Mendalami Persoalan Qadar Mengantarkan kepada Terhalangnya Kebaikan



الخوض في القدر يقود إلى الحرمان

Mendalami Persoalan Qadar Mengantarkan kepada Terhalangnya Kebaikan

Alih Bahasa : Reza Ervani bin Asmanu

Artikel Mendalami Persoalan Qadar Mengantarkan kepada Terhalangnya Kebaikan ini masuk dalam Kategori Tanya Jawab Aqidah

السؤال:

Pertanyaan:

قال رسول الله صلى الله عليه وسلم إن الله أرحم من الأم على ابنها، ولكن في القرآن آية تقول (إن الله لا يغفر أن يشرك به ويغفر ما دون ذلك)، وإن لهب النار لا ينطفئ، ولكن لا يوجد أم تبقى تعذب ابنها إلى مدى الحياة أو إلى ما لا نهاية

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda bahwa Allah lebih penyayang daripada seorang ibu terhadap anaknya. Akan tetapi, di dalam Al-Qur’an terdapat ayat yang mengatakan, إِنَّ اللَّهَ لَا يَغْفِرُ أَنْ يُشْرَكَ بِهِ وَيَغْفِرُ مَا دُونَ ذَلِكَ — “Sesungguhnya Allah tidak mengampuni jika Dia dipersekutukan, dan Dia mengampuni dosa selain itu.” Api neraka juga tidak padam, padahal tidak ada seorang ibu yang terus menyiksa anaknya sepanjang hidup atau tanpa akhir.

أولاً أشكر الله أن خلقني مسلماً، ولكن لماذا خلق المشركين كفاراً، كان بإمكانه أن يخلقهم مسلمين….

Pertama-tama saya bersyukur kepada Allah karena Dia menciptakan saya sebagai seorang Muslim. Akan tetapi, mengapa Dia menciptakan orang-orang musyrik sebagai orang-orang kafir? Dia mampu untuk menciptakan mereka sebagai orang-orang Muslim….

وأسألك بصراحة لو ولدت من أم مسيحية وأب مسيحي وكل أقربائك مشركين هل ستكون مسلماً، وهذه الوسوسة تلحق بي، فأرجو أن تساعدوني؟

Dan saya bertanya kepada Anda dengan terus terang: seandainya Anda dilahirkan dari seorang ibu Kristen dan ayah Kristen, serta seluruh kerabat Anda adalah orang-orang musyrik, apakah Anda akan menjadi seorang Muslim? Waswas ini terus mengikuti saya, maka saya berharap Anda membantu saya.

الإجابــة:

Jawaban :

الحمد لله، والصلاة والسلام على رسول الله، وعلى آله وصحبه، أما بعد:

Segala puji bagi Allah, shalawat serta salam semoga tercurah kepada Rasulullah, keluarga, dan para shahabatnya. Amma ba‘du:

فالإيمان بالقدر ركن من أركان الإيمان، والقدر من الغيب الذي كتمه الله عز وجل عن خلقه،

Iman kepada qadar merupakan salah satu rukun iman, dan qadar termasuk perkara gaib yang Allah ‘Azza wa Jalla sembunyikan dari makhluk-Nya.

والإيمان به مبناه على التسليم لله تعالى، واعتقاد أنه سبحانه لا يفعل شيئاً إلا عن علم تام وحكمة بالغة.

Iman kepadanya dibangun di atas sikap berserah diri kepada Allah Ta‘ala dan meyakini bahwa Allah Subhanahu wa Ta‘ala tidak melakukan sesuatu kecuali berdasarkan ilmu yang sempurna dan hikmah yang sangat tinggi.

ولعل من المناسب أن ننقل هنا ما ذكره الطحاوي في عقيدته في هذا الباب حيث قال:

Barangkali tepat jika kami menukil di sini apa yang disebutkan Ath-Thahawi dalam kitab aqidahnya mengenai pembahasan ini. Ia berkata:

وأصل القدر سر الله تعالى في خلقه، لم يطلع على ذلك ملك مقرب ولا نبي مرسل، والتعمق والنظر في ذلك ذريعة الخذلان، وسُلَّم الحرمان، ودرجة الطغيان.

“Hakikat qadar merupakan rahasia Allah Ta‘ala pada makhluk-Nya. Tidak ada malaikat yang didekatkan maupun nabi yang diutus yang diberi pengetahuan mengenai hal tersebut. Mendalami dan menyelidikinya merupakan jalan menuju keterlantaran, tangga menuju keterhalangan, dan tingkatan menuju pelampauan batas.”

فالحذر كل الحذر نظرا ووسوسة فإن الله تعالى طوى علم القدر عن أنامه، ونهاهم عن مرامه كما قال تعالى في كتابه:

“Maka berhati-hatilah dengan sebenar-benar kehati-hatian dari menyelidikinya dan dari waswas mengenainya. Sesungguhnya Allah Ta‘ala telah menyembunyikan ilmu tentang qadar dari makhluk-Nya dan melarang mereka untuk berusaha menjangkaunya, sebagaimana Allah Ta‘ala berfirman dalam Kitab-Nya:”

لَا يُسْأَلُ عَمَّا يَفْعَلُ وَهُمْ يُسْأَلُونَ

“Dia tidak ditanya tentang apa yang Dia perbuat, sedangkan merekalah yang akan ditanya.”

فمن سأل لِم فعل، فقد رد حكم الكتاب، ومن رد حكم الكتاب كان من الكافرين. انتهى.

“Barang siapa bertanya, ‘Mengapa Dia melakukan demikian?’, maka ia telah menolak hukum Al-Kitab. Dan barang siapa menolak hukum Al-Kitab, maka ia termasuk orang-orang kafir.” Selesai kutipan.

ويكفي المسلم أن يؤمن بأن ما شاء الله كان، وما لم يشأ لم يكن، وأن ما أخطأه لم يكن ليصيبه، وما أصابه لم يكن ليخطئه،

Cukuplah bagi seorang Muslim untuk beriman bahwa apa yang Allah kehendaki pasti terjadi, dan apa yang tidak Dia kehendaki tidak akan terjadi; bahwa apa yang luput darinya memang tidak akan menimpanya, dan apa yang menimpanya memang tidak akan luput darinya.

وأن الأمة لو اجتمعت على أن ينفعوه بشيء لم ينفعوه إلا بشيء قد كتبه الله له، ولو اجتمعت على أن يضروه بشيء لم يضروه إلا بشيء قد كتبه الله عليه.

Dan bahwa seandainya seluruh umat berkumpul untuk memberinya suatu manfaat, mereka tidak akan dapat memberinya manfaat kecuali dengan sesuatu yang telah Allah tetapkan baginya. Dan seandainya mereka berkumpul untuk mencelakakannya dengan sesuatu, mereka tidak akan dapat mencelakakannya kecuali dengan sesuatu yang telah Allah tetapkan atasnya.

وقد نص بعض أهل العلم على أن القدر على مراتب أربع: الأولى: العلم. الثانية: الكتابة. الثالثة: المشيئة. الرابعة: الخلق.

Sebagian ulama telah menegaskan bahwa qadar memiliki empat tingkatan: pertama, ilmu; kedua, penulisan; ketiga, kehendak; keempat, penciptaan.

وما وراء ذلك فهو سر القدر فلا يكشف، فلا يقال: لماذا أضل هذا وهدى هذا، أو أغنى هذا وأفقر هذا… ونحو ذلك،

Adapun apa yang berada di balik itu merupakan rahasia qadar yang tidak disingkap. Karena itu tidak dikatakan: “Mengapa Dia menyesatkan orang ini dan memberi petunjuk kepada orang itu?”, atau “Mengapa Dia membuat orang ini kaya dan orang itu miskin?”, dan pertanyaan-pertanyaan yang semisal dengannya.

فإن السؤال عن ذلك وطلب البحث فيه مزلة أقدام، ومضلة أفهام، فالواجب الحذر منه، ودفع ما قد يطرأ على القلب من وساوس وشبهات،

Sesungguhnya mempertanyakan hal tersebut dan berusaha menyelidikinya merupakan tempat tergelincirnya kaki dan tersesatnya pemahaman. Karena itu, wajib berhati-hati terhadapnya serta menolak waswas dan syubhat yang mungkin muncul di dalam hati.

وأن يستعاذ بالله تعالى من الشيطان الرجيم، وأن يقول: آمنت بالله. وبذلك يسلم العبد وينجو،

Hendaknya seseorang memohon perlindungan kepada Allah Ta‘ala dari setan yang terkutuk dan mengucapkan: آمَنْتُ بِاللَّهِ — “Aku beriman kepada Allah.” Dengan demikian, seorang hamba akan selamat dan terbebas.

ونرجو مراجعة الفتوى الأخرى هنا، والفتوى الأخرى هنا، والفتوى الأخرى هنا، والفتوى الأخرى هنا.

Kami berharap Anda merujuk fatwa lainnya di sini :

أما قولك: لو ولد الشخص من أبوين مسيحيين؟ فالجواب عنه: أن الإسلام لا يربط بين معتنقه وبين ذويه، فكل من أتى بأركان الإسلام فهو مسلم له ما للمسلمين وعليه ما عليهم، ولو كان أبواه كافرين.

Adapun perkataanmu, “Bagaimana jika seseorang dilahirkan dari dua orang tua Kristen?”, maka jawabannya adalah bahwa Islam tidak mengaitkan antara orang yang memeluknya dengan keluarganya. Setiap orang yang melaksanakan rukun-rukun Islam adalah seorang Muslim; ia memiliki hak sebagaimana kaum Muslimin dan memiliki kewajiban sebagaimana mereka, sekalipun kedua orang tuanya kafir.

قال صلى الله عليه وسلم:

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

من شهد أن لا إله إلا الله واستقبل قبلتنا وصلى صلاتنا وأكل ذبيحتنا فهو المسلم له ما للمسلم وعليه ما على المسلم.

“Barang siapa bersaksi bahwa tidak ada sesembahan yang berhak disembah selain Allah, menghadap kiblat kita, mengerjakan shalat kita, dan memakan sembelihan kita, maka ia adalah seorang Muslim; ia memiliki hak sebagaimana seorang Muslim dan memiliki kewajiban sebagaimana seorang Muslim.” (HR. Al-Bukhari).

ولمزيد الفائدة تراجع الفتوى الأخرى هنا.

Untuk tambahan manfaat, silakan merujuk fatwa lainnya di sini.

والله أعلم.

Wallahu a’lam.

Sumber : IslamWeb



Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*


This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.