Waswas Setan Merupakan Tanda Keputusasaannya dalam Menyesatkan Seorang Hamba



وسوسة الشيطان دليل على يأسه من إضلال العبد

Waswas Setan Merupakan Tanda Keputusasaannya dalam Menyesatkan Seorang Hamba

Alih Bahasa : Reza Ervani bin Asmanu

Artikel Waswas Setan Merupakan Tanda Keputusasaannya dalam Menyesatkan Seorang Hamba ini masuk dalam Kategori Tanya Jawab Aqidah

السؤال:

Pertanyaan:

دخل الشك في قلبي لدرجةٍ فظيعة، فأنا أتساءل وأقول: إن لكل شيء سببًا، وإذا كان الله خالقي، وأنني خُلِقت لأنه هو خلقني، فكيف وُجد الله؟ رغم أنني أعرف أن الله يهدي من يشاء.

Keraguan telah masuk ke dalam hati saya hingga tingkat yang sangat mengerikan. Saya bertanya-tanya dan berkata: Setiap sesuatu memiliki sebab. Jika Allah adalah Pencipta saya dan saya ada karena Dia menciptakan saya, lalu bagaimana Allah ada? Padahal saya mengetahui bahwa Allah memberi petunjuk kepada siapa yang Dia kehendaki.

فهل شكي هذا عبارة عن نخزات الشيطان التي تكلّم عنها الرسول صلى الله عليه وسلم، أم ماذا؟

Apakah keraguan saya ini merupakan gangguan setan yang pernah dibicarakan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, ataukah bagaimana?

لست أعرف لماذا وصلت إلى هذه الحالة. إنني، وأنا أكتب هذه الرسالة، أخاف غضبه عليّ؛ نعم، أخاف أن يغضب.

Saya tidak mengetahui mengapa saya sampai pada keadaan seperti ini. Bahkan ketika menulis pesan ini, saya takut Allah murka kepada saya. Ya, saya takut Dia murka.

إنني مؤمنة، وإنني عندما أحتاج إليه أسرع باللجوء إليه، ولكن مشكلتي هذا الشك. فهل من كلمة لعلّها تُرجِعُ جنوني؟

Sesungguhnya saya adalah seorang yang beriman. Ketika membutuhkan-Nya, saya segera berlindung dan kembali kepada-Nya. Akan tetapi, masalah saya adalah keraguan ini. Adakah nasihat yang mungkin dapat mengembalikan kewarasan saya?

الإجابــة:

Jawaban :

الحمد لله، والصلاة والسلام على رسول الله، وعلى آله وصحبه، أما بعد:

Segala puji bagi Allah, shalawat serta salam semoga tercurah kepada Rasulullah, keluarga, dan para shahabatnya. Amma ba‘du:

فإن بعض أصحاب النبي صلى الله عليه وسلم قد قالوا له: إنا نجد في أنفسنا ما يتعاظم أحدنا أن يتكلم به. قال: وقد وجدتموه؟ قالوا: نعم، قال:

Sesungguhnya sebagian shahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah berkata kepada beliau: “Kami mendapati dalam diri kami sesuatu yang terasa sangat berat bagi salah seorang di antara kami untuk mengucapkannya.” Beliau bertanya: “Apakah kalian benar-benar mendapatinya?” Mereka menjawab: “Ya.” Beliau bersabda:

ذلك صريح الإيمان

“Itulah tanda nyata dari keimanan.” (HR. Muslim).

وفي بعض الروايات قالوا:

Dalam sebagian riwayat mereka berkata:

لأن يكون أحدنا حممة أحب إليه من أن يتكلم بها

“Sungguh, salah seorang di antara kami lebih memilih menjadi arang yang hangus daripada mengucapkan hal tersebut.”

وفي بعض روايات الحديث قال النبي صلى الله عليه وسلم:

Dan dalam sebagian riwayat hadits, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

الحمد لله الذي رد كيده إلى الوسوسة

“Segala puji bagi Allah yang telah mengembalikan tipu dayanya hanya menjadi waswas.”

ويتضح من خلال الحديث: ثناء النبي صلى الله عليه وسلم على من وقع في مثل هذه الوسوسة بشرطٍ وهو عدم انسياقه وراءها، وتصديقه لما أخبر الله به ورسوله، وشدة خوفه من الله عز وجل حتى أنه يفضل أن يحرق حتى يصير حممة، أي فحماً مسوداً، يفضل ذلك على النطق بمثل تلك الكلمات، وإنما أثنى عليه النبي صلى الله عليه وسلم؛ لأن ذلك دليل على أن الشيطان قد أيس أن يضله، ويزيغه، فرجع إلى الوسوسة، وهو مع ذلك لم يستجب له، بل حاله كما رأيت من قبل.

Dari hadits tersebut dapat dipahami bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam memuji orang yang mengalami waswas seperti ini dengan satu syarat, yaitu ia tidak mengikuti waswas tersebut, tetap membenarkan apa yang diberitakan oleh Allah dan Rasul-Nya, serta memiliki rasa takut yang sangat besar kepada Allah ‘Azza wa Jalla, sampai-sampai ia lebih memilih dibakar hingga menjadi humamah, yakni arang yang menghitam, daripada mengucapkan perkataan-perkataan semacam itu.

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam memujinya karena keadaan tersebut menunjukkan bahwa setan telah berputus asa untuk menyesatkan dan menyimpangkannya, sehingga setan beralih kepada waswas. Meskipun demikian, orang tersebut tidak mengikuti bisikan setan, bahkan keadaannya sebagaimana yang telah dijelaskan sebelumnya.

فهذا هو الواجب في مثل هذا المقام أن يقول الإنسان: آمنت بالله وبرسوله، ويطرد عن نفسه مثل تلك الخواطر.

Inilah yang wajib dilakukan dalam keadaan seperti ini, yaitu seseorang mengatakan: “Aku beriman kepada Allah dan Rasul-Nya,” kemudian mengusir berbagai pikiran semacam itu dari dirinya.

هذا؛ وننبه الأخت السائلة إلى أمر يعينها على دفع وساوس الشيطان، ألا وهو التفكر في مخلوقات الله الدالة على وجوده سبحانه، وقدرته وحكمته وعلمه.

Kami juga ingin mengingatkan saudari penanya kepada suatu perkara yang dapat membantunya mengusir waswas setan, yaitu merenungkan makhluk-makhluk Allah yang menunjukkan keberadaan-Nya Subhanahu wa Ta‘ala, kekuasaan-Nya, kebijaksanaan-Nya, dan ilmu-Nya.

فالشيطان يحاول أن يجر الإنسان ليتفكر في شيء لا يستطيع العقل البشري القاصر إدراكه، وتصوره، وهو التفكر في ذات الله سبحانه، ولكن جرَّه أنت نفسك إلى التفكر فيما يقدر العقل على التفكر، وهو هذا الكون الفسيح بما فيه من مخلوقات.

Setan berusaha menyeret manusia untuk memikirkan sesuatu yang tidak mampu dijangkau dan dibayangkan oleh akal manusia yang terbatas, yaitu memikirkan hakikat Dzat Allah Subhanahu wa Ta‘ala. Akan tetapi, arahkanlah dirimu untuk memikirkan sesuatu yang memang mampu direnungkan oleh akal, yaitu alam semesta yang luas ini beserta seluruh makhluk yang ada di dalamnya.

فكل واحد منها دليل على وجود الباري سبحانه وعلى وحدانيته.

Setiap bagian dari makhluk tersebut merupakan dalil atas keberadaan Sang Pencipta Subhanahu wa Ta‘ala dan atas keesaan-Nya.

وكما قال الشاعر:

Sebagaimana dikatakan oleh seorang penyair:

وفي كل شيء له آية
تدل على أنه واحـد

“Pada segala sesuatu terdapat tanda bagi-Nya,
yang menunjukkan bahwa Dia adalah Esa.”

ولمزيد الفائدة راجعي الفتوى الأخرى هنا.

Untuk tambahan manfaat, silakan lihat fatwa lainnya di sini :

والله أعلم.

Wallahu a’lam.

Sumber : IslamWeb



Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*


This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.