Pelaku Bunuh Diri dan Masalah Kekalnya di Neraka



المنتحر ومسألة خلوده في النار

Pelaku Bunuh Diri dan Masalah Kekalnya di Neraka

Alih Bahasa : Reza Ervani bin Asmanu

Artikel Pelaku Bunuh Diri dan Masalah Kekalnya di Neraka ini masuk dalam Kategori Tanya Jawab Fiqh Pidana Islam

السؤال:

Pertanyaan:

هل المنتحر مخلد في نار جهنم أبدا لا يخرج منها

Apakah orang yang bunuh diri kekal di dalam neraka Jahannam selama-lamanya dan tidak akan keluar darinya?

الإجابــة:

Jawaban :

الحمد لله، والصلاة والسلام على رسول الله، وعلى آله وصحبه، أما بعد:

Segala puji bagi Allah, shalawat serta salam semoga tercurah kepada Rasulullah, keluarga, dan para shahabatnya. Amma ba’du:

فإن المنتحر ـ وهو قاتل نفسه ـ قد ارتكب ذنباً عظيماً وكبيرة من أكبر الكبائر، لشدة ما ورد فيه من الوعيد، قال تعالى:

Sesungguhnya orang yang bunuh diri —yaitu orang yang membunuh dirinya sendiri— telah melakukan dosa yang besar dan salah satu dari dosa-dosa besar yang paling besar, karena kerasnya ancaman yang datang berkenaan dengannya. Allah Ta‘ala berfirman:

وَلَا تَقْتُلُوا أَنْفُسَكُمْ إِنَّ اللَّهَ كَانَ بِكُمْ رَحِيمًا

“Dan janganlah kalian membunuh diri kalian. Sesungguhnya Allah Maha Penyayang kepada kalian.”

وقال النبي صلى الله عليه وسلم فيما رواه الشيخان بروايات مختلفة، عن ثابت بن الضحاك قال قال رسول الله صلى الله عليه وسلم:

Dan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda dalam riwayat yang diriwayatkan oleh Al-Bukhari dan Muslim dengan redaksi yang berbeda-beda. Dari Tsabit bin Adh-Dhahhak, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

“من حلف بملة غير الإسلام كاذباً متعمدا فهو كما قال، ومن قتل نفسه بحديدة عذب بها في نار جنهم”

“Barang siapa bersumpah dengan agama selain Islam secara dusta dan sengaja, maka ia sebagaimana yang diucapkannya. Dan barang siapa membunuh dirinya sendiri dengan besi, maka ia akan diazab dengannya di dalam neraka Jahannam.”

وعن أبي هريرة رضي الله عنه قال: قال النبي صلى الله عليه وسلم:

Dan dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata: Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

“الذي يخنق نفسه يخنقها في نار جنهم، والذي يطعنها يطعنها في نار جنهم”

“Orang yang mencekik dirinya sendiri akan terus mencekiknya di dalam neraka Jahannam, dan orang yang menusuk dirinya sendiri akan terus menusuknya di dalam neraka Jahannam.”

أما لفظ التخليد في النار فقد ثبت من طريق أبي هريرة عند مسلم، ولفظ الحديث:

Adapun lafazh mengenai kekekalan di dalam neraka telah diriwayatkan melalui jalur Abu Hurairah dalam riwayat Muslim. Lafazh hadits tersebut adalah:

“من قتل نفسه بحديدة فحديدته في يده يجأ بها في بطنه في نار جنهم خالداً مخلداً فيها أبداً، ومن تحسى سماً فقتل نفسه فسمه في يده يتحساه في نار جنهم خالداً مخلدا فيها أبداً، ومن تردى من جبل فقتل نفسه فهو يتردى في نار جهنم خالداً مخلداً فيها أبداً”

“Barang siapa membunuh dirinya sendiri dengan besi, maka besi itu berada di tangannya dan ia akan menusukkannya ke perutnya di dalam neraka Jahannam, kekal dan dikekalkan di dalamnya selama-lamanya. Barang siapa meminum racun lalu membunuh dirinya sendiri, maka racunnya berada di tangannya dan ia akan terus meminumnya di dalam neraka Jahannam, kekal dan dikekalkan di dalamnya selama-lamanya. Dan barang siapa menjatuhkan dirinya dari gunung lalu membunuh dirinya sendiri, maka ia akan terus menjatuhkan dirinya di dalam neraka Jahannam, kekal dan dikekalkan di dalamnya selama-lamanya.”

ولما كان قاتل نفسه قد ارتكب إثماً عظيماً وكبيرة من كبائر الذنوب، دون الكفر بالله والشرك به سبحانه، وأن هذه الزيادة ـ وهي لفظ التخليد في النار ـ لم تكن من ألفاظ الحديث المتفق عليها من حديث أبي هريرة المذكور، بل هي مما انفرد به مسلم عن الإمام البخاري. من هنا نشأ الخلاف في تخليد قاتل نفسه في النار.

Karena orang yang membunuh dirinya sendiri telah melakukan dosa yang besar dan salah satu dosa besar, tetapi masih berada di bawah kekufuran kepada Allah dan kesyirikan terhadap-Nya سبحانه وتعالى, dan karena tambahan lafazh ini —yakni lafazh kekekalan di dalam neraka— bukan termasuk lafazh hadits yang disepakati oleh Al-Bukhari dan Muslim dalam hadits Abu Hurairah yang disebutkan tersebut, tetapi termasuk tambahan yang diriwayatkan Muslim sendiri tanpa Al-Bukhari, maka dari sinilah muncul perbedaan pendapat mengenai kekalnya orang yang membunuh dirinya sendiri di dalam neraka.

فهذه الزيادة أخذ بها الخوارج والمعتزلة، وجعلوها تكأة لقولهم بتخليد مرتكب المعاصي في النار. وجمع أهل السنة بين هذه الأحاديث والأحاديث التي تفيد أن من قال لا إله إلا الله دخل الجنة. وقالوا بعدم تخليد أهل المعاصي من المسلمين.

Tambahan lafazh tersebut dijadikan pegangan oleh Khawarij dan Mu‘tazilah, dan mereka menjadikannya sebagai sandaran bagi pendapat mereka bahwa pelaku kemaksiatan kekal di dalam neraka. Adapun Ahlus Sunnah mengompromikan hadits-hadits tersebut dengan hadits-hadits yang menunjukkan bahwa orang yang mengucapkan La ilaha illallah akan masuk surga. Mereka berpendapat bahwa kaum muslimin pelaku maksiat tidak kekal di dalam neraka.

وقد أجاب أهل السنة عن هذه الزيادة التي أوردها الإمام مسلم بأجوبة منها:

Para ulama Ahlus Sunnah memberikan beberapa jawaban terhadap tambahan lafazh yang diriwayatkan oleh Imam Muslim tersebut, di antaranya:

1- توهيم هذه الزيادة.

1. Menilai bahwa tambahan lafazh tersebut mengandung kekeliruan dalam periwayatan.

2- قالوا: ذلك فيمن يستحله، لأنه إذا استحله يصير باستحلاله كافراً. والكافر مخلد بلا ريب.

2. Mereka mengatakan bahwa hal tersebut berlaku bagi orang yang menghalalkan bunuh diri, karena apabila ia menghalalkannya maka ia menjadi kafir disebabkan penghalalannya tersebut. Dan orang kafir kekal di dalam neraka tanpa diragukan lagi.

3- قالوا: لفظ الخلود في الحديث ورد مورد الزجر والتغليظ دون إرادة الحقيقة.

3. Mereka mengatakan bahwa lafazh kekekalan dalam hadits tersebut disebutkan dalam konteks ancaman, pencegahan, dan pemberatan, bukan dengan maksud kekekalan secara hakiki.

4- وقيل: إن هذا الذي ذكر في الحديث هو جزاؤه، لكن قد تكرم الله على الموحدين فأخرجهم من النار بتوحيدهم. وبذلك يكون العمل بجميع تلك الأحاديث النافية والمثبتة.

4. Dikatakan bahwa apa yang disebutkan dalam hadits tersebut memang merupakan balasan yang semestinya baginya. Akan tetapi, Allah telah memberikan karunia kepada orang-orang yang bertauhid dengan mengeluarkan mereka dari neraka karena tauhid mereka. Dengan demikian, seluruh hadits yang menafikan maupun yang menetapkan ancaman tersebut dapat diamalkan secara bersamaan.

5- وقالوا أيضاً: المراد بالتخليد يعني أنه مخلد فيها إلى أن يشاء الله.

5. Mereka juga mengatakan bahwa yang dimaksud dengan kekekalan adalah bahwa ia berada di dalamnya sampai Allah menghendaki berakhirnya hal tersebut.

وخلاصة القول: أن أهل السنة يقولون بعدم تخليد أهل المعاصي من المسلمين في النار، ومنهم قاتل نفسه وهو المنتحر.

Kesimpulannya, Ahlus Sunnah berpendapat bahwa kaum muslimin yang melakukan kemaksiatan tidak kekal di dalam neraka, termasuk orang yang membunuh dirinya sendiri, yaitu pelaku bunuh diri.

والله أعلم.

Wallahu a’lam.

Sumber : IslamWeb



Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*


This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.