الشعور بضعف المراقبة أحياناً لا يخلو منه أحد
Perasaan Lemah dalam Muraqabah Terkadang Tidak Terlepas dari Siapa Pun
Alih Bahasa : Reza Ervani bin Asmanu
Artikel Perasaan Lemah dalam Muraqabah Terkadang Tidak Terlepas dari Siapa Pun ini masuk dalam Kategori Tanya Jawab Aqidah
السؤال:
Pertanyaan:
أحس أني منافق أو مراءٍ، بعض الأحيان أكون ملتزماً وبعدها أكون حاجة غريبة؟
Saya merasa bahwa saya adalah seorang munafik atau orang yang berbuat riya’. Terkadang saya berada dalam keadaan taat dan berpegang teguh, kemudian setelah itu keadaan saya menjadi sesuatu yang aneh?
الإجابــة:
Jawaban :
الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله وعلى آله وصحبه أما بعد:
Segala puji bagi Allah, shalawat serta salam semoga tercurah kepada Rasulullah, keluarga, dan para shahabatnya. Amma ba‘du:
فقد سبق تقسيم النفاق في الفتوى الأخرى هنا إلى قسمين، وبالرجوع إلى ذلك التقسيم وحصر النفاق فيه يتبين للسائل أن النفاق أمر وجودي: إما عقدي، وإما عملي، وليس مجرد إحساس أو وساوس.
Pembagian nifaq telah dijelaskan sebelumnya dalam fatwa lainnya di sini menjadi dua bagian.
Dengan merujuk kepada pembagian tersebut dan membatasi pengertian nifaq pada dua bagian itu, menjadi jelas bagi penanya bahwa nifaq adalah sesuatu yang benar-benar terwujud: bisa berupa nifaq dalam aqidah atau nifaq dalam amal, dan bukan sekadar perasaan atau waswas.
وعليه؛ فإذا كان السائل متلبساً بأحد النوعين المذكورين في السؤال – لا قدر الله – فليبادر بالتوبة منه إلى الله عز وجل، وقد ذكرنا علاج من ابتلي بصفة من صفات المنافقين في الفتوى الأخرى هنا.
Berdasarkan hal itu, apabila penanya benar-benar terjerumus dalam salah satu dari dua jenis yang disebutkan tersebut — semoga Allah tidak menakdirkannya — hendaknya ia segera bertobat darinya kepada Allah ‘Azza wa Jalla. Kami juga telah menyebutkan cara mengatasi keadaan orang yang diuji dengan salah satu sifat orang-orang munafik dalam fatwa lainnya di sini :
أما إذا كان ما يشعر به السائل هو مجرد شعور بضعف في المراقبة، أو نقص في كمال التوجه إلى الله تعالى، فهذا أمر لا يسلم منه أحد، وقد اشتكى منه أصحاب النبي صلى الله عليه وسلم عندما شعروا به، ففي الحديث الذي يرويه مسلم في صحيحه عن حنظلة الأسيدي قال:
Adapun apabila yang dirasakan oleh penanya hanyalah perasaan lemah dalam muraqabah, atau adanya kekurangan dalam kesempurnaan menghadapkan diri kepada Allah Ta‘ala, maka perkara seperti ini tidak seorang pun benar-benar terbebas darinya. Para shahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pun pernah mengadukannya ketika mereka merasakannya. Dalam hadits yang diriwayatkan Muslim dalam Shahih-nya, dari Hanzhalah Al-Usaidi, ia berkata:
لقيني أبو بكر فقال: كيف أنت يا حنظلة؟ قلت: نافق حنظلة! قَالَ: سُبْحَانَ اللَّهِ! مَا تَقُولُ. قَالَ: قُلْتُ: نَكُونُ عِنْدَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُذَكِّرُنَا بِالنَّارِ وَالْجَنَّةِ حَتَّى كَأَنَّا رَأْيُ عَيْنٍ، فَإِذَا خَرَجْنَا مِنْ عِنْدِ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَافَسْنَا الْأَزْوَاجَ وَالْأَوْلَادَ وَالضَّيْعَاتِ فَنَسِينَا كَثِيرًا. قَالَ أَبُو بَكْرٍ: فَوَاللَّهِ إِنَّا لَنَلْقَى مِثْلَ هَذَا. فَانْطَلَقْتُ أَنَا وَأَبُو بَكْرٍ حَتَّى دَخَلْنَا عَلَى رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ. قُلْتُ: نَافَقَ حَنْظَلَةُ يَا رَسُولَ اللَّهِ. فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: “وَمَا ذَاكَ” . قُلْتُ: يَا رَسُولَ اللَّهِ؛ نَكُونُ عِنْدَكَ تُذَكِّرُنَا بِالنَّارِ وَالْجَنَّةِ حَتَّى كَأَنَّا رَأْيُ عَيْنٍ، فَإِذَا خَرَجْنَا مِنْ عِنْدِكَ عَافَسْنَا الْأَزْوَاجَ وَالْأَوْلَادَ وَالضَّيْعَاتِ نَسِينَا كَثِيرًا. فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: “وَالَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ إِنْ لَوْ تَدُومُونَ عَلَى مَا تَكُونُونَ عِنْدِي وَفِي الذِّكْرِ لَصَافَحَتْكُمْ الْمَلَائِكَةُ عَلَى فُرُشِكُمْ وَفِي طُرُقِكُمْ، وَلَكِنْ يَا حَنْظَلَةُ سَاعَةً وَسَاعَةً، ثَلَاثَ مَرَّات”.
“Abu Bakar menemuiku lalu berkata: ‘Bagaimana keadaanmu, wahai Hanzhalah?’ Aku menjawab: ‘Hanzhalah telah menjadi munafik!’ Ia berkata: ‘Subhanallah! Apa yang engkau katakan?’ Aku berkata: ‘Ketika kami berada di sisi Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau mengingatkan kami tentang neraka dan surga sampai seakan-akan kami melihat keduanya dengan mata kepala sendiri. Namun ketika kami keluar dari sisi Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, kami sibuk bersama istri-istri, anak-anak, dan harta benda, sehingga kami banyak lupa.’ Abu Bakar berkata: ‘Demi Allah, sungguh kami juga mengalami keadaan seperti ini.’ Maka aku dan Abu Bakar pergi hingga kami masuk menemui Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Aku berkata: ‘Hanzhalah telah menjadi munafik, wahai Rasulullah.’ Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: ‘Apa maksudnya?’ Aku berkata: ‘Wahai Rasulullah, ketika kami berada di sisi Anda, Anda mengingatkan kami tentang neraka dan surga sampai seakan-akan kami melihat keduanya dengan mata kepala sendiri. Namun ketika kami keluar dari sisi Anda, kami sibuk bersama istri-istri, anak-anak, dan harta benda, sehingga kami banyak lupa.’ Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: ‘Demi Dzat yang jiwaku berada di tangan-Nya, seandainya kalian terus-menerus berada dalam keadaan sebagaimana ketika kalian bersamaku dan dalam berdzikir, niscaya para malaikat akan menjabat tangan kalian di atas tempat tidur kalian dan di jalan-jalan kalian. Akan tetapi, wahai Hanzhalah, ada saatnya begini dan ada saatnya begitu.’ Beliau mengucapkannya tiga kali.”
معناه لا يكون الرجل منافقاً إذا يكون في وقت على الحضور، وفي وقت على الفتور.
Maknanya, seseorang tidak menjadi munafik hanya karena pada suatu waktu ia berada dalam keadaan hati yang hadir dan kuat, sedangkan pada waktu yang lain ia mengalami futur.
أما الرياء فهو طلب المنزلة في قلوب الناس بإراءاتهم خصال الخير، وهو من الشرك، ففي مسند الإمام أحمد أن رسول الله صلى الله عليه وسلم قال:
Adapun riya’ adalah mencari kedudukan di dalam hati manusia dengan memperlihatkan kepada mereka berbagai sifat atau perbuatan baik. Riya’ termasuk bagian dari syirik. Dalam Musnad Imam Ahmad disebutkan bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
إن أخوف من أخاف عليكم الشرك الأصغر.
“Sesungguhnya perkara yang paling aku khawatirkan atas kalian adalah syirik kecil.”
قالوا: وما الشرك الأصغر يا رسول الله؟ قال: الرياء…
“Mereka bertanya: ‘Apakah syirik kecil itu, wahai Rasulullah?’ Beliau menjawab: ‘Riya’…'”
لذا فيجب على من اتصف به أن يتوب إلى الله تعالى منه، وأن يخلص في عبادته لله عز وجل، فهو وحده الذي يجزي على العبادة، ويرحم بها، ففي الحديث المتقدم يقول الله عز وجل لهم يوم القيامة – يعني المراءين – إذا جزى الناس بأعمالهم:
Karena itu, orang yang memiliki sifat tersebut wajib bertobat kepada Allah Ta‘ala darinya dan mengikhlaskan ibadahnya hanya untuk Allah ‘Azza wa Jalla, sebab hanya Dia yang memberikan balasan atas ibadah dan memberikan rahmat dengannya. Dalam hadits yang telah disebutkan sebelumnya, Allah ‘Azza wa Jalla berfirman kepada mereka pada Hari Kiamat — yakni orang-orang yang berbuat riya’ — ketika manusia telah diberi balasan atas amal-amal mereka:
اذهبوا إلى الذين كنتم تراءون في الدنيا، فانظروا هل تجدون عندهم جزاء؟!
“Pergilah kepada orang-orang yang dahulu kalian berbuat riya’ kepada mereka di dunia, lalu lihatlah apakah kalian mendapatkan balasan di sisi mereka?”
والله أعلم.
Wallahu a’lam.
Sumber : IslamWeb
Leave a Reply