أصول الدعوة وثوابتها
Dasar-Dasar dan Prinsip-Prinsip Tetap dalam Dakwah
Alih Bahasa : Reza Ervani bin Asmanu
Artikel Dasar-Dasar dan Prinsip-Prinsip Tetap dalam Dakwah ini masuk dalam Kategori Tanya Jawab Dakwah
السؤال:
Pertanyaan:
ما هي ثوابت الدعوة وشروطها؟
Apa saja prinsip-prinsip tetap dalam dakwah dan apa syarat-syaratnya?
الإجابــة:
Jawaban :
الحمد لله، والصلاة والسلام على رسول الله، وعلى آله وصحبه، أما بعد:
Segala puji bagi Allah, shalawat serta salam semoga tercurah kepada Rasulullah, keluarga, dan para shahabatnya. Amma ba‘du:
فإن أصول الدعوة وثوابتها بينها الرسول صلى الله عليه وسلم أكمل بيان، وأوضحها أيما إيضاح في الحديث الثابت في الصحيحين، وذلك عندما بعث عليه الصلاة والسلام معاذاً رضي الله عنه إلى أهل اليمن يدعوهم إلى الله، فقال له:
Sesungguhnya dasar-dasar dan prinsip-prinsip tetap dalam dakwah telah dijelaskan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dengan penjelasan yang paling sempurna dan sangat jelas dalam hadits yang terdapat dalam Shahih Al-Bukhari dan Shahih Muslim. Hal itu ketika beliau mengutus Mu‘adz radhiyallahu ‘anhu kepada penduduk Yaman untuk menyeru mereka kepada Allah. Beliau bersabda kepadanya:
فليكن أول ما تدعوهم إليه شهادة أن لا إله إلا الله وأن محمداً رسول الله، فإن هم أجابوا لذلك فأعلمهم أن الله افترض عليهم خمس صلوات في كل يوم وليلة، فإن هم أجابوا لذلك فأعلمهم أن الله افترض عليهم صدقة في أموالهم تؤخذ من أغنيائهم وترد على فقرائهم
“Hendaklah perkara pertama yang engkau dakwahkan kepada mereka adalah kesaksian bahwa tidak ada sesembahan yang berhak disembah selain Allah dan bahwa Muhammad adalah Rasulullah. Jika mereka menerima hal itu, maka beritahukan kepada mereka bahwa Allah telah mewajibkan atas mereka lima kali shalat dalam sehari semalam. Jika mereka menerima hal itu, maka beritahukan kepada mereka bahwa Allah telah mewajibkan atas mereka sedekah dari harta mereka, yang diambil dari orang-orang kaya di antara mereka dan diberikan kepada orang-orang fakir di antara mereka.”
فهذا الحديث فيه بيان أصول الدعوة وثوابتها التي لا تتغير، وأن الداعية عليه أن يقدم الأهم فالأهم، فإذا كانت الدعوة موجهة إلى الكفار فليبدأ بالدعوة إلى التوحيد الذي هو الأصل الأهم، ثم باقي أركان الإسلام، ثم باقي الواجبات إلى آخرها.
Hadits ini menjelaskan dasar-dasar dan prinsip-prinsip tetap dalam dakwah yang tidak berubah. Seorang da‘i harus mendahulukan perkara yang paling penting kemudian yang berikutnya. Apabila dakwah ditujukan kepada orang-orang kafir, hendaklah dimulai dengan dakwah kepada tauhid, yang merupakan dasar paling penting, kemudian dilanjutkan dengan rukun-rukun Islam yang lainnya, lalu kewajiban-kewajiban lainnya hingga seterusnya.
أما إذا كانت الدعوة موجهة إلى قوم قد عرفوا الأصل وحققوه فندعوهم إلى تصحيح باقي الأركان، وهكذا تمشياً مع توصيات وتعليمات الرسول صلى الله عليه وسلم التي كان يزود بها من يبعثهم دعاة إلى الله تعالى.
Adapun apabila dakwah ditujukan kepada suatu kaum yang telah mengenal dan merealisasikan dasar tersebut, maka kita menyeru mereka untuk memperbaiki pelaksanaan rukun-rukun yang lainnya. Demikianlah seterusnya, mengikuti arahan dan petunjuk Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam yang beliau berikan kepada orang-orang yang beliau utus sebagai da‘i kepada Allah Ta‘ala.
أما شروط الدعوة فأهمها العلم: بمعنى أن يكون الداعية على علم وبصيرة مما يدعو إليه ويحذر منه، كي لا يأمر بمنكر أو ينهى عن معروف.
Adapun syarat-syarat dakwah, maka yang paling penting adalah ilmu. Maksudnya, seorang da‘i harus memiliki ilmu dan bashirah mengenai apa yang ia dakwahkan dan apa yang ia peringatkan darinya, agar ia tidak memerintahkan kemungkaran atau melarang perkara yang ma‘ruf.
ولا يشترط أن يكون عالماً كبيراً مشهوراً بين الناس، بل اللازم أن يكون عالماً بالشيء الذي يدعو إليه علماً صحيحا؛ لقوله صلى الله عليه وسلم:
Tidak disyaratkan bahwa ia harus menjadi seorang ulama besar yang terkenal di tengah manusia. Yang diperlukan adalah bahwa ia memiliki pengetahuan yang benar mengenai perkara yang ia dakwahkan, berdasarkan sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam:
بلغوا عني ولو آية
“Sampaikanlah dariku walaupun satu ayat.” (HR. Al-Bukhari).
ثم هناك أمور أخرى لا تقل أهمية عن العلم، منها: استعمال الحكمة والموعظة الحسنة ولين الجانب وعدم التعنيف، ومراعاة الوقت والمكان المناسب حال الدعوة.
Kemudian terdapat perkara-perkara lain yang tidak kalah penting dari ilmu, di antaranya menggunakan hikmah dan nasihat yang baik, bersikap lemah lembut, tidak bersikap kasar, serta memperhatikan waktu dan tempat yang sesuai ketika berdakwah.
ومنها: التحلي بالصبر والتحمل لما لا بد للداعي أن يتعرض له من طرف المدعوين من الأذى والنيل من عرضه أثناء أدائه لمهمته الكبيرة قال تعالى مخاطباً نبيه صلى الله عليه وسلم:
Di antaranya pula adalah menghiasi diri dengan kesabaran dan ketabahan menghadapi gangguan serta serangan terhadap kehormatannya yang tidak dapat dihindari dari orang-orang yang didakwahi ketika ia menjalankan tugas besar tersebut. Allah Ta‘ala berfirman kepada Nabi-Nya shallallahu ‘alaihi wa sallam:
وَلَا تُطِعِ الْكَافِرِينَ وَالْمُنَافِقِينَ وَدَعْ أَذَاهُمْ وَتَوَكَّلْ عَلَى اللَّهِ [الأحزاب:48]
“Dan janganlah engkau menaati orang-orang kafir dan orang-orang munafik, abaikanlah gangguan mereka, dan bertawakallah kepada Allah.” [Al-Ahzab: 48]
ومنها: أن يكون سلوك الداعية وعمله وتصرفاته موافقة كلها لما شرع الله تعالى حتى لا يكون هناك تناقض بين ما يدعو الناس إليه وبين ما يطبقه هو في نفسه فيكون كلامه صرخة في واد أو نفخة في رماد، كما قالوا.
Di antaranya pula adalah bahwa perilaku, amal, dan seluruh tindakan seorang da‘i harus sesuai dengan apa yang Allah Ta‘ala syariatkan, sehingga tidak terdapat pertentangan antara apa yang ia dakwahkan kepada manusia dengan apa yang ia terapkan pada dirinya sendiri. Jika tidak, perkataannya akan seperti teriakan di lembah atau tiupan pada abu, sebagaimana ungkapan yang dikenal.
قال تعالى:
Allah Ta‘ala berfirman:
أَتَأْمُرُونَ النَّاسَ بِالْبِرِّ وَتَنْسَوْنَ أَنْفُسَكُمْ [البقرة:44]
“Apakah kalian memerintahkan manusia untuk berbuat kebajikan sementara kalian melupakan diri kalian sendiri?” [Al-Baqarah: 44]
وقال الشاعر:
Seorang penyair berkata:
ابدأ بنفسك فانهها عن غيها فإذا انتهت عنه فأنت حكيم
فهناك يسمع ما تقول ويقتدى بالقول منك وينفع التعليم
“Mulailah dari dirimu sendiri, lalu laranglah ia dari penyimpangannya.
Jika ia telah berhenti darinya, maka engkau adalah orang yang bijaksana.
Pada saat itulah apa yang engkau katakan akan didengar, perkataanmu akan diteladani,
dan pengajaran yang engkau sampaikan akan memberikan manfaat.”
والله تعالى أعلم.
Wallahu a’lam.
Sumber : IslamWeb
Leave a Reply