Qadariyah: Aqidah Mereka dan Bantahan terhadap Mereka



القدرية….عقيدتهم….والرد عليهم

Qadariyah: Aqidah Mereka dan Bantahan terhadap Mereka

Alih Bahasa : Reza Ervani bin Asmanu

Artikel Qadariyah: Aqidah Mereka dan Bantahan terhadap Mereka ini masuk dalam Kategori Tanya Jawab Aqidah

السؤال:

Pertanyaan:

ما هو قول القدرية؟ وكيف يمكن الرد عليهم؟

Apa pendapat kaum Qadariyah? Bagaimana cara membantah mereka?

هناك من يقولون إن إرادة الإنسان وقوة روحه أو قوة تركيزه أو عزيمته هي وحدها المؤثرة . كيف يمكن الرد على هؤلاء؟

Ada orang-orang yang mengatakan bahwa kehendak manusia, kekuatan jiwanya, kekuatan konsentrasinya, atau tekadnya sajalah yang memberikan pengaruh. Bagaimana cara membantah mereka?

هناك من يربطون بين هذا وبين قول الرسول صلى الله عليه وسلم ( ادعوا الله وأنتم موقنون بالإجابة)

Ada pula orang-orang yang mengaitkan hal tersebut dengan sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam: ادْعُوا اللَّهَ وَأَنْتُمْ مُوقِنُونَ بِالْإِجَابَةِ — “Berdoalah kepada Allah dalam keadaan kalian yakin akan dikabulkan.”

ويقولون إن الدعاء لا يفيد ولكن اليقين(الإرادة) هي التي تؤثر ويجعلون المسلمين كمن كانوا يعبدون الأصنام. كيف يمكن الرد على هؤلاء؟

Mereka mengatakan bahwa doa tidak memberikan manfaat, tetapi keyakinan — yang mereka maksud sebagai kehendak — itulah yang memberikan pengaruh. Mereka juga menyamakan kaum Muslimin dengan orang-orang yang dahulu menyembah berhala. Bagaimana cara membantah mereka?

الإجابــة:

Jawaban :

الحمد لله، والصلاة والسلام على رسول الله، وعلى آله وصحبه، أما بعد: ‏

Segala puji bagi Allah, shalawat serta salam semoga tercurah kepada Rasulullah, keluarga, dan para shahabatnya. Amma ba‘du:

فإن القدرية هم نفاة القدر، الذين يقولون: لا قدر والأمر أنف، أي مستأنف، وهذا ‏نفي لعلم الله تعالى السابق، واعتقاد أن الله لا يعلم الأشياء إلا بعد حدوثها.‏

Sesungguhnya Qadariyah adalah orang-orang yang menafikan qadar. Mereka mengatakan: “Tidak ada qadar, dan segala perkara itu baru bermula,” yaitu baru terjadi tanpa ketetapan sebelumnya. Ini merupakan penafian terhadap ilmu Allah Ta‘ala yang terdahulu dan keyakinan bahwa Allah tidak mengetahui sesuatu kecuali setelah sesuatu itu terjadi.

وهذا قول بين الضلال، وهو كفر بالله تعالى، وتكذيب للمعلوم من الدين بالضرورة.‏

Ini merupakan pendapat yang nyata kesesatannya, merupakan kekufuran kepada Allah Ta‘ala, dan pendustaan terhadap perkara agama yang diketahui secara pasti.

والمعتقد الصحيح الذي تضافرت عليه أدلة الكتاب والسنة إثبات علم الله تعالى ‏السابق، وأنه كتب مقادير الخلائق جميعاً قبل أن يخلقهم، وأنه لا يقع في كونه إلا ما ‏شاء وأراد.‏

Keyakinan yang benar, yang didukung oleh berbagai dalil dari Al-Qur’an dan Sunnah, adalah menetapkan ilmu Allah Ta‘ala yang terdahulu, bahwa Dia telah menuliskan takdir seluruh makhluk sebelum menciptakan mereka, dan bahwa tidak ada sesuatu pun yang terjadi di alam-Nya kecuali apa yang Dia kehendaki dan inginkan.

قال تعالى:

Allah Ta‘ala berfirman:

إِنَّا كُلَّ شَيْءٍ خَلَقْنَاهُ بِقَدَرٍ [القمر:49]

“Sesungguhnya Kami menciptakan segala sesuatu dengan qadar.” [Al-Qamar: 49]

وقال:

Dan Dia berfirman:

مَا أَصَابَ مِنْ مُصِيبَةٍ فِي الْأَرْضِ وَلا فِي أَنْفُسِكُمْ إِلَّا فِي كِتَابٍ مِنْ قَبْلِ أَنْ ‏نَبْرَأَهَا إِنَّ ذَلِكَ عَلَى اللَّهِ يَسِيرٌ [الحديد:22]

“Tidak ada suatu musibah pun yang menimpa di bumi dan tidak pula pada diri kalian melainkan telah tertulis dalam sebuah Kitab sebelum Kami mewujudkannya. Sesungguhnya yang demikian itu mudah bagi Allah.” [Al-Hadid: 22]

وقال:

Dan Dia berfirman:

فَمَنْ يُرِدِ اللَّهُ أَنْ يَهْدِيَهُ يَشْرَحْ ‏صَدْرَهُ لِلإِسْلامِ وَمَنْ يُرِدْ أَنْ يُضِلَّهُ يَجْعَلْ صَدْرَهُ ضَيِّقاً حَرَجاً كَأَنَّمَا يَصَّعَّدُ فِي السَّمَاءِ ‏كَذَلِكَ يَجْعَلُ اللَّهُ الرِّجْسَ عَلَى الَّذِينَ لا يُؤْمِنُونَ [الأنعام:125]

“Barang siapa yang Allah kehendaki untuk diberi petunjuk, Dia melapangkan dadanya untuk menerima Islam. Dan barang siapa yang Dia kehendaki untuk disesatkan, Dia menjadikan dadanya sempit lagi sesak, seakan-akan ia sedang mendaki ke langit. Demikianlah Allah menimpakan kotoran kepada orang-orang yang tidak beriman.” [Al-An‘am: 125]

إلى غير ذلك من ‏الآيات البينات.‏

Dan masih banyak ayat yang jelas lainnya.

وروى مسلم من حديث عبد الله بن عمرو بن العاص رضي الله عنهما قال: سمعت ‏رسول الله صلى الله عليه وسلم يقول:

Muslim meriwayatkan dari hadits ‘Abdullah bin ‘Amr bin Al-‘Ash radhiyallahu ‘anhuma, ia berkata: Aku mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

كتب الله مقادير الخلائق قبل أن يخلق ‏السموات والأرض بخمسين ألف سنة، قال: وكان عرشه على الماء

“Allah telah menuliskan takdir seluruh makhluk lima puluh ribu tahun sebelum Dia menciptakan langit dan bumi.”

Ia berkata: “Dan ‘Arsy-Nya berada di atas air.”

وفي الصحيحين ‏‏-وهذا لفظ مسلم – عن علي رضي الله عنه قال: قال رسول الله صلى الله عليه ‏وسلم:

Dalam Shahih Al-Bukhari dan Shahih Muslim — dan ini adalah lafaz Muslim — dari ‘Ali radhiyallahu ‘anhu, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

ما منكم من نفس إلا وقد علم منزلها من الجنة والنار

“Tidak ada satu jiwa pun di antara kalian melainkan telah diketahui tempatnya di surga atau neraka.”

قالوا: يا رسول الله ‏فلم نعمل؟ أفلا نتكل؟ قال:

Mereka berkata: “Wahai Rasulullah, lalu untuk apa kita beramal? Tidakkah kita cukup bersandar saja?” Beliau bersabda:

لا، اعملوا فكل ميسر لما خلق له

“Tidak. Beramallah, karena setiap orang dimudahkan untuk apa yang ia diciptakan.”

ثم قرأ:

Kemudian beliau membaca:

فَأَمَّا مَنْ ‏أَعْطَى وَاتَّقَى * وَصَدَّقَ بِالْحُسْنَى

“Adapun orang yang memberikan hartanya dan bertakwa, serta membenarkan yang terbaik…”

إلى قوله:

Hingga firman-Nya:

فَسَنُيَسِّرُهُ لِلْعُسْرَى

“Maka Kami akan memudahkannya menuju kesulitan.”

وروى أبو داود في سننه أن عبادة بن الصامت رضي الله عنه قال لابنه: يا بني إنك لن ‏تجد طعم حقيقة الإيمان حتى تعلم أن ما أصابك لم يكن ليخطئك، وما أخطأك لم يكن ‏ليصيبك،

Abu Dawud meriwayatkan dalam Sunan-nya bahwa ‘Ubadah bin Ash-Shamit radhiyallahu ‘anhu berkata kepada anaknya: “Wahai anakku, engkau tidak akan merasakan nikmatnya hakikat keimanan sampai engkau mengetahui bahwa apa yang menimpamu tidak mungkin luput darimu, dan apa yang luput darimu tidak mungkin menimpamu.”

سمعت رسول الله صلى الله عليه وسلم يقول:

Aku mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

إن أول ما خلق الله القلم، ‏فقال له: اكتب مقادير كل شيء حتى تقوم الساعة

“Sesungguhnya yang pertama kali Allah ciptakan adalah pena, lalu Dia berfirman kepadanya: ‘Tulislah takdir segala sesuatu sampai Hari Kiamat tiba.'”

يا بني سمعت رسول الله صلى الله ‏عليه وسلم يقول:

“Wahai anakku, aku mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:”

من مات على غير هذا فليس مني

“Barang siapa meninggal di atas keyakinan selain ini, maka ia bukan bagian dariku.”

وقد ورد في السنة أحاديث عن نبينا صلى الله عليه وسلم في ذم القدرية ووصفهم بأنهم ‏مجوس هذه الأمة، وهي وإن كانت لا تخلو من مقال، إلا أن بعضها يصل إلى درجة ‏الحسن، منها:

Dalam Sunnah juga terdapat sejumlah hadits dari Nabi kita shallallahu ‘alaihi wa sallam yang mencela Qadariyah dan menyebut mereka sebagai Majusi umat ini. Meskipun hadits-hadits tersebut tidak terlepas dari pembicaraan mengenai derajatnya, sebagian di antaranya mencapai derajat hasan. Di antaranya:

عن ابن عمر رضي الله عنهما أن رسول الله صلى الله عليه وسلم قال:

Dari Ibnu ‘Umar radhiyallahu ‘anhuma, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

القدرية مجوس هذه الأمة، إن مرضوا فلا تعودوهم، وإن ماتوا فلا تشهدوهم

“Qadariyah adalah Majusi umat ini. Jika mereka sakit, janganlah kalian menjenguk mereka, dan jika mereka meninggal, janganlah kalian menghadiri mereka.”

رواه ‏أبو داود، ورمز له السيوطي بعلامة الصحة، وحسنه الألباني في صحيح الجامع.

Hadits ini diriwayatkan Abu Dawud. As-Suyuthi memberinya tanda shahih, dan Al-Albani menilainya hasan dalam Shahih Al-Jami‘.

وأول ‏من قال بالقدر: معبد الجهني البصري في أواخر عهد الصحابة، وأخذ عنه غيلان ‏الدمشقي،

Orang pertama yang mengemukakan pendapat tentang qadar tersebut adalah Ma‘bad Al-Juhani Al-Bashri pada akhir masa para shahabat, dan Ghailan Ad-Dimasyqi mengambil pendapat itu darinya.

وقد تبرأ منهم من سمع بهم من الصحابة كعبد الله بن عمر وأبي هريرة وابن ‏عباس وأنس بن مالك وعبد الله بن أوفى وعقبة بن عامر الجهني وغيرهم.‏

Para shahabat yang mendengar tentang mereka berlepas diri dari mereka, seperti ‘Abdullah bin ‘Umar, Abu Hurairah, Ibnu ‘Abbas, Anas bin Malik, ‘Abdullah bin Abi Aufa, ‘Uqbah bin ‘Amir Al-Juhani, dan yang lainnya.

وفي صحيح مسلم عن يحي بن يعمر قال: كان أول من قال بالقدر بالبصرة معبد ‏الجهني فانطلقت أنا وحميد بن عبد الرحمن الحميري حاجين أو معتمرين فقلنا: لو لقينا ‏أحداً من أصحاب الرسول صلى الله عليه وسلم فسألنا عما يقول هؤلاء في القدر،

Dalam Shahih Muslim, dari Yahya bin Ya‘mar, ia berkata: “Orang pertama yang berbicara tentang qadar di Bashrah adalah Ma‘bad Al-Juhani. Lalu aku dan Humaid bin ‘Abdurrahman Al-Himyari berangkat untuk menunaikan haji atau umrah. Kami berkata: ‘Seandainya kita bertemu salah seorang shahabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, kita akan bertanya kepadanya tentang apa yang dikatakan orang-orang tersebut mengenai qadar.'”

فوفق لنا عبد الله بن عمر بن الخطاب… فقلت: أبا عبد الرحمن، إنه قد ظهر قبلنا ‏ناس يقرؤون القرآن ويتقفرون العلم، وذكر شأنهم وأنهم يزعمون أن لا قدر وأن الأمر ‏أنف.

“Lalu kami dipertemukan dengan ‘Abdullah bin ‘Umar bin Al-Khaththab…. Aku berkata: ‘Wahai Abu ‘Abdurrahman, telah muncul di tempat kami orang-orang yang membaca Al-Qur’an dan mendalami ilmu.’ Kemudian ia menceritakan keadaan mereka, bahwa mereka menganggap tidak ada qadar dan bahwa segala perkara baru bermula.”

قال: فإذا لقيت أولئك فأخبرهم أني بريئ منهم وأنهم برآء مني، والذي يحلف به ‏عبد الله بن عمر: لو أن لأحدهم مثل أحد ذهباً فأنفقه ما قبل الله منه حتى يؤمن ‏بالقدر”.‏

Ia berkata: “Apabila engkau bertemu mereka, beritahukan kepada mereka bahwa aku berlepas diri dari mereka dan mereka berlepas diri dariku. Demi Dzat yang dengannya ‘Abdullah bin ‘Umar bersumpah, seandainya salah seorang dari mereka memiliki emas sebesar Gunung Uhud lalu menginfakkannya, Allah tidak akan menerimanya sampai ia beriman kepada qadar.”

ومع إثبات أهل السنة والجماعة للقدر، فإنهم يرون للإنسان اختياراً وإرادة هي مناط ‏التكليف، والعبد وإرادته مخلوقات لله تعالى،

Meskipun Ahlus Sunnah wal Jama‘ah menetapkan qadar, mereka juga berpandangan bahwa manusia memiliki pilihan dan kehendak yang menjadi dasar pembebanan syariat. Hamba beserta kehendaknya adalah makhluk ciptaan Allah Ta‘ala.

وهذا ما أثبته القرآن الكريم وصرحت به ‏السنة النبوية، كقوله تعالى: ( لمن شاء منكم أن يستقيم) وقوله تعالى: ( فمن شاء ‏فليؤمن ومن شاء فليكفر) وقوله: ( وما تشاؤون إلا أن يشاء الله )

Inilah yang ditetapkan oleh Al-Qur’an dan ditegaskan oleh Sunnah Nabi, seperti firman Allah Ta‘ala:

لِمَنْ شَاءَ مِنْكُمْ أَنْ يَسْتَقِيمَ

“Bagi siapa di antara kalian yang berkehendak menempuh jalan yang lurus.”

فَمَنْ شَاءَ فَلْيُؤْمِنْ وَمَنْ شَاءَ فَلْيَكْفُرْ

“Barang siapa berkehendak, hendaklah ia beriman; dan barang siapa berkehendak, hendaklah ia kafir.”

وَمَا تَشَاؤُونَ إِلَّا أَنْ يَشَاءَ اللَّهُ

“Dan kalian tidak dapat berkehendak kecuali apabila Allah menghendaki.”

وقد سبق بيان ‏ذلك مفصلاً في عدة فتاوى، يمكنك الإطلاع عليها من خلال البحث الموضوعي: ‏العقيدة/ أركان الإيمان /الإيمان بالقدر.

Penjelasan terperinci mengenai hal tersebut telah disebutkan sebelumnya dalam beberapa fatwa. Anda dapat melihatnya melalui pencarian berdasarkan tema: Aqidah / Rukun Iman / Iman kepada Qadar.

ومن هذا يعلم بطلان قول من يقول إن إرادة الإنسان وقوة روحه أو قوة تركيزه أو ‏عزيمته هي وحدها المؤثرة، فإنه لا يقع في كون الله تعالى إلا ما يشاؤه، ولا يستطيع ‏العبد أن يفعل شيئاً إلا إذا أراد الله تعالى ذلك،

Dari sini dapat diketahui kebatilan perkataan orang yang mengatakan bahwa kehendak manusia, kekuatan jiwanya, kekuatan konsentrasinya, atau tekadnya sajalah yang memberikan pengaruh. Sesungguhnya tidak ada sesuatu pun yang terjadi di alam Allah Ta‘ala kecuali apa yang Dia kehendaki, dan seorang hamba tidak mampu melakukan sesuatu kecuali apabila Allah Ta‘ala menghendaki hal tersebut.

كما في الآية السابقة:

Sebagaimana dalam ayat yang telah disebutkan sebelumnya:

لِمَنْ شَاءَ مِنْكُمْ أَنْ يَسْتَقِيمَ * وَمَا تَشَاؤُونَ إِلَّا أَنْ يَشَاءَ اللَّهُ رَبُّ الْعَالَمِينَ [التكوير:28،29]

“Bagi siapa di antara kalian yang berkehendak menempuh jalan yang lurus. Dan kalian tidak dapat berkehendak kecuali apabila Allah, Rabb seluruh alam, menghendaki.” [At-Takwir: 28-29]

فأثبت ‏للعبد مشيئة، وأخبر أنها لا تؤثر ولا تنفذ إلا بعد مشيئة الله تعالى، لكن العبد فاعل ‏لفعله حقيقة، ولهذا يحاسب عليه ويجازى. ‏

Ayat tersebut menetapkan adanya kehendak bagi seorang hamba, dan memberitahukan bahwa kehendak itu tidak memberikan pengaruh serta tidak terlaksana kecuali setelah adanya kehendak Allah Ta‘ala. Namun seorang hamba benar-benar merupakan pelaku dari perbuatannya. Karena itulah ia dimintai pertanggungjawaban dan diberi balasan atas perbuatannya.

وأما اشتراط اليقين لإجابة الدعاء فهو كاشتراط طيب المطعم والملبس، وكاشتراط ‏خلو الدعاء من الإثم وقطيعة الرحم،

Adapun disyaratkannya keyakinan untuk terkabulnya doa, maka hal itu seperti disyaratkannya makanan dan pakaian yang baik, serta seperti disyaratkannya doa terbebas dari dosa dan pemutusan hubungan kekerabatan.

فحضور القلب ويقين الداعي بأن الله سيجبيه ‏سبب لقبول الدعاء، وهو من إحسان الظن بالله تعالى، والله عند ظن عبده به،

Kehadiran hati dan keyakinan orang yang berdoa bahwa Allah akan mengabulkan doanya merupakan salah satu sebab diterimanya doa. Hal tersebut termasuk berbaik sangka kepada Allah Ta‘ala, dan Allah memperlakukan hamba-Nya sesuai dengan prasangkanya kepada-Nya.

وقد ‏سبق بيان ذلك تحت الفتوى الأخرى هنا.

Penjelasan mengenai hal tersebut telah disebutkan sebelumnya dalam fatwa lainnya di sini :

وقولهم: الدعاء لا يفيد والمفيد إنما هو اليقين أو الإرادة، خطأ واضح، فإن اليقين هنا ‏يراد به أن تتيقن أن الله سيجيب دعاءك، وهذا لا يكون إلا حيث وجد الدعاء.‏

Perkataan mereka bahwa doa tidak memberikan manfaat dan yang memberikan manfaat hanyalah keyakinan atau kehendak merupakan kesalahan yang nyata. Sebab yang dimaksud dengan keyakinan di sini adalah engkau meyakini bahwa Allah akan mengabulkan doamu, dan hal tersebut tidak mungkin ada kecuali apabila doa itu sendiri ada.

ولا وجه لتشبيه المسلم الموحد الذي يفرد الله تعالى بالعبادة ويعتقد أنه الخالق المالك ‏الذي لا يقع في ملكه إلا ما أراد، لا وجه لتشبيه هذا المسلم بعابد الصنم.‏

Tidak ada alasan untuk menyamakan seorang Muslim yang bertauhid, yang mengesakan Allah Ta‘ala dalam ibadah dan meyakini bahwa Dia adalah Sang Pencipta dan Sang Pemilik, yang tidak terjadi dalam kerajaan-Nya kecuali apa yang Dia kehendaki, dengan seorang penyembah berhala.

وعباد الأصنام كانوا يثبتون القدر، ولكنهم كانوا يحتجون به على جواز الشرك ‏والانحراف، كما قال تعالى:

Para penyembah berhala dahulu menetapkan adanya qadar, tetapi mereka menjadikannya sebagai dalih untuk membenarkan syirik dan penyimpangan, sebagaimana Allah Ta‘ala berfirman:

سَيَقُولُ الَّذِينَ أَشْرَكُوا لَوْ شَاءَ اللَّهُ مَا أَشْرَكْنَا وَلَا آبَاؤُنَا [الأنعام:148]

“Orang-orang yang mempersekutukan Allah akan berkata: ‘Seandainya Allah menghendaki, niscaya kami dan nenek moyang kami tidak akan mempersekutukan-Nya.'” [Al-An‘am: 148]

والاحتجاج بالقدر على الذنوب والآثام باطل، فإن المشرك يفعل هذا ‏الباطل باختياره، لا يشعر أن أحداً يجبره عليه،

Menjadikan qadar sebagai dalih atas dosa dan kemaksiatan adalah batil. Sesungguhnya orang musyrik melakukan kebatilan tersebut dengan pilihannya sendiri. Ia tidak merasa bahwa ada seseorang yang memaksanya untuk melakukannya.

فكان واجباً عليه أن يمتثل أمر ربه ‏بتوحيده وترك الإشراك به، وكل هذا في مقدوره وتحت وسعه،

Karena itu, wajib baginya menaati perintah Rabb-nya dengan mentauhidkan-Nya dan meninggalkan perbuatan mempersekutukan-Nya. Semua itu berada dalam kemampuan dan kesanggupannya.

وتجد تفصيلاً لهذا ‏الأمر فيما سبق من الفتاوى.‏

Anda dapat menemukan penjelasan terperinci mengenai perkara ini dalam fatwa-fatwa yang telah disebutkan sebelumnya.

والله أعلم. ‏

Wallahu a’lam.

Sumber : IslamWeb



Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*


This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.