معنى القضاء والقدر
Makna Qadha dan Qadar
Alih Bahasa : Reza Ervani bin Asmanu
Artikel Makna Qadha dan Qadar ini masuk dalam Kategori Tanya Jawab Aqidah
السؤال:
Pertanyaan:
ما معنى القضاء والقدر ؟
Apa makna qadha dan qadar?
الإجابــة:
Jawaban :
الحمد لله، والصلاة والسلام على رسول الله، وعلى آله وصحبه، أما بعد:
Segala puji bagi Allah, shalawat serta salam semoga tercurah kepada Rasulullah, keluarga, dan para shahabatnya. Amma ba‘du:
فقد اختلفت عبارات العلماء في تعريف القضاء والقدر فمنهم من عرفهما مجتمعين، وجعلهما شيئاً واحداً، ومنهم من عرف القضاء تعريفاً مغايراً للقدر فقالوا:
Ungkapan para ulama berbeda-beda dalam mendefinisikan qadha dan qadar. Di antara mereka ada yang mendefinisikan keduanya secara bersamaan dan menjadikannya sebagai satu perkara. Ada pula yang mendefinisikan qadha dengan pengertian yang berbeda dari qadar. Mereka mengatakan:
القدر: هو علم الله تعالى بما تكون عليه المخلوقات في المستقبل.
Qadar adalah pengetahuan Allah Ta‘ala tentang keadaan makhluk-makhluk pada masa yang akan datang.
والقضاء: هو إيجاد الله للأشياء حسب علمه وإرادته.
Qadha adalah Allah mewujudkan segala sesuatu sesuai dengan ilmu dan kehendak-Nya.
وسئل الإمام أحمد عن القدر؟ فقال: القدر: قدرة الرحمن، وقد أخذ هذا من قول الله تعالى:
Imam Ahmad pernah ditanya tentang qadar. Ia menjawab: “Qadar adalah kekuasaan Ar-Rahman.” Penjelasan ini diambil dari firman Allah Ta‘ala:
قُلْ إِنَّ الْأَمْرَ كُلَّهُ لِلَّهِ [آل عمران:154]
“Katakanlah: Sesungguhnya segala urusan itu seluruhnya milik Allah.” [Ali ‘Imran: 154]
وقال الطحاوي : وكل شيء يجري بتقدير الله ومشيئته، ومشيئته تنفذ، لا مشيئة للعباد.. إلا ما شاء، فما شاء لهم كان، وما لم يشأ لم يكن، لا راد لقضائه، ولا معقب لحكمه، ولا غالب لأمره.
Ath-Thahawi berkata: “Segala sesuatu berjalan berdasarkan ketetapan dan kehendak Allah. Kehendak-Nya pasti terlaksana. Tidak ada kehendak bagi para hamba kecuali apa yang Dia kehendaki. Apa yang Dia kehendaki bagi mereka pasti terjadi, dan apa yang tidak Dia kehendaki tidak akan terjadi. Tidak ada yang dapat menolak qadha-Nya, tidak ada yang dapat mengoreksi keputusan-Nya, dan tidak ada yang dapat mengalahkan perintah-Nya.”
والإيمان بالقدر يشتمل على أربع مراتب:
Iman kepada qadar mencakup empat tingkatan:
1- الإيمان بعلم الله القديم.
1- Beriman kepada ilmu Allah yang terdahulu.
2- الإيمان بكتابة ذلك في اللوح المحفوظ.
2- Beriman bahwa hal tersebut telah dituliskan di Lauh Mahfuzh.
3- الإيمان بمشيئة الله النافذة وقدرته الشاملة.
3- Beriman kepada kehendak Allah yang pasti terlaksana dan kekuasaan-Nya yang meliputi segala sesuatu.
4- الإيمان بإيجاد الله لكل المخلوقات، وأنه الخالق، وكل ما سواه مخلوق.
4- Beriman bahwa Allah mewujudkan seluruh makhluk, bahwa Dialah Sang Pencipta, dan segala sesuatu selain-Nya adalah makhluk.
هذا ما يحتاج إليه المسلم في عقيدة القضاء والقدر.
Inilah yang dibutuhkan seorang Muslim dalam aqidah mengenai qadha dan qadar.
أما الخوض في القدر فلا يجوز، فقد نهى عنه صلى الله عليه وسلم، وقال الطحاوي : وأصل القدر سر الله تعالى في خلقه، لم يطلع على ذلك ملك مقرب، ولا نبي مرسل.
Adapun mendalami persoalan qadar secara berlebihan, maka hal itu tidak diperbolehkan. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam telah melarangnya. Ath-Thahawi berkata: “Hakikat qadar adalah rahasia Allah Ta‘ala pada makhluk-Nya. Tidak ada malaikat yang didekatkan maupun nabi yang diutus yang diberi pengetahuan mengenainya.”
والتعمق والنظر في ذلك ذريعة الخذلان وسلم الحرمان، ودرجة الطغيان، فالحذر كل الحذر من ذلك نظرا وفكرا ووسوسة،
“Mendalami dan menyelidiki perkara tersebut merupakan jalan menuju keterlantaran, tangga menuju keterhalangan, dan tingkatan menuju pelampauan batas. Karena itu, berhati-hatilah dengan sebenar-benar kehati-hatian dari menyelidikinya, memikirkannya secara berlebihan, dan dari waswas mengenainya.”
فإن الله تعالى طوى علم القدر عن أنامه، ونهاهم عن مرامه، كما قال تعالى في كتابه:
“Sesungguhnya Allah Ta‘ala telah menyembunyikan ilmu tentang qadar dari makhluk-Nya dan melarang mereka untuk berusaha menjangkaunya, sebagaimana Allah Ta‘ala berfirman dalam Kitab-Nya:”
لَا يُسْأَلُ عَمَّا يَفْعَلُ وَهُمْ يُسْأَلُونَ [الأنبياء:23]
“Dia tidak ditanya tentang apa yang Dia perbuat, sedangkan merekalah yang akan ditanya.” [Al-Anbiya’: 23]
فمن فرغ قلبه من هذه العقيدة فهو في هم وضياع في هذه الدنيا، وفي عذاب مهين في الآخرة، نسأل الله العافية.
Barang siapa hatinya kosong dari aqidah ini, maka ia berada dalam kegelisahan dan kesesatan di dunia ini, serta dalam azab yang menghinakan di akhirat. Kami memohon keselamatan kepada Allah.
والإيمان بالقدر لا يتنافى مع التوكل على الله عز وجل، والأخذ بالأسباب، وقد قال رسول الله صلى الله عليه وسلم، للأعرابي:
Iman kepada qadar tidak bertentangan dengan tawakkal kepada Allah ‘Azza wa Jalla dan menempuh sebab-sebab. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah berkata kepada seorang Arab Badui:
اعقلها وتوكل على الله.
“Ikatlah ia dan bertawakkallah kepada Allah.”
وأمر بالتداوي كما جاء ذلك في أحاديث كثيرة صحيحة.
Beliau juga memerintahkan untuk berobat, sebagaimana disebutkan dalam banyak hadits yang shahih.
وقال ابن القيم : لا تتم حقيقة التوحيد إلا بمباشرة الأسباب التي نصبها الله تعالى، والأسباب لا تعطي النتائج إلا بإذن الله تعالى، والذي خلق الأسباب هو الذي خلق النتائج.
Ibnu Al-Qayyim berkata: “Hakikat tauhid tidak menjadi sempurna kecuali dengan menempuh sebab-sebab yang telah Allah Ta‘ala tetapkan. Sebab-sebab tersebut tidak menghasilkan akibat kecuali dengan izin Allah Ta‘ala. Dzat yang menciptakan sebab-sebab adalah Dzat yang menciptakan hasil-hasilnya.”
هذه العقيدة في القدر والإيمان به هي التي سكبت في قلوب السلف الصالح والمؤمنين بها السكينة، وأفاضت على نفوسهم الطمأنينة، وربتهم على العزة ….
Aqidah mengenai qadar dan keimanan kepadanya inilah yang menuangkan ketenangan ke dalam hati Salaf yang shalih dan orang-orang yang mengimaninya, melimpahkan ketenteraman ke dalam jiwa mereka, serta mendidik mereka di atas kemuliaan….
فاشتغلوا بما ينفعهم، وانطلقوا لتبليغ دين الله للبشرية.
Mereka pun menyibukkan diri dengan perkara yang bermanfaat bagi mereka dan bergerak untuk menyampaikan agama Allah kepada umat manusia.
والله أعلم.
Wallahu a’lam.
Sumber : IslamWeb
Leave a Reply