Bab Sakt pada Huruf Sākin Sebelum Hamzah dan Selainnya : Tanbihat (1)



باب السكت على الساكن قبل الهمز وغيره

Bab Sakt pada Huruf Sākin Sebelum Hamzah dan Selainnya : Tanbihat (Bagian Pertama)

Alih Bahasa oleh : Reza Ervani bin Asmanu

Artikel Bab Sakt pada Huruf Sākin Sebelum Hamzah dan Selainnya ini masuk dalam Kategori Ilmu Qiroat

الأول: إنما يتأتى السكت حال وصل الساكن بما بعده، أما إذا وقف على الساكن فيما يجوز الوقف عليه مما انفصل خطا، فإن السكت المعروف يمتنع ويصير الوقف المعروف.

Pertama: Sakt hanya dapat dilakukan ketika huruf sākin disambungkan dengan lafaz sesudahnya. Adapun apabila berhenti pada huruf sākin dalam keadaan yang memang dibolehkan waqf padanya, pada lafaz yang terpisah secara tulisan, maka sakt sebagaimana yang dikenal tidak dapat dilakukan, dan berubah menjadi waqf sebagaimana biasa.

وإن وقف على الكلمة التي فيها الهمزة، سواء كان متصلا أو منفصلا، فإن لحمزة في ذلك مذهبا يأتي في الباب الآتي.

Apabila berhenti pada kata yang di dalamnya terdapat hamzah, baik dalam keadaan muttashil maupun munfashil, maka Hamzah memiliki mazhab tersendiri dalam masalah tersebut yang akan dijelaskan pada bab berikutnya.

وأما غير حمزة، فإن كان الهمزة متوسطا كالقرآن، والظمآن، وشيئا، والأرض فالسكت أيضا، إذ لا فرق في ذلك بين الوقف والوصل. وكذا إن كان مبتدأ ووصل بالساكن قبله.

Adapun selain Hamzah, apabila hamzah berada di tengah kata, seperti pada القرآن, الظمآن, شيئا, dan الأرض, maka sakt tetap dilakukan, karena dalam hal ini tidak ada perbedaan antara keadaan waqf dan washl. Demikian pula apabila hamzah berada di awal kata dan disambungkan dengan huruf sākin sebelumnya.

وإن كان متطرفا وقف بالروم، فكذلك فإن وقف بالسكون امتنع السكت من أجل التقاء الساكنين، وعدم الاعتماد في الهمز على شيء.

Apabila hamzah berada di akhir kata dan waqf dilakukan dengan rawm, maka hukumnya juga demikian. Namun apabila waqf dilakukan dengan sukun, sakt tidak dapat dilakukan karena terjadinya pertemuan dua huruf sākin, serta tidak adanya sesuatu yang menjadi sandaran bagi pengucapan hamzah.

الثاني: تقدم أنه إذا قرئ بالسكت لابن ذكوان يجوز أن يكون مع المد الطويل ومع التوسط لورود الرواية بذلك.

Kedua: Telah dikemukakan sebelumnya bahwa apabila qirā’ah Ibnu Dzakwān dibaca dengan sakt, maka sakt tersebut boleh disertai madd panjang maupun tawassuth, karena riwayat mengenai kedua cara tersebut memang telah datang.

فإن قرئ به لحفص فإنه لا يكون إلا مع المد. ولا يجوز أن يكون مع القصر؛ لأن السكت إنما ورد من طريق الأشناني من عبيد، عن حفص، وليس له إلا المد، والقصر ورد من طريق الفيل، عن عمرو، عن حفص، وليس له إلا الإدراج، والله أعلم.

Namun apabila sakt dibaca dalam riwayat Hafsh, maka ia hanya boleh disertai madd dan tidak boleh disertai qashr. Hal itu karena sakt hanya diriwayatkan melalui jalur al-Asynānī, dari ‘Ubaid, dari Hafsh, dan pada jalur tersebut tidak terdapat kecuali madd. Adapun qashr diriwayatkan melalui jalur al-Fīl, dari ‘Amr, dari Hafsh, dan pada jalur tersebut tidak terdapat kecuali idrāj. Allah lebih mengetahui.

الثالث: إن كان من مذهبه، عن حمزة السكت، أو التحقيق الذي هو عدم السكت إذا وقف، فإن كان الساكن والهمز في الكلمة الموقوف عليها، فإن تخفيف الهمز كما سيأتي ينسخ السكت والتحقيق.

Ketiga: Apabila mazhab yang diriwayatkan dari Hamzah adalah sakt, atau tahqīq — yaitu tidak melakukan sakt — kemudian dilakukan waqf, maka jika huruf sākin dan hamzah berada dalam kata yang menjadi tempat waqf, cara takhfīf terhadap hamzah, sebagaimana akan dijelaskan nanti, menggantikan hukum sakt maupun tahqīq tersebut.

وإن كان الساكن في كلمة والهمز في أول كلمة أخرى فإن الذي مذهبه تخفيف المنفصل كما سيأتي ينسخ تخفيفه سكته وعدمه بحسب ما يقتضيه التخفيف كما سيأتي.

Apabila huruf sākin berada dalam satu kata sedangkan hamzah berada pada awal kata yang lain, maka bagi jalur yang mazhabnya melakukan takhfīf pada bentuk munfashil, sebagaimana akan dijelaskan nanti, takhfīf tersebut menggantikan sakt maupun tidak sakt sesuai dengan bentuk takhfīf yang dituntut, sebagaimana akan diterangkan kemudian.

ولذلك لم يتأت له في نحو الأرض، والإنسان سوى وجهين، وهما: النقل والسكت؛ لأن الساكتين على لام التعريف وصلا منهم من ينقل وقفا كأبي الفتح عن خلف، والجمهور عن حمزة.

Karena itu, pada lafaz semisal الأرض dan الإنسان, tidak terdapat baginya kecuali dua wajah, yaitu naql dan sakt. Sebab, di antara para perawi yang melakukan sakt pada lām ta‘rīf ketika washl, ada yang melakukan naql ketika waqf, seperti Abū al-Fath dari Khalaf dan mayoritas perawi dari Hamzah.

ومنهم من لا ينقل من أجل تقدير انفصاله، فيقره على حاله كما لو وصل كابني غلبون، وأبي الطاهر صاحب العنوان، ومكي، وغيرهم.

Di antara mereka ada pula yang tidak melakukan naql karena mempertimbangkan bahwa keduanya secara hukum terpisah. Karena itu, ia membiarkannya sebagaimana keadaannya ketika washl, seperti dua Ibnu Ghalbūn, Abū ath-Thāhir pengarang al-‘Unwān, Makkī, dan selain mereka.

Bersambung ke bagian berikutnya in sya Allah



Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*


This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.