Beberapa Hukum Jamak dengan Alif dan Ta’



من أحكام المجموع بالألف والتاء

Beberapa Hukum Jamak dengan Alif dan Ta’

Alih Bahasa : Reza Ervani bin Asmanu

Artikel Beberapa Hukum Jamak dengan Alif dan Ta’ ini masuk dalam Kategori Bahasa Arab

ولنذكر شيئا من أحكام المجموع بالألف والتاء وإن كان المصنف يذكره في قسم الصرف، فنقول:

Mari kita sebutkan sebagian hukum yang berkaitan dengan bentuk jamak menggunakan alif dan ta’, meskipun penulis membahasnya dalam bagian sharaf. Kami mengatakan:

كل ما هو على وزن فعل وهو مؤنث بتاء ظاهرة أو مقدرة كدعد، وجفنة، فإن كان صفة كصعبة أو مضاعفا كمدّة أو معتلّ العين كبيضة وجوزة، وجب إسكان عينه في الجمع بالألف والتاء، وإن خلا من هذه الأشياء وجب فتح عينه، كتمرات ودعدات؛

Setiap kata yang berada pada pola فَعْل dan merupakan bentuk muannats dengan ta’ yang tampak ataupun yang diperkirakan, seperti دَعْد dan جَفْنَة, maka apabila kata tersebut berupa sifat seperti صَعْبَة, atau termasuk bentuk mudha‘‘af seperti مَدَّة, atau memiliki ‘ain al-kalimah berupa huruf ‘illat seperti بَيْضَة dan جَوْزَة, maka ‘ain al-kalimah-nya wajib disukunkan ketika dijamakkan dengan alif dan ta’. Namun apabila tidak termasuk salah satu dari jenis tersebut, maka ‘ain al-kalimah-nya wajib diberi fathah, seperti تَمَرَات dan دَعَدَات.

والتزم في جمع لجبة لجبات بفتح العين لأن في «لجبة» لغتين، فتح العين وإسكانها، والفتح أكثر، فحمل الجمع على المفرد المشهور؛

Dalam bentuk jamak لَجَبَات dari لَجْبَة, mereka menetapkan fathah pada ‘ain al-kalimah. Hal itu karena pada kata لَجْبَة terdapat dua ragam bahasa: dengan fathah pada ‘ain-nya dan dengan mensukunkannya. Penggunaan fathah lebih banyak, sehingga bentuk jamaknya mengikuti bentuk tunggal yang lebih masyhur.

وقيل: لما لزمت التاء في لجبة، لكونها صفة للمؤنث، ولا مذكر لها، يقال شاة لجبة، إذا قل لبنها، صار كالأسماء في لزوم التاء نحو: جفنة وقصعة؛

Ada pula yang mengatakan: karena ta’ selalu melekat pada kata لَجْبَة, sebab ia merupakan sifat khusus bagi muannats dan tidak mempunyai bentuk mudzakkar, sebagaimana dikatakan شَاةٌ لَجْبَةٌ untuk kambing betina yang sedikit susunya, maka kata tersebut menjadi seperti isim-isim yang ta’-nya memang selalu melekat, seperti جَفْنَة dan قَصْعَة.

وأجاز المبرد إسكان عين لجبات قياسا لا سماعا؛

Al-Mubarrad membolehkan mensukunkan ‘ain pada لَجَبَات berdasarkan qiyas, bukan berdasarkan riwayat pemakaian yang didengar dari orang Arab.

وغلب الفتح في جمع «ربعة» لتجويز بعضهم فتح عين الواحد، وقيل إنها كانت في الأصل اسما ثم وصف به فلوحظ فيه الأصل، كما يقال في جمع امرأة كلبة: نسوة كلبات بفتح العين، ولا يقاس عليه غيره نحو: ضخمات، وصعبات، خلافا لقطرب؛

Penggunaan fathah lebih dominan pada bentuk jamak رَبَعَات dari رَبْعَة, karena sebagian ulama membolehkan fathah pada ‘ain bentuk tunggalnya. Ada pula yang mengatakan bahwa kata tersebut pada asalnya merupakan isim, kemudian digunakan sebagai sifat, sehingga asalnya sebagai isim tetap diperhatikan.

Demikian pula dikatakan pada jamak dari ungkapan امْرَأَةٌ كَلْبَةٌ: نِسْوَةٌ كَلَبَاتٌ, dengan fathah pada ‘ain. Akan tetapi, bentuk ini tidak dijadikan qiyas bagi kata-kata lainnya seperti ضَخْمَات dan صَعْبَات, berbeda dengan pendapat Quthrub.

ويجوز إسكان ما استحق الفتح من عين فعلات للضرورة، قال ذو الرمة:

Dibolehkan mensukunkan ‘ain pada bentuk فَعَلَات yang semestinya berharakat fathah karena kebutuhan dalam syair. Dzu Ar-Rummah berkata:

أبت ذكر عوّدن أحشاء قلبه
خفوقا ورفضات الهوى في المفاصل

“Kenangan-kenangan itu kembali membangkitkan dalam relung hatinya
debaran dan sisa-sisa kerinduan yang menyusup ke persendian.”

وجاء في المعتل اللام نحو: أخوات وجديات: تسكين عينهما، وقد يقاس عليهما قصدا للتخفيف، لأجل الثقل الحاصل من اعتلال اللام،

Pada kata yang lam al-kalimah-nya berupa huruf ‘illat, seperti أَخَوَات dan جَدْيَات, terdapat pemakaian dengan mensukunkan ‘ain keduanya. Hal tersebut dapat pula dijadikan qiyas dengan tujuan meringankan pengucapan, karena adanya beban tambahan akibat lam al-kalimah yang berupa huruf ‘illat.

ويجوز أيضا في القياس أن يقال: نسوة كلبات، اعتبارا للصفة العارضة كما تقول: صعبات بفتح العين إذا سمّيت بصعبة؛

Secara qiyas juga dibolehkan mengatakan نِسْوَةٌ كَلْبَاتٌ, dengan mempertimbangkan sifat yang muncul kemudian, sebagaimana Anda mengatakan صَعَبَات dengan fathah pada ‘ain apabila kata صَعْبَة telah dijadikan nama diri.

وأهل، في الأصل: اسم دخله معنى الوصف فقيل في جمعه أهلون وأدخلوا التاء فيه فقالوا أهلة، قال:

Adapun أَهْل, pada asalnya ia merupakan isim yang kemudian mengandung makna sifat. Karena itu bentuk jamaknya dikatakan أَهْلُون. Mereka juga memasukkan ta’ ke dalam bentuk jamaknya sehingga mengatakan أَهِلَّة. Seorang penyair berkata:

وأهلة ودّ قد تبرّيت ودّهم
وأبليتهم في الحمد جهدي ونائلي

“Betapa banyak kelompok yang layak mendapat kasih sayang, namun aku telah melepaskan kasihku kepada mereka,
dan telah kuberikan kepada mereka segenap kemampuanku dalam pujian dan pemberianku.”

أي: وجماعة مستأهلة للودّ، قال:

Maksudnya: sekelompok orang yang layak mendapatkan kasih sayang. Penyair lain berkata:

فهم أهلات حول قيس بن عاصم

“Mereka adalah kelompok-kelompok yang berada di sekitar Qais bin ‘Ashim.”

ويقال: أهلات، أيضا، بسكون الهاء، اعتدادا بالوصف العارض؛

Dikatakan pula أَهْلَات dengan mensukunkan huruf ha’, karena mempertimbangkan makna sifat yang muncul kemudian.

وتفتح هذيل العين المعتلة كجوزات وبيضات، وقال:

Kabilah Hudzail memberi fathah pada ‘ain yang berupa huruf ‘illat, seperti pada جَوَزَات dan بَيَضَات. Seorang penyair berkata:

أخو بيضات رائح متأوب
رفيق بمسح المنكبين سبوح

“Pemilik telur-telur itu pergi dan kembali,
lembut ketika mengusap kedua bahu, dan pandai berenang.”

وقرئ في الشواذ: «ثلاث عورات»؛

Dalam salah satu qira’ah syadzdzah juga dibaca: ثَلَاثُ عَوَرَاتٍ.

وإنما سكنت عين الصفة وفتحت عين الاسم فرقا، وكانت الصفة بالسكون أليق، لثقلها باقتضائها الموصوف ومشابهتها للفعل، ولذلك كانت إحدى علل منع الصرف؛

Alasan ‘ain pada sifat disukunkan sedangkan ‘ain pada isim diberi fathah adalah untuk membedakan keduanya. Bentuk sifat lebih layak menggunakan sukun karena sifat dianggap lebih berat, sebab ia menuntut adanya kata yang disifati dan memiliki kemiripan dengan fi‘il. Karena itu, sifat juga termasuk salah satu sebab terjadinya man‘ ash-sharf.

وسكن المضاعف والمعتل العين استثقالا، أي فرارا من الثقل العارض بتحريك أوّل المثلين، وتحريك الواو والياء؛

Adapun bentuk mudha‘‘af dan kata yang ‘ain al-kalimah-nya berupa huruf ‘illat disukunkan karena dianggap berat apabila diharakati. Maksudnya, hal itu dilakukan untuk menghindari beban pengucapan yang muncul apabila huruf pertama dari dua huruf yang sama digerakkan, atau apabila wawu dan ya’ diberi harakat.

فإن قيل: فلتقلبا ألفا، لتحركهما وانفتاح ما قبلهما؛

Jika ditanyakan: “Mengapa keduanya tidak diubah saja menjadi alif, karena keduanya berharakat dan huruf sebelumnya berharakat fathah?”

قلت: إن الحركة عارضة في الجمع، ولذلك لم تقبلهما هذيل مع تحريكهما، كما لم تقلب واو خطوات المضموم ما قبلها ياء لعروض الضمة؛

Jawabannya: harakat tersebut hanyalah harakat yang muncul secara sementara dalam bentuk jamak. Karena itu, kabilah Hudzail pun tidak mengubah kedua huruf ‘illat tersebut menjadi alif meskipun mereka memberi harakat kepadanya. Hal ini sebagaimana wawu pada kata خُطُوَات tidak diubah menjadi ya’ walaupun huruf sebelumnya berharakat dhammah, karena dhammah tersebut juga bersifat sementara.

Bersambung ke bagian berikutnya in sya Allah



Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*


This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.