Membedakan Waswas yang Menunjukkan Keimanan yang Nyata dan Waswas dari Setan



التمييز بين الوساوس الدالة على صريح الإيمان والوساوس الشيطانية

Membedakan Waswas yang Menunjukkan Keimanan yang Nyata dan Waswas dari Setan

Alih Bahasa : Reza Ervani bin Asmanu

Artikel Membedakan Waswas yang Menunjukkan Keimanan yang Nyata dan Waswas dari Setan ini masuk dalam Kategori Tanya Jawab Aqidah

السؤال:

Pertanyaan:

كيف نعرف الوساوس التي هي دليل على صريح الايمان، والوساوس التي قد تكون من ضعف الإيمان أو نحوها، فأنا في حيرة من أمري؟

Bagaimana kita mengetahui waswas yang merupakan tanda keimanan yang nyata, dan waswas yang mungkin berasal dari lemahnya keimanan atau yang semisal dengannya? Saya benar-benar bingung mengenai hal ini.

أرجوالإفادة بالتفصيل وجزيتم خيرا.

Saya berharap mendapatkan penjelasan secara terperinci. Semoga Allah membalas Anda dengan kebaikan.

الإجابــة:

Jawaban :

الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله وعلى آله وصحبه، أما بعد:

Segala puji bagi Allah, shalawat serta salam semoga tercurah kepada Rasulullah, keluarga, dan para shahabatnya. Amma ba‘du:

فقد روى مسلم في صحيحه عن أبي هريرة قال: جاء ناس من أصحاب النبي صلى الله عليه وسلم فسألوه: إنا نجد في أنفسنا ما يتعاظم أحدنا أن يتكلم به؟ قال: وقد وجدتموه؟ قالوا: نعم، قال:

Muslim meriwayatkan dalam Shahih-nya dari Abu Hurairah, ia berkata: Sejumlah shahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam datang lalu bertanya kepada beliau: “Sesungguhnya kami mendapati dalam diri kami sesuatu yang terasa sangat berat bagi salah seorang di antara kami untuk mengucapkannya.” Beliau bertanya: “Apakah kalian benar-benar mendapatinya?” Mereka menjawab: “Ya.” Beliau bersabda:

ذاك صريح الإيمان.

“Itulah keimanan yang nyata.”

قال النووي في شرحه لهذا الحديث: فقوله صلى الله عليه وسلم: ذلك صريح الإيمان، ومحض الإيمان، معناه: استعظامكم الكلام به هو صريح الإيمان،

An-Nawawi berkata dalam penjelasannya terhadap hadits ini: Sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, ذَلِكَ صَرِيحُ الْإِيمَانِ — “Itulah keimanan yang nyata” — dan “keimanan yang murni”, maknanya adalah bahwa perasaan kalian yang menganggap sangat berat untuk mengucapkan hal tersebut itulah keimanan yang nyata.

فإن استعظام هذا وشدة الخوف منه، ومن النطق به، فضلاً عن اعتقاده، إنما يكون لمن استكمل الإيمان استكمالاً محققاً، وانتفت عنه الريبة والشكوك.

Sesungguhnya menganggap hal tersebut sebagai sesuatu yang sangat berat, merasa sangat takut terhadapnya dan takut untuk mengucapkannya, terlebih lagi untuk meyakininya, hanya terjadi pada orang yang telah menyempurnakan keimanannya dengan kesempurnaan yang nyata dan telah terbebas dari keraguan serta kebimbangan.

وقال الخطابي: المراد بصريح الإيمان هو الذي يعظم في نفوسهم إن تكلموا به، ويمنعهم من قبول ما يلقي الشيطان، فلولا ذلك لم يتعاظم في نفوسهم حتى أنكروه،

Al-Khaththabi berkata: Yang dimaksud dengan keimanan yang nyata adalah keadaan ketika perkara tersebut terasa sangat besar dalam jiwa mereka apabila mereka mengucapkannya, dan keadaan itu mencegah mereka menerima apa yang dilemparkan oleh setan. Seandainya bukan karena hal itu, tentu perkara tersebut tidak akan terasa begitu berat dalam jiwa mereka hingga mereka mengingkarinya.

وليس المراد أن الوسوسة نفسها صريح الإيمان، بل هي من قبل الشيطان وكيده.

Yang dimaksud bukanlah bahwa waswas itu sendiri merupakan keimanan yang nyata. Justru waswas tersebut berasal dari setan dan tipu dayanya.

وبكلام الخطابي هذا يُعلم أن الذي دل على صحة الإيمان هو تعاظم هذه الوساوس وردها، وأن عدم تعاظمها والسماح للنفس بالاسترسال فيها يدل على ضعف الإيمان.

Dari penjelasan Al-Khaththabi ini dapat diketahui bahwa yang menunjukkan benarnya keimanan adalah anggapan bahwa waswas tersebut merupakan sesuatu yang sangat berat serta penolakan terhadapnya. Adapun tidak menganggapnya sebagai sesuatu yang berat dan membiarkan diri terus mengikuti waswas tersebut menunjukkan lemahnya keimanan.

أما حصول الوسوسة نفسها فلا يدل على قوة الإيمان ولا على ضعفه.

Adapun munculnya waswas itu sendiri tidak menunjukkan kuatnya keimanan maupun lemahnya keimanan.

وعلى ما تقدم يستطيع السائل أن يعرف الفرق وتطمئن نفسه،

Berdasarkan penjelasan yang telah disebutkan, penanya dapat mengetahui perbedaannya sehingga hatinya menjadi tenang.

فمن كان ممن يستعظم أمر تلك الوسوسة، ويخاف من ورودها عليه، ومن النطق بها، ويدفعها عنه قاطعاً سبيلها إلى قلبه ومعتقده الإيماني الراسخ، رافضاً لها، متعوذاً بالله من الشيطان، فذاك صاحب إيمان صريح، له بسلفنا من الصحابة رضوان الله عليهم أسوة حسنة.

Barang siapa menganggap perkara waswas tersebut sebagai sesuatu yang sangat berat, takut terhadap kemunculannya dalam dirinya dan takut untuk mengucapkannya, lalu menolaknya dan memutus jalannya agar tidak sampai kepada hati serta keyakinan imannya yang kokoh, menolaknya dengan tegas, dan memohon perlindungan kepada Allah dari setan, maka orang tersebut memiliki keimanan yang nyata. Ia memiliki teladan yang baik pada para pendahulu kita dari kalangan shahabat, semoga Allah meridhai mereka.

ومن تابع الوسوسة، وتكلم بها، ونشرها، ووصل معها درجة الشك التي تزعزع أركان اليقين، وتخالف التوحيد، فذاك من ضعف إيمانه، وخيف عليه من الشرك، ومتابعة الشيطان فيما يلقي إليه من وسوسة.

Adapun orang yang mengikuti waswas, mengucapkannya, menyebarkannya, dan dengannya mencapai tingkat keraguan yang mengguncang sendi-sendi keyakinan serta bertentangan dengan tauhid, maka hal tersebut termasuk tanda lemahnya keimanannya. Dikhawatirkan ia terjatuh ke dalam syirik dan mengikuti setan dalam waswas yang dilemparkan kepadanya.

ومن دافع الوسوسة اندفعت عنه بفضل الله وتثبيته، وخنس عنه الشيطان، ويئس منه في هذه السبيل، فقد قال تعالى:

Barang siapa melawan waswas, maka waswas itu akan tersingkir darinya dengan karunia Allah dan keteguhan yang diberikan-Nya. Setan pun akan mundur darinya dan berputus asa untuk menyesatkannya melalui jalan ini. Allah Ta‘ala berfirman:

إِنَّ كَيْدَ الشَّيْطَانِ كَانَ ضَعِيفًا [النساء:76]

“Sesungguhnya tipu daya setan itu lemah.” [An-Nisa’: 76]

والله أعلم.

Wallahu a’lam.

Sumber : IslamWeb



Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*


This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.