Melakukan Ketaatan Merupakan Taufiq dan Karunia dari Allah



القيام بالطاعات من توفيق الله وفضله

Melakukan Ketaatan Merupakan Taufiq dan Karunia dari Allah

Alih Bahasa : Reza Ervani bin Asmanu

Artikel Melakukan Ketaatan Merupakan Taufiq dan Karunia dari Allah ini masuk dalam Kategori Tanya Jawab Aqidah

السؤال:

Pertanyaan:

عندما أفعل أي طاعة أقول أنا بإرادتي فعلتها ولكن الله وفقني وأعانني عليها هل هذا إعجاب بنفسي وهل تحبط أعمالي لأني أشرك نفسي مع الله وإذا كان يحبط العمل أو لسنا مخيرين بالمعصية والطاعة .
أرجوكم أنقذوني لأني محبط وأحس أنه لا يقبل مني طاعة؟

Ketika saya melakukan suatu ketaatan, saya mengatakan: saya melakukannya dengan kehendak saya, tetapi Allah telah memberikan taufiq dan pertolongan kepada saya untuk melakukannya. Apakah hal ini termasuk ‘ujub terhadap diri sendiri? Apakah amal-amal saya menjadi batal karena saya seakan-akan menyertakan diri saya bersama Allah? Jika hal itu membatalkan amal, apakah berarti kita sebenarnya tidak memiliki pilihan dalam melakukan kemaksiatan dan ketaatan?

Mohon bantu saya, karena saya merasa putus asa dan merasa seolah-olah tidak ada ketaatan saya yang diterima.

الإجابــة:

Jawaban :

الحمد لله، والصلاة والسلام على رسول الله، وعلى آله وصحبه، أما بعد:

Segala puji bagi Allah, shalawat serta salam semoga tercurah kepada Rasulullah, keluarga, dan para shahabatnya. Amma ba‘du:

فإن من مراتب الإيمان بالقضاء والقدر الإيمان بالمشيئة: أي أن ما شاء الله كان وما لم يشأ لم يكن، وأن ليس في السموات والأرض من حركة ولا سكون إلا بمشيئته سبحانه، ولا يكون في ملكه إلا ما يريد، والإيمان بالخلق والتكوين، أي أن الله خالق كل شيء، ومن ذلك أفعال العباد، كما دلت على ذلك النصوص.

Di antara tingkatan iman kepada qadha’ dan qadar adalah beriman kepada kehendak Allah, yaitu bahwa apa yang Allah kehendaki pasti terjadi dan apa yang tidak Dia kehendaki tidak akan terjadi. Tidak ada gerakan maupun diam di langit dan di bumi kecuali dengan kehendak-Nya Subhanahu wa Ta‘ala, dan tidak terjadi di dalam kerajaan-Nya kecuali apa yang Dia kehendaki. Termasuk pula beriman kepada penciptaan dan pengadaan, yaitu bahwa Allah adalah Pencipta segala sesuatu, termasuk perbuatan para hamba, sebagaimana ditunjukkan oleh berbagai nash.

فكل ما يفعله الإنسان من أعمال إنما يكون بمشيئة الله تعالى وإرادته، قال الله تعالى:

Maka setiap perbuatan yang dilakukan manusia hanya terjadi dengan kehendak Allah Ta‘ala. Allah Ta‘ala berfirman:

وَمَا تَشَاؤُونَ إِلَّا أَن يَشَاء اللَّهُ إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلِيمًا حَكِيمًا {الإنسان:30}

“Dan kalian tidak dapat menghendaki kecuali apabila Allah menghendaki. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Mahabijaksana.” [Al-Insan: 30]

كما أن جميع أفعال العباد مخلوقة لله تعالى، قال الله تعالى:

Demikian pula seluruh perbuatan para hamba adalah ciptaan Allah Ta‘ala. Allah Ta‘ala berfirman:

وَاللَّهُ خَلَقَكُمْ وَمَا تَعْمَلُونَ {الصافات:96}

“Padahal Allah-lah yang menciptakan kalian dan apa yang kalian kerjakan.” [Ash-Shaffat: 96]

كما أن للعبد اختيار ومشيئة فما يفعله العبد من الطاعات أو المعاصي يفعله العبد بمشيئته، وقد أعطى الله تعالى العبد الإرادة والمقدرة على التمييز بين النافع والضار فهو يختار منهما ما شاء، وسيحاسب على اختياره ذلك، فعليه أن يعمل بطاعة الله تعالى ويترك معصيته، وعليه كذلك أن يأخذ بالأسباب ويسعى في مصالحه الدنيوية والأخروية ويتوكل على الله عز وجل في ذلك كله.

Di sisi lain, seorang hamba juga memiliki pilihan dan kehendak. Apa yang dilakukan seorang hamba berupa ketaatan maupun kemaksiatan dilakukan berdasarkan kehendaknya sendiri. Allah Ta‘ala telah memberikan kepada hamba kehendak dan kemampuan untuk membedakan antara yang bermanfaat dan yang membahayakan, sehingga ia memilih di antara keduanya apa yang ia kehendaki. Ia akan dihisab atas pilihannya tersebut.

Karena itu, ia wajib melakukan ketaatan kepada Allah Ta‘ala dan meninggalkan kemaksiatan kepada-Nya. Ia juga wajib menempuh sebab-sebab dan berusaha meraih kemaslahatan dunia dan akhiratnya, serta bertawakal kepada Allah ‘Azza wa Jalla dalam seluruh perkara tersebut.

فللعبد إرادة ومشيئة ولكنها معلقة بإرادة الله تعالى ومشيئته، قال الله تعالى:

Jadi, seorang hamba memiliki kehendak dan keinginan, tetapi keduanya bergantung kepada kehendak Allah Ta‘ala. Allah Ta‘ala berfirman:

وَقَالُواْ الْحَمْدُ لِلّهِ الَّذِي هَدَانَا لِهَذَا وَمَا كُنَّا لِنَهْتَدِيَ لَوْلا أَنْ هَدَانَا {الأعراف:43}

“Dan mereka berkata: Segala puji bagi Allah yang telah memberi kami petunjuk kepada ini. Kami tidak akan mendapat petunjuk sekiranya Allah tidak memberi kami petunjuk.” [Al-A‘raf: 43]

ويمكنك مراجعة ذلك في الفتوى الأخرى هنا، والفتوى الأخرى هنا، والفتوى الأخرى هنا، والفتوى الأخرى هنا.

Anda dapat merujuk pembahasan mengenai hal tersebut dalam fatwa lainnya di sini :

فإذا علمت هذا فالأولى لك ألا تقول إنك فعلت هذه الطاعة بإرادتك ولكن تواضع لله تعالى وانسب الفضل إليه واعلم بأنك بحاجة لتوفيق الله لك وإعانته لك على الطاعة، واحذر من أن يقودك ذلك للإعجاب بنفسك، والإعجاب هو أن يرى الإنسان عمله فيعجب به ويستعظمه ويستكثره، فينبغي لك أن تحمد الله تعالى الذي وفقك للقيام بهذه الطاعات، وتسأله سبحانه وتعالى أن يزيدك منها ويثبتك عليها، وعليك أن تجاهد نفسك على اجتناب الإعجاب، ولكن لا حرج عليك في أن تسر وتفرح بطاعتك لله تعالى، نقل ابن مفلح في الآداب عن ابن عقيل قال:

Setelah mengetahui hal tersebut, maka yang lebih utama bagi Anda adalah tidak mengatakan bahwa Anda melakukan ketaatan tersebut dengan kehendak Anda, tetapi hendaknya Anda merendahkan diri di hadapan Allah Ta‘ala, menisbatkan karunia kepada-Nya, dan menyadari bahwa Anda membutuhkan taufiq Allah serta pertolongan-Nya agar dapat melakukan ketaatan.

Berhati-hatilah agar hal tersebut tidak membawa Anda kepada ‘ujub terhadap diri sendiri. ‘Ujub adalah ketika seseorang memandang amalnya lalu merasa kagum terhadapnya, menganggapnya besar, dan menganggapnya banyak. Maka hendaknya Anda memuji Allah Ta‘ala yang telah memberikan taufiq kepada Anda untuk melakukan berbagai ketaatan tersebut, serta memohon kepada-Nya Subhanahu wa Ta‘ala agar menambahkannya bagi Anda dan meneguhkan Anda di atasnya. Anda juga hendaknya bersungguh-sungguh melawan diri sendiri agar terhindar dari ‘ujub.

Namun, tidak ada masalah apabila Anda merasa senang dan bergembira karena dapat menaati Allah Ta‘ala. Ibnu Muflih menukil dalam Al-Adab dari Ibnu ‘Aqil, ia berkata:

الإعجاب ليس بالفرح، والفرح لا يقدح في الطاعات لأنها مسرة النفس بطاعة الرب عز وجل، ومثل ذلك مما أسر العقلاء، وأبهج الفضلاء. اهـ .

“‘Ujub bukanlah kegembiraan. Kegembiraan tidak merusak ketaatan, karena ia merupakan rasa senang jiwa karena menaati Rabb ‘Azza wa Jalla. Hal seperti itu termasuk perkara yang menyenangkan orang-orang berakal dan membahagiakan orang-orang yang memiliki keutamaan.” Selesai kutipan.

ولمزيد الفائدة يمكنك مراجعة الفتوى الأخرى هنا، والفتوى الأخرى هنا، والفتوى الأخرى هنا.

Untuk tambahan manfaat, Anda dapat merujuk fatwa lainnya di sini, fatwa lainnya di sini, dan fatwa lainnya di sini.

والله أعلم.

Wallahu a’lam.

Sumber : IslamWeb



Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*


This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.