القضاء والقدر.. مفهومه.. مراتبه.. وثمراته
Qadha dan Qadar: Pengertian, Tingkatan, dan Buah Keimanannya
Alih Bahasa : Reza Ervani bin Asmanu
Artikel Qadha dan Qadar: Pengertian, Tingkatan, dan Buah Keimanannya ini masuk dalam Kategori Tanya Jawab Aqidah
السؤال:
Pertanyaan:
ما هو مفهوم الإيمان بالقضاء والقدر؟
Apa yang dimaksud dengan iman kepada qadha’ dan qadar?
الإجابــة:
Jawaban :
الحمد لله، والصلاة والسلام على رسول الله، وعلى آله وصحبه، أما بعد:
Segala puji bagi Allah, shalawat serta salam semoga tercurah kepada Rasulullah, keluarga, dan para shahabatnya. Amma ba‘du:
فالإيمان بالقدر هو التصديق الجازم بأن كل ما يقع في هذا الوجود يجري وفق علم الله وتقديره في الأزل، فما شاء كان وما لم يشأ لم يكن.
Iman kepada qadar adalah meyakini dengan keyakinan yang teguh bahwa segala sesuatu yang terjadi di alam ini berlangsung sesuai dengan ilmu Allah dan ketetapan-Nya sejak azali. Apa yang Dia kehendaki pasti terjadi dan apa yang tidak Dia kehendaki tidak akan terjadi.
وله مراتب أربع: الأولى العلم: فإنه سبحانه يعلم ما كان وما سيكون وما هو كائن وما لم يكن لو كان كيف يكون، لا يخفى عليه من ذلك صغيرة ولا كبيرة.
Iman kepada qadar memiliki empat tingkatan. Pertama: ilmu. Sesungguhnya Allah Subhanahu wa Ta‘ala mengetahui apa yang telah terjadi, apa yang akan terjadi, apa yang sedang terjadi, dan sesuatu yang tidak terjadi; seandainya terjadi, Dia mengetahui bagaimana hal itu akan terjadi. Tidak ada sedikit pun dari perkara tersebut, baik kecil maupun besar, yang tersembunyi dari-Nya.
والمرتبة الثانية: هي الكتابة فإنه سبحانه قد سجل كل ما كان وما سيكون من أحوال وأفعال وحركات وسكنات في كتاب عنده.
Tingkatan kedua adalah penulisan. Sesungguhnya Allah Subhanahu wa Ta‘ala telah mencatat segala sesuatu yang telah terjadi dan yang akan terjadi berupa keadaan, perbuatan, gerakan, dan diam di dalam sebuah kitab di sisi-Nya.
والمرتبة الثالثة: المشيئة والإرادة، فكل ما يقع في الكون إنما هو بمشيئة الله وإرادته.
Tingkatan ketiga adalah masyi’ah dan kehendak. Segala sesuatu yang terjadi di alam semesta hanya terjadi dengan kehendak Allah.
والمرتبة الرابعة: الخلق والقدرة، فكل ما في الكون هو خلق الله سبحانه وأثر قدرته ليس له شريك في ذلك، وانظر الفتوى الأخرى هنا.
Tingkatan keempat adalah penciptaan dan kekuasaan. Segala sesuatu yang ada di alam semesta merupakan ciptaan Allah Subhanahu wa Ta‘ala dan merupakan pengaruh dari kekuasaan-Nya. Tidak ada sekutu bagi-Nya dalam hal tersebut. Lihat pula fatwa lainnya di sini :
ولا يعني هذا أن يترك المرء العمل ويعتمد على أن كل شيء مقدر عليه، وذلك لأنه لا يعلم ما كتب عليه، وقد أعطاه الله تعالى الإرادة والمقدرة على التمييز بين النافع والضار فهو يختار منهما ما شاء، وسيحاسب على اختياره ذلك، فعليه أن يعمل بطاعة الله تعالى ويترك معصيته، وعليه كذلك أن يأخذ بالأسباب ويسعى في مصالحه الدينوية والأخروية ويتوكل على الله عز وجل في ذلك كله.
Hal ini tidak berarti bahwa seseorang boleh meninggalkan amal lalu hanya bersandar kepada anggapan bahwa segala sesuatu telah ditetapkan baginya. Sebab, ia tidak mengetahui apa yang telah dituliskan untuknya. Allah Ta‘ala telah memberinya kehendak dan kemampuan untuk membedakan antara yang bermanfaat dan yang membahayakan. Ia dapat memilih di antara keduanya apa yang ia kehendaki, dan ia akan dihisab atas pilihannya tersebut.
Karena itu, ia wajib melakukan ketaatan kepada Allah Ta‘ala dan meninggalkan kemaksiatan kepada-Nya. Ia juga wajib menempuh berbagai sebab, berusaha meraih kemaslahatan dunia dan akhiratnya, serta bertawakal kepada Allah ‘Azza wa Jalla dalam seluruh perkara tersebut.
وللإيمان بالقدر ثمرات من أهمها: راحة البال وطمأنينة النفس وثبات القلب وزيادة الإيمان بالله والقناعة بما قسم، وترك الحسد، ومنها الصبر والثبات عند الشدائد، ولا ينبغي الخوض في القدر والتعمق فيه، كما بينا في الفتوى الأخرى هنا، والفتوى الأخرى هنا.
Iman kepada qadar memiliki berbagai buah yang penting, di antaranya ketenangan pikiran, ketenteraman jiwa, keteguhan hati, bertambahnya iman kepada Allah, merasa cukup dengan apa yang telah Dia tetapkan, serta meninggalkan rasa dengki. Di antara buahnya pula adalah kesabaran dan keteguhan ketika menghadapi berbagai kesulitan.
Tidak sepatutnya seseorang terlalu jauh membicarakan persoalan qadar dan mendalaminya secara berlebihan, sebagaimana telah kami jelaskan dalam fatwa lainnya di sini :
والله أعلم.
Wallahu a’lam.
Sumber : IslamWeb
Leave a Reply