Mengapa Keyakinan Menjadi Syarat Dikabulkannya Doa?



لماذا كان اليقين شرطا لاستجابة الدعاء

Mengapa Keyakinan Menjadi Syarat Dikabulkannya Doa?

Alih Bahasa : Reza Ervani bin Asmanu

Artikel Mengapa Keyakinan Menjadi Syarat Dikabulkannya Doa? ini masuk dalam Kategori Tanya Jawab Aqidah

السؤال:

Pertanyaan:

لماذا يعتبر اليقين شرطا لاستجابة الدعاء؟

Mengapa keyakinan dianggap sebagai syarat dikabulkannya doa?

الإجابــة:

Jawaban :

الحمد لله، والصلاة والسلام على رسول الله، وعلى آله وصحبه، أما بعد:

Segala puji bagi Allah, shalawat serta salam semoga tercurah kepada Rasulullah, keluarga, dan para shahabatnya. Amma ba‘du:

فروى الإمام أحمد في المسند بسند حسن عن عبد الله بن عمرو أن رسول الله صلى الله عليه وسلم قال:

Imam Ahmad meriwayatkan dalam Al-Musnad dengan sanad hasan, dari ‘Abdullah bin ‘Amr, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

القلوب أوعية، وبعضها أوعى من بعض، فإذا سألتم الله عز وجل أيها الناس، فاسألوه وأنتم موقنون بالإجابة، فإن الله لا يستجيب لعبد دعاه عن ظهر قلب غافل

“Hati adalah wadah, dan sebagian darinya lebih mampu menampung daripada sebagian yang lain. Maka apabila kalian memohon kepada Allah ‘Azza wa Jalla, wahai manusia, memohonlah kepada-Nya dalam keadaan yakin akan dikabulkan. Sesungguhnya Allah tidak mengabulkan doa seorang hamba yang berdoa kepada-Nya dari hati yang lalai.”

ورواه الترمذي من حديث أبي هريرة بلفظ:

At-Tirmidzi juga meriwayatkannya dari hadits Abu Hurairah dengan lafaz:

ادعوا الله وأنتم موقنون بالإجابة واعلموا أن الله لا يستجيب دعاءً من قلبٍ غافل لاه

“Berdoalah kepada Allah dalam keadaan kalian yakin akan dikabulkan, dan ketahuilah bahwa Allah tidak mengabulkan doa dari hati yang lalai dan lengah.”

ومعنى موقنون بالإجابة أي: يغلب على ظنكم أن الله تعالى يتقبل دعاءكم، ويحقق مرادكم، وهذا من إحسان الظن بالله تعالى،

Makna مُوقِنُونَ بِالْإِجَابَةِ — “yakin akan dikabulkan” — adalah bahwa prasangka yang kuat pada diri kalian ialah bahwa Allah Ta‘ala menerima doa kalian dan mewujudkan apa yang kalian inginkan. Hal ini termasuk berbaik sangka kepada Allah Ta‘ala.

وقد جاء في الحديث القدسي:

Dalam hadits qudsi disebutkan:

أنا عند ظن عبدي بي

“Aku sesuai dengan prasangka hamba-Ku kepada-Ku.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim).

وعند أحمد:

Dalam riwayat Ahmad disebutkan:

إن ظن بي خيراً فله، وإن ظن شراً فله

“Jika ia berprasangka baik kepada-Ku, maka kebaikan itu untuknya; dan jika ia berprasangka buruk, maka keburukan itu untuknya.”

وفي رواية:

Dalam riwayat lain:

فليظن بي ما شاء

“Maka hendaklah ia berprasangka kepada-Ku sebagaimana yang ia kehendaki.”

قال القرطبي في (المفهم): قيل معنى ظن عبدي بي: ظن الإجابة عند الدعاء، وظن القبول عند التوبة، وظن المغفرة عند الاستغفار، وظن المجازاة عند فعل العبادة بشروطها، تمسكاً بصادق وعده،

Al-Qurthubi berkata dalam Al-Mufhim: “Dikatakan bahwa makna ‘prasangka hamba-Ku kepada-Ku’ adalah prasangka akan dikabulkannya doa ketika berdoa, prasangka akan diterimanya taubat ketika bertobat, prasangka akan memperoleh ampunan ketika memohon ampun, dan prasangka akan mendapatkan balasan ketika melakukan ibadah dengan memenuhi syarat-syaratnya, dengan berpegang kepada kebenaran janji-Nya.”

ويؤيده قوله في الحديث الآخر:

Hal ini diperkuat oleh sabda beliau dalam hadits yang lain:

ادعوا الله وأنتم موقنون بالإجابة

“Berdoalah kepada Allah dalam keadaan kalian yakin akan dikabulkan.”

قال : ولذلك ينبغي للمرء أن يجتهد في القيام بما عليه، موقنا بأن الله يقبله، ويغفر له، لأنه وعد بذلك، وهو لا يخلف الميعاد،

Ia berkata: “Karena itu, seseorang hendaknya bersungguh-sungguh menunaikan apa yang menjadi kewajibannya dengan yakin bahwa Allah akan menerimanya dan mengampuninya, karena Allah telah menjanjikan hal tersebut, dan Dia tidak menyelisihi janji.”

فإن اعتقد أو ظن أن الله لا يقبلها، وأنها لا تنفعه، فهذا هو اليأس من رحمة الله، وهو من الكبائر. انتهى.

“Jika ia meyakini atau menyangka bahwa Allah tidak akan menerimanya dan bahwa amal itu tidak akan memberikan manfaat kepadanya, maka itulah berputus asa dari rahmat Allah, dan hal tersebut termasuk dosa-dosa besar.” Selesai kutipan.

فلابد من حضور القلب، وإحسان الظن بالله تعالى، وأنه يستجيب دعاء عبده، كما وعد هو سبحانه بذلك:

Karena itu, harus ada kehadiran hati, berbaik sangka kepada Allah Ta‘ala, dan meyakini bahwa Dia mengabulkan doa hamba-Nya, sebagaimana Allah Subhanahu wa Ta‘ala sendiri telah menjanjikan hal tersebut:

وَقَالَ رَبُّكُمُ ادْعُونِي أَسْتَجِبْ لَكُمْ [غافر: 60]

“Dan Rabb kalian berfirman: ‘Berdoalah kepada-Ku, niscaya Aku akan mengabulkan untuk kalian.'” [Ghafir: 60]

وَإِذَا سَأَلَكَ عِبَادِي عَنِّي فَإِنِّي قَرِيبٌ أُجِيبُ دَعْوَةَ الدَّاعِ إِذَا دَعَانِ [البقرة: 186]

“Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka sesungguhnya Aku dekat. Aku mengabulkan doa orang yang berdoa apabila ia berdoa kepada-Ku.” [Al-Baqarah: 186]

والله أعلم.

Wallahu a’lam.

Sumber : IslamWeb



Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*


This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.