Apakah Menisbatkan Perbuatan Baik kepada Diri Sendiri Termasuk ‘Ujub?



هل نسبة الإنسان فعل الخير لنفسه يعتبر من العجب

Apakah Menisbatkan Perbuatan Baik kepada Diri Sendiri Termasuk ‘Ujub?

Alih Bahasa : Reza Ervani bin Asmanu

Artikel Apakah Menisbatkan Perbuatan Baik kepada Diri Sendiri Termasuk ‘Ujub? ini masuk dalam Kategori Tanya Jawab Aqidah

السؤال:

Pertanyaan:

لا شك أن الإنسان مخير , فهل يصح أن ينسب العبد فعل الخير لنفسه إذ اختار أن يفعل الخير بدل الشر؟ أم أنه من العجب, إذ إن فعل الخير من فضل الله عليه ورحمته به؟ وإذا كان من العجب, فكيف نوفق بين كون الإنسان مخيرا، وأن كل خيار صائب هو من فضل الله؟.

Tidak diragukan bahwa manusia memiliki pilihan. Lalu apakah benar seorang hamba menisbatkan perbuatan baik kepada dirinya sendiri karena ia memilih melakukan kebaikan daripada keburukan? Ataukah hal itu termasuk ‘ujub, karena melakukan kebaikan merupakan bagian dari karunia Allah kepadanya dan rahmat-Nya atas dirinya? Jika hal itu termasuk ‘ujub, bagaimana kita memadukan antara kenyataan bahwa manusia memiliki pilihan dan bahwa setiap pilihan yang benar merupakan karunia dari Allah?

الإجابــة:

Jawaban :

الحمد لله، والصلاة والسلام على رسول الله، وعلى آله وصحبه، أما بعد:

Segala puji bagi Allah, shalawat serta salam semoga tercurah kepada Rasulullah, keluarga, dan para shahabatnya. Amma ba‘du:

فالإنسان مخير ومسير معا، وقد سبق توضيح ذلك في الفتوى الأخرى هنا، وإحالاتها.

Manusia memiliki pilihan sekaligus berada dalam ketetapan Allah. Hal tersebut telah dijelaskan sebelumnya dalam fatwa lainnya di sini beserta rujukan-rujukannya.

وأفعال العبد تنسب إليه قياما ومباشرة وصدورا منه، وتنسب أيضا إلى الله تعالى قضاء وقدرا وخلقا لأسبابها، قال ابن القيم:

Perbuatan seorang hamba dinisbatkan kepadanya karena perbuatan itu dilakukan olehnya secara langsung dan muncul darinya. Namun perbuatan tersebut juga dinisbatkan kepada Allah Ta‘ala dari sisi ketetapan, qadar, dan penciptaan sebab-sebab yang melahirkannya. Ibnu Al-Qayyim berkata:

والحق في نفس الأمر: نسبة الأفعال إلى الفاعلين قياما ومباشرة وصدورا منهم، وذلك محل الأمر والنهي والثواب والعقاب، والقدح في ذلك مستلزم لإبطال الشرع والجزاء، فإن الشرع إنما أمر بأفعالنا ونهى عنها، والجزاء إنما ترتب عليها، فشهود أفعالنا كذلك من تمام الإيمان بالشرع والجزاء، 

“Hakikat yang sebenarnya adalah bahwa perbuatan dinisbatkan kepada para pelakunya karena dilakukan oleh mereka secara langsung dan muncul dari mereka. Inilah yang menjadi tempat berlakunya perintah, larangan, pahala, dan hukuman. Menolak hal ini mengharuskan batalnya syariat dan pembalasan, sebab syariat memerintahkan dan melarang perbuatan-perbuatan kita, sedangkan pembalasan ditetapkan berdasarkan perbuatan-perbuatan tersebut. Maka memandang perbuatan kita dari sisi ini merupakan bagian dari kesempurnaan iman kepada syariat dan pembalasan.

ونسبتها إلى الرب تعالى قضاء وقدرا وخلقا للأسباب التي منها إرادتنا وقدرتنا، فلم يجبرنا عليها ولم يكرهنا، بل خلقها بما أعطانا من القدرة والإرادة اللتين هما من أسباب الفعل،

Adapun menisbatkannya kepada Rabb Ta‘ala adalah dari sisi ketetapan, qadar, dan penciptaan sebab-sebabnya, yang di antaranya adalah kehendak dan kemampuan kita. Dia tidak memaksa kita melakukan perbuatan tersebut dan tidak pula memaksa kita dengan paksaan, tetapi Dia menciptakannya melalui kemampuan dan kehendak yang Dia berikan kepada kita, yang keduanya termasuk sebab terjadinya perbuatan.

فهذا المشهد يحقق عبودية: إياك نستعين ـ والمشهد الأول يحقق عبودية: إياك نعبد ـ وهما يحققان مشهدي: فمن شاء اتخذ إلى ربه سبيلا * وما تشاءون إلا أن يشاء الله ـ وقوله: لمن شاء منكم أن يستقيم * وما تشاؤون إلا أن يشاء الله رب العالمين. اهـ

Pandangan ini merealisasikan penghambaan dalam firman-Nya: ‘Hanya kepada-Mu kami memohon pertolongan,’ sedangkan pandangan pertama merealisasikan penghambaan dalam firman-Nya: ‘Hanya kepada-Mu kami beribadah.’ Keduanya merealisasikan dua sisi yang terkandung dalam firman-Nya: ‘Maka barang siapa menghendaki, hendaklah ia menempuh jalan menuju Rabb-nya,’ dan ‘Kalian tidak dapat menghendaki kecuali apabila Allah menghendaki,’ serta firman-Nya: ‘Bagi siapa di antara kalian yang berkehendak untuk menempuh jalan yang lurus,’ dan ‘Kalian tidak dapat menghendaki kecuali apabila Allah, Rabb seluruh alam, menghendaki.’” Selesai kutipan.

وقال أيضا:

Ibnu Al-Qayyim juga berkata:

وتلخيص ما ذكره شيخنا ـ رحمه الله ـ أن للفعل وجهين: وجه قائم بالرب تعالى، وهو قضاؤه وقدره له وعلمه به، ووجه قائم بالعبد، وهو ما يصدر عنه من أفعال، 

“Ringkasan dari apa yang disebutkan oleh guru kami —rahimahullah— adalah bahwa suatu perbuatan memiliki dua sisi. Satu sisi berkaitan dengan Rabb Ta‘ala, yaitu ketetapan-Nya, qadar-Nya terhadap perbuatan itu, dan ilmu-Nya tentangnya. Sisi lainnya berkaitan dengan hamba, yaitu perbuatan yang muncul darinya.

والعبد له ملاحظتان: ملاحظة للوجه الأول وملاحظة للوجه الثاني، والكمال أن لا يغيب بأحد الملاحظتين عن الأخرى، بل يشهد قضاء الرب وقدره ومشيئته، ويشهد مع ذلك فعله وجنايته وطاعته ومعصيته، فيشهد الربوبية والعبودية، 

Seorang hamba memiliki dua pandangan: pandangan terhadap sisi pertama dan pandangan terhadap sisi kedua. Kesempurnaan adalah bahwa salah satu pandangan itu tidak membuatnya melupakan pandangan yang lain. Ia menyaksikan ketetapan Rabb, qadar-Nya, dan kehendak-Nya, sementara pada saat yang sama ia juga menyaksikan perbuatannya sendiri, pelanggarannya, ketaatannya, dan kemaksiatannya. Dengan demikian ia menyaksikan rububiyyah sekaligus ‘ubudiyyah.

فيجتمع في قلبه معنى قوله: لمن شاء منكم أن يستقيم ـ مع قوله: وما تشاؤون إلا أن يشاء الله ـ وقوله: كلا إنه تذكرة * فمن شاء ذكره * وما يذكرون إلا أن يشاء الله.

Maka berkumpullah di dalam hatinya makna firman Allah: ‘Bagi siapa di antara kalian yang berkehendak untuk menempuh jalan yang lurus,’ bersama firman-Nya: ‘Kalian tidak dapat menghendaki kecuali apabila Allah menghendaki.’ Demikian pula firman-Nya: ‘Sekali-kali tidak, sesungguhnya ia adalah peringatan. Maka barang siapa menghendaki, ia akan mengambil pelajaran darinya. Dan mereka tidak akan mengambil pelajaran kecuali apabila Allah menghendaki.’“

فالموفق من يتسع صدره لشهود هذين المشهدين، فيشهد فعله للخير والصواب بتوفيق الله سبحانه له: فيرى ذلك كله من عين المنة والفضل مستعملا فيه قد أقيم فيه لا أنه قد قام هو به. اهـ

“Orang yang diberi taufiq adalah orang yang dadanya lapang untuk memandang kedua sisi ini. Ia menyaksikan bahwa dirinya melakukan kebaikan dan memilih yang benar dengan taufiq Allah Subhanahu wa Ta‘ala. Ia memandang seluruh hal tersebut sebagai murni karunia dan keutamaan dari Allah; dirinya hanyalah dipergunakan untuk melakukannya dan ditempatkan di dalamnya, bukan karena ia mampu berdiri sendiri melakukannya.” Selesai kutipan.

وعند ذلك يزول إعجاب المرء بنفسه بإذن ربه، وانظر الفتاوى الأخرى هنا، والفتوى الأخرى هنا، والفتوى الأخرى هنا.

Dengan memahami hal tersebut, rasa ‘ujub seseorang terhadap dirinya akan hilang dengan izin Rabb-nya. Silakan lihat pula fatwa lainnya di sini :

والله أعلم.

Wallahu a’lam.

Sumber : IslamWeb



Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*


This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.