد:

Segala puji bagi Allah, shalawat dan salam semoga tercurah kepada Rasulullah, keluarga, dan para sahabat beliau. Amma ba‘du:

فالانتحار وإن كان من موبقات الذنوب، وصاحبه متوعد بالخلود في النار، إلا إنه ليس بكافر عند عامة الفقهاء، وجمهور العلماء على أنه يصلَى عليه كبقية موتى المسلمين، ومن قال منهم بعدم الصلاة عليه فلم يقل ذلك لكفره، وإنما تغليظًا وزجرًا عن هذا الفعل، ولما جاء فيه من الوعيد بالنار، أو لمعاملته معاملة البغاة.

Bunuh diri, meskipun termasuk dosa-dosa yang membinasakan dan pelakunya diancam dengan kekekalan di dalam neraka, namun menurut umumnya para fuqaha ia tidak dihukumi kafir. Mayoritas ulama berpendapat bahwa jenazahnya tetap dishalatkan sebagaimana jenazah kaum muslimin lainnya. Adapun ulama yang berpendapat bahwa ia tidak dishalatkan, mereka tidak mengatakan demikian karena menganggapnya kafir, tetapi sebagai bentuk pemberatan dan pencegahan terhadap perbuatan tersebut, karena ancaman neraka yang datang mengenai perbuatan itu, atau karena memperlakukannya sebagaimana para pemberontak.

قال ابن بطال في (شرح صحيح البخاري): أجمع الفقهاء وأهل السنة أن من قتل نفسه أنه لا يخرج بذلك عن الإسلام، وأنه يصلى عليه، وإثمه عليه كما قال مالك، ويدفن في مقابر المسلمين، ولم يكره الصلاة عليه إلا عمر بن عبد العزيز، والأوزاعي، في خاصة أنفسهما، والصواب قول الجماعة؛ لأن الرسول سن الصلاة على المسلمين، ولم يستثن منهم أحدًا، فيصلى على جميعهم الأخيار والأشرار إلا الشهداء الذين أكرمهم الله بالشهادة. اهـ.

Ibnu Baththal berkata dalam Syarh Shahih Al-Bukhari: “Para fuqaha dan Ahlus Sunnah telah bersepakat bahwa orang yang membunuh dirinya sendiri tidak keluar dari Islam disebabkan hal tersebut, dan ia tetap dishalatkan. Dosanya menjadi tanggungannya sendiri, sebagaimana dikatakan oleh Malik, dan ia dikuburkan di pemakaman kaum muslimin. Tidak ada yang memakruhkan menshalatkannya kecuali ‘Umar bin ‘Abdul ‘Aziz dan Al-Auza‘i, dalam pendapat pribadi keduanya. Pendapat yang benar adalah pendapat jamaah ulama, karena Rasulullah telah mensyariatkan shalat atas kaum muslimin dan tidak mengecualikan seorang pun dari mereka. Maka seluruh kaum muslimin, baik yang saleh maupun yang durhaka, tetap dishalatkan, kecuali para syuhada yang Allah muliakan dengan kesyahidan.” Sekian kutipan.

وقال الرملي في (نهاية المحتاج): (وغسله) أي الميت (وتكفينه والصلاة عليه) وحمله (ودفنه فروض كفاية) إجماعا؛ للأمر به في الأخبار الصحيحة، سواء في ذلك قاتل نفسه وغيره. اهـ.

Ar-Ramli berkata dalam Nihayah Al-Muhtaj: “(Memandikannya), yakni jenazah, (mengafaninya, menshalatkannya), membawanya, dan (menguburkannya adalah fardhu kifayah) berdasarkan ijma’, karena adanya perintah mengenai hal tersebut dalam riwayat-riwayat yang sahih. Dalam hal ini tidak ada perbedaan antara orang yang membunuh dirinya sendiri dan selainnya.” Sekian kutipan.

وجاء في (الموسوعة الفقهية): الانتحار حرام بالاتفاق، ويعتبر من أكبر الكبائر بعد الشرك بالله؛ قال الله تعالى: {ولا تقتلوا النفس التي حرم الله إلا بالحق}، وقال: {ولا تقتلوا أنفسكم إن الله كان بكم رحيما}. وقد قرر الفقهاء أن المنتحر أعظم وزرًا من قاتل غيره، وهو فاسق وباغ على نفسه، حتى قال بعضهم: لا يغسل ولا يصلى عليه كالبغاة. وقيل: لا تقبل توبته تغليظًا عليه. كما أن ظاهر بعض الأحاديث يدل على خلوده في النار، منها: قوله صلى الله عليه وسلم: “من تردى من جبل فقتل نفسه فهو في نار جهنم يتردى فيها خالدًا مخلدًا فيها أبدًا”. اهـ.

Disebutkan dalam Al-Mausu‘ah Al-Fiqhiyyah: “Bunuh diri hukumnya haram berdasarkan kesepakatan para ulama, dan termasuk salah satu dosa besar yang paling besar setelah syirik kepada Allah. Allah Ta’ala berfirman: ‘Dan janganlah kalian membunuh jiwa yang telah Allah haramkan kecuali dengan alasan yang benar.’ Dan Dia berfirman: ‘Dan janganlah kalian membunuh diri kalian. Sesungguhnya Allah Maha Penyayang kepada kalian.’ Para fuqaha telah menetapkan bahwa orang yang bunuh diri dosanya lebih besar daripada orang yang membunuh orang lain. Ia adalah orang fasik dan orang yang berbuat aniaya terhadap dirinya sendiri. Bahkan sebagian ulama mengatakan bahwa ia tidak dimandikan dan tidak dishalatkan sebagaimana para pemberontak. Ada pula yang mengatakan bahwa taubatnya tidak diterima sebagai bentuk pemberatan terhadapnya. Demikian pula zhahir sebagian hadits menunjukkan kekekalannya di dalam neraka, di antaranya sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam:

“من تردى من جبل فقتل نفسه فهو في نار جهنم يتردى فيها خالدًا مخلدًا فيها أبدًا”

“Barang siapa menjatuhkan dirinya dari gunung lalu membunuh dirinya sendiri, maka ia berada di dalam neraka Jahannam, terus-menerus menjatuhkan dirinya di dalamnya, kekal dan dikekalkan di dalamnya selama-lamanya.”

Sekian kutipan.

وجاء فيها أيضًا: يرى جمهور الفقهاء (الحنفية، والمالكية، والشافعية) أن المنتحر يصلى عليه؛ لأنه لم يخرج عن الإسلام بسبب قتله نفسه -كما تقدم-، ولما ورد عن النبي -صلى الله عليه وسلم- أنه قال: “صلوا على من قال: لا إله إلا الله”. ولأن الغسل والصلاة متلازمان عند المالكية، فكل من وجب غسله وجبت الصلاة عليه، وكل من لم يجب غسله لا تجب الصلاة عليه.

Disebutkan pula di dalamnya: “Mayoritas fuqaha—Hanafiyah, Malikiyah, dan Syafi‘iyah—berpendapat bahwa orang yang bunuh diri tetap dishalatkan, karena ia tidak keluar dari Islam disebabkan membunuh dirinya sendiri, sebagaimana telah dijelaskan sebelumnya. Demikian pula berdasarkan riwayat dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bahwa beliau bersabda:

“صلوا على من قال: لا إله إلا الله”

“Shalatkanlah orang yang mengucapkan: La ilaha illallah.”

Dan karena memandikan jenazah dan menshalatkannya merupakan dua perkara yang saling berkaitan menurut Malikiyah. Maka setiap orang yang wajib dimandikan, wajib pula dishalatkan, dan setiap orang yang tidak wajib dimandikan, tidak wajib pula dishalatkan.

وقال عمر بن عبد العزيز، والأوزاعي -وهو رأي أبي يوسف من الحنفية، وصححه بعضهم-: لا يصلى على قاتل نفسه بحال؛ لما روى جابر بن سمرة: أنه أتى النبي -صلى الله عليه وسلم- رجل قتل نفسه بمشاقص فلم يصل عليه. ولما روى أبو داود أن رجلًا انطلق إلى النبي -صلى الله عليه وسلم- فأخبره عن رجل قد مات، قال: وما يدريك؟ قال: رأيته ينحر نفسه، قال: أنت رأيته؟ قال: نعم. قال: “إذن لا أصلي عليه”. وعلله بعضهم بأن المنتحر لا توبة له فلا يصلى عليه.

‘Umar bin ‘Abdul ‘Aziz dan Al-Auza‘i—dan ini juga merupakan pendapat Abu Yusuf dari kalangan Hanafiyah serta dinilai sahih oleh sebagian ulama—berpendapat bahwa orang yang membunuh dirinya sendiri tidak dishalatkan dalam keadaan apa pun. Hal ini berdasarkan riwayat Jabir bin Samurah bahwa seorang laki-laki yang membunuh dirinya sendiri dengan anak-anak panah dibawa kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, lalu beliau tidak menshalatkannya. Demikian pula berdasarkan riwayat Abu Dawud bahwa seorang laki-laki datang kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan memberitahukan kepada beliau tentang seorang laki-laki yang telah meninggal. Beliau bertanya, “Dari mana engkau mengetahuinya?” Ia menjawab, “Saya melihatnya menyembelih dirinya sendiri.” Beliau bertanya, “Engkau sendiri melihatnya?” Ia menjawab, “Ya.” Beliau bersabda:

“إذن لا أصلي عليه”

“Kalau begitu, aku tidak akan menshalatkannya.”

Sebagian ulama memberikan alasan bahwa orang yang bunuh diri tidak memiliki kesempatan untuk bertaubat, sehingga ia tidak dishalatkan.

وقال الحنابلة: لا يصلي الإمام على من قتل نفسه عمدًا، ويصلي عليه سائر الناس … اهـ.

Hanabilah berkata: “Imam tidak menshalatkan orang yang sengaja membunuh dirinya sendiri, tetapi kaum muslimin lainnya tetap menshalatkannya…” Sekian kutipan.

وراجع للفائدة الفتويين: الفتوى الأخر هنا، الفتوى الأخر هنا.

Untuk tambahan faedah, silakan merujuk fatwa yang lain disini :

وبذلك يعرف أن رفض أهل القرية للصلاة عليه له وجهه. وأما رفض دفنه ورميه بالحجارة فليس له وجه.

Dengan demikian dapat diketahui bahwa penolakan penduduk desa untuk menshalatkannya memiliki dasar pendapat dalam fikih. Adapun penolakan untuk menguburkannya dan tindakan melemparinya dengan batu, maka hal tersebut tidak memiliki dasar.

والله أعلم.

Wallahu a’lam.

Sumber : IslamWeb



Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*


This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.