حكم من اعتقد أن الانتحار كفر ومات منتحًرا
Hukum Orang yang Meyakini Bunuh Diri Adalah Kekufuran Lalu Meninggal Karena Bunuh Diri
Alih Bahasa : Reza Ervani bin Asmanu
Artikel Hukum Orang yang Meyakini Bunuh Diri Adalah Kekufuran Lalu Meninggal Karena Bunuh Diri ini masuk dalam Kategori Tanya Jawab Aqidah Islam
السؤال:
Pertanyaan:
كثير من الناس يعتقد أن من يموت منتحرًا كافر، فما حكم من ينتحر، ويعتقد بموته منتحرًا أنه يموت كافرًا، فهل يحاسبه الله على نيته ويموت كافرًا أم لا؟.
Banyak orang meyakini bahwa orang yang meninggal karena bunuh diri adalah kafir. Lalu bagaimana hukum orang yang melakukan bunuh diri, sedangkan ia meyakini bahwa dengan meninggal karena bunuh diri ia akan meninggal sebagai orang kafir? Apakah Allah akan menghisabnya berdasarkan niatnya sehingga ia meninggal dalam keadaan kafir, ataukah tidak?
الإجابــة:
Jawaban :
الحمد لله، والصلاة والسلام على رسول الله، وعلى آله وصحبه، أما بعد:
Segala puji bagi Allah, shalawat serta salam semoga tercurah kepada Rasulullah, keluarga, dan para shahabatnya. Amma ba’du:
فالانتحار ـ رغم بشاعته، وعظم وزره ـ لا يعد فعلًا مخرجًا من الملة كما نبهنا عليه في فتاوى كثيرة، انظري منها الفتوى الأخرى هنا، والفتوى الأخرى هنا.
Bunuh diri —meskipun merupakan perbuatan yang sangat buruk dan dosanya sangat besar— tidak dianggap sebagai perbuatan yang mengeluarkan seseorang dari millah (agama), sebagaimana telah kami jelaskan dalam banyak fatwa. Di antaranya dapat dilihat pada fatwa lainnya di sini :
ومن يعتقد بأنه كفر فاعتقاده غير صحيح، ولو مات على ذلك الاعتقاد لا يحكم بكفره ما لم يفعل ما يقتضي الكفر، فالردة عن الإسلام تحصل بأمور معلومة صريحة في الكفر، أو مقتضية له، وما سواها لا يعد ردة، يقول الشيخ العثيمين ـ رحمه الله ـ: الردة تكون بالاعتقاد، وبالقول، وبالفعل، وبالترك، هذه أربعة أنواع للردة، بالاعتقاد كأن يعتقد ما يقتضي الكفر، وظاهره الإسلام، مثل حال المنافقين، وتكون بالقول كالاستهزاء بالله ـ عزّ وجل ـ والقدح فيه، أو في دينه، أو ما أشبه ذلك، وتكون بالفعل كالسجود للصنم، وتكون بالترك كترك الصلاة مثلاً، وكترك الحكم بما أنزل الله رغبة عنه، أما كراهة ما أنزل الله فهي بالاعتقاد؛ لأنها داخلة في عمل القلب. اهـ
Barang siapa meyakini bahwa bunuh diri merupakan kekufuran, maka keyakinannya tersebut tidak benar. Sekalipun ia meninggal dengan membawa keyakinan tersebut, ia tidak dihukumi kafir selama tidak melakukan sesuatu yang mengharuskan hukum kufur. Riddah dari Islam terjadi melalui perkara-perkara yang diketahui secara jelas sebagai kekufuran atau yang mengharuskan kekufuran. Adapun selain itu tidak dianggap sebagai riddah. Syaikh Al-‘Utsaimin rahimahullah berkata: “Riddah dapat terjadi dengan keyakinan, ucapan, perbuatan, dan meninggalkan sesuatu. Ini adalah empat macam riddah. Dengan keyakinan, seperti seseorang meyakini sesuatu yang mengharuskan kekufuran sementara secara lahiriah ia menampakkan Islam, sebagaimana keadaan orang-orang munafik. Dengan ucapan, seperti memperolok-olok Allah ‘Azza wa Jalla, mencela-Nya, mencela agama-Nya, atau yang semisalnya. Dengan perbuatan, seperti bersujud kepada berhala. Dan dengan meninggalkan sesuatu, seperti meninggalkan sholat, atau meninggalkan hukum yang diturunkan Allah karena berpaling darinya. Adapun membenci apa yang Allah turunkan termasuk dalam keyakinan, karena hal itu termasuk amalan hati.” Selesai kutipan.
لكن إذا كان الشخص يعتقد أن من مات منتحرًا كافر، وانتحر مختارًا مريدًا للكفر راضيًا به فهو كافر -والعياذ بالله-، جاء في فتح الباري تعليقًا على قوله صلى الله عليه وسلم:
Akan tetapi, jika seseorang meyakini bahwa orang yang meninggal karena bunuh diri adalah kafir, kemudian ia melakukan bunuh diri atas pilihannya sendiri dengan menghendaki kekufuran dan meridhainya, maka ia menjadi kafir —wal ‘iyadzu billah—. Disebutkan dalam Fath Al-Bari ketika memberikan komentar terhadap sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam:
من حلف بملة غير الإسلام كاذبًا فهو كما قال
“Barang siapa bersumpah dengan agama selain Islam secara dusta, maka ia sebagaimana yang diucapkannya.”
ما نصه: فإن اعتقد تعظيم ما ذكر كفر، وإن قصد حقيقة التعليق: فينظر فإن كان أراد أن يكون متصفًا بذلك كفر؛ لأن إرادة الكفر كفر. اهـ
Teksnya berbunyi: “Jika ia meyakini pengagungan terhadap apa yang disebutkan tersebut, maka ia menjadi kafir. Jika ia memang bermaksud menjadikan hal tersebut benar-benar sebagai sesuatu yang bergantung pada syarat, maka perlu dilihat: apabila ia menghendaki dirinya benar-benar memiliki sifat tersebut, maka ia menjadi kafir, karena menghendaki kekufuran itu sendiri adalah kekufuran.” Selesai kutipan.
وفي المدونة: أنه سئل عبد الرحمن بن القاسم: أرأيت إن قال الرجل: أنا كافر بالله إن فعلت كذا وكذا، أيكون هذا يمينًا في قول مالك؟ قال: قال مالك: لا يكون هذا يمينًا، ولا يكون كافرًا حتى يكون قلبه مضمرًا على الكفر، وبئس ما صنع. اهـ.
Disebutkan dalam Al-Mudawwanah bahwa ‘Abdurrahman bin Al-Qasim ditanya: “Bagaimana menurut Anda apabila seseorang berkata: ‘Aku kafir kepada Allah jika aku melakukan ini dan itu.’ Apakah hal tersebut termasuk sumpah menurut pendapat Malik?” Ia menjawab: “Malik berkata: Hal tersebut bukanlah sumpah, dan ia tidak menjadi kafir sampai hatinya benar-benar menyimpan niat untuk menjadi kafir. Dan sungguh buruk apa yang telah ia lakukan.” Selesai kutipan.
والله أعلم.
Wallahu a’lam.
Sumber : IslamWeb
Leave a Reply