Menolak Bisikan Hati dalam Masalah Aqidah Merupakan Tanda Keimanan



دفع حديث النفس في العقيدة دليل الإيمان

Menolak Bisikan Hati dalam Masalah Aqidah Merupakan Tanda Keimanan

Alih Bahasa : Reza Ervani bin Asmanu

Artikel Menolak Bisikan Hati dalam Masalah Aqidah Merupakan Tanda Keimanan ini masuk dalam Kategori Tanya Jawab Aqidah

السؤال:

Pertanyaan:

حديثُ النفس لا أستطيع التخلّصَ منه، وقد تعبتُ منه؛ لأنه قد يكون فيه أشياء تتعلّق بالإيمان.
ماذا أفعل؟ لأني كلما أتذكّره أخاف أن يكون فيه شرك، وأستعيذ بالله من الشيطان الرجيم.

Saya tidak mampu melepaskan diri dari bisikan-bisikan dalam hati, dan saya telah merasa lelah karenanya, sebab terkadang di dalamnya terdapat hal-hal yang berkaitan dengan keimanan.

Apa yang harus saya lakukan? Karena setiap kali mengingatnya, saya takut jangan-jangan di dalamnya terdapat syirik, lalu saya memohon perlindungan kepada Allah dari setan yang terkutuk.

الإجابــة:

Jawaban :

الحمد لله، والصلاة والسلام على رسول الله، وعلى آله وصحبه، أما بعد:

Segala puji bagi Allah, shalawat serta salam semoga tercurah kepada Rasulullah, keluarga, dan para shahabatnya. Amma ba‘du:

فإن أحاديث النفس، والهواجس التي تجول في الخاطر، من الأمور التي لا دخل للإنسان فيها، ولا طاقة له بها، ولكن عليه أن لا يسترسل فيها، وأن لا يعمل، أو يتحدث بمقتضى ما كان من ذلك غير مأذون فيه شرعاً، ومن فضل الله -تعالى ورحمته- بنا أن تجاوز للإنسان عما حدثته به نفسه ما لم يعمل به، أو يتكلم، ففي صحيح مسلم عن أبي هريرة -رضي الله عنه- أن رسول الله -صلى الله عليه وسلم- قال:

Sesungguhnya bisikan dalam hati dan lintasan-lintasan pikiran yang muncul dalam benak merupakan perkara yang berada di luar kendali manusia dan ia tidak memiliki kemampuan untuk mencegah kemunculannya. Akan tetapi, ia tidak boleh terus mengikuti dan larut di dalamnya, serta tidak boleh melakukan atau mengucapkan sesuatu berdasarkan bisikan tersebut apabila hal itu tidak dibenarkan oleh syariat.

Di antara karunia dan rahmat Allah Ta‘ala kepada kita adalah bahwa Dia memaafkan manusia atas apa yang dibisikkan oleh dirinya selama ia tidak mengamalkannya atau mengucapkannya. Dalam Shahih Muslim, dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

إن الله تجاوز لأمتي ما حدثت به أنفسها ما لم يتكلموا، أو يعملوا به.

“Sesungguhnya Allah memaafkan umatku atas apa yang dibisikkan oleh diri mereka selama mereka tidak mengucapkannya atau mengamalkannya.” (HR. Muslim).

ومعناه في البخاري، وغيره.

Hadits dengan makna yang sama juga terdapat dalam riwayat Al-Bukhari dan yang lainnya.

أما ما يتعلق بالأمور العقدية مما يخطر على بال الإنسان، وتحدثه به نفسه، وتستعظمه خوفاً من النطق به فضلاً عن اعتقاده، فإنه دليل إيمانه؛ فعن أبي هريرة -رضي الله عنه- قال: جاء أناس من أصحاب النبي -صلى الله عليه وسلم-، فسألوه: إنا نجد في أنفسنا ما يتعاظم أحدنا أن يتكلم به، قال: “وقد وجدتموه؟” قالوا: نعم، قال:

Adapun lintasan pikiran yang berkaitan dengan perkara-perkara aqidah, yang muncul dalam benak seseorang dan dibisikkan oleh dirinya, lalu ia merasa sangat berat terhadapnya sampai takut untuk mengucapkannya, apalagi sampai meyakininya, maka keadaan seperti itu merupakan tanda keimanannya.

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata: Sejumlah shahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam datang lalu bertanya kepada beliau: “Sesungguhnya kami mendapati dalam diri kami sesuatu yang terasa sangat berat bagi salah seorang di antara kami untuk mengucapkannya.” Beliau bertanya: “Apakah kalian benar-benar mendapatinya?” Mereka menjawab: “Ya.” Beliau bersabda:

ذاك صريح الإيمان.

“Itulah tanda nyata dari keimanan.” (HR. Muslim).

لذا؛ فإنا ننصح السائل بأن يكثر من ذكر الله -تعالى-، وأن يشغل نفسه بالتفكر فيما يفيده في دنياه، وأخراه، ولا يسترسل في أحاديث النفس، وخواطرها، وإن وجد شيئاً منها يتعلق بعقيدته، فليله عنه، وليقل: آمنت بالله.

Karena itu, kami menasihati penanya agar memperbanyak dzikir kepada Allah Ta‘ala, menyibukkan dirinya dengan memikirkan perkara-perkara yang bermanfaat baginya di dunia dan akhirat, serta tidak terus mengikuti bisikan dan lintasan-lintasan pikiran tersebut.

Apabila ia mendapati sesuatu dari bisikan itu yang berkaitan dengan aqidahnya, hendaknya ia berpaling darinya dan mengatakan: “Aku beriman kepada Allah.”

قال رسول الله -صلى الله عليه وسلم-:

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

لا يزال الناس يتساءلون حتى يقال: هذا خلق الله فمن خلق الله؟ فمن وجد شيئاً من ذلك، فليقل آمنت بالله.

“Manusia akan terus bertanya-tanya hingga dikatakan: ‘Allah menciptakan ini, lalu siapa yang menciptakan Allah?’ Barang siapa mendapati sesuatu seperti itu, hendaklah ia mengatakan: ‘Aku beriman kepada Allah.'” (HR. Muslim).

والله أعلم.

Wallahu a’lam.

Sumber : IslamWeb



Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*


This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.