رد شبهة حول حديث “هؤلاء للجنة ولا أبالي وهؤلاء للنار ولا أبالي”
Menjawab Syubhat Seputar Hadits “Mereka Ini untuk Surga dan Aku Tidak Peduli, dan Mereka Itu untuk Neraka dan Aku Tidak Peduli”
Alih Bahasa : Reza Ervani bin Asmanu
Artikel Menjawab Syubhat Seputar Hadits “Mereka Ini untuk Surga dan Aku Tidak Peduli, dan Mereka Itu untuk Neraka dan Aku Tidak Peduli” ini masuk dalam Kategori Tanya Jawab Aqidah
السؤال:
Pertanyaan:
قال أحد الدعاة إن الله خلق الناس ثم قال هذه المجموعة للجنة ولا أبالي و هذه للنار و لا أبالي و أن من كتبت عليه الشقاوة أزلا سوف يدخل النار لا محالة و لواجتمع من فى الأرض جميعا و أن هذا هو العدل المطلق فكيف يكون عدل أن يدخل النار من خلق و هو مكتوب عليه دخولها أزلا . و قال إن الله هو الرحمن الرحيم وسعت رحمته كل شىء و لكن أكثر الناس سيكونون من أهل النار و ليس العكس . أرجو المعذرة و لكن الكلام أربكني . أرجو التوضيح ؟
Salah seorang da‘i mengatakan bahwa Allah menciptakan manusia kemudian berfirman: “Kelompok ini untuk surga dan Aku tidak peduli, sedangkan kelompok ini untuk neraka dan Aku tidak peduli.” Ia juga mengatakan bahwa orang yang sejak azali telah dituliskan kesengsaraan atasnya pasti akan masuk neraka, sekalipun seluruh manusia di bumi berkumpul, dan bahwa inilah keadilan yang mutlak. Lalu bagaimana disebut adil apabila seseorang masuk neraka sementara sejak ia diciptakan telah dituliskan atasnya bahwa ia akan masuk ke dalamnya?
Ia juga mengatakan bahwa Allah adalah Ar-Rahman dan Ar-Rahim, rahmat-Nya meliputi segala sesuatu, tetapi kebanyakan manusia akan menjadi penghuni neraka dan bukan sebaliknya. Mohon maaf, tetapi perkataan tersebut membuat saya bingung. Mohon penjelasannya.
الإجابــة:
Jawaban :
الحمد لله، والصلاة والسلام على رسول الله، وعلى آله وصحبه، أما بعد:
Segala puji bagi Allah, shalawat serta salam semoga tercurah kepada Rasulullah, keluarga, dan para shahabatnya. Amma ba’du:
فاعلم أيها السائل الكريم وفقنا الله وإياك للعلم النافع والعمل الصالح أن الله عدل حكيم، وأن قدم الإسلام لا تثبت إلا على أرض التسليم والاستسلام، وأن الخوض في القدر مزلة أقدام، ومضلة أفهام، فقد خرج النبي صلى الله عليه وسلم والصحابة يتجادلون في القدر، فغضب صلى الله عليه وسلم حتى كأنما فقئ في وجهه حب الرمان، فقال:
Ketahuilah, wahai penanya yang mulia —semoga Allah memberikan kepada kami dan Anda ilmu yang bermanfaat serta amal yang shalih— bahwa Allah Mahaadil lagi Mahabijaksana. Kaki keislaman tidak akan kokoh kecuali di atas landasan berserah diri dan tunduk. Membahas qadar secara berlebihan merupakan tempat tergelincirnya kaki dan tersesatnya pemahaman. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah keluar menemui para shahabat yang sedang berdebat mengenai qadar. Beliau pun marah hingga seakan-akan biji delima pecah di wajah beliau, lalu bersabda:
أبهذا أمرتم؟ أن تضربوا كتاب الله عز وجل بعضه ببعض، إنما ضلت الأمم قبلكم في مثل هذا، إنكم لستم مما هنا في شيء، انظروا إلى الذي أمرتم به فاعملوا به، وانظروا الذي نهيتم عنه فانتهوا
“Apakah untuk hal seperti ini kalian diperintahkan? Kalian mempertentangkan sebagian Kitab Allah ‘Azza wa Jalla dengan sebagian yang lain. Sesungguhnya umat-umat sebelum kalian tersesat dalam perkara seperti ini. Kalian tidak diperintahkan untuk masuk ke dalam perkara ini. Perhatikanlah apa yang diperintahkan kepada kalian lalu kerjakanlah, dan perhatikanlah apa yang dilarang dari kalian lalu berhentilah darinya.” (HR. ‘Abdullah bin Ahmad dalam As-Sunnah).
وقال صلى الله عليه وسلم:
Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda:
إذا ذكر القدر فأمسكوا
“Apabila qadar dibicarakan, maka tahanlah diri kalian.” (HR. Ath-Thabarani dan dinilai hasan oleh Al-Mubarakfuri dalam Tuhfat Al-Ahwadzi).
وما ذلك إلا لخفاء في أمر القدر، وصعوبة في فهمه عند أكثر الناس، ويوم خاض الناس في القدر وعصوا أمره صلى الله عليه وسلم تفرقوا شيعاً وأحزاباً.
Hal itu tidak lain karena perkara qadar memiliki sisi yang tersembunyi dan sulit dipahami oleh kebanyakan manusia. Ketika manusia mulai terlalu jauh membahas qadar dan menyelisihi perintah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, mereka pun terpecah menjadi berbagai kelompok dan golongan.
وبعد هذه المقدمة التي لم نرد منها إلا بيان خطورة الخوض في القدر، نبين المذهب الحق الذي عليه سادات الأمة من الصحابة، وأئمة الهدى في القرون الثلاثة المفضلة، فنقول وبالله التوفيق، مراتب القدر أربعة:
Setelah pendahuluan ini, yang kami maksudkan semata-mata untuk menjelaskan bahaya terlalu jauh membahas qadar, kami akan menjelaskan mazhab yang benar yang dipegang oleh para tokoh utama umat ini dari kalangan shahabat serta para imam petunjuk pada tiga generasi yang utama. Maka kami katakan, dengan pertolongan Allah, bahwa tingkatan qadar ada empat:
الأولى: العلم، ومعناه: إحاطة علم الله بكل شيء، فالله يعلم ما كان وما يكون وما لم يكن لو كان كيف يكون.
Pertama: Ilmu. Maknanya adalah bahwa ilmu Allah meliputi segala sesuatu. Allah mengetahui apa yang telah terjadi, apa yang akan terjadi, dan apa yang tidak terjadi; seandainya sesuatu itu terjadi, Dia mengetahui bagaimana terjadinya.
الثانية المشيئة، ومعناها: أن كل ما يجري في الكون وما جرى هو بمشيئة الله سبحانه، فلا يخرج شيء عن إرادته ومشيئته.
Kedua: Kehendak. Maknanya adalah bahwa segala sesuatu yang terjadi dan telah terjadi di alam semesta berlangsung dengan kehendak Allah سبحانه وتعالى. Tidak ada sesuatu pun yang keluar dari kehendak dan keinginan-Nya.
الثالثة: الكتابة، بمعنى أن الله كتب ما قضاه وقدره في اللوح المحفوظ، قال تعالى:
Ketiga: Penulisan. Maksudnya, Allah telah menuliskan apa yang Dia tetapkan dan takdirkan di dalam Al-Lauh Al-Mahfuzh. Allah Ta‘ala berfirman:
مَا فَرَّطْنَا فِي الْكِتَابِ مِنْ شَيْءٍ [الأنعام:38]
“Tidaklah Kami luputkan sesuatu pun di dalam Kitab.” [Al-An‘am: 38]
وقال صلى الله عليه وسلم:
Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
أول ما خلق الله القلم، فقال له: اكتب، قال رب، وما أكتب؟ قال: اكتب مقادير كل شيء
“Yang pertama kali Allah ciptakan adalah pena. Lalu Dia berfirman kepadanya: ‘Tulislah.’ Pena bertanya: ‘Wahai Rabb-ku, apa yang harus aku tulis?’ Dia berfirman: ‘Tulislah ketetapan segala sesuatu.'” (HR. At-Tirmidzi dan dinilainya shahih).
الرابعة: الخلق، فالله سبحانه وتعالى خالق كل شيء من الخير والشر. قال تعالى:
Keempat: Penciptaan. Allah سبحانه وتعالى adalah Pencipta segala sesuatu, baik kebaikan maupun keburukan. Allah Ta‘ala berfirman:
ذَلِكُمُ اللَّهُ رَبُّكُمْ، لَا إِلَهَ إِلَّا هُوَ، خَالِقُ كُلِّ شَيْءٍ فَاعْبُدُوهُ وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ وَكِيلٌ [الأنعام:102]
“Itulah Allah, Rabb kalian. Tidak ada sesembahan yang berhak disembah selain Dia, Pencipta segala sesuatu. Maka sembahlah Dia, dan Dia adalah Pemelihara atas segala sesuatu.” [Al-An‘am: 102]
فإذا تبين لك ذلك كان لزاماً أن تنزل على مراتب القدر ما أشكل عليك فهمه من قوله صلى الله عليه وسلم:
Apabila hal tersebut telah jelas bagi Anda, maka perkara yang sulit Anda pahami dari sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berikut harus ditempatkan sesuai dengan tingkatan-tingkatan qadar tersebut:
ثم خلق الله آدم، ثم خلق الخلق من ظهره، ثم قال: هؤلاء للجنة ولا أبالي، وهؤلاء للنار ولا أبالي
“Kemudian Allah menciptakan Adam, lalu menciptakan makhluk dari punggungnya, kemudian berfirman: ‘Mereka ini untuk surga dan Aku tidak peduli, sedangkan mereka itu untuk neraka dan Aku tidak peduli.'” (HR. Al-Hakim, dan ia menilainya shahih).
فنقول وبالله التوفيق: إن الحديث متعلق بمرتبة العلم، فالله عز وجل قد علم عمل كل طائفة، فقال عن طائفة أهل الإيمان: هؤلاء للجنة ولا أبالي، وقال عن طائفة أهل الكفر: هؤلاء للنار ولا أبالي.
Maka kami katakan, dengan pertolongan Allah: Hadits tersebut berkaitan dengan tingkatan ilmu. Allah ‘Azza wa Jalla telah mengetahui amal setiap kelompok. Tentang kelompok orang-orang beriman Dia berfirman: “Mereka ini untuk surga dan Aku tidak peduli.” Sedangkan tentang kelompok orang-orang kafir Dia berfirman: “Mereka itu untuk neraka dan Aku tidak peduli.”
ولا يشعر أحد من الطائعين أو العاصين أنه مجبور على فعل من الأفعال، بل كل منهم يفعل باختياره وإرادته. وما كتب عليهم شيء مجهول لهم، لا يعرفه واحد منهم، وإنما يعرف الخير والشر الذي أمامه، فمنهم من يتقي الله ومنهم من يعصيه. كل منهم يفعل ما يفعل مختاراً، مع أمرهم جميعاً بالخير، ونهيهم عن الشر والكفر، وتكافؤ الفرص أمام الفريقين في المؤاخذة والعذر.
Tidak seorang pun dari orang yang taat maupun orang yang bermaksiat merasa bahwa dirinya dipaksa melakukan suatu perbuatan. Bahkan masing-masing melakukan perbuatannya berdasarkan pilihan dan kehendaknya. Apa yang telah dituliskan atas mereka merupakan sesuatu yang tidak diketahui oleh mereka; tidak seorang pun di antara mereka mengetahuinya. Yang mereka ketahui hanyalah kebaikan dan keburukan yang berada di hadapan mereka. Di antara mereka ada yang bertakwa kepada Allah dan ada yang mendurhakai-Nya. Masing-masing melakukan apa yang dilakukannya dengan pilihan sendiri, sementara semuanya diperintahkan kepada kebaikan dan dilarang dari keburukan serta kekufuran, dan kedua kelompok memiliki kesempatan yang sama dalam perkara pertanggungjawaban dan alasan.
وليس معنى هذا أن أعمالهم خارجة عن مشيئة الله وإرادته، بل هي بمشيئته سبحانه، فمن شاء الله هدايته للخير هداه وأعانه عليه، ومن شاء إضلاله منعه التوفيق فلم يعنه ولم يثبته. وليس في ترك إعانة من لم يعنه ظلم لهم، إذ لم يمنعهم حقاً لهم.
Hal ini bukan berarti bahwa amal-amal mereka berada di luar kehendak dan keinginan Allah. Bahkan semuanya terjadi dengan kehendak-Nya سبحانه وتعالى. Barang siapa Allah kehendaki mendapat petunjuk menuju kebaikan, Dia memberikan petunjuk kepadanya dan membantunya untuk melakukannya. Dan barang siapa Dia kehendaki tersesat, Dia menahan taufiq darinya sehingga tidak membantunya dan tidak meneguhkannya. Tidak terdapat kezaliman dalam tidak diberikannya pertolongan kepada orang yang tidak Dia bantu, karena Allah tidak menghalangi suatu hak yang menjadi milik mereka.
والمؤمن يوقن بأن الله تعالى غني عن خلقه، وأنه عدل رحيم لا يظلمهم مثقال ذرة، بل هو سبحانه ينعم عليهم ويتفضل، وهم يتبغضون إليه بالمعاصي، خيره إليهم نازل، وشرهم إليه صاعد. فكيف يظن العبد أن الله تعالى سيظلمه؟!
Seorang mukmin meyakini bahwa Allah Ta‘ala Mahakaya dan tidak membutuhkan makhluk-Nya. Dia Mahaadil lagi Maha Penyayang dan tidak menzalimi mereka meskipun seberat zarrah. Bahkan Dia سبحانه وتعالى memberikan nikmat dan karunia kepada mereka, sementara mereka melakukan kemaksiatan yang mendatangkan kemurkaan-Nya. Kebaikan-Nya terus turun kepada mereka, sedangkan keburukan mereka terus naik kepada-Nya. Maka bagaimana mungkin seorang hamba menyangka bahwa Allah Ta‘ala akan menzaliminya?
فإن فهمت هذا فقد انحلت لك عقدة القدر، وإلا فيكفيك قوله صلى الله عليه وسلم:
Jika Anda memahami hal ini, maka kerumitan persoalan qadar</i) telah terurai bagi Anda. Namun jika belum, maka cukuplah bagi Anda sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam:
اعملوا فكل ميسر لما خلق له
“Beramallah, karena setiap orang dimudahkan untuk apa yang ia diciptakan.” (Muttafaq ‘alaih).
وكِلْ علم ما لم تعلمه إلى عالمه، واشتغل بما كلفك الله به، ودع ما لم تكلف به.
Serahkanlah pengetahuan mengenai apa yang tidak Anda ketahui kepada Dzat Yang mengetahuinya. Sibukkanlah diri dengan apa yang Allah bebankan kepada Anda, dan tinggalkan perkara yang tidak dibebankan kepada Anda.
والله أعلم.
Wallahu a’lam.
Sumber : IslamWeb
Leave a Reply