Bab Sakt pada Huruf Sākin Sebelum Hamzah dan Selainnya (7 – Terakhir)



باب السكت على الساكن قبل الهمز وغيره

Bab Sakt pada Huruf Sākin Sebelum Hamzah dan Selainnya (Bagian Ketujuh [Terakhir])

Alih Bahasa oleh : Reza Ervani bin Asmanu

Artikel Bab Sakt pada Huruf Sākin Sebelum Hamzah dan Selainnya ini masuk dalam Kategori Ilmu Qiroat

وروى الإدراج في الأربعة كالباقين أبو القاسم الهذلي، وأبو بكر بن مهران، وغير واحد من العراقيين، فلم يفرقوا في ذلك بين حفص وغيره.

Abū al-Qāsim al-Hudzalī, Abū Bakr bin Mihrān, dan sejumlah ulama Irak lainnya meriwayatkan idrāj pada keempat tempat tersebut sebagaimana qāri’ lainnya. Mereka tidak membedakan Hafsh dari qāri’ lainnya dalam masalah ini.

وروى عنه كلا من الوجهين أبو القاسم بن الفحام في تجريده، فروى السكت في عوجا ومرقدنا عن عمرو بن الصباح، عنه. وروى الإدراج كالجماعة، عن عبيد بن الصباح عنه.

Abū al-Qāsim bin al-Fahhām dalam at-Tajrīd meriwayatkan dari Hafsh kedua wajah bacaan tersebut. Ia meriwayatkan sakt pada عوجا dan مرقدنا dari ‘Amr bin ash-Shabbāh, dari Hafsh. Sedangkan dari ‘Ubaid bin ash-Shabbāh, dari Hafsh, ia meriwayatkan idrāj sebagaimana bacaan jamaah.

وروى السكت في من راق وبل ران من قراءته على الفارسي، عن عمرو، ومن قراءته على عبد الباقي، عن عبيد فقط، وروى الإدراج كالجماعة من قراءته على ابن نفيس من طريق عبيد والمالكي من طريقي عمرو وعبيد جميعا، والله أعلم.

Ia juga meriwayatkan sakt pada من راق dan بل ران berdasarkan bacaannya kepada al-Fārisī, dari ‘Amr, serta berdasarkan bacaannya kepada ‘Abd al-Bāqī, dari ‘Ubaid saja. Adapun idrāj sebagaimana bacaan jamaah, ia meriwayatkannya berdasarkan bacaannya kepada Ibnu Nafīs melalui jalur ‘Ubaid, dan kepada al-Mālikī melalui kedua jalur sekaligus, yaitu ‘Amr dan ‘Ubaid. Allah lebih mengetahui.

واتفق صاحب المستنير، والمبهج، والإرشاد على الإدراج في عوجا ومرقدنا كالجماعة، وعلى السكت في القيامة فقط، وعلى الإظهار من غير سكت في التطفيف، والمراد بالإظهار السكت.

Pengarang al-Mustanīr, al-Mubhij, dan al-Irsyād sepakat menetapkan idrāj pada عوجا dan مرقدنا sebagaimana bacaan jamaah, menetapkan sakt hanya pada tempat yang terdapat dalam Surah al-Qiyāmah, serta menetapkan izhār tanpa sakt pada tempat yang terdapat dalam Surah at-Tathfīf. Adapun yang dimaksud dengan izhār di sini adalah sakt.

فإن صاحب الإرشاد صرح بذلك في كفايته، وصاحب المبهج نص عليه في الكفاية له ولم يذكر سواه.

Hal itu karena pengarang al-Irsyād secara tegas menjelaskannya dalam kitab al-Kifāyah miliknya. Demikian pula pengarang al-Mubhij menegaskannya dalam kitab al-Kifāyah miliknya dan tidak menyebutkan wajah selainnya.

وروى الحافظ أبو العلاء في غايته السكت في عوجا فقط، ولم يذكر في الثلاثة الباقية شيئا. بل ذكر الإظهار في من راق، وبل ران.

Al-Hāfizh Abū al-‘Alā’ dalam kitab al-Ghāyah-nya meriwayatkan sakt hanya pada عوجا, dan tidak menyebutkan sesuatu pun mengenai tiga tempat lainnya. Bahkan, ia menyebutkan izhār pada من راق dan بل ران.

قلت: فثبت في الأربعة الخلاف، عن حفص من طريقيه، وصح الوجهان من السكت والإدراج عنه، وبهما عنه آخذ.

Aku berkata: Dengan demikian, telah tetap adanya khilaf pada keempat tempat tersebut dari Hafsh melalui kedua jalurnya. Kedua wajah, yaitu sakt dan idrāj, sahih darinya, dan dengan kedua wajah itulah aku mengambil riwayat darinya.

ووجه السكت في عوجا قصد بيان أن قيما بعده ليس متصلا بما قبله في الإعراب. فيكون منصوبا بفعل مضمر تقديره أنزله قيما فيكون حالا من الهاء في أنزله.

Adapun alasan sakt pada عوجا adalah untuk menjelaskan bahwa lafaz قيما yang datang sesudahnya tidak tersambung dengan lafaz sebelumnya dari sisi i‘rāb. Dengan demikian, قيما berkedudukan manshūb karena adanya fi‘il yang disembunyikan, dengan perkiraan kalimat أنزله قيما — “Dia menurunkannya dalam keadaan lurus.” Maka lafaz قيما menjadi hāl dari dhamīr hā’ pada lafaz أنزله.

وفي مرقدنا بيان أن كلام الكفار قد انقضى، وأن قوله: هذا ما وعد الرحمن ليس من كلامهم، فهو إما من كلام الملائكة، أو من كلام المؤمنين كما أشرنا إليه في الوقف والابتداء.

Adapun sakt pada مرقدنا, tujuannya adalah menjelaskan bahwa perkataan orang-orang kafir telah selesai, dan bahwa firman Allah هذا ما وعد الرحمن — “Inilah yang telah dijanjikan oleh ar-Rahmān” — bukan merupakan bagian dari ucapan mereka. Kalimat tersebut boleh jadi merupakan perkataan para malaikat atau perkataan orang-orang beriman, sebagaimana telah kami isyaratkan dalam pembahasan waqf dan ibtidā’.

وفي من راق، وبل ران قصد بيان اللفظ ليظهر أنهما كلمتان مع صحة الرواية في ذلك، والله أعلم.

Adapun pada من راق dan بل ران, tujuan sakt adalah untuk memperjelas lafaz sehingga tampak bahwa masing-masing susunan tersebut terdiri dari dua kata, di samping adanya riwayat yang sahih mengenai bacaan tersebut. Allah lebih mengetahui.



Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*


This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.