Hukum Ahlul Kitab



حكم أهل الكتاب

Hukum Ahlul Kitab

Alih Bahasa : Reza Ervani bin Asmanu

Artikel Hukum Ahlul Kitab ini masuk dalam Kategori Tanya Jawab Aqidah

السؤال:

Pertanyaan:

ما حكم أهل الكتاب في الوقت الحاضر في الإسلام، هل هم مؤمنون أم كافرون؟

Bagaimana hukum Ahlul Kitab pada masa sekarang menurut Islam? Apakah mereka termasuk orang-orang beriman atau orang-orang kafir?

الإجابــة:

Jawaban :

الحمد لله، والصلاة والسلام على رسول الله، وعلى آله وصحبه، أما بعد:

Segala puji bagi Allah, shalawat serta salam semoga tercurah kepada Rasulullah, keluarga, dan para shahabatnya. Amma ba‘du:

1- فقد دل القرآن والسنة والإجماع على أن من دان بغير الإسلام فهو كافر، ودينه مردود عليه، وهو في الآخرة من الخاسرين.

1- Al-Qur’an, Sunnah, dan ijma‘ telah menunjukkan bahwa siapa saja yang menganut agama selain Islam adalah kafir, agamanya tertolak, dan di akhirat ia termasuk orang-orang yang merugi.

قال تعالى:

Allah Ta‘ala berfirman:

وَمَنْ يَبْتَغِ غَيْرَ الْإِسْلَامِ دِينًا فَلَنْ يُقْبَلَ مِنْهُ وَهُوَ فِي الْآخِرَةِ مِنَ الْخَاسِرِينَ [آل عمران:85]

“Barang siapa mencari agama selain Islam, maka sekali-kali tidak akan diterima darinya, dan di akhirat ia termasuk orang-orang yang rugi.” [Ali ‘Imran: 85]

وقال تعالى:

Dan Allah Ta‘ala berfirman:

إِنَّ الدِّينَ عِنْدَ اللَّهِ الْإِسْلَامُ [آل عمران:19]

“Sesungguhnya agama di sisi Allah adalah Islam.” [Ali ‘Imran: 19]

2- وجاء النص القاطع بأن أهل الكتاب الذين لم يؤمنوا بمحمد صلى الله عليه وسلم، أو أشركوا مع الله غيره، أو جحدوا بنبوة نبي من الأنبياء أنهم كفرة، ولا يدفع عنهم الكفر إيمانهم أو التزامهم بكتابتهم، فلو آمنوا حقاً بالنبي والكتاب لآمنوا بجميع الأنبياء والرسل.

2- Telah datang nash yang tegas bahwa Ahlul Kitab yang tidak beriman kepada Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam, atau mempersekutukan Allah dengan selain-Nya, atau mengingkari kenabian salah seorang nabi, maka mereka adalah orang-orang kafir. Keimanan mereka atau keterikatan mereka kepada kitab mereka tidak menghilangkan kekafiran tersebut. Seandainya mereka benar-benar beriman kepada nabi dan kitab, niscaya mereka beriman kepada seluruh nabi dan rasul.

قال الله تعالى:

Allah Ta‘ala berfirman:

إِنَّ الَّذِينَ يَكْفُرُونَ بِاللَّهِ وَرُسُلِهِ وَيُرِيدُونَ أَنْ يُفَرِّقُوا بَيْنَ اللَّهِ وَرُسُلِهِ وَيَقُولُونَ نُؤْمِنُ بِبَعْضٍ وَنَكْفُرُ بِبَعْضٍ وَيُرِيدُونَ أَنْ يَتَّخِذُوا بَيْنَ ذَلِكَ سَبِيلًا * أُولَئِكَ هُمُ الْكَافِرُونَ حَقًّا وَأَعْتَدْنَا لِلْكَافِرِينَ عَذَابًا مُهِينًا [النساء: 150، 151]

“Sesungguhnya orang-orang yang kafir kepada Allah dan rasul-rasul-Nya, dan bermaksud membeda-bedakan antara Allah dan rasul-rasul-Nya, dengan mengatakan: ‘Kami beriman kepada sebagian dan kami kafir kepada sebagian yang lain,’ serta bermaksud mengambil jalan di antara itu, mereka itulah orang-orang yang benar-benar kafir. Dan Kami telah menyediakan bagi orang-orang kafir azab yang menghinakan.” [An-Nisa’: 150-151]

وقال تعالى:

Dan Allah Ta‘ala berfirman:

يَاأَهْلَ الْكِتَابِ لِمَ تَكْفُرُونَ بِآيَاتِ اللَّهِ وَأَنْتُمْ تَشْهَدُونَ [آل عمران:70]

“Wahai Ahlul Kitab, mengapa kalian mengingkari ayat-ayat Allah padahal kalian menyaksikannya?” [Ali ‘Imran: 70]

وقال:

Dan Allah berfirman:

قُلْ يَاأَهْلَ الْكِتَابِ لِمَ تَكْفُرُونَ بِآيَاتِ اللَّهِ وَاللَّهُ شَهِيدٌ عَلَى مَا تَعْمَلُونَ [آل عمران:98]

“Katakanlah: Wahai Ahlul Kitab, mengapa kalian mengingkari ayat-ayat Allah, padahal Allah menjadi saksi atas apa yang kalian kerjakan?” [Ali ‘Imran: 98]

وهو خطاب لأهل الكتاب المعاصرين للنبي صلى الله عليه وسلم وهم يؤمنون بعيسى والإنجيل، وبموسى والتوراة.

Ayat tersebut merupakan seruan kepada Ahlul Kitab yang hidup sezaman dengan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, sementara mereka beriman kepada ‘Isa dan Injil serta kepada Musa dan Taurat.

وقال تعالى:

Dan Allah Ta‘ala berfirman:

لَقَدْ كَفَرَ الَّذِينَ قَالُوا إِنَّ اللَّهَ هُوَ الْمَسِيحُ ابْنُ مَرْيَمَ [المائدة: 73]

“Sungguh telah kafir orang-orang yang berkata: ‘Sesungguhnya Allah adalah Al-Masih putra Maryam.'” [Al-Ma’idah: 73]

وقال تعالى:

Dan Allah Ta‘ala berfirman:

اتَّخَذُوا أَحْبَارَهُمْ وَرُهْبَانَهُمْ أَرْبَابًا مِنْ دُونِ اللَّهِ وَالْمَسِيحَ ابْنَ مَرْيَمَ وَمَا أُمِرُوا إِلَّا لِيَعْبُدُوا إِلَهًا وَاحِدًا لَا إِلَهَ إِلَّا هُوَ سُبْحَانَهُ عَمَّا يُشْرِكُونَ [التوبة:31]

“Mereka menjadikan para ulama dan rahib mereka sebagai tuhan selain Allah, dan juga Al-Masih putra Maryam, padahal mereka hanya diperintahkan untuk menyembah Sesembahan Yang Esa. Tidak ada sesembahan yang berhak disembah selain Dia. Mahasuci Dia dari apa yang mereka persekutukan.” [At-Taubah: 31]

وقال تعالى:

Dan Allah Ta‘ala berfirman:

لَمْ يَكُنِ الَّذِينَ كَفَرُوا مِنْ أَهْلِ الْكِتَابِ وَالْمُشْرِكِينَ مُنْفَكِّينَ حَتَّى تَأْتِيَهُمُ الْبَيِّنَةُ [البينة:1]

“Orang-orang kafir dari kalangan Ahlul Kitab dan orang-orang musyrik tidak akan meninggalkan keadaan mereka hingga datang kepada mereka bukti yang nyata.” [Al-Bayyinah: 1]

فكونهم أهل كتاب لا يمنع من كونهم كفاراً، كما نطق بذلك كتاب الله.

Maka status mereka sebagai Ahlul Kitab tidak menghalangi mereka untuk disebut sebagai orang-orang kafir, sebagaimana dinyatakan oleh Kitab Allah.

3- وإباحة طعام أهل الكتاب لا ينافي الحكم بكفرهم، فإن الذي أباح طعامهم هو الذي حكم بكفرهم، ولا راد لقضائه ولا معقب لحكمه جل وعلا.

3- Dihalalkannya makanan Ahlul Kitab tidak bertentangan dengan hukum bahwa mereka kafir. Sebab, Dzat yang menghalalkan makanan mereka adalah Dzat yang menetapkan kekafiran mereka. Tidak ada yang dapat menolak ketetapan-Nya dan tidak ada yang dapat membatalkan hukum-Nya, Mahatinggi dan Mahamulia Dia.

4- وما جاء في القرآن الكريم من وعد النصارى أو اليهود بالجنة إنما هو للموحدين منهم الذين آمنوا بنبيهم، ولم يشركوا بالله أحداً، ولم يدركوا بعثة نبينا محمد صلى الله عليه وسلم. ومن ذلك قوله تعالى:

4- Adapun apa yang terdapat dalam Al-Qur’an berupa janji surga bagi orang-orang Nasrani atau Yahudi, maka hal tersebut berlaku bagi orang-orang yang bertauhid di antara mereka, yang beriman kepada nabi mereka, tidak mempersekutukan Allah dengan siapa pun, dan tidak hidup hingga masa diutusnya Nabi kita Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam. Di antaranya adalah firman Allah Ta‘ala:

إِنَّ الَّذِينَ آمَنُوا وَالَّذِينَ هَادُوا وَالنَّصَارَى وَالصَّابِئِينَ مَنْ آمَنَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ وَعَمِلَ صَالِحًا فَلَهُمْ أَجْرُهُمْ عِنْدَ رَبِّهِمْ وَلَا خَوْفٌ عَلَيْهِمْ وَلَا هُمْ يَحْزَنُونَ [البقرة: 62]

“Sesungguhnya orang-orang yang beriman, orang-orang Yahudi, orang-orang Nasrani, dan orang-orang Shabi’in, siapa saja di antara mereka yang beriman kepada Allah dan Hari Akhir serta beramal shalih, maka bagi mereka pahala di sisi Rabb mereka. Tidak ada rasa takut atas mereka dan mereka tidak pula bersedih.” [Al-Baqarah: 62]

وهذا ما اتفق عليه أهل التفسير والعلم بكتاب الله عز وجل، ويؤيده أن من اعتقد ألوهية عيسى أو بنوته لله، أو اعتقد أن الله فقير أو يمسه اللغوب والتعب، فليس مؤمناً بالله حقيقة، وكذلك من اعتقد أن عيسى عليه السلام هو الذي يحاسب الناس يوم القيامة، ويجعل النار لمن لم يؤمن بألوهيته أو بنوته، من اعتقد ذلك لم يكن مؤمناً باليوم الآخر حقيقة، ولهذا وصف القرآن أهل الكتاب من اليهود والنصارى بأنهم لا يؤمنون بالله واليوم الآخر، فقال تعالى:

Inilah yang disepakati oleh para ahli tafsir dan ulama yang memahami Kitab Allah ‘Azza wa Jalla. Hal tersebut juga dikuatkan oleh kenyataan bahwa orang yang meyakini ketuhanan ‘Isa atau bahwa ia adalah anak Allah, atau meyakini bahwa Allah miskin atau dapat ditimpa keletihan dan kelelahan, maka ia tidak benar-benar beriman kepada Allah. Demikian pula orang yang meyakini bahwa ‘Isa ‘alaihissalam adalah yang akan menghisab manusia pada Hari Kiamat dan memasukkan ke dalam neraka siapa saja yang tidak beriman kepada ketuhanannya atau statusnya sebagai anak Tuhan, maka orang yang meyakini hal tersebut tidak benar-benar beriman kepada Hari Akhir. Karena itu, Al-Qur’an menyifati Ahlul Kitab dari kalangan Yahudi dan Nasrani sebagai orang-orang yang tidak beriman kepada Allah dan Hari Akhir. Allah Ta‘ala berfirman:

قَاتِلُوا الَّذِينَ لَا يُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَلَا بِالْيَوْمِ الْآخِرِ وَلَا يُحَرِّمُونَ مَا حَرَّمَ اللَّهُ وَرَسُولُهُ وَلَا يَدِينُونَ دِينَ الْحَقِّ مِنَ الَّذِينَ أُوتُوا الْكِتَابَ حَتَّى يُعْطُوا الْجِزْيَةَ عَنْ يَدٍ وَهُمْ صَاغِرُونَ [التوبة:29]

“Perangilah orang-orang yang tidak beriman kepada Allah dan Hari Akhir, tidak mengharamkan apa yang telah diharamkan Allah dan Rasul-Nya, dan tidak beragama dengan agama yang benar, yaitu orang-orang yang telah diberi Kitab, hingga mereka membayar jizyah dengan patuh dalam keadaan tunduk.” [At-Taubah: 29]

وأما قوله تعالى:

Adapun firman Allah Ta‘ala:

لَتَجِدَنَّ أَشَدَّ النَّاسِ عَدَاوَةً لِلَّذِينَ آمَنُوا الْيَهُودَ وَالَّذِينَ أَشْرَكُوا وَلَتَجِدَنَّ أَقْرَبَهُمْ مَوَدَّةً لِلَّذِينَ آمَنُوا الَّذِينَ قَالُوا إِنَّا نَصَارَى [المائدة: 82]

“Sungguh akan engkau dapati orang-orang yang paling keras permusuhannya terhadap orang-orang beriman adalah orang-orang Yahudi dan orang-orang musyrik. Dan sungguh akan engkau dapati orang-orang yang paling dekat kasih sayangnya kepada orang-orang beriman adalah orang-orang yang berkata: ‘Sesungguhnya kami adalah Nasrani.'” [Al-Ma’idah: 82]

فتمام الآيات يبين أن المراد بهؤلاء من آمن بمحمد صلى الله عليه وسلم، وتأثر بسماع القرآن ودعوته، ولكثرة المستجيبين من النصارى كان النصارى أقرب مودة للمسلمين، وأسرع قبولاً للإسلام، وهذا يصدقه التاريخ والواقع.

Kelanjutan ayat-ayat tersebut menjelaskan bahwa yang dimaksud adalah orang-orang di antara mereka yang beriman kepada Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam serta tersentuh ketika mendengar Al-Qur’an dan dakwah beliau. Karena banyaknya orang Nasrani yang menerima dakwah, maka orang-orang Nasrani disebut lebih dekat kasih sayangnya kepada kaum muslimin dan lebih cepat menerima Islam. Hal ini dibenarkan oleh sejarah dan kenyataan.

قال تعالى:

Allah Ta‘ala berfirman:

ذَلِكَ بِأَنَّ مِنْهُمْ قِسِّيسِينَ وَرُهْبَانًا وَأَنَّهُمْ لَا يَسْتَكْبِرُونَ * وَإِذَا سَمِعُوا مَا أُنْزِلَ إِلَى الرَّسُولِ تَرَى أَعْيُنَهُمْ تَفِيضُ مِنَ الدَّمْعِ مِمَّا عَرَفُوا مِنَ الْحَقِّ يَقُولُونَ رَبَّنَا آمَنَّا فَاكْتُبْنَا مَعَ الشَّاهِدِينَ * وَمَا لَنَا لَا نُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَمَا جَاءَنَا مِنَ الْحَقِّ وَنَطْمَعُ أَنْ يُدْخِلَنَا رَبُّنَا مَعَ الْقَوْمِ الصَّالِحِينَ * فَأَثَابَهُمُ اللَّهُ بِمَا قَالُوا جَنَّاتٍ تَجْرِي مِنْ تَحْتِهَا الْأَنْهَارُ خَالِدِينَ فِيهَا وَذَلِكَ جَزَاءُ الْمُحْسِنِينَ * وَالَّذِينَ كَفَرُوا وَكَذَّبُوا بِآيَاتِنَا أُولَئِكَ أَصْحَابُ الْجَحِيمِ [المائدة:82- 86]

“Yang demikian itu karena di antara mereka terdapat para pendeta dan rahib, dan karena mereka tidak menyombongkan diri. Apabila mereka mendengar apa yang diturunkan kepada Rasul, engkau melihat mata mereka mencucurkan air mata karena kebenaran yang telah mereka ketahui. Mereka berkata: ‘Wahai Rabb kami, kami telah beriman, maka catatlah kami bersama orang-orang yang menjadi saksi. Mengapa kami tidak beriman kepada Allah dan kepada kebenaran yang telah datang kepada kami, sedangkan kami berharap Rabb kami memasukkan kami bersama kaum yang shalih?’ Maka Allah memberi mereka pahala atas perkataan mereka berupa surga-surga yang mengalir sungai-sungai di bawahnya. Mereka kekal di dalamnya. Itulah balasan bagi orang-orang yang berbuat baik. Adapun orang-orang yang kafir dan mendustakan ayat-ayat Kami, mereka itulah penghuni neraka.” [Al-Ma’idah: 82-86]

5- إذا تقرر هذا؛ فأهل الكتاب الموجودون في عصرنا صنفان:

5- Apabila hal tersebut telah dipahami, maka Ahlul Kitab yang hidup pada zaman kita terbagi menjadi dua kelompok:

– صنف بلغته دعوة الإسلام، وسمع بالنبي صلى الله عليه وسلم ولم يؤمن به، فهؤلاء كفار في الدنيا، مخلدون في النار في الآخرة إن ماتوا على كفرهم، والدليل على ذلك الآيات المذكورة آنفاً، وقول النبي صلى الله عليه وسلم:

– Kelompok pertama adalah mereka yang telah sampai kepadanya dakwah Islam, telah mendengar tentang Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, tetapi tidak beriman kepada beliau. Mereka adalah orang-orang kafir dalam hukum dunia dan kekal di neraka di akhirat apabila meninggal di atas kekufuran mereka. Dalilnya adalah ayat-ayat yang telah disebutkan sebelumnya dan sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam:

والذي نفس محمد بيده؛ لا يسمع بي أحد من هذه الأمة يهودي ولا نصراني ثم يموت ولم يؤمن بالذي أرسلت به إلا كان من أصحاب النار

“Demi Dzat yang jiwa Muhammad berada di tangan-Nya, tidaklah seorang pun dari umat ini mendengar tentangku, baik seorang Yahudi maupun Nasrani, kemudian meninggal dalam keadaan tidak beriman kepada apa yang aku diutus dengannya, kecuali ia termasuk penghuni neraka.” (HR. Muslim).

وقوله صلى الله عليه وسلم في حديث طويل:

Dan sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam sebuah hadits yang panjang:

إذا كان يوم القيامة أذن مؤذن: تتبع كل أمة ما كانت تعبد، فلا يبقى من كان يعبد غير الله من الأصنام والأنصاب إلا يتساقطون في النار، حتى إذا لم يبق إلا من كان يعبد الله من بر أو فاجر أو غبرات أهل الكتاب، فيدعى اليهود فيقال لهم: من تعبدون؟ قالوا: كنا نعبد عزيراً ابن الله، فقال لهم: كذبتم ما اتخذ الله من صاحبة ولا ولد، فما تعبدون؟ فقالوا: عطشنا ربنا فاسقنا، فيشار ألا تردون؟ فيحشرون إلى النار كأنها سراب يحطم بعضها بعضاً، فيتساقطون في النار. ثم يدعى النصارى فيقال لهم: من كنتم تعبدون؟ قالوا: كنا نعبد المسيح ابن الله، فيقال لهم: كذبتم ما اتخذ الله من صاحبة ولا ولد، فيقال لهم: ماذا تبغون؟ فكذلك مثل الأول.

“Apabila Hari Kiamat tiba, seorang penyeru menyerukan: ‘Hendaklah setiap umat mengikuti apa yang dahulu mereka sembah.’ Maka tidak tersisa seorang pun yang dahulu menyembah selain Allah berupa berhala dan sesembahan-sesembahan lainnya kecuali mereka berjatuhan ke dalam neraka. Hingga ketika tidak tersisa selain orang-orang yang dahulu menyembah Allah, baik yang taat maupun yang durhaka, serta sisa-sisa Ahlul Kitab, maka orang-orang Yahudi dipanggil dan ditanya: ‘Apa yang dahulu kalian sembah?’ Mereka menjawab: ‘Kami dahulu menyembah ‘Uzair, anak Allah.’ Maka dikatakan kepada mereka: ‘Kalian berdusta. Allah tidak pernah mengambil istri maupun anak. Lalu apa yang kalian inginkan?’ Mereka menjawab: ‘Kami haus, wahai Rabb kami, maka berilah kami minum.’ Lalu ditunjukkan kepada mereka: ‘Tidakkah kalian akan mendatanginya?’ Kemudian mereka digiring menuju neraka yang tampak seakan-akan fatamorgana, sebagian menghantam sebagian yang lain, lalu mereka berjatuhan ke dalam neraka. Kemudian orang-orang Nasrani dipanggil dan ditanya: ‘Apa yang dahulu kalian sembah?’ Mereka menjawab: ‘Kami dahulu menyembah Al-Masih, anak Allah.’ Maka dikatakan kepada mereka: ‘Kalian berdusta. Allah tidak pernah mengambil istri maupun anak.’ Kemudian dikatakan kepada mereka: ‘Apa yang kalian inginkan?’ Maka mereka pun mengalami seperti kelompok yang pertama.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim).

والصنف الثاني: صنف لم تبلغهم دعوة الإسلام ولم يسمعوا بالنبي صلى الله عليه وسلم، فهؤلاء على فرض وجودهم في هذا الزمان الذي تقدمت فيه وسائل المعرفة والاتصال، اختلف العلماء في حكمهم في الآخرة، وأرجح الأقوال أنهم يمتحنون في عرصات القيامة، فمنهم الموفق الناجي، ومنهم الخاسر الموبق.

Kelompok kedua adalah mereka yang belum sampai kepadanya dakwah Islam dan belum pernah mendengar tentang Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Jika diasumsikan bahwa orang-orang semacam ini masih ada pada zaman sekarang, ketika sarana pengetahuan dan komunikasi telah berkembang, maka para ulama berbeda pendapat mengenai hukum mereka di akhirat. Pendapat yang lebih kuat adalah bahwa mereka akan diuji di tempat berkumpul pada Hari Kiamat. Di antara mereka ada yang diberi taufiq dan selamat, dan ada pula yang merugi serta binasa.

أما حكمهم في الدنيا فهم كفار باتفاق أهل الإسلام، تجب دعوتهم، وإيصال الهدى إليهم، وتجري عليهم أحكام الكفار من أهل الكتاب.

Adapun hukum mereka di dunia, maka mereka adalah orang-orang kafir berdasarkan kesepakatan kaum muslimin. Mereka wajib didakwahi dan petunjuk wajib disampaikan kepada mereka, serta berlaku atas mereka hukum-hukum orang kafir dari kalangan Ahlul Kitab.

6- وجميع ما سبق يعد من الأمور المعلومة بالاضطرار من دين الإسلام، فمن أنكر كفر اليهود والنصارى، أو شك في ذلك فهو كافر.

6- Seluruh perkara yang telah disebutkan termasuk hal-hal yang diketahui secara pasti dalam agama Islam. Maka siapa yang mengingkari kekafiran orang-orang Yahudi dan Nasrani, atau meragukannya, maka ia adalah kafir.

قال القاضي عياض في كتابه الشفا، في سياق ذكره ما هو كفر بالإجماع:

Al-Qadhi ‘Iyadh berkata dalam kitabnya Asy-Syifa’, ketika menyebutkan perkara-perkara yang merupakan kekufuran berdasarkan ijma‘:

ولهذا نكفر من دان بغير ملة المسلمين من الملل أو توقف فيهم أو شك أو صحح مذهبهم، وإن أظهر مع ذلك الإسلام واعتقده واعتقد إبطال كل مذهب سواه، فهو كافر بإظهاره ما أظهر من خلاف ذلك. انتهـى.

“Karena itu, kami mengkafirkan orang yang menganut agama selain agama kaum muslimin, atau menahan diri dalam menetapkan hukum terhadap mereka, atau meragukannya, atau membenarkan mazhab mereka. Sekalipun bersama itu ia menampakkan Islam, meyakininya, dan meyakini kebatilan setiap agama selainnya, ia tetap kafir karena menampakkan sesuatu yang bertentangan dengan hal tersebut.” Selesai kutipan.

وقال في الإقناع وشرحه من كتب الحنابلة في باب المرتد:

Disebutkan pula dalam Al-Iqna‘ dan syarahnya, termasuk kitab-kitab mazhab Hanbali, pada bab mengenai orang murtad:

أو لم يكفر من دان بغير الإسلام كالنصارى واليهود، أو شك في كفرهم أو صحح مذهبهم. فهو كافر لأنه مكذب لقوله تعالى: ومن يبتغ غير الإسلام ديناً فلن يقبل منه وهو في الآخرة من الخاسرين [آل عمران 85]

“Atau seseorang tidak mengkafirkan orang yang menganut agama selain Islam, seperti orang-orang Nasrani dan Yahudi, atau meragukan kekafiran mereka, atau membenarkan mazhab mereka, maka ia adalah kafir karena mendustakan firman Allah Ta‘ala:

وَمَنْ يَبْتَغِ غَيْرَ الْإِسْلَامِ دِيناً فَلَنْ يُقْبَلَ مِنْهُ وَهُوَ فِي الْآخِرَةِ مِنَ الْخَاسِرِينَ [آل عمران:85]

“Barang siapa mencari agama selain Islam, maka sekali-kali tidak akan diterima darinya, dan di akhirat ia termasuk orang-orang yang rugi.” [Ali ‘Imran: 85]

والله أعلم.

Wallahu a’lam.

Sumber : IslamWeb



Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*


This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.