حديث النفس…بين المؤاخذة والتجاوز
Bisikan Hati: Antara Pertanggungjawaban dan Pemaafan
Alih Bahasa : Reza Ervani bin Asmanu
Artikel Bisikan Hati: Antara Pertanggungjawaban dan Pemaafan ini masuk dalam Kategori Tanya Jawab Aqidah
السؤال:
Pertanyaan:
ماحكم رجل حدثته نفسه بشيء يؤدي إلى الكفر ؟ فهل نكفره ؟
Apa hukum seseorang yang di dalam dirinya muncul bisikan tentang sesuatu yang mengarah kepada kekufuran? Apakah kita mengkafirkannya?
الإجابــة:
Jawaban :
الحمد لله، والصلاة والسلام على رسول الله، وعلى آله وصحبه، أما بعد:
Segala puji bagi Allah, shalawat serta salam semoga tercurah kepada Rasulullah, keluarga, dan para shahabatnya. Amma ba‘du:
فإن حديث النفس، ووساوس الشيطان، والخواطر التي تمر بالقلب دون أن يطمئن إليها.. لا يؤاخذ الشخص بها شرعاً ما لم يتلفظ بها صاحبها أو يعمل بمقتضاها.
Sesungguhnya bisikan dalam diri, waswas setan, dan lintasan-lintasan yang melewati hati tanpa hati merasa tenteram dengannya, tidak menyebabkan seseorang dimintai pertanggungjawaban secara syariat selama ia tidak mengucapkannya atau bertindak sesuai dengannya.
ففي الصحيحين عن أبي هريرة رضي الله عنه أن النبي صلى الله عليه وسلم قال:
Dalam Shahih Al-Bukhari dan Shahih Muslim, dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
إن الله تجاوز عن أمتي ما حدثت به أنفسها ما لم تعمل أو تتكلم
“Sesungguhnya Allah memaafkan umatku atas apa yang dibisikkan oleh diri mereka selama mereka tidak mengamalkannya atau mengucapkannya.”
وإن كان حديث النفس يتعلق بالعقيدة والإيمان ولكن النفس تأباه وتكره فإن ذلك هو الإيمان أو صريح الإيمان كما قال النبي صلى الله عليه وسلم،
Apabila bisikan dalam diri tersebut berkaitan dengan aqidah dan keimanan, tetapi jiwa menolaknya dan membencinya, maka hal tersebut adalah keimanan atau tanda nyata dari keimanan, sebagaimana yang disabdakan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.
ففي صحيح مسلم عن أبي هريرة رضي الله عنه قال: جاء ناس من أصحاب رسول الله صلى الله عليه وسلم النبيَّ صلى الله عليه وسلم فسألوه: إنا نجد في أنفسنا ما يتعاظم أحدنا أن يتكلم به؟ قال: وقد وجدتموه؟ قالوا: نعم، قال:
Dalam Shahih Muslim, dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata: Sejumlah shahabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam datang kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam lalu bertanya kepada beliau: “Sesungguhnya kami mendapati dalam diri kami sesuatu yang terasa sangat berat bagi salah seorang di antara kami untuk mengucapkannya.” Beliau bertanya: “Apakah kalian benar-benar mendapatinya?” Mereka menjawab: “Ya.” Beliau bersabda:
ذاك صريح الإيمان
“Itulah tanda nyata dari keimanan.”
ونظم هذا المعنى بعض الفضلاء فقال:
Sebagian orang yang memiliki keutamaan menggubah makna ini dalam bentuk nazham, dengan mengatakan:
وما به يوسس الشيطان والقلب يأباه هو الإيمان
فلا تحاجج عنده اللعينا فإنه يزيده تمكينا
“Apa yang dibisikkan setan sementara hati menolaknya, itulah keimanan.
Maka janganlah engkau berdebat dengan si terlaknat mengenai bisikan itu, karena hal tersebut justru semakin menguatkan kedudukannya.”
فينبغي للمسلم إذا وجد شيئاً من ذلك أن يقطعه عن نفسه، ولا يسترسل فيه.
Karena itu, apabila seorang Muslim mendapati sesuatu seperti itu, hendaknya ia memutuskannya dari dirinya dan tidak terus mengikuti atau larut di dalamnya.
ولمزيد من الفائدة نحيلك إلى الفتوى الأخرى هنا.
Untuk tambahan manfaat, kami merujukkan Anda kepada fatwa lainnya di sini :
والله أعلم.
Wallahu a’lam.
Sumber : IslamWeb
Leave a Reply