Penjelasan yang Menenangkan tentang Penyebab Waswas dan Cara Mengatasinya



كلمة هادية في أسباب الوساوس وسبل التغلب عليها

Penjelasan yang Menenangkan tentang Penyebab Waswas dan Cara Mengatasinya

Alih Bahasa : Reza Ervani bin Asmanu

Artikel Penjelasan yang Menenangkan tentang Penyebab Waswas dan Cara Mengatasinya ini masuk dalam Kategori Tanya Jawab Aqidah

السؤال:

Pertanyaan:

أرجو من حضرتكم قراءة سؤالي بكل دقة وبإحساس بحجم المشكلة التي أعيشها بل المصيبة، وأن لا تحيلوني كالعادة إلى فتاوى سابقة فإني قرأتها جميعا-تقريبا-وصرت أعرف الكثير عن الوسوسة لكن دون جدوى. وإن لزم أن ترفع قضيتي إلى دور الإفتاء في العالم.

Saya memohon agar Anda membaca pertanyaan saya dengan sangat teliti dan memahami besarnya masalah yang saya alami, bahkan musibah yang saya hadapi. Saya juga memohon agar Anda tidak merujukkan saya, seperti biasanya, kepada fatwa-fatwa sebelumnya, karena hampir semuanya telah saya baca dan saya telah mengetahui banyak hal tentang waswas, tetapi tanpa hasil. Jika diperlukan, silakan angkat permasalahan saya ini kepada lembaga-lembaga fatwa di dunia.

الآن حياتي أصبحت جحيما، وبلا طعم ، أضعت صلواتي ،الآن مثلا الساعة 10و44دق صباحا ولم أصل الظهر والعصر والمغرب والعشاء أمس وصبح اليوم. مضى علي أسبوعان لم أصل الجمعة.

Sekarang hidup saya telah menjadi seperti neraka dan tidak lagi memiliki rasa. Saya telah menyia-nyiakan shalat-shalat saya. Sekarang, misalnya, pukul 10.44 pagi, dan saya belum mengerjakan shalat Zhuhur, Ashar, Maghrib, dan Isya kemarin, serta shalat Subuh hari ini. Sudah dua pekan saya tidak mengerjakan shalat Jumat.

أصبحت حبيس غرفتي عاجزا عن العبادة وعن ممارسة حياتي الطبيعية، والسبب النية، هذه التي عجزت عن إيجاد حل لها رغم أني قرأت عنها وسمعت عنها الكثير الكثير.

Saya menjadi terkurung di kamar, tidak mampu beribadah dan tidak mampu menjalani kehidupan normal. Penyebabnya adalah niat. Saya tidak mampu menemukan solusi untuk masalah niat ini, padahal saya telah banyak sekali membaca dan mendengar pembahasan mengenainya.

كيف أنوي؟ لما أحس عند النية بكل هذا الصداع والألم والضيق والثقل في الرأس؟ عندما أريد أن أنوي أحس أني مطالب بتركيز يهدم الجبال يصعب على الإنسان تحمله، صدقني، فتراني أنبطح أرضا ثم أبكي ثم أدعو الله أن يرحمني ربما أقول كلاما غير لائق.

Bagaimana saya harus berniat? Mengapa ketika hendak berniat saya merasakan sakit kepala, rasa sakit, sesak, dan berat di kepala seperti ini? Ketika saya hendak berniat, saya merasa seakan-akan dituntut untuk melakukan konsentrasi yang sanggup meruntuhkan gunung dan sulit ditanggung oleh manusia. Percayalah, sampai-sampai saya merebahkan diri di lantai, kemudian menangis, lalu berdoa kepada Allah agar merahmati saya. Mungkin terkadang saya sampai mengucapkan perkataan yang tidak pantas.

أعجز عن تطبيق كلام العلماء والمشايخ، أريد حلولا عملية.

Saya tidak mampu menerapkan penjelasan para ulama dan para syaikh. Saya menginginkan solusi-solusi praktis.

الحل إذا أصبح بيدي، فكرت باتخاذ حلول بنفسي ولكن المشكلة بالنسبة لي، وأرجو منكم التعليق على هذه المسألة، هو أن أكون واثقا تمام الثقة أن الله عز وجل سيتقبل مني أو على الأقل صلاتي صحيحة حتى ولو كانت خاطئة فهكذا أهزم الشيطان،

Jika solusinya berada di tangan saya, saya telah berpikir untuk mengambil beberapa solusi sendiri. Namun masalah bagi saya — dan saya berharap Anda memberikan komentar mengenai masalah ini — adalah bahwa saya harus benar-benar yakin sepenuhnya bahwa Allah ‘Azza wa Jalla akan menerima dari saya, atau setidaknya bahwa shalat saya sah, sekalipun sebenarnya salah. Dengan cara inilah saya dapat mengalahkan setan.

فقد قال لي أحد الذين نجوا من الوسوسة أنه كان يقول للشيطان صلاتي باطلة وسيتقبلها الله رغما عنك-أو كما قال-،

Salah seorang yang telah terbebas dari waswas pernah berkata kepada saya bahwa ia dahulu mengatakan kepada setan: “Shalatku batal, tetapi Allah tetap akan menerimanya meskipun engkau tidak suka” — atau kurang lebih seperti itulah yang ia katakan.

فمن الحلول مثلا:

Di antara solusi yang saya pikirkan, misalnya:

-أن أستحضر بسرعة ما أريد القيام به ثم أكبر ولا يهمني ما يجول بخاطري من أني لم أنو الصلاة المقصودة أو أني لم أنو الصلاة مطلقا أوأني سأقوم بحركات الصلاة دون أن أكون قد قصدت بها شيئا أو أني أفعل حركات الصلاة استحياء من الناس لأني فعلا لا أستطيع أن أنوي أمام الناس، والمهم يبقى دائما الثقة بأن صلاتي عند الله صحيحة حتى و إن كانت خاطئة.

– Saya segera menghadirkan dalam pikiran apa yang hendak saya kerjakan, lalu bertakbir, dan tidak memedulikan apa pun yang berputar dalam pikiran saya, seperti bahwa saya belum berniat untuk shalat yang dimaksud, atau saya sama sekali belum berniat shalat, atau bahwa saya hanya akan melakukan gerakan-gerakan shalat tanpa bermaksud melakukan sesuatu dengannya, atau bahwa saya melakukan gerakan-gerakan shalat karena malu kepada orang lain, sebab saya memang benar-benar tidak mampu berniat di hadapan orang lain. Yang terpenting adalah tetap yakin bahwa shalat saya sah di sisi Allah, sekalipun sebenarnya salah.

-أن أنو بلساني وألهو كذلك عن تلك الخواطر ولو أني أفضل الحل الأول

– Saya berniat dengan lisan dan juga mengabaikan berbagai lintasan pikiran tersebut, meskipun saya lebih menyukai solusi pertama.

فأرجو منكم إذا مساعدتي في أقرب وقت ممكن فالأمر خطير للغاية وأخشى أن لا أستطيع التحمل أكثر من هذا فأترك الصلاة خصوصا إذا عدت الى منزلنا فلا أحد هناك يتفهمني.

Karena itu, saya memohon agar Anda membantu saya secepat mungkin, karena masalah ini sangat berbahaya. Saya khawatir tidak akan mampu menanggungnya lebih lama lagi lalu meninggalkan shalat, terlebih lagi apabila saya kembali ke rumah kami, karena tidak ada seorang pun di sana yang memahami keadaan saya.

كما أرجو منكم بكل لطف أن تكون إجابتكم شافية بأن تتعرضوا لكل ما كتبته، وشكرا

Saya juga memohon dengan segala hormat agar jawaban Anda benar-benar memberikan penyelesaian dengan membahas seluruh hal yang telah saya tuliskan. Terima kasih.

الإجابــة:

Jawaban :

الحمد لله، والصلاة والسلام على رسول الله، وعلى آله وصحبه، أما بعد:

Segala puji bagi Allah, shalawat serta salam semoga tercurah kepada Rasulullah, keluarga, dan para shahabatnya. Amma ba‘du:

فنسأل الله العظيم رب العرش الكريم أن يمن عليك بالشفاء عاجلا غير آجل، وأن يشرح صدرك وينور قلبك ويرزقك الراحة والطمأنينة،

Kami memohon kepada Allah Yang Mahaagung, Rabb ‘Arsy yang mulia, agar menganugerahkan kesembuhan kepadamu dengan segera, tidak ditunda-tunda, melapangkan dadamu, menerangi hatimu, serta memberimu ketenangan dan ketenteraman.

واعلم أن الوسوسة مرض يعتري الشخص، يأتي له بصورة أفعال وأفكار تتسلط عليه وتضطره لتكرارها، وإذا لم يكرر الفعل أو يتسلسل مع الفكرة يشعر بتوتر وضيق وعدم صحة ما فعل، ولا يزول هذا التوتر إلا إذا كرر الفعل، وتسلسل مع الفكرة،

Ketahuilah bahwa waswas adalah penyakit yang menimpa seseorang. Ia datang dalam bentuk perbuatan dan pikiran yang menguasainya serta memaksanya untuk mengulanginya. Jika ia tidak mengulangi perbuatan tersebut atau tidak terus mengikuti pikiran itu, ia merasa tegang, sesak, dan merasa bahwa apa yang dilakukannya tidak sah. Ketegangan ini tidak hilang kecuali setelah ia mengulangi perbuatan tersebut dan terus mengikuti pikiran itu.

فهو إذاً المبالغة الخارجة عن الاعتدال، فقد يفعل الأمر مكررا له حتى يفوت المقصد منه، مثل أن يعيد الوضوء مرارا حتى تفوته الصلاة، أو يكرر آية أو نحو ذلك حتى يسبقه الإمام بركن أو أكثر،

Dengan demikian, waswas merupakan sikap berlebihan yang keluar dari batas kewajaran. Seseorang dapat mengulang suatu perbuatan hingga tujuan dari perbuatan itu sendiri terlewatkan, seperti mengulangi wudhu berkali-kali hingga shalat terlewat, atau mengulang suatu ayat atau yang semisalnya hingga imam telah mendahuluinya satu rukun atau lebih.

وقد يتمكن منه الوسواس فيترك العمل بالكلية كما هي حالتك، وهذا هو المقصد الأساس من تلك الوسوسة،

Bahkan waswas dapat menguasainya sampai ia meninggalkan suatu amalan sama sekali, sebagaimana keadaanmu. Inilah tujuan utama dari waswas tersebut.

وللوسواس أسباب أعظمها:

Waswas memiliki sejumlah sebab. Yang paling besar di antaranya adalah:

1- الشيطان، فله الدور الأكبر فيها، فعن ابن عباس رضي الله عنهما أن رسول الله صلى الله عليه وسلم قال: جاء رجل إلى النبي صلى الله عليه وسلم فقال: يا رسول الله: إن أحدنا يجد في نفسه يعرض بالشيء لأن يكون حممة أحب من أن يتكلم به، فقال:

1- Setan. Ia memiliki peran terbesar dalam masalah ini. Dari Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: Seorang laki-laki datang kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam lalu berkata: “Wahai Rasulullah, salah seorang dari kami mendapati dalam dirinya sesuatu yang muncul dalam pikirannya, dan menjadi arang yang terbakar lebih ia sukai daripada harus mengucapkannya.” Maka beliau bersabda:

الله أكبر الله أكبر الله أكبر، الحمد لله الذي رد كيده إلى الوسوسة.

“Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar. Segala puji bagi Allah yang telah mengembalikan tipu dayanya hanya menjadi waswas.” (HR. Ahmad dan Abu Dawud).

أي فلا تلتفتوا إلى هذا الشيء الذي يزعجكم ويقلقكم.

Maksudnya, janganlah kalian memedulikan perkara yang mengganggu dan membuat kalian gelisah tersebut.

2- عوامل نفسية أو تربوية أو وقوع حدث أو موقف كان له أثر قوي في نفس المصاب، وفي مثل هذه الحالة يعرض الشخص المريض على طبيب نفسي مسلم.

2- Faktor psikologis atau pendidikan, atau terjadinya suatu peristiwa atau keadaan yang memberikan pengaruh kuat pada jiwa orang yang mengalaminya. Dalam keadaan seperti ini, orang yang sakit tersebut hendaknya dibawa kepada seorang dokter jiwa Muslim.

ولتغلب العبد على الوسواس الذي يصيبه في عبادته وأفكاره عليه فعل الآتي:

Agar seorang hamba dapat mengatasi waswas yang menimpanya dalam ibadah dan pikirannya, hendaknya ia melakukan hal-hal berikut:

1- الالتجاء إلى الله تعالى بصدق وإخلاص في أن يذهب الله عنك هذا المرض.

1- Bersungguh-sungguh berlindung dan memohon kepada Allah Ta‘ala dengan penuh kejujuran dan keikhlasan agar Allah menghilangkan penyakit ini darimu.

2- الإكثار من قراءة القرآن والمحافظة على الذكر لا سيما أذكار الصباح والمساء، وأذكار النوم والاستيقاظ، ودخول المنزل والخروج، ودخول الحمام والخروج منه، والتسمية عند الطعام والحمد بعده، وغير ذلك،

2- Memperbanyak membaca Al-Qur’an dan menjaga dzikir, khususnya dzikir pagi dan petang, dzikir ketika tidur dan bangun, ketika masuk dan keluar rumah, ketika masuk dan keluar kamar kecil, membaca basmalah ketika makan dan memuji Allah setelahnya, serta dzikir–dzikir lainnya.

وننصحك بشراء كتاب الأذكار للإمام النووي ومعاودة القراءة فيه دائما.

Kami menasihatimu untuk membeli kitab Al-Adzkar karya Imam An-Nawawi dan terus-menerus membacanya kembali.

3- الاستعاذة بالله من الشيطان الرجيم والانتهاء عن الاسترسال مع خطواته الخبيثة في الوسوسة، فلا أنفع من هذ الأمر لذهاب الوسواس،

3- Memohon perlindungan kepada Allah dari setan yang terkutuk dan berhenti mengikuti langkah-langkah jahatnya dalam waswas. Tidak ada sesuatu yang lebih bermanfaat daripada perkara ini untuk menghilangkan waswas.

وقد جاء عن بعض الصالحين الذين ابتلوا بالوسواس أنه كان يقول للشيطان إذا وسوس له بعدم صحة وضوئه أو صلاته بعد الانتهاء منها يقول له: لا أقبل منك حتى تأتيني بشاهدي عدل على ما تقول.

Diriwayatkan dari sebagian orang shalih yang diuji dengan waswas bahwa apabila setan membisikkan kepadanya setelah selesai berwudhu atau shalat bahwa wudhu atau shalatnya tidak sah, ia berkata kepada setan: “Aku tidak akan menerima perkataanmu sampai engkau mendatangkan dua orang saksi yang adil atas apa yang engkau katakan.”

فأعظم العلاج للوسواس هو الإعراض عنه وعدم تصديقه في عدم صحة ما قمت به،

Maka pengobatan terbesar bagi waswas adalah berpaling darinya dan tidak membenarkannya ketika ia membisikkan bahwa apa yang telah engkau lakukan tidak sah.

واسمع لحديث النبي صلى الله عليه وسلم الذي رواه الإمام مسلم في صحيحه عن أبي هريرة قال: قال رسول الله صلى الله عليه وسلم:

Perhatikanlah hadits Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam yang diriwayatkan Imam Muslim dalam Shahih-nya dari Abu Hurairah. Ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

يأتي أحدكم الشيطان فيقول: من خلق كذا وكذا؟ حتى يقول له: من خلق ربك؟ فإذا بلغ ذلك فليستعذ بالله ولينته.

“Setan mendatangi salah seorang di antara kalian lalu berkata: ‘Siapa yang menciptakan ini dan itu?’ Hingga akhirnya ia berkata kepadanya: ‘Siapa yang menciptakan Rabb-mu?’ Jika telah sampai pada keadaan tersebut, hendaklah ia berlindung kepada Allah dan berhenti.”

وعن ابن مسعود رضي الله عنه قال: قال رسول الله صلى الله عليه وسلم:

Dari Ibnu Mas‘ud radhiyallahu ‘anhu, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

إن للشيطان لمة بابن آدم، وللملك لمة، فأما لمة الشيطان فإيعاد بالشر وتكذيب بالحق، وأما لمة الملك فإيعاد بالخير وتصديق بالحق، فمن وجد ذلك فليعلم أنه من الله فليحمد الله، ومن وجد الأخرى فليتعوذ بالله من الشيطان الرجيم،

“Sesungguhnya setan memiliki sentuhan terhadap anak Adam, dan malaikat pun memiliki sentuhan. Adapun sentuhan setan adalah menjanjikan keburukan dan mendustakan kebenaran. Sedangkan sentuhan malaikat adalah menjanjikan kebaikan dan membenarkan kebenaran. Barang siapa mendapati hal tersebut, hendaknya ia mengetahui bahwa itu berasal dari Allah dan hendaknya ia memuji Allah. Barang siapa mendapati yang lainnya, hendaknya ia berlindung kepada Allah dari setan yang terkutuk.”

ثم قرأ:

Kemudian beliau membaca:

الشَّيْطَانُ يَعِدُكُمُ الْفَقْرَ وَيَأْمُرُكُمْ بِالْفَحْشَاءِ [البقرة: 268]

“Setan menjanjikan kemiskinan kepada kalian dan menyuruh kalian melakukan perbuatan keji.” [Al-Baqarah: 268]

رواه الترمذي.

Hadits ini diriwayatkan oleh At-Tirmidzi.

وعن عثمان بن أبي العاص قال: يا رسول الله: إن الشيطان قد حال بيني وبين صلاتي وقراءتي يلبسها علي، فقال رسول الله صلى الله عليه وسلم:

Dari ‘Utsman bin Abi Al-‘Ash, ia berkata: “Wahai Rasulullah, sesungguhnya setan telah menghalangi antara diriku dengan shalat dan bacaanku serta membuatnya menjadi rancu bagiku.” Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

فإذا أحسسته فتعوذ بالله منه، واتفل عن يسارك ثلاثا.

“Apabila engkau merasakannya, berlindunglah kepada Allah darinya dan meludahlah ringan ke sebelah kirimu tiga kali.”

قال: ففعلت ذلك فأذهبه الله عني. رواه مسلم.

Ia berkata: “Aku pun melakukan hal tersebut, lalu Allah menghilangkannya dariku.” (HR. Muslim).

فأرشد النبي صلى الله عليه وسلم من ابتلي بهذه الوسوسة إلى الإعراض عن هذا الخاطر الشيطاني، والالتجاء إلى الله تعالى في إذهابه، وترك الاسترسال معه،

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam membimbing orang yang diuji dengan waswas ini agar berpaling dari lintasan setan tersebut, memohon perlindungan kepada Allah Ta‘ala agar menghilangkannya, serta tidak terus mengikuti lintasan tersebut.

فالتمادي في الوسوسة لايقف عند حد، فلا تظنن أن علاج الوسواس هو تكرار الفعل أو تركه بالكلية.

Terus larut dalam waswas tidak akan berhenti pada suatu batas. Karena itu, janganlah engkau mengira bahwa pengobatan waswas adalah dengan mengulangi suatu perbuatan atau meninggalkannya sama sekali.

4- استحضار القلب والانتباه عند الفعل وتدبر ما هو فيه من فعل أو قول، فإنه إذا وثق من فعله وانتبه إلى قوله وعلم أن ما قام به هو المطلوب منه كان ذلك داعيا إلى عدم مجاراة الوسواس،

4- Menghadirkan hati, memperhatikan ketika melakukan suatu perbuatan, dan mencermati perbuatan atau ucapan yang sedang dilakukan. Apabila ia yakin terhadap perbuatannya, memperhatikan ucapannya, dan mengetahui bahwa apa yang dilakukannya adalah sesuatu yang dituntut darinya, hal itu akan menjadi pendorong baginya untuk tidak mengikuti waswas.

وإن عرض له فلا يسترسل معه، لأنه على يقين من أمره،

Apabila waswas tetap muncul, hendaknya ia tidak terus mengikutinya, karena ia telah berada di atas keyakinan mengenai apa yang dilakukannya.

ومن ذلك في الوضوء -مثلاً- أن يتوضأ من إناء فيه قدر ما يكفي للوضوء بلا زيادة، ويجاهد نفسه أن يكتفي به، فقد كان رسول الله صلى الله عليه وسلم يتوضأ بأقل منه،

Di antara penerapannya dalam wudhu, misalnya, adalah ia berwudhu dari sebuah wadah yang berisi air sekadar cukup untuk berwudhu tanpa tambahan. Ia berusaha keras melawan dirinya agar merasa cukup dengan jumlah tersebut, karena Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dahulu berwudhu dengan air yang lebih sedikit daripada itu.

وفي الصلاة يجتهد في متابعة الإمام حتى ولو خيل إليه أنه لم يأت الذكر المطلوب، وإذا قرأ الإمام ينصت له في الصلاة الجهرية وهكذا يحاول تدريب نفسه على هذه الحلول شيئا فشيئا،

Dalam shalat, ia bersungguh-sungguh mengikuti imam sekalipun terlintas dalam pikirannya bahwa ia belum mengucapkan dzikir yang seharusnya. Apabila imam membaca, ia mendengarkannya dalam shalat jahriyah. Demikianlah ia berusaha melatih dirinya menjalankan solusi-solusi tersebut sedikit demi sedikit.

واعلم أن علاج نفسك يكون بقوة العزيمة منك وإصلاح نفسك لأنه مهما كتب لك من كلام لن تنتفع به إلا إذا أخذته وطبقته بقوة وعملت بما أرشدت إليه، لا بما يمليه عليك الشيطان.

Ketahuilah bahwa pengobatan dirimu bergantung pada kuatnya tekadmu dan usahamu memperbaiki diri. Sebanyak apa pun penjelasan yang dituliskan untukmu, engkau tidak akan memperoleh manfaat darinya kecuali apabila engkau mengambilnya, menerapkannya dengan kuat, dan mengamalkan apa yang telah diarahkan kepadamu, bukan apa yang didiktekan setan kepadamu.

قال شيخ الإسلام ابن تيمية: والوسواس يعرض لكل من توجه إلى الله تعالى بذكر أو غيره، فينبغي للعبد أن يثبت ويصبر ويلازم ما هو فيه من الذكر والصلاة، ولا يضجر، فإنه بملازمة ذلك ينصرف عنه كيد الشيطان، إن كيد الشطان كان ضعيفا،

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah berkata: “Waswas dapat muncul kepada setiap orang yang menghadap kepada Allah Ta‘ala dengan dzikir atau ibadah lainnya. Karena itu, seorang hamba hendaknya tetap teguh, bersabar, dan terus menjalankan dzikir serta shalat yang sedang dilakukannya, dan jangan merasa jemu. Dengan terus melakukannya, tipu daya setan akan berpaling darinya. Sesungguhnya tipu daya setan itu lemah.”

وكلما أراد العبد توجها إلى الله تعالى بقلبه جاء من الوساوس أمور أخرى، فإن الشيطان بمنزلة قاطع الطريق، كلما أراد العبد أن يسير إلى الله تعالى أراد قطع الطريق عليه،

“Setiap kali seorang hamba hendak menghadapkan hatinya kepada Allah Ta‘ala, muncul berbagai bentuk waswas lainnya. Sesungguhnya setan bagaikan perampok di jalan. Setiap kali seorang hamba hendak berjalan menuju Allah Ta‘ala, setan berusaha memutus jalannya.”

ولهذا قيل لبعض السلف: إن اليهود والنصارى يقولون: لا نوسوس، فقال: صدقوا، وما يصنع الشيطان بالبيت الخرب.

“Karena itu, pernah dikatakan kepada sebagian Salaf: ‘Orang-orang Yahudi dan Nasrani mengatakan bahwa mereka tidak mengalami waswas.’ Ia menjawab: ‘Mereka benar. Apa yang akan dilakukan setan terhadap rumah yang telah rusak?'”

وإذا استسلم الشخص للوساوس ولم يقطعها فقد تجره إلى ما لا تحمد عقباه والعياذ بالله، ومن أفضل السبل إلى قطعها والتخلص منها: الاقتناع بأن التمسك بها اتباع للشيطان.

Apabila seseorang menyerah kepada berbagai waswas dan tidak menghentikannya, waswas tersebut dapat menyeretnya kepada akibat yang tidak terpuji — kita berlindung kepada Allah. Di antara jalan terbaik untuk menghentikan dan membebaskan diri darinya adalah meyakini bahwa berpegang pada waswas tersebut merupakan bentuk mengikuti setan.

وقد سئل ابن حجر الهيتمي رحمه الله عن داء الوسوسة هل له دواء؟ فأجاب: له دواء نافع وهو الإعراض عنها جملة كافية، وإن كان في النفس من التردد ما كان فإنه متى لم يلتفت لذلك لم يثبت، بل يذهب بعد زمن قليل، كما جرب ذلك الموفقون،

Ibnu Hajar Al-Haitami rahimahullah pernah ditanya tentang penyakit waswas, apakah ia memiliki obat? Ia menjawab: “Ia memiliki obat yang bermanfaat, yaitu berpaling darinya secara keseluruhan. Hal itu sudah mencukupi. Betapapun besarnya keraguan yang terdapat dalam diri, apabila seseorang tidak memedulikannya, keraguan tersebut tidak akan menetap, bahkan akan hilang setelah waktu yang singkat, sebagaimana telah dialami oleh orang-orang yang diberi taufiq.”

وأما من أصغى إليها وعمل بقضيتها فإنها لا تزال تزداد به حتى تخرجه إلى حيز المجانين، بل وأقبح منهم، كما شاهدناه في كثيرين ممن ابتلوا بها وأصغوا إليها وإلى شيطانها…

“Adapun orang yang mendengarkannya dan bertindak berdasarkan tuntutannya, maka waswas itu akan terus bertambah pada dirinya hingga mengeluarkannya ke dalam keadaan orang-orang gila, bahkan lebih buruk daripada mereka, sebagaimana telah kami saksikan pada banyak orang yang diuji dengannya lalu mendengarkan waswas tersebut dan setan yang membisikkan kepadanya…”

وجاء في الصحيحين ما يؤيد ما ذكرته وهو أن من ابتلي بالوسوسة فليستعذ بالله ولينته.

“Dalam Shahih Al-Bukhari dan Shahih Muslim terdapat riwayat yang menguatkan apa yang telah aku sebutkan, yaitu bahwa orang yang diuji dengan waswas hendaknya berlindung kepada Allah dan berhenti.”

فتأمل هذا الدواء النافع الذي علَّمه من لا ينطق عن الهوى لأمته.

Renungkanlah obat yang bermanfaat ini, yang diajarkan kepada umatnya oleh orang yang tidak berbicara berdasarkan hawa nafsu.

واعلم أن من حرمه حرم الخير كله، لأن الوسوسة من الشيطان اتفاقا، واللعين لا غاية لمراده إلا إيقاع المؤمن في وهدة الضلال والحيرة ونكد العيش وظلمة النفس وضجرها إلى أن يخرجه من الإسلام وهو لا يشعر.

“Ketahuilah bahwa siapa yang terhalang dari obat tersebut, maka ia terhalang dari seluruh kebaikan. Hal itu karena waswas berasal dari setan berdasarkan kesepakatan, sedangkan tujuan si terlaknat tidak lain adalah menjatuhkan orang beriman ke dalam jurang kesesatan, kebingungan, kesempitan hidup, kegelapan jiwa, dan kejenuhan, hingga akhirnya mengeluarkannya dari Islam tanpa ia sadari.”

إِنَّ الشَّيْطَانَ لَكُمْ عَدُوٌّ فَاتَّخِذُوهُ عَدُوًّا

“Sesungguhnya setan adalah musuh bagi kalian, maka jadikanlah ia sebagai musuh.”

ولا شك أن من استحضر طرائق رسل الله سيما نبينا صلى الله عليه وسلم وجد طريقته وشريعته سهلة واضحة بيضاء بينة، سهلة لا حرج فيها،

“Tidak diragukan lagi bahwa siapa yang memperhatikan jalan para rasul Allah, khususnya Nabi kita shallallahu ‘alaihi wa sallam, akan mendapati bahwa jalan dan syariat beliau mudah, jelas, terang, nyata, dan tidak terdapat kesulitan di dalamnya.”

وَمَا جَعَلَ عَلَيْكُمْ فِي الدِّينِ مِنْ حَرَجٍ

“Dan Dia tidak menjadikan bagi kalian kesulitan dalam agama.”

ومن تأمل ذلك وآمن به حق إيمانه ذهب عنه داء الوسوسة والإصغاء إلى شيطانها..

“Barang siapa merenungkan hal tersebut dan mengimaninya dengan sebenar-benarnya iman, penyakit waswas dan kecenderungan untuk mendengarkan setannya akan hilang darinya.”

وذكر العز بن عبد السلام وغيره نحو ما قدمته فقالوا: داء الوسوسة أن يعتقد أن ذلك خاطر شيطاني، وأن إبليس هو الذي أورده عليه، وأن يقاتله فيكون له ثواب المجاهد، لأنه يحارب عدو الله، فإذا استشعر ذلك فرَّ عنه،

Al-‘Izz bin ‘Abdussalam dan ulama lainnya menyebutkan penjelasan yang serupa dengan apa yang telah disebutkan. Mereka berkata: “Pengobatan penyakit waswas adalah dengan meyakini bahwa hal itu merupakan lintasan dari setan, bahwa Iblislah yang mendatangkannya kepadanya, dan bahwa ia harus memeranginya. Dengan demikian, ia memperoleh pahala seorang mujahid, karena ia sedang memerangi musuh Allah. Apabila ia menyadari hal tersebut, setan akan lari darinya.”

وأنه مما ابتلي به نوع الإنسان من أول الزمان وسلطه الله عليه محنة له ليحق الله الحق ويبطل الباطل ولو كره الكافرون..

“Waswas termasuk perkara yang dengannya manusia diuji sejak awal zaman. Allah memberikan kekuasaan kepada setan atas manusia sebagai ujian baginya, agar Allah menegakkan kebenaran dan membatalkan kebatilan, sekalipun orang-orang kafir membencinya.”

وبه تعلم صحة ما قدمته أن الوسوسة لا تسلط إلا على من استحكم عليه الجهل والخبل وصار لا تمييز له، وأما من كان على حقيقة العلم والعقل فإنه لا يخرج عن الاتباع ولا يميل إلى الابتداع..

“Dengan hal itu engkau mengetahui kebenaran apa yang telah aku sebutkan sebelumnya, bahwa waswas tidak menguasai kecuali orang yang kebodohan dan kekacauan telah kuat menguasainya sehingga ia tidak lagi mampu membedakan. Adapun orang yang berada di atas hakikat ilmu dan akal, ia tidak keluar dari sikap mengikuti tuntunan dan tidak condong kepada perbuatan mengada-adakan.”

ونقل النووي عن بعض العلماء أنه يستحب لمن بلي بالوسواس في الوضوء أو الصلاة أن يقول: لا إله إلا الله. فإن الشيطان إذا سمع الذكر خنس، أي تأخر وبعد، ولا إله إلا الله رأس الذكر. انتهى.

An-Nawawi menukil dari sebagian ulama bahwa disunnahkan bagi orang yang diuji dengan waswas dalam wudhu atau shalat untuk mengucapkan: لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ. Sesungguhnya apabila setan mendengar dzikir, ia akan mundur, yaitu menjauh dan berpaling. Dan لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ merupakan pokok dzikir. Selesai kutipan.

5- ومن أعظم الأسباب لعلاج الوسوسة هو مجالسة الصالحين وحضور مجالس العلم، والحذر من مجالسة أصحاب السوء أو الانفراد والانعزال عن الناس.

5- Di antara sebab terbesar untuk mengobati waswas adalah bergaul dengan orang-orang shalih dan menghadiri majelis-majelis ilmu, serta berhati-hati dari bergaul dengan teman-teman yang buruk atau menyendiri dan mengasingkan diri dari manusia.

6- عرض موضوعك على أحد المشايخ أو طلبة العلم في بلدك والأخذ بنصائحه وتوجيهاته.

6- Menyampaikan permasalahanmu kepada salah seorang syaikh atau penuntut ilmu di negerimu, kemudian mengambil nasihat dan arahannya.

وفقنا الله وإياك لما يحبه ويرضاه.

Semoga Allah memberikan taufiq kepada kami dan kepadamu untuk melakukan apa yang Dia cintai dan ridhai.

والله أعلم.

Wallahu a’lam.

Sumber : IslamWeb



Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*


This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.