Nifaq Terbagi Menjadi Dua: Nifaq Besar dan Nifaq Kecil



النفاق نوعان أكبر وأصغر

Nifaq Terbagi Menjadi Dua: Nifaq Besar dan Nifaq Kecil

Alih Bahasa : Reza Ervani bin Asmanu

Artikel Nifaq Terbagi Menjadi Dua: Nifaq Besar dan Nifaq Kecil ini masuk dalam Kategori Tanya Jawab Aqidah

السؤال:

Pertanyaan:

ما حكم نفاق المنافقين؟

Apa hukum nifaq orang-orang munafik?

الإجابــة:

Jawaban :

الحمد لله، والصلاة والسلام على رسول الله، وعلى آله وصحبه، أما بعد:

Segala puji bagi Allah, shalawat serta salam semoga tercurah kepada Rasulullah, keluarga, dan para shahabatnya. Amma ba‘du:

فالنفاق على نوعين: أكبر وأصغر كما قسمه بعض أهل العلم، فالنفاق الأكبر هو المخرج من الملة، وهو الذي له تعلق بالاعتقاد؛ كأن يبطن الكفر ويظهر الإيمان، أو أن يأتي الشخص مكفراً من المكفرات؛ كاستهزائه بالشريعة، أو استهزائه بالرسول صلى الله عليه وسلم، أو استهزائه بالصحابة رضي الله عنهم، فهذا نفاق أكبر يخرج صاحبه من دين الإسلام وإن صلى وصام وزعم أنه مسلم.

Nifaq terbagi menjadi dua jenis: besar dan kecil, sebagaimana pembagian yang disebutkan oleh sebagian ulama. Nifaq besar adalah nifaq yang mengeluarkan seseorang dari agama. Jenis ini berkaitan dengan keyakinan, seperti seseorang menyembunyikan kekufuran tetapi menampakkan keimanan, atau melakukan salah satu perkara yang menyebabkan kekafiran, seperti memperolok-olok syariat, memperolok-olok Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, atau memperolok-olok para shahabat radhiyallahu ‘anhum. Ini merupakan nifaq besar yang mengeluarkan pelakunya dari agama Islam, sekalipun ia mengerjakan shalat, berpuasa, dan mengaku sebagai seorang Muslim.

ومما يستشهد به لهذا النوع قوله سبحانه:

Di antara dalil yang dijadikan landasan bagi jenis ini adalah firman Allah Subhanahu wa Ta‘ala:

وَلَئِنْ سَأَلْتَهُمْ لَيَقُولُنَّ إِنَّمَا كُنَّا نَخُوضُ وَنَلْعَبُ قُلْ أَبِاللَّهِ وَآيَاتِهِ وَرَسُولِهِ كُنْتُمْ تَسْتَهْزِئُونَ * لَا تَعْتَذِرُوا قَدْ كَفَرْتُمْ بَعْدَ إِيمَانِكُمْ إِنْ نَعْفُ عَنْ طَائِفَةٍ مِنْكُمْ نُعَذِّبْ طَائِفَةً بِأَنَّهُمْ كَانُوا مُجْرِمِينَ [التوبة: 65 – 66]

“Dan jika engkau bertanya kepada mereka, niscaya mereka akan berkata, ‘Sesungguhnya kami hanyalah berbincang-bincang dan bermain-main.’ Katakanlah, ‘Apakah kepada Allah, ayat-ayat-Nya, dan Rasul-Nya kalian selalu berolok-olok?’ Tidak perlu kalian meminta maaf, sungguh kalian telah kafir setelah beriman. Jika Kami memaafkan sebagian dari kalian, Kami akan mengazab sebagian yang lain karena mereka adalah orang-orang yang berbuat dosa.” [At-Taubah: 65-66]

وقال تعالى:

Allah Ta‘ala juga berfirman:

إِذَا جَاءَكَ الْمُنَافِقُونَ قَالُوا نَشْهَدُ إِنَّكَ لَرَسُولُ اللَّهِ وَاللَّهُ يَعْلَمُ إِنَّكَ لَرَسُولُهُ وَاللَّهُ يَشْهَدُ إِنَّ الْمُنَافِقِينَ لَكَاذِبُونَ [المنافقون: 1]

“Apabila orang-orang munafik datang kepadamu, mereka berkata, ‘Kami bersaksi bahwa engkau benar-benar Rasul Allah.’ Allah mengetahui bahwa engkau benar-benar Rasul-Nya, dan Allah bersaksi bahwa sesungguhnya orang-orang munafik itu benar-benar pendusta.” [Al-Munafiqun: 1]

والنوع الثاني: أصغر لا يخرج صاحبه من الملة، ويسمى نفاقاً عملياً، ومما يستشهد به لهذا النوع حديث أبي هريرة قال: قال رسول الله صلى الله عليه وسلم:

Jenis kedua adalah nifaq kecil, yang tidak mengeluarkan pelakunya dari agama dan disebut sebagai nifaq ‘amali atau nifaq dalam perbuatan. Di antara dalil yang dijadikan landasan bagi jenis ini adalah hadits Abu Hurairah. Ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

ثلاث من كن فيه فهو منافق، وإن صام وصلى وقال إني مسلم: إذا حدث كذب، وإذا وعد أخلف، وإذا اؤتمن خان.

“Tiga perkara yang apabila terdapat pada seseorang, maka ia adalah seorang munafik, sekalipun ia berpuasa, mengerjakan shalat, dan berkata, ‘Sesungguhnya aku seorang Muslim’: apabila berbicara ia berdusta, apabila berjanji ia menyelisihinya, dan apabila diberi amanah ia berkhianat.” (Muttafaq ‘alaih).

وكحديث ابن عمر قال قال رسول الله:

Demikian pula hadits Ibnu ‘Umar. Ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

أربع من كن فيه كان منافقاً خالصاً، ومن كانت فيه خصلة منهن كانت فيه خصلة من النفاق حتى يدعها: إذا اؤتمن خان، وإذا حدث كذب، وإذا عاهد غدر، وإذا خاصم فجر.

“Empat perkara yang apabila terdapat pada seseorang, maka ia adalah seorang munafik murni. Barang siapa memiliki salah satu sifat dari perkara-perkara tersebut, maka pada dirinya terdapat satu sifat dari nifaq sampai ia meninggalkannya: apabila diberi amanah ia berkhianat, apabila berbicara ia berdusta, apabila membuat perjanjian ia berkhianat, dan apabila berselisih ia melampaui batas.” (Muttafaq ‘alaih).

والله أعلم.

Wallahu a’lam.

Sumber : IslamWeb



Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*


This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.