Bagaimana Seseorang Menjadi Seorang Da‘i?



كيف يكون الإنسان داعية؟

Bagaimana Seseorang Menjadi Seorang Da‘i?

Alih Bahasa : Reza Ervani bin Asmanu

Artikel Bagaimana Seseorang Menjadi Seorang Da‘i? ini masuk dalam Kategori Tanya Jawab Dakwah

السؤال:

Pertanyaan:

كيف أكون داعية؟

Bagaimana saya dapat menjadi seorang da‘i?

الإجابــة:

Jawaban :

الحمد لله، والصلاة والسلام على رسول الله، وعلى آله وصحبه، أما بعد:

Segala puji bagi Allah, shalawat serta salam semoga tercurah kepada Rasulullah, keluarga, dan para shahabatnya. Amma ba‘du:

فنظراً لأهمية الدعوة إلى الله تعالى، حيث هي عمل الأنبياء -عليهم الصلاة والسلام- وأتباعهم، كان لا بد للقائم بها من التحلي بصفات وآداب أساسية ذكرها أهل العلم في مصنفاتهم، وإليك ملخصها فيما يلي:

Mengingat pentingnya dakwah kepada Allah Ta‘ala, karena dakwah merupakan pekerjaan para nabi —semoga shalawat dan salam tercurah kepada mereka— dan para pengikut mereka, maka orang yang melaksanakannya harus menghiasi dirinya dengan sifat-sifat dan adab-adab pokok yang telah disebutkan para ulama dalam karya-karya mereka. Berikut ringkasannya:

1- الإيمان العميق بما يدعو إليه: فإنه بقدر إيمان الداعية بدعوته، وتفهمه لضرورتها وحاجة الناس إليها ينجح في دعوته قال تعالى:

1- Keimanan yang mendalam terhadap apa yang ia dakwahkan. Sejauh mana seorang da‘i beriman kepada dakwahnya, memahami urgensinya, dan memahami kebutuhan manusia terhadapnya, sejauh itu pula keberhasilannya dalam berdakwah. Allah Ta‘ala berfirman:

يَا يَحْيَى خُذِ الْكِتَابَ بِقُوَّةٍ [مريم: 12]

“Wahai Yahya, peganglah Kitab itu dengan sungguh-sungguh.” [Maryam: 12]

وقال:

Dan Allah berfirman:

فَخُذْهَا بِقُوَّةٍ وَأْمُرْ قَوْمَكَ يَأْخُذُوا بِأَحْسَنِهَا [الأعراف: 145]

“Maka peganglah ia dengan sungguh-sungguh dan perintahkanlah kaummu agar mengambil yang terbaik darinya.” [Al-A‘raf: 145]

كما كان تصميم النبي -صلى الله عليه وسلم- على المضي في الدعوة تصميماً قوياً يقطع جميع أنواع التردد والمساومات.

Demikian pula tekad Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk terus melanjutkan dakwah merupakan tekad yang sangat kuat, yang memutus segala bentuk keraguan dan tawar-menawar.

2- الاتصال الوثيق بمن يدعو إليه: فالداعية أحوج الناس إلى الاتصال الوثيق بالله -عزَّ وجلَّ- ليستمد منه العون والتوفيق، ومن مظاهر هذه الصلة الوثيقة بالله:

2- Hubungan yang erat dengan Dzat yang ia dakwahkan manusia kepada-Nya. Seorang da‘i merupakan orang yang paling membutuhkan hubungan erat dengan Allah ‘Azza wa Jalla, agar ia memperoleh pertolongan dan taufiq dari-Nya. Di antara bentuk hubungan erat dengan Allah tersebut adalah:

* إخلاص النية لله -سبحانه- في هذه الدعوة، فلا يرجو من ورائها إلا رضاه سبحانه، ولا يتطلع من ورائها إلى مكاسب شخصية، أو منافع دنيوية، وألا يتخللها شيء من الرياء.

* Mengikhlaskan niat kepada Allah Subhanahu wa Ta‘ala dalam dakwah ini. Ia tidak mengharapkan darinya kecuali keridhaan Allah, tidak mengincar keuntungan pribadi atau manfaat duniawi, dan tidak boleh ada sedikit pun riya’ di dalamnya.

وحديث الثلاثة الذين هم أول من تسعر بهم جهنم معروف ومشهور رواه مسلم وغيره عن أبي هريرة -رضي الله عنه- أن النبي -صلى الله عليه وسلم- قال:

Hadits mengenai tiga orang yang menjadi golongan pertama yang dengannya neraka Jahannam dinyalakan telah dikenal dan masyhur. Muslim dan yang lainnya meriwayatkannya dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

إن أول الناس يقضى يوم القيامة عليه: رجل استشهد، فأتي به فعرفه نعمه فعرفها، قال فما عملت فيها؟ قال: قاتلت فيك حتى استشهدت. قال: كذبت، ولكنك قاتلت ليقال جريء، فقد قيل، ثم أمر به فسحب على وجهه حتى ألقي في النار، ورجل تعلم العلم وعلمه، وقرأ القرآن، فأتي به فعرفه نعمه فعرفها، قال فما عملت فيها؟ قال تعلمت العلم، وعلمته، وقرأت فيك القرآن، قال: كذبت، ولكنك تعلمت العلم ليقال: عالم، وقرأت القرآن ليقال: هو قارئ، فقد قيل، ثم أمر به فسحب على وجهه حتى ألقي في النار، ورجل وسع الله عليه وأعطاه من أصناف المال كله، فأتي به فعرفه نعمه فعرفها، قال: فما عملت فيها؟ قال: ما تركت من سبيل تحب أن ينفق فيها إلا أنفقت فيها لك، قال: كذبت، ولكنك فعلت ليقال: هو جواد، فقد قيل، ثم أمر به فسحب على وجهه، ثم ألقي في النار.

“Sesungguhnya manusia pertama yang diputuskan perkaranya pada Hari Kiamat adalah seorang laki-laki yang mati syahid. Ia didatangkan, kemudian Allah memperlihatkan kepadanya nikmat-nikmat-Nya dan ia pun mengakuinya. Allah bertanya: ‘Apa yang engkau lakukan dengannya?’ Ia menjawab: ‘Aku berperang karena-Mu hingga aku mati syahid.’ Allah berfirman: ‘Engkau berdusta. Akan tetapi engkau berperang agar dikatakan sebagai seorang pemberani, dan hal itu telah dikatakan.’ Kemudian diperintahkan agar ia diseret dengan wajahnya hingga dilemparkan ke dalam neraka. Kemudian seorang laki-laki yang mempelajari ilmu, mengajarkannya, dan membaca Al-Qur’an. Ia didatangkan, lalu Allah memperlihatkan kepadanya nikmat-nikmat-Nya dan ia mengakuinya. Allah bertanya: ‘Apa yang engkau lakukan dengannya?’ Ia menjawab: ‘Aku mempelajari ilmu, mengajarkannya, dan membaca Al-Qur’an karena-Mu.’ Allah berfirman: ‘Engkau berdusta. Akan tetapi engkau mempelajari ilmu agar dikatakan sebagai seorang alim, dan membaca Al-Qur’an agar dikatakan sebagai seorang qari, dan hal itu telah dikatakan.’ Kemudian diperintahkan agar ia diseret dengan wajahnya hingga dilemparkan ke dalam neraka. Kemudian seorang laki-laki yang Allah lapangkan rezekinya dan diberikan kepadanya berbagai macam harta. Ia didatangkan, lalu Allah memperlihatkan kepadanya nikmat-nikmat-Nya dan ia mengakuinya. Allah bertanya: ‘Apa yang engkau lakukan dengannya?’ Ia menjawab: ‘Tidak ada satu jalan pun yang Engkau sukai agar harta dibelanjakan padanya kecuali aku telah membelanjakannya untuk-Mu.’ Allah berfirman: ‘Engkau berdusta. Akan tetapi engkau melakukannya agar dikatakan bahwa engkau seorang dermawan, dan hal itu telah dikatakan.’ Kemudian diperintahkan agar ia diseret dengan wajahnya, lalu dilemparkan ke dalam neraka.” (HR. Muslim).

إلى غير ذلك من الأدلة التي تبين ضرورة الإخلاص وأهميته، ولا يخفى أنه شرط لقبول العمل.

Selain itu terdapat berbagai dalil lain yang menjelaskan keharusan dan pentingnya keikhlasan. Dan sudah diketahui bahwa ikhlas merupakan syarat diterimanya amal.

* محبة الله -عزَّ وجلَّ-، والإكثار من عبادته وذكره، والإكثار من النوافل وفي الحديث:

* Mencintai Allah ‘Azza wa Jalla, memperbanyak ibadah dan dzikir kepada-Nya, serta memperbanyak amalan-amalan nafilah. Dalam hadits disebutkan:

وما تقرب إلي عبدي بشيء أحب إليّ مما افترضت عليه، وما يزال عبدي يتقرب إلى بالنوافل حتى أحبه، فإذا أحببته، كنت سمعه الذي يسمع به، وبصره الذي يبصر به، ويده التي يبطش بها، ورجله التي يمشي بها، وإن سألني لأعطينه، ولئن استعاذ بي لأعيذنه.

“Tidaklah hamba-Ku mendekatkan diri kepada-Ku dengan sesuatu yang lebih Aku cintai daripada apa yang telah Aku wajibkan kepadanya. Dan hamba-Ku senantiasa mendekatkan diri kepada-Ku dengan amalan-amalan sunnah hingga Aku mencintainya. Apabila Aku telah mencintainya, Aku menjadi pendengarannya yang dengannya ia mendengar, penglihatannya yang dengannya ia melihat, tangannya yang dengannya ia memegang, dan kakinya yang dengannya ia berjalan. Jika ia meminta kepada-Ku, sungguh Aku akan memberinya. Dan jika ia memohon perlindungan kepada-Ku, sungguh Aku akan melindunginya.” (HR. Al-Bukhari).

فأي شيء أعظم من محبة الله سبحانه لعبده! وأي توفيق أعظم من هذا التوفيق، وأي تأييد أعظم من هذا التأييد الذي يكون لمن أحب الله، والداعية أحوج ما يكون إلى التوفيق والتسديد وإجابة الدعاء!

Maka adakah sesuatu yang lebih agung daripada kecintaan Allah سبحانه وتعالى kepada hamba-Nya? Adakah taufiq yang lebih besar daripada taufiq ini, dan adakah pertolongan yang lebih besar daripada pertolongan yang diberikan kepada orang yang dicintai Allah? Seorang da‘i sangat membutuhkan taufiq, ketepatan, dan dikabulkannya doa.

3- العلم والبصيرة بما يدعو إليه: قال تعالى مخاطباً نبيه -صلى الله عليه وسلم-:

3- Ilmu dan bashirah mengenai apa yang ia dakwahkan. Allah Ta‘ala berfirman kepada Nabi-Nya shallallahu ‘alaihi wa sallam:

قُلْ هَذِهِ سَبِيلِي أَدْعُو إِلَى اللَّهِ عَلَى بَصِيرَةٍ أَنَا وَمَنِ اتَّبَعَنِي [يوسف: 108]

“Katakanlah: Inilah jalanku. Aku menyeru kepada Allah di atas bashirah, aku dan orang-orang yang mengikutiku.” [Yusuf: 108]

وقد بوب الإمام البخاري في صحيحه بقوله: باب العلم قبل القول والعمل، والداعية الجاهل يضر بالدعوة ويشوهها، ويفقد الناس ثقتهم بصدقها وأهميتها، وكيف يأمر وينهى من لا يعرف الأمر والنهي؟! والكلام حول العلم وأهميته للداعية يطول.

Imam Al-Bukhari membuat sebuah bab dalam Shahih-nya dengan judul: “Bab Ilmu Sebelum Berkata dan Beramal.” Seorang da‘i yang bodoh akan membahayakan dakwah dan merusak citranya, serta membuat manusia kehilangan kepercayaan terhadap kebenaran dan pentingnya dakwah tersebut. Bagaimana mungkin seseorang memerintah dan melarang sementara ia sendiri tidak mengetahui apa yang diperintahkan dan apa yang dilarang? Pembahasan mengenai ilmu dan pentingnya ilmu bagi seorang da‘i sangatlah panjang.

4- العمل بالعلم والاستقامة في السلوك: فلا خير في داعية لا يوافق عمله علمه، ولا يستقيم سلوكه، قال تعالى:

4- Mengamalkan ilmu dan istiqamah dalam perilaku. Tidak ada kebaikan pada seorang da‘i yang amalnya tidak sesuai dengan ilmunya dan perilakunya tidak lurus. Allah Ta‘ala berfirman:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لِمَ تَقُولُونَ مَا لَا تَفْعَلُونَ * كَبُرَ مَقْتًا عِنْدَ اللَّهِ أَنْ تَقُولُوا مَا لَا تَفْعَلُونَ [الصف: 2-3]

“Wahai orang-orang yang beriman, mengapa kalian mengatakan apa yang tidak kalian kerjakan? Sangat besar kemurkaan di sisi Allah bahwa kalian mengatakan apa yang tidak kalian kerjakan.” [Ash-Shaff: 2-3]

والداعية الذي لا يعمل بعلمه يفقد المصداقية عند الناس، ويفضح يوم القيامة. قال صلى الله عليه وسلم:

Seorang da‘i yang tidak mengamalkan ilmunya akan kehilangan kredibilitas di hadapan manusia dan akan dipermalukan pada Hari Kiamat. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

يؤتى بالرجل يوم القيامة، فيلقى في النار، فتندلق أقتاب بطنه، فيدور بها كما يدور الحمار في الرحا، فيجتمع إليه أهل النار فيقولون: يا فلان ما لك؟ ألم تك تأمر بالمعروف وتنهى عن المنكر؟ فيقول: بلى، كنت آمر بالمعروف ولا آتيه، وأنهى عن المنكر وآتيه.

“Seorang laki-laki akan didatangkan pada Hari Kiamat lalu dilemparkan ke dalam neraka. Usus-usus perutnya terburai, lalu ia berputar dengannya sebagaimana keledai berputar mengelilingi batu penggilingan. Para penghuni neraka berkumpul mengelilinginya dan berkata: ‘Wahai fulan, apa yang terjadi denganmu? Bukankah dahulu engkau memerintahkan yang ma‘ruf dan melarang yang mungkar?’ Ia menjawab: ‘Benar. Dahulu aku memerintahkan yang ma‘ruf tetapi aku sendiri tidak melakukannya, dan aku melarang yang mungkar tetapi aku sendiri melakukannya.'” (HR. Al-Bukhari dan Muslim).

5- الوعي الكامل: وهو إدراك ما يحيط بالدعوة، فلا يغني العلم عن الوعي، فلا بد للداعية من وعي شامل بعدة أمور:

5- Kesadaran dan pemahaman yang menyeluruh, yaitu memahami berbagai hal yang mengelilingi dakwah. Ilmu saja tidak dapat menggantikan pemahaman terhadap realitas. Karena itu seorang da‘i harus memiliki pemahaman menyeluruh terhadap beberapa perkara:

– بواقع الدعوة ومتطلباتها في عصره.

– Realitas dakwah dan tuntutannya pada zamannya.

– بواقع المدعوين من حوله.

– Realitas orang-orang yang menjadi objek dakwah di sekitarnya.

– بواقع الداعية نفسه، وما يحيط به من ظروف وأحوال.

– Realitas dirinya sendiri sebagai da‘i serta kondisi dan keadaan yang mengelilinginya.

فإذا لم يع الداعية هذه الأمور تخبط في دعوته، وجرّ إليها النكبات والكوارث من حيث يريد الإصلاح، شعر بذلك أم لم يشعر، فعلى أساس هذا الوعي: توضع الخطط، وتحدد الأولويات، وتعقد الموازنات، وبالوعي تكتمل بصيرة الداعية بدعوته.

Apabila seorang da‘i tidak memahami perkara-perkara tersebut, ia akan berjalan tanpa arah dalam dakwahnya dan dapat mendatangkan berbagai musibah serta bencana kepada dakwah justru ketika ia bermaksud melakukan perbaikan, baik ia menyadarinya maupun tidak. Berdasarkan pemahaman inilah rencana disusun, prioritas ditentukan, dan berbagai pertimbangan dilakukan. Dengan pemahaman tersebut pula bashirah seorang da‘i dalam dakwahnya menjadi sempurna.

6- الحكمة في الأسلوب: فعلى الداعية أن يكون حكيماً في أسلوب دعوته، يختار لمن يدعوهم الأسلوب الحسن المناسب، إذ الحكمة (وضع الشيء في موضعه)، وما أحسن قوله تعالى:

6- Hikmah dalam metode. Seorang da‘i harus bersikap bijaksana dalam metode dakwahnya dan memilih bagi orang-orang yang ia dakwahi cara yang baik dan sesuai. Sebab, hikmah adalah “menempatkan sesuatu pada tempatnya.” Betapa indah firman Allah Ta‘ala:

يُؤْتِي الْحِكْمَةَ مَنْ يَشَاءُ وَمَنْ يُؤْتَ الْحِكْمَةَ فَقَدْ أُوتِيَ خَيْرًا كَثِيرًا [البقرة: 269]

“Dia memberikan hikmah kepada siapa yang Dia kehendaki. Barang siapa diberi hikmah, sungguh ia telah diberi kebaikan yang banyak.” [Al-Baqarah: 269]

كما أمر الله باتباع الحكمة فقال:

Allah juga memerintahkan untuk menggunakan hikmah. Dia berfirman:

ادْعُ إِلَى سَبِيلِ رَبِّكَ بِالْحِكْمَةِ وَالْمَوْعِظَةِ الْحَسَنَةِ وَجَادِلْهُمْ بِالَّتِي هِيَ أَحْسَنُ [النحل: 125]

“Serulah ke jalan Rabb-mu dengan hikmah dan nasihat yang baik, dan debatlah mereka dengan cara yang paling baik.” [An-Nahl: 125]

إذاً الحكمة اختيار الأسلوب المناسب في الوقت المناسب بحسب حال المخاطب.

Dengan demikian, hikmah adalah memilih metode yang sesuai pada waktu yang tepat berdasarkan keadaan orang yang diajak berbicara.

7- التخلق بالخلق الحسن: وهذه أهم صفة توثق صلة الداعية بالمدعوين، وقد مدح الله تعالى نبيه -صلى الله عليه وسلم-، ووصفه بحسن الخلق، فقال:

7- Menghiasi diri dengan akhlak yang baik. Ini merupakan salah satu sifat terpenting yang mempererat hubungan seorang da‘i dengan orang-orang yang didakwahinya. Allah Ta‘ala memuji Nabi-Nya shallallahu ‘alaihi wa sallam dan menyifati beliau dengan akhlak yang baik. Allah berfirman:

وَإِنَّكَ لَعَلَى خُلُقٍ عَظِيمٍ [القلم: 4]

“Dan sesungguhnya engkau benar-benar berada di atas akhlak yang agung.” [Al-Qalam: 4]

وبين سبحانه أهمية الخلق في باب الدعوة بقوله:

Allah سبحانه وتعالى juga menjelaskan pentingnya akhlak dalam dakwah melalui firman-Nya:

فَبِمَا رَحْمَةٍ مِنَ اللَّهِ لِنْتَ لَهُمْ وَلَوْ كُنْتَ فَظّاً غَلِيظَ الْقَلْبِ لَانْفَضُّوا مِنْ حَوْلِكَ فَاعْفُ عَنْهُمْ وَاسْتَغْفِرْ لَهُمْ وَشَاوِرْهُمْ فِي الْأَمْرِ فَإِذَا عَزَمْتَ فَتَوَكَّلْ عَلَى اللَّهِ إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ الْمُتَوَكِّلِينَ [آل عمران:159]

“Maka berkat rahmat dari Allah engkau berlaku lemah lembut terhadap mereka. Sekiranya engkau bersikap keras dan berhati kasar, niscaya mereka akan menjauh dari sekelilingmu. Karena itu maafkanlah mereka, mohonkanlah ampun bagi mereka, dan bermusyawarahlah dengan mereka dalam urusan itu. Kemudian apabila engkau telah membulatkan tekad, bertawakallah kepada Allah. Sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang bertawakal.” [Ali ‘Imran: 159]

ولا شك أن حسن الخلق شأنه عظيم.

Tidak diragukan lagi bahwa akhlak yang baik memiliki kedudukan yang sangat agung.

ومما يدل على ذلك قوله -صلى الله عليه وسلم-:

Di antara dalil yang menunjukkan hal tersebut adalah sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam:

أكمل المؤمنين إيماناً أحسنهم أخلاقاً

“Orang mukmin yang paling sempurna imannya adalah yang paling baik akhlaknya.” (HR. At-Tirmidzi, dan ia berkata: hasan shahih).

وقوله صلى الله عليه وسلم:

Dan sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam:

ما من شيء أثقل في ميزان المؤمن يوم القيامة من حسن الخلق، وإن الله يبغض الفاحش البذيء

“Tidak ada sesuatu yang lebih berat dalam timbangan seorang mukmin pada Hari Kiamat daripada akhlak yang baik. Dan sesungguhnya Allah membenci orang yang berkata keji dan kotor.” (HR. At-Tirmidzi, dan ia berkata: hasan shahih).

ومن هنا؛ فلا بد للداعية أن يجاهد نفسه، للتحلي بالأخلاق الحسنة، واجتناب الأخلاق السيئة.

Karena itu, seorang da‘i harus bersungguh-sungguh melawan dirinya untuk menghiasi diri dengan akhlak yang baik dan menjauhi akhlak yang buruk.

8- إحسان الظن بالمسلمين: فعلى الداعية أن يحسن الظن بالمسلمين، وأن يجري أحكامه فيهم على الظاهر، ويكل أمر السرائر إلى الله تعالى، قال سبحانه:

8- Berbaik sangka kepada kaum muslimin. Seorang da‘i hendaknya berbaik sangka kepada kaum muslimin, menetapkan hukum terhadap mereka berdasarkan apa yang tampak, serta menyerahkan perkara batin mereka kepada Allah Ta‘ala. Allah سبحانه وتعالى berfirman:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اجْتَنِبُوا كَثِيراً مِنَ الظَّنِّ إِنَّ بَعْضَ الظَّنِّ إِثْمٌ وَلا تَجَسَّسُوا وَلا يَغْتَبْ بَعْضُكُمْ بَعْضاً أَيُحِبُّ أَحَدُكُمْ أَنْ يَأْكُلَ لَحْمَ أَخِيهِ مَيْتاً فَكَرِهْتُمُوهُ وَاتَّقُوا اللَّهَ إِنَّ اللَّهَ تَوَّابٌ رَحِيمٌ [الحجرات:12]

“Wahai orang-orang yang beriman, jauhilah banyak dari prasangka. Sesungguhnya sebagian prasangka adalah dosa. Janganlah kalian mencari-cari kesalahan orang lain dan janganlah sebagian kalian menggunjing sebagian yang lain. Apakah salah seorang di antara kalian suka memakan daging saudaranya yang telah mati? Tentu kalian merasa jijik kepadanya. Bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Penerima Tobat lagi Maha Penyayang.” [Al-Hujurat: 12]

وقال رسول الله -صلى الله عليه وسلم-:

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

إياكم والظن، فإن الظن أكذب الحديث

“Jauhilah prasangka, karena prasangka adalah perkataan yang paling dusta.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim).

ولا يستلزم إحسان الظن بالناس الغفلة عن واقعهم، والسكوت عن أخطائهم، ولكنه قد يستلزم حمل أقوالهم وأحوالهم على الأصلح، كما لا يتعارض حسن الظن مع الحذر، فإن المؤمن كيس فطن.

Berbaik sangka kepada manusia tidak berarti lalai terhadap kenyataan keadaan mereka atau diam terhadap kesalahan mereka. Akan tetapi, hal itu dapat menuntut agar perkataan dan keadaan mereka dibawa kepada penafsiran yang paling baik. Berbaik sangka juga tidak bertentangan dengan sikap waspada, karena seorang mukmin adalah orang yang cerdas dan peka.

9- أن يستر على الناس عيوبهم: قال تعالى محذراً من إشاعة الفاحشة في المؤمنين:

9- Menutupi aib manusia. Allah Ta‘ala berfirman memperingatkan dari menyebarkan keburukan di tengah orang-orang beriman:

إِنَّ الَّذِينَ يُحِبُّونَ أَنْ تَشِيعَ الْفَاحِشَةُ فِي الَّذِينَ آمَنُوا لَهُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌ فِي الدُّنْيَا وَالْآخِرَةِ [النور:19]

“Sesungguhnya orang-orang yang suka agar perbuatan keji tersebar di kalangan orang-orang beriman, bagi mereka azab yang pedih di dunia dan akhirat.” [An-Nur: 19]

ويكفي في فضيلة الستر قول النبي -صلى الله عليه وسلم-:

Cukuplah sebagai penjelasan mengenai keutamaan menutupi aib sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam:

لا يستر عبد عبداً في الدنيا، إلا ستره الله يوم القيامة

“Tidaklah seorang hamba menutupi aib seorang hamba lainnya di dunia kecuali Allah akan menutupi aibnya pada Hari Kiamat.” (HR. Muslim).

10- أن يخالط الناس حيث تحسن الخلطة، ويعتزلهم حيث يحسن الاعتزال.

10- Bergaul dengan manusia ketika pergaulan itu membawa kebaikan, dan menjauh dari mereka ketika menjauh merupakan pilihan yang lebih baik.

11- أن ينزل الناس منازلهم، وأن يعرف لأهل الفضل فضلهم. ففي الحديث عن عائشة -رضي الله عنها- قالت:

11- Menempatkan manusia sesuai kedudukan mereka serta mengakui keutamaan orang-orang yang memiliki keutamaan. Dalam sebuah riwayat dari ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha, ia berkata:

أمرنا رسول الله صلى الله عليه وسلم أن ننزل الناس منازلهم

“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkan kami untuk menempatkan manusia sesuai kedudukan mereka.” (Diriwayatkan Muslim secara ta‘liq dalam pendahuluan Shahih-nya, dinilai hasan oleh Al-‘Ajluni, dan dinilai shahih oleh Al-Hakim).

وقال رسول الله -صلى الله عليه وسلم-:

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda:

ليس منا من لم يرحم صغيرنا، ويعرف شرف كبيرنا

“Bukan termasuk golongan kami orang yang tidak menyayangi yang muda di antara kami dan tidak mengetahui kehormatan orang yang lebih tua di antara kami.” (HR. Abu Dawud dan At-Tirmidzi, dan At-Tirmidzi berkata: hasan shahih).

12- وأخيراً: أن يتعاون مع غيره من الدعاة، ويتشاور ويتناصح معهم، لقوله تعالى:

12- Terakhir: bekerja sama dengan para da‘i lainnya, bermusyawarah, dan saling memberikan nasihat dengan mereka, berdasarkan firman Allah Ta‘ala:

وَتَعَاوَنُوا عَلَى الْبِرِّ وَالتَّقْوَى وَلَا تَعَاوَنُوا عَلَى الْإِثْمِ وَالْعُدْوَانِ [المائدة: 2]

“Dan tolong-menolonglah kalian dalam kebajikan dan ketakwaan, dan janganlah kalian tolong-menolong dalam dosa dan permusuhan.” [Al-Ma’idah: 2]

فالعمل الدعوي من أعظم أوجه البر الذي يتطلب التعاون والتناصح والتشاور. قال تعالى:

Aktivitas dakwah merupakan salah satu bentuk kebajikan yang paling agung, yang membutuhkan kerja sama, saling menasihati, dan bermusyawarah. Allah Ta‘ala berfirman:

وَأَمْرُهُمْ شُورَى بَيْنَهُمْ [الشورى: 38]

“Dan urusan mereka diputuskan dengan musyawarah di antara mereka.” [Asy-Syura: 38]

وقال رسول الله -صلى الله عليه وسلم-:

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

الدين النصيحة، قلنا: لمن؟ قال: لله، ولكتابه، ولرسوله، ولأئمة المسلمين، وعامتهم

“Agama adalah nasihat.” Kami bertanya: “Untuk siapa?” Beliau menjawab: “Untuk Allah, Kitab-Nya, Rasul-Nya, para pemimpin kaum muslimin, dan kaum muslimin secara umum.” (HR. Muslim).

هذه مجموعة من الصفات والآداب اللازمة للمسلم، ليكون داعية موفقاً في دعوته، ولمن أراد المزيد الاطلاع على ما كتب في هذا الباب وهو كثير، ومن ذلك: أصول الدعوة لعبد الكريم زيدان، ومدخل إلى علم الدعوة لمحمد أبي الفتح البيانوني.

Inilah sejumlah sifat dan adab yang diperlukan seorang muslim agar menjadi da‘i yang memperoleh taufiq dalam dakwahnya. Bagi siapa yang ingin mempelajari lebih jauh, dapat membaca berbagai karya yang telah ditulis dalam bidang ini —dan jumlahnya banyak— di antaranya Ushul Ad-Da‘wah karya ‘Abdul Karim Zaidan dan Madkhal ila ‘Ilm Ad-Da‘wah karya Muhammad Abu Al-Fath Al-Bayanuni.

والله أعلم.

Wallahu a’lam.

Sumber : IslamWeb



Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*


This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.