وسائل الدعوة وأساليبها تختلف باختلاف الدعاة والمدعوين
Sarana dan Metode Dakwah Berbeda Sesuai dengan Da‘i dan Orang yang Didakwahi
Alih Bahasa : Reza Ervani bin Asmanu
Artikel Sarana dan Metode Dakwah Berbeda Sesuai dengan Da‘i dan Orang yang Didakwahi ini masuk dalam Kategori Tanya Jawab Dakwah
السؤال:
Pertanyaan:
السلام عليكم ورحمة الله وبركاتهأريد أن أعرف كيف أدعو غير المسلمين إلى الإسلام؟ والسلام عليكم ورحمة الله وبركاته
Assalamu‘alaikum warahmatullahi wabarakatuh. Saya ingin mengetahui bagaimana cara saya mendakwahkan Islam kepada orang-orang non-Muslim? Wassalamu‘alaikum warahmatullahi wabarakatuh.
الإجابــة:
Jawaban :
الحمد لله، والصلاة والسلام على رسول الله، وعلى آله وصحبه، أما بعد:
Segala puji bagi Allah, shalawat serta salam semoga tercurah kepada Rasulullah, keluarga, dan para shahabatnya. Amma ba‘du:
فإن الدعوة إلى الله تعالى فرض على كل مسلم حسب وسعه واستطاعته على الراجح من أقوال أهل العلم، لقول الله تعالى:
Sesungguhnya berdakwah kepada Allah Ta‘ala merupakan kewajiban atas setiap muslim sesuai dengan kemampuan dan kesanggupannya, menurut pendapat yang lebih kuat dari pendapat para ulama, berdasarkan firman Allah Ta‘ala:
قُلْ هَذِهِ سَبِيلِي أَدْعُو إِلَى اللَّهِ عَلَى بَصِيرَةٍ أَنَا وَمَنِ اتَّبَعَنِي [يوسف:108]
“Katakanlah: Inilah jalanku. Aku menyeru kepada Allah di atas bashirah, aku dan orang-orang yang mengikutiku.” [Yusuf: 108]
فكل من اتبع الرسول صلى الله عليه وسلم يدعو إلى الله تعالى.
Maka setiap orang yang mengikuti Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menyeru kepada Allah Ta‘ala.
ولقول النبي صلى الله عليه وسلم:
Dan berdasarkan sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam:
ليبلغ الشاهد منكم الغائب
“Hendaklah orang yang hadir di antara kalian menyampaikan kepada orang yang tidak hadir.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim).
وأما وسائل الدعوة وأساليبها فتختلف باختلاف الدعاة والمدعوين والزمان والمكان والحال، ولكنها ـ على العموم- يجب أن تكون بالحكمة والموعظة الحسنة والجدال بالتي هي أحسن.
Adapun sarana dan metode dakwah, maka keduanya berbeda sesuai dengan perbedaan para da‘i, orang-orang yang didakwahi, zaman, tempat, dan keadaan. Akan tetapi, secara umum dakwah harus dilakukan dengan hikmah, nasihat yang baik, dan perdebatan dengan cara yang paling baik.
والداعية يجب عليه أن يتخذ من الوسائل .. ما يؤدي به رسالته “فما لا يتم الواجب إلا به فهو واجب”، ومن ذلك كيفية مخاطبة المدعوين, وقد أرشدنا الله إلى الأسلوب الأمثل لذلك، فقال تعالى في شأن أهل الكتاب (اليهود والنصارى):
Seorang da‘i wajib menggunakan sarana-sarana yang dengannya ia dapat menyampaikan risalahnya, karena “sesuatu yang tanpanya sebuah kewajiban tidak dapat terlaksana, maka sesuatu itu juga menjadi wajib.” Termasuk di dalamnya adalah bagaimana berbicara kepada orang-orang yang didakwahi. Allah telah membimbing kita kepada metode terbaik dalam hal tersebut. Allah Ta‘ala berfirman mengenai Ahlul Kitab —Yahudi dan Nasrani—:
وَلَا تُجَادِلُوا أَهْلَ الْكِتَابِ إِلَّا بِالَّتِي هِيَ أَحْسَنُ إِلَّا الَّذِينَ ظَلَمُوا مِنْهُمْ وَقُولُوا آمَنَّا بِالَّذِي أُنْزِلَ إِلَيْنَا وَأُنْزِلَ إِلَيْكُمْ وَإِلَهُنَا وَإِلَهُكُمْ وَاحِدٌ وَنَحْنُ لَهُ مُسْلِمُونَ [العنكبوت:46]
“Dan janganlah kalian berdebat dengan Ahlul Kitab kecuali dengan cara yang paling baik, kecuali terhadap orang-orang zalim di antara mereka. Dan katakanlah: Kami beriman kepada apa yang diturunkan kepada kami dan yang diturunkan kepada kalian. Sesembahan kami dan sesembahan kalian adalah satu, dan hanya kepada-Nya kami berserah diri.” [Al-‘Ankabut: 46]
فهذا أسلوب القرآن يذكر نقاط الاتفاق مع المدعوين أولاً، ثم بعد ذلك يناقش معهم نقاط الاختلاف بأسلوب أدبي رفيع، فيقول الله تعالى مخاطبا للنصارى الذين ألَّهوا عيسى ابن مريم وأمه وجعلوه ابنا لله – تعالى عما يقولون علو كبيراـ يقول:
Inilah metode Al-Qur’an: terlebih dahulu menyebutkan titik-titik kesepakatan dengan orang-orang yang didakwahi, kemudian setelah itu membahas titik-titik perbedaan dengan mereka menggunakan gaya yang luhur dan santun. Allah Ta‘ala berfirman kepada orang-orang Nasrani yang mempertuhankan ‘Isa putra Maryam dan ibunya serta menjadikannya sebagai anak Allah —Mahatinggi Allah setinggi-tingginya dari apa yang mereka katakan—:
يَا أَهْلَ الْكِتَابِ لا تَغْلُوا فِي دِينِكُمْ وَلا تَقُولُوا عَلَى اللَّهِ إِلَّا الْحَقَّ إِنَّمَا الْمَسِيحُ عِيسَى ابْنُ مَرْيَمَ رَسُولُ اللَّهِ وَكَلِمَتُهُ أَلْقَاهَا إِلَى مَرْيَمَ وَرُوحٌ مِنْهُ فَآمِنُوا بِاللَّهِ وَرُسُلِهِ وَلا تَقُولُوا ثَلاثَةٌ انْتَهُوا خَيْراً لَكُمْ إِنَّمَا اللَّهُ إِلَهٌ وَاحِدٌ سُبْحَانَهُ أَنْ يَكُونَ لَه ولدٌ لَهُ مَا فِي السَّمَاوَاتِ وَمَا فِي الْأَرْضِ وَكَفَى بِاللَّهِ وَكِيلًا [النساء:171]
“Wahai Ahlul Kitab, janganlah kalian berlebih-lebihan dalam agama kalian dan janganlah mengatakan tentang Allah kecuali yang benar. Sesungguhnya Al-Masih ‘Isa putra Maryam hanyalah utusan Allah dan kalimat-Nya yang Dia sampaikan kepada Maryam serta ruh dari-Nya. Maka berimanlah kepada Allah dan rasul-rasul-Nya, dan janganlah kalian mengatakan: ‘Tiga.’ Berhentilah, itu lebih baik bagi kalian. Sesungguhnya Allah hanyalah Sesembahan Yang Esa. Mahasuci Dia dari mempunyai anak. Milik-Nya apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi. Dan cukuplah Allah sebagai Pemelihara.” [An-Nisa’: 171]
ويقول في شأن معجزة خلق عيسى عليه السلام:
Dan Allah berfirman mengenai mukjizat penciptaan ‘Isa ‘alaihissalam:
إِنَّ مَثَلَ عِيسَى عِنْدَ اللَّهِ كَمَثَلِ آدَمَ خَلَقَهُ مِنْ تُرَابٍ ثُمَّ قَالَ لَهُ كُنْ فَيَكُون [آل عمران:59]
“Sesungguhnya perumpamaan ‘Isa di sisi Allah seperti Adam. Dia menciptakannya dari tanah, kemudian berfirman kepadanya: ‘Jadilah,’ maka jadilah ia.” [Ali ‘Imran: 59]
إلى آخر النماذج الكثيرة التي وردت في كيفية دعوة أهل الكتاب
Dan masih banyak contoh lainnya yang disebutkan mengenai cara mendakwahi Ahlul Kitab.
أما إذا كان المدعوون وثنيين أو لا دين لهم فإن على الداعية أن يبين لهم بالحجج العقلية البسيطة أن الله تعالى هو الخالق لهم ولهذا الكون من حولهم .. وهو خالق الطبيعة وأن الطبيعة مخلوقه ولا تستطيع خلق شيء لهم, وأن آباءهم وأمهاتهم لم يخلقوهم ولم يستطيعو خلق أي شيء, وهذه الأمور من المسلمات البديهة عند أكثر الناس .. فعلى الداعية أن يبني عليها، وأن يوجه المدعو بعد ذلك وينبهه إلى تكريم الله تعالى للإنسان وأنه إنما خلقه لعبادته وحده لاشريك له، وفي مقابل ذلك جعل كثيرا من مخلوقاته في خدمته، فقال تعالى:
Adapun apabila orang-orang yang didakwahi adalah para penyembah berhala atau orang-orang yang tidak memiliki agama, maka seorang da‘i hendaknya menjelaskan kepada mereka dengan argumentasi akal yang sederhana bahwa Allah Ta‘ala adalah Pencipta mereka dan alam semesta yang berada di sekitar mereka. Dia adalah Pencipta alam, sedangkan alam adalah makhluk dan tidak mampu menciptakan sesuatu bagi mereka. Ayah dan ibu mereka juga bukan yang menciptakan mereka dan tidak mampu menciptakan sesuatu pun. Perkara-perkara ini termasuk kenyataan yang secara naluriah diterima oleh kebanyakan manusia. Maka seorang da‘i hendaknya membangun dakwahnya di atas dasar tersebut.
Kemudian ia mengarahkan orang yang didakwahi dan mengingatkannya tentang bagaimana Allah Ta‘ala memuliakan manusia, bahwa Allah menciptakannya hanya untuk beribadah kepada-Nya semata tanpa mempersekutukan-Nya dengan sesuatu apa pun. Sebagai imbalannya, Allah menjadikan banyak dari makhluk-Nya berada dalam pelayanan manusia. Allah Ta‘ala berfirman:
هُوَ الَّذِي خَلَقَ لَكُمْ مَا فِي الْأَرْضِ جَمِيعاً [البقرة:29]
“Dialah yang menciptakan untuk kalian segala sesuatu yang ada di bumi.” [Al-Baqarah: 29]
وقال تعالى:
Dan Allah Ta‘ala berfirman:
وَسَخَّرَ لَكُمْ مَا فِي السَّمَاوَاتِ وَمَا فِي الْأَرْضِ جَمِيعاً مِنْهُ إِنَّ فِي ذَلِكَ لَآياتٍ لِقَوْمٍ يَتَفَكَّرُونَ [الجاثـية:13]
“Dan Dia menundukkan untuk kalian segala sesuatu yang ada di langit dan segala sesuatu yang ada di bumi, semuanya berasal dari-Nya. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berpikir.” [Al-Jatsiyah: 13]
وهكذا يتدرج الداعية بالمدعو شيئاً فشيئاً حتى يقتنع في داخل نفسه بهذا الدين، هذا بالنسبة للداعية الذي يملك قدرا من الاستدلال والنظر.
Demikianlah seorang da‘i membawa orang yang didakwahi secara bertahap, sedikit demi sedikit, hingga ia memperoleh keyakinan dalam dirinya terhadap agama ini. Hal ini berlaku bagi seorang da‘i yang memiliki kemampuan tertentu dalam menyampaikan dalil dan melakukan penalaran.
أما بقية المسلمين وعامتهم فإن دعوتهم تكون حسب الوسع والاستطاعة، وأقل ذلك الدعوة بالأخلاق الحسنة والسلوك المستقيم الذي يسميه بعضهم بالدعوة الصامتة.
Adapun kaum muslimin lainnya secara umum, maka dakwah mereka dilakukan sesuai dengan kemampuan dan kesanggupan masing-masing. Bentuk paling minimal dari hal tersebut adalah berdakwah melalui akhlak yang baik dan perilaku yang lurus, yang oleh sebagian orang disebut sebagai “dakwah diam”.
والله أعلم.
Wallahu a’lam.
Sumber : IslamWeb
Leave a Reply