Manusia Memiliki Pilihan dalam Perkara yang Berkonsekuensi Pahala dan Hukuman



الإنسان مخير في الأمور التي يترتب عليها الثواب والعقاب

Manusia Memiliki Pilihan dalam Perkara yang Berkonsekuensi Pahala dan Hukuman

Alih Bahasa : Reza Ervani bin Asmanu

Artikel Manusia Memiliki Pilihan dalam Perkara yang Berkonsekuensi Pahala dan Hukuman ini masuk dalam Kategori Tanya Jawab Aqidah

السؤال:

Pertanyaan:

أخي الكريم السلام عليكم و رحمة الله وبركاته
هل الإنسان مسير أم مخير؟ وإن كان مخيرا ما مدى هذا التخيير، وهل ينطبق هذا التخيير في أمور مثل الزواج وعمل الخير وغير ذلك؟

Saudaraku yang mulia, assalamu‘alaikum warahmatullahi wabarakatuh. Apakah manusia itu berada dalam ketetapan atau memiliki pilihan? Jika ia memiliki pilihan, sejauh mana pilihan tersebut? Apakah pilihan itu juga berlaku dalam perkara-perkara seperti pernikahan, melakukan kebaikan, dan perkara lainnya?

الإجابــة:

Jawaban :

الحمد والصلاة والسلام على رسول الله وعلى آله وصحبه، أما بعد:

Segala puji bagi Allah, shalawat serta salam semoga tercurah kepada Rasulullah, keluarga, dan para shahabatnya. Amma ba‘du:

لا يصح أن يقال إن الإنسان مسير أو مخير لأن الإنسان مخير ومسير، فهو ميسر لما خلق له، أما كونه مخيراً فلأن الله تعالى أعطاه عقلاً وسمعاً وإدراكاً وإرادةً فهو يعرف الخير من الشر والضار من النافع وما يلائمه وما لا يلائمه، فيختار لنفسه المناسب ويدع غيره، وبذلك تعلقت التكاليف الشرعية به من الأمر والنهي، واستحق العبد الثواب على الطاعة، والعقاب على المعصية.

Tidak tepat jika dikatakan bahwa manusia hanya berada dalam ketetapan atau hanya memiliki pilihan, karena manusia memiliki pilihan sekaligus berada dalam ketetapan. Ia dimudahkan menuju apa yang untuknya ia diciptakan. Adapun dari sisi bahwa manusia memiliki pilihan, hal itu karena Allah Ta‘ala telah memberinya akal, pendengaran, kemampuan memahami, dan kehendak. Dengan semua itu ia dapat mengetahui kebaikan dari keburukan, sesuatu yang membahayakan dari yang bermanfaat, serta apa yang sesuai baginya dan apa yang tidak sesuai. Karena itu ia memilih bagi dirinya apa yang sesuai dan meninggalkan yang lainnya.

Atas dasar itulah berbagai kewajiban syariat berupa perintah dan larangan berlaku atas dirinya, dan seorang hamba berhak memperoleh pahala atas ketaatan serta hukuman atas kemaksiatan.

قال تعالى:

Allah Ta‘ala berfirman:

إِنَّا خَلَقْنَا الْإِنْسَانَ مِنْ نُطْفَةٍ أَمْشَاجٍ نَبْتَلِيهِ فَجَعَلْنَاهُ سَمِيعًا بَصِيرًا * إِنَّا هَدَيْنَاهُ السَّبِيلَ إِمَّا شَاكِرًا وَإِمَّا كَفُورًا [الإنسان: 2-3]

“Sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dari setetes mani yang bercampur untuk Kami uji dia, maka Kami menjadikannya dapat mendengar dan melihat. Sesungguhnya Kami telah menunjukkan kepadanya jalan; ada yang bersyukur dan ada pula yang kufur.” [Al-Insan: 2-3]

وقال سبحانه:

Dan Allah Subhanahu wa Ta‘ala berfirman:

وَنَفْسٍ وَمَا سَوَّاهَا * فَأَلْهَمَهَا فُجُورَهَا وَتَقْوَاهَا * قَدْ أَفْلَحَ مَنْ زَكَّاهَا * وَقَدْ خَابَ مَنْ دَسَّاهَا [الشمس:7-10]

“Demi jiwa dan Dzat yang menyempurnakannya, lalu Dia mengilhamkan kepadanya jalan kefasikan dan ketakwaannya. Sungguh beruntung orang yang menyucikannya, dan sungguh rugi orang yang mengotorinya.” [Asy-Syams: 7-10]

وأما كونه مسيراً فلأنه لا يخرج بشيء من أعماله كلها عن قدرة الله تعالى ومشيئته، قال عز من قائل:

Adapun dari sisi bahwa manusia berada dalam ketetapan, hal itu karena tidak satu pun dari seluruh perbuatannya keluar dari kekuasaan dan kehendak Allah Ta‘ala. Allah ‘Azza wa Jalla berfirman:

وَمَا تَشَاؤُونَ إِلَّا أَنْ يَشَاءَ اللَّهُ رَبُّ الْعَالَمِينَ [التكوير: 29]

“Dan kalian tidak dapat menghendaki kecuali apabila Allah, Rabb seluruh alam, menghendaki.” [At-Takwir: 29]

وقد قال صلى الله عليه وسلم:

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda:

إن أول ما خلق الله القلم فقال له: اكتب مقادير الخلق إلى يوم القيامة

“Sesungguhnya yang pertama kali Allah ciptakan adalah pena. Lalu Allah berfirman kepadanya: ‘Tulislah ketetapan seluruh makhluk hingga Hari Kiamat.'” (HR. At-Tirmidzi dan dinilainya shahih, serta Abu Dawud).

والآيات والأحاديث في ذلك كثيرة جداً.

Ayat-ayat dan hadits-hadits mengenai hal ini sangat banyak.

ولذلك فالإنسان ميسر لما خلق له، فقد سئل صلى الله عليه وسلم عن مسألة القدر وما يعمل الناس فيه: أهو أمر قد قضي وفرغ منه أم أمر مستأنف؟ فقال:

Karena itu, manusia dimudahkan menuju apa yang untuknya ia diciptakan. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah ditanya mengenai persoalan qadar dan amal yang dilakukan manusia: apakah perkara tersebut telah ditetapkan dan selesai, ataukah merupakan perkara yang baru akan ditentukan? Beliau menjawab:

بل أمر قد قضي وفرغ منه

“Bahkan, perkara itu telah ditetapkan dan telah selesai.”

فقالوا: ففيم العمل؟ فقال:

Mereka bertanya: “Lalu untuk apa kita beramal?” Beliau bersabda:

اعملوا فكل ميسر لما خلق له

“Beramallah, karena setiap orang dimudahkan menuju apa yang untuknya ia diciptakan.” (HR. Muslim).

والله أعلم.

Wallahu a’lam.

Sumber : IslamWeb



Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*


This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.