Penjelasan Tentang Hadits “Aku Menciptakan Mereka untuk Surga…”



أضواء على حديث “خلقت هؤلاء للجنة..”

Penjelasan Tentang Hadits “Aku Menciptakan Mereka untuk Surga…”

Alih Bahasa : Reza Ervani bin Asmanu

Artikel Penjelasan Tentang Hadits “Aku Menciptakan Mereka untuk Surga…” ini masuk dalam Kategori Tanya Jawab Aqidah

السؤال:

Pertanyaan:

فقال رجل: يا رسول الله ففيم العمل؟ فقال: إن الله إذا خلق العبد للجنة استعمله بعمل أهل الجنة، حتى يموت على عمل من أعمال أهل الجنة فيدخله الجنة، وإذا خلق العبد للنار استعمله بعمل أهل النار، حتى يموت على عمل من أعمال أهل النار فيدخل النار” مامعنى هذا الكلام؟ وألف شكر .

Seorang laki-laki berkata: “Wahai Rasulullah, lalu untuk apa kita beramal?” Beliau menjawab: “Sesungguhnya apabila Allah menciptakan seorang hamba untuk surga, Dia akan mempergunakannya untuk melakukan amalan penghuni surga hingga ia meninggal di atas salah satu amalan penghuni surga, lalu dengan amalan itu Allah memasukkannya ke dalam surga. Dan apabila Allah menciptakan seorang hamba untuk neraka, Dia akan mempergunakannya untuk melakukan amalan penghuni neraka hingga ia meninggal di atas salah satu amalan penghuni neraka, lalu memasukkannya ke dalam neraka.” Apa makna perkataan ini? Terima kasih banyak.

الإجابــة:

Jawaban :

الحمد لله، والصلاة والسلام على رسول الله، وعلى آله وصحبه، أما بعد:

Segala puji bagi Allah, shalawat serta salam semoga tercurah kepada Rasulullah, keluarga, dan para shahabatnya. Amma ba’du:

فإن الحديث بهذا اللفظ رواه أبو داود في سننه بإسناد صحيح عن مسلم بن يسار الجهني: أن عمر بن الخطاب سئل عن هذه الآية:

Hadits dengan redaksi tersebut diriwayatkan oleh Abu Dawud dalam Sunan-nya dengan sanad yang shahih dari Muslim bin Yasar Al-Juhani, bahwa ‘Umar bin Al-Khaththab pernah ditanya mengenai ayat berikut:

وَإِذْ أَخَذَ رَبُّكَ مِنْ بَنِي آدَمَ مِنْ ظُهُورِهِمْ ذُرِّيَّتَهُمْ [الأعراف:172]

“Dan ketika Rabb-mu mengambil dari anak-anak Adam, dari sulbi mereka, keturunan mereka.” [Al-A‘raf: 172]

قال: قرأ القعنبي الآية، فقال عمر: سمعت رسول الله صلى الله عليه وسلم، سئل عنها، فقال: رسول الله صلى الله عليه وسلم:

Ia berkata: Al-Qa‘nabi membaca ayat tersebut, lalu ‘Umar berkata: “Aku mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam ditanya mengenai ayat itu, maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

إن الله عز وجل خلق آدم عليه السلام ثم مسح ظهره بيمينه فاستخرج منه ذرية، فقال: خلقت هؤلاء للجنة وبعمل أهل الجنة يعملون، ثم مسح ظهره فاستخرج منه ذرية فقال: خلقت هؤلاء للنار، وبعمل أهل النار يعملون، فقال رجل: يا رسول الله، ففيم العمل؟ فقال رسول الله صلى الله عليه وسلم: إن الله عز وجل إذا خلق العبد للجنة استعمله بعمل أهل الجنة حتى يموت على عمل من أعمال أهل الجنة فيدخله به الجنة، وإذا خلق العبد للنار استعمله بعمل أهل النار حتى يموت على عمل من أعمال أهل النار فيدخله النار

“Sesungguhnya Allah ‘Azza wa Jalla menciptakan Adam ‘alaihissalam, kemudian mengusap punggungnya dengan tangan kanan-Nya lalu mengeluarkan darinya keturunan. Dia berfirman: ‘Aku menciptakan mereka untuk surga dan mereka akan melakukan amalan penghuni surga.’ Kemudian Dia mengusap punggungnya lalu mengeluarkan darinya keturunan dan berfirman: ‘Aku menciptakan mereka untuk neraka dan mereka akan melakukan amalan penghuni neraka.’ Seorang laki-laki berkata: ‘Wahai Rasulullah, lalu untuk apa beramal?’ Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: ‘Sesungguhnya apabila Allah ‘Azza wa Jalla menciptakan seorang hamba untuk surga, Dia akan mempergunakannya untuk melakukan amalan penghuni surga hingga ia meninggal di atas salah satu amalan penghuni surga, lalu dengan amalan itu Allah memasukkannya ke dalam surga. Dan apabila Allah menciptakan seorang hamba untuk neraka, Dia akan mempergunakannya untuk melakukan amalan penghuni neraka hingga ia meninggal di atas salah satu amalan penghuni neraka, lalu memasukkannya ke dalam neraka.'”

وهذا الحديث يتعلق بركن من أركان الإيمان وهو الإيمان بالقدر، فيقرر الحديث أن أعمال العباد تجري على ما سبق به علم الله تعالى الذي كتبه عنده في اللوح المحفوظ، ويوضح هذا المعنى الحديث الذي رواه مسلم في صحيحه عن جابر رضي الله عنه: أن سراقة بن مالك بن جعشم قال: يا رسول الله، بيِّن لنا ديننا كأنا خلقنا الآن فيم العمل؟ أفيما جفت به الأقلام وجرت به المقادير.. أم فيما نستقبل؟ قال: لا، بل فيما جفت به الأقلام وجرت به المقادير، قال: ففيم العمل؟ قال زهير: ثم تكلم أبو الزبير بشيء لم أفهمه، فسألت عنه فقال: اعملوا فكل ميسر.

Hadits ini berkaitan dengan salah satu rukun iman, yaitu iman kepada qadar. Hadits tersebut menetapkan bahwa amal-amal para hamba berjalan sesuai dengan ilmu Allah Ta‘ala yang telah mendahului, yang telah Dia tuliskan di sisi-Nya dalam Al-Lauh Al-Mahfuzh. Makna ini dijelaskan oleh hadits yang diriwayatkan Muslim dalam Shahih-nya dari Jabir radhiyallahu ‘anhu, bahwa Suraqah bin Malik bin Ju‘syum berkata: “Wahai Rasulullah, jelaskan kepada kami agama kami seakan-akan kami baru saja diciptakan. Untuk apakah amal itu? Apakah untuk sesuatu yang pena-pena telah kering dan ketetapan-ketetapan telah berjalan atasnya, ataukah untuk sesuatu yang akan kami hadapi?” Beliau menjawab: “Tidak, bahkan untuk sesuatu yang pena-pena telah kering dan ketetapan-ketetapan telah berjalan atasnya.” Ia berkata: “Lalu untuk apa beramal?” Zuhair berkata: Kemudian Abu Az-Zubair mengucapkan sesuatu yang tidak aku pahami. Maka aku menanyakannya dan ia berkata:

اعملوا فكل ميسر

“Beramallah, karena setiap orang dimudahkan.”

قال شيخ الإسلام ابن تيمية رحمه الله: ومذهب أهل السنة والجماعة في هذا الباب وغيره ما دل عليه الكتاب والسنة، وكان عليه السابقون الأولون من المهاجرين والأنصار والذين اتبعوهم بإحسان وهو: أن الله خالق كل شيء وربه ومليكه، وقد دخل في ذلك جميع الأعيان القائمة بأنفسها وصفاتها القائمة بها من أفعال العباد وغير أفعال العباد، وأنه سبحانه ما شاء كان وما لم يشأ لم يكن …… إلى أن قال: وأنه سبحانه يعلم ما كان وما يكون وما لم يكن لو كان كيف كان يكون، فقد دخل في ذلك أفعال العباد وغيرهم. انتهى

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata: “Mazhab Ahlus Sunnah wal Jama‘ah dalam persoalan ini dan persoalan lainnya adalah apa yang ditunjukkan oleh Al-Qur’an dan Sunnah serta apa yang diyakini oleh generasi terdahulu dari kalangan Muhajirin, Anshar, dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik. Yaitu bahwa Allah adalah Pencipta segala sesuatu, Rabb-nya, dan Pemiliknya. Termasuk di dalamnya seluruh benda yang berdiri dengan sendirinya dan sifat-sifat yang melekat padanya, termasuk perbuatan para hamba maupun selain perbuatan para hamba. Apa yang Dia kehendaki pasti terjadi, dan apa yang tidak Dia kehendaki tidak akan terjadi….” Hingga beliau berkata: “Dan sesungguhnya Dia سبحانه وتعالى mengetahui apa yang telah terjadi, apa yang akan terjadi, dan apa yang tidak terjadi; seandainya terjadi, Dia mengetahui bagaimana terjadinya. Termasuk di dalamnya perbuatan para hamba dan selain mereka.” Selesai kutipan.

ومما يجب أن يعلم فيما يتعلق بالقدر أنه على أربع مراتب: ذكرها ابن القيم وغيره من أهل العلم وهي:

Di antara perkara yang wajib diketahui berkaitan dengan qadar adalah bahwa ia memiliki empat tingkatan. Ibnu Al-Qayyim dan ulama lainnya menyebutkan tingkatan-tingkatan tersebut sebagai berikut:

المرتبة الأولى: علم الرب سبحانه بالأشياء قبل كونها.

Tingkatan pertama: Ilmu Rabb سبحانه وتعالى terhadap segala sesuatu sebelum sesuatu itu terjadi.

المرتبة الثانية: كتابة ذلك عنده في الأزل قبل خلق السماوات والأرض.

Tingkatan kedua: Penulisan semua itu di sisi-Nya sejak azali, sebelum penciptaan langit dan bumi.

المرتبة الثالثة: مشيئته المتناولة لكل موجود.

Tingkatan ketiga: Kehendak-Nya yang mencakup setiap sesuatu yang ada.

المرتبة الرابعة: خلقه لها وإيجاده وتكوينه.

Tingkatan keempat: Penciptaan-Nya terhadap segala sesuatu tersebut, pengadaan-Nya, dan pembentukan-Nya.

هذا ما يجب الإيمان به فيما يتعلق بأمر القدر، أما ما وراء ذلك مما يسميه بعض العلماء “سر القدر” فلا يجوز تكلف البحث عنه، وهو الذي ورد عن علي بن أبي طالب: أن رجلاً سأله فقال: يا أمير المؤمنين أخبرني عن القدر؟ قال: طريق مظلم فلا تسلكه، فأعاد السؤال فقال: بحر عميق لا تلجه، فأعاد السؤال فقال: سر الله خفي عليك فلا تفشه. ذكره في كنز العمال.

Inilah yang wajib diimani berkaitan dengan perkara qadar. Adapun perkara di balik itu, yang oleh sebagian ulama disebut sebagai “rahasia qadar”, maka tidak boleh memaksakan diri untuk menelitinya. Mengenai hal ini diriwayatkan dari ‘Ali bin Abi Thalib bahwa seorang laki-laki bertanya kepadanya: “Wahai Amirul Mukminin, beritahukan kepadaku tentang qadar.” Ia menjawab: “Itu adalah jalan yang gelap, maka janganlah engkau menempuhnya.” Orang itu kembali bertanya, lalu ia menjawab: “Itu adalah lautan yang dalam, maka janganlah engkau memasukinya.” Ia kembali bertanya, lalu ia menjawab: “Itu adalah rahasia Allah yang tersembunyi darimu, maka janganlah engkau menyingkapnya.” Riwayat ini disebutkan dalam Kanz Al-‘Ummal.

وقد قال الشافعي رحمه الله فيما أثر عنه من الشعر:

Asy-Syafi‘i rahimahullah berkata dalam syair yang dinukil darinya:

ما شئت كان وإن لم أشأ ===== وما شئت لو لم تشأ لم يكن
خلقت العباد على ما علمت ==== ففي العلم يجري الفتى والمسن
على ذا مننت وهذا خذلت ===== وهذا أعنت وذا لم تعن
وهذا شقي وهذا سعيد ===== وهذا قبيح وهذا حسن

“Apa yang Engkau kehendaki pasti terjadi meskipun aku tidak menghendakinya,
dan apa yang aku kehendaki, jika Engkau tidak menghendakinya, tidak akan terjadi.
Engkau menciptakan para hamba sesuai dengan apa yang telah Engkau ketahui,
maka dalam ilmu-Mu berjalan orang muda maupun orang tua.
Kepada yang ini Engkau memberi karunia dan yang itu Engkau biarkan,
yang ini Engkau bantu dan yang itu tidak Engkau bantu.
Yang ini celaka dan yang itu bahagia,
yang ini buruk dan yang itu baik.”

ويكفينا هنا قول النبي صلى الله عليه وسلم، فيما تقدم:

Cukuplah bagi kita dalam masalah ini sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam yang telah disebutkan sebelumnya:

اعملوا فكل ميسر لما خلق له

“Beramallah, karena setiap orang dimudahkan untuk apa yang ia diciptakan.”

وانظر الفتاوى التالية أرقامها: الفتوى الأخرى هنا، الفتوى الأخرى هنا، الفتوى الأخرى هنا.

Silakan lihat pula fatwa lainnya di sini :

والله أعلم.

Wallahu a’lam.

Sumber : IslamWeb



Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*


This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.