المنتحر… مؤمن أم كافر
Orang yang Bunuh Diri, Mukmin atau Kafir?
Alih Bahasa : Reza Ervani bin Asmanu
Artikel Orang yang Bunuh Diri, Mukmin atau Kafir? ini masuk dalam Kategori Tanya Jawab Aqidah Islam
السؤال:
Pertanyaan:
تناولت فتاة السم على سبيل التهديد بالانتحار وذهبت بعد تناوله فوراً للمستشفى لعمل الاسعافات ولكن لم يتم إسعافها وتوفيت هل تكون ماتت كافرة؟ ما هي الأعمال المطلوبة منا لتشفع لها في القبر والآخرة؟
Seorang gadis meminum racun sebagai bentuk ancaman untuk melakukan bunuh diri. Setelah meminumnya, ia segera pergi ke rumah sakit untuk mendapatkan pertolongan, tetapi ia tidak berhasil diselamatkan dan meninggal dunia. Apakah ia meninggal dalam keadaan kafir? Amal apa yang dapat kami lakukan agar bermanfaat baginya di alam kubur dan akhirat?
الإجابــة:
Jawaban :
الحمد لله، والصلاة والسلام على رسول الله، وعلى آله وصحبه، أما بعد:
Segala puji bagi Allah, shalawat serta salam semoga tercurah kepada Rasulullah, keluarga, dan para shahabatnya. Amma ba’du:
فإن مذهب أهل الحق: أهل السنة والجماعة، أن أهل التوحيد لا يخلدون في النار، ولو ارتكبوا ما ارتكبوا من الكبائر، وأن ما ورد في خلود من قتل نفسه في النار، المراد به التهديد والزجر، أو أن المراد بذلك من استحل قتل نفسه، أو غير ذلك من الاحتمالات.
Sesungguhnya mazhab Ahlul Haq, yaitu Ahlus Sunnah wal Jama‘ah, adalah bahwa orang-orang yang bertauhid tidak kekal di dalam neraka, sekalipun mereka melakukan berbagai dosa besar. Adapun keterangan tentang kekalnya orang yang membunuh dirinya sendiri di dalam neraka, maka yang dimaksud adalah sebagai ancaman dan peringatan keras, atau yang dimaksud adalah orang yang menghalalkan perbuatan membunuh dirinya sendiri, atau kemungkinan-kemungkinan penafsiran lainnya.
لذا فإن ما أقدمت عليه هذه الفتاة من أكبر الكبائر، وأبشع الجرائم، ولكن مع ذلك تعتبر مسلمة وتجري عليها أحكام المسلمين، فيصلى عليها، وتدفن في مقابر المسلمين، ويشرع الدعاء لها بالمغفرة.
Karena itu, apa yang dilakukan oleh gadis tersebut termasuk salah satu dosa besar yang paling besar dan kejahatan yang paling buruk. Meskipun demikian, ia tetap dianggap sebagai seorang muslimah dan berlaku atas dirinya hukum-hukum kaum muslimin. Jenazahnya dishalatkan, dikuburkan di pemakaman kaum muslimin, dan disyariatkan untuk mendoakan ampunan baginya.
أما بالنسبة للأعمال التي تنفعها في الآخرة فنقول: الاستغفار، والدعاء مما ينفع الميت، وكذلك الصدقة، فقد جاءت الأحاديث بالأمر بالاستغفار للميت، وبالصدقة عنه، مما يدل على استفادته بذلك، فقد كان النبي صلى الله عليه وسلم إذا فرغ من دفن الميت وقف عليه، فقال:
Adapun mengenai amalan-amalan yang bermanfaat baginya di akhirat, maka kami katakan: memohonkan ampun dan berdoa termasuk perkara yang bermanfaat bagi orang yang telah meninggal. Demikian pula sedekah. Hadits-hadits telah datang dengan perintah untuk memohonkan ampun bagi orang yang telah meninggal dan bersedekah atas namanya, yang menunjukkan bahwa ia memperoleh manfaat dari hal tersebut. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, apabila selesai menguburkan jenazah, berdiri di dekat kuburnya lalu bersabda:
“استغفروا لأخيكم وسلوا له بالتثبيت، فإنه الآن يسأل”
“Mohonkanlah ampun bagi saudara kalian dan mintakanlah keteguhan untuknya, karena sekarang ia sedang ditanya.”
وفي صحيح البخاري: أن رجلاً قال للنبي صلى الله عليه وسلم:
Dan dalam Shahih Al-Bukhari disebutkan bahwa seorang laki-laki berkata kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam:
“إن أمي افتلتت نفسها، وأراها لو تكلمت تصدقت، أفأتصدق عنها؟ قال: نعم، تصدق عنها”
“Sesungguhnya ibuku meninggal secara tiba-tiba. Aku menduga seandainya ia sempat berbicara, tentu ia akan bersedekah. Apakah aku boleh bersedekah atas namanya?” Beliau menjawab: “Ya, bersedekahlah atas namanya.”
والله أعلم.
Wallahu a’lam.
Sumber : IslamWeb
Leave a Reply