القرآن نزل ليحكم بين الأحياء لا ليقرأ على الأموات
Al-Qur’an Diturunkan untuk Menjadi Hukum bagi Orang-Orang Hidup, Bukan untuk Dibacakan kepada Orang-Orang Mati
Alih Bahasa : Reza Ervani bin Asmanu
Artikel Al-Qur’an Diturunkan untuk Menjadi Hukum bagi Orang-Orang Hidup, Bukan untuk Dibacakan kepada Orang-Orang Mati ini masuk dalam Kategori Dr. Yusuf Qaradhawi
دستور إلهي
Konstitusi Ilahi
وانتقل د. القرضاوي إلى الحديث عن القرآن كدستور ينظم حياة الجماعات والشعوب فقال: إن القرآن جاء لينظم علاقة الإنسان بخالقه وعلاقة الإنسان بمجتمعه ودولته وعلاقة المجتمعات بعضها ببعض وعلاقة الدولة الإسلامية بغيرها من الدول والأمم.
Dr. al-Qaradhawi kemudian beralih membicarakan Al-Qur’an sebagai konstitusi yang mengatur kehidupan berbagai kelompok dan bangsa. Beliau berkata: Sesungguhnya Al-Qur’an datang untuk mengatur hubungan manusia dengan Penciptanya, hubungan manusia dengan masyarakat dan negaranya, hubungan antarmasyarakat, serta hubungan negara Islam dengan negara-negara dan umat-umat lainnya.
واستعرض فضيلته الخصائص التي ميزت القرآن كدستور إلهي عن غيره من الدساتير الوضعية المؤقتة فقال: إن القرآن دستور شامل يبين كل شيء قال تعالى:
Beliau memaparkan berbagai karakteristik yang membedakan Al-Qur’an sebagai konstitusi Ilahi dari konstitusi-konstitusi buatan manusia yang bersifat sementara. Beliau berkata: Sesungguhnya Al-Qur’an merupakan konstitusi yang menyeluruh, yang menjelaskan segala sesuatu. Allah Ta‘ala berfirman:
(ونزلنا عليك الكتاب تبياناً لكل شيء وهدى ورحمة وبشرى للمسلمين)
“Dan Kami turunkan kepadamu Kitab sebagai penjelasan bagi segala sesuatu, petunjuk, rahmat, dan kabar gembira bagi kaum muslimin.”
فهو يبين كل شيء بعلم وحكمة وقدرة رب كل شيء.
Maka Al-Qur’an menjelaskan segala sesuatu dengan ilmu, hikmah, dan kekuasaan Tuhan segala sesuatu.
وأوضح أن كون القرآن تبياناً لكل شيء لا يعني أنه يفصل الجزئيات ولكنه يضع القواعد الكلية والأحكام الأساسية التي تحتاج إليها الحياة ويفتقر إليها الفرد وتفتقر إليها الجماعة وتحتاج إليها الإنسانية.
Beliau menjelaskan bahwa Al-Qur’an menjadi penjelasan bagi segala sesuatu tidak berarti bahwa ia merinci seluruh perkara-perkara parsial, tetapi Al-Qur’an meletakkan kaidah-kaidah umum dan hukum-hukum mendasar yang dibutuhkan oleh kehidupan, dibutuhkan oleh individu, dibutuhkan oleh masyarakat, dan dibutuhkan oleh umat manusia.
وتأتي الخصائص التي تميز القرآن هي اليسر والإبانة فهو كتاب مبين
Karakteristik lain yang membedakan Al-Qur’an adalah kemudahan dan kejelasan. Ia merupakan Kitab yang menjelaskan:
(تلك آيات القرآن وكتاب مبين)
“Itulah ayat-ayat Al-Qur’an dan Kitab yang menjelaskan.”
ولكي يكون القرآن ذا بيان ووضوح يسره الله عز وجل للفهم والحفظ قال تعالى:
Agar Al-Qur’an memiliki penjelasan dan kejelasan, Allah ‘Azza wa Jalla memudahkannya untuk dipahami dan dihafalkan. Allah Ta‘ala berfirman:
(ولقد يسرنا القرآن للذكر فهل من مدكر)
“Dan sungguh telah Kami mudahkan Al-Qur’an untuk peringatan, maka adakah orang yang mau mengambil pelajaran?”
واستطرد الشيخ في بيان مظاهر تيسير القرآن في الفهم والحفظ فأشار إلى أنه لا يوجد كتاب في الدنيا يحفظه الملايين كما هو الحال مع القرآن، فالأناجيل لا يحفظها أحد حتى أكبر علماء المسيحية وقساوستها، والدساتير الوضعية لا يحفظها أحد، في حين يحفظ أطفال المسلمين القرآن الكريم رغم اختلاف ألسنتهم عرباً وعجماً.
Syaikh kemudian melanjutkan penjelasannya mengenai berbagai bentuk kemudahan Al-Qur’an dalam pemahaman dan hafalan. Beliau menunjukkan bahwa tidak ada kitab di dunia yang dihafalkan oleh jutaan orang sebagaimana Al-Qur’an. Kitab-kitab Injil tidak dihafalkan oleh seorang pun, bahkan oleh para ulama terbesar agama Kristen dan para pendetanya. Konstitusi-konstitusi buatan manusia pun tidak dihafalkan oleh seorang pun. Sementara itu, anak-anak kaum muslimin menghafalkan Al-Qur’an al-Karim meskipun bahasa mereka berbeda-beda, baik Arab maupun non-Arab.
والخصيصة الثالثة للقرآن كدستور إلهي إنه يمثل العدل المطلق عدل الله في أرض الله على عباد الله لم يضع طبقة معينة لتتحيز ضد طبقة لم يضعه الأغنياء ليتحيزوا ضد الفقراء ولم يضعه الرجال ليتحيزوا ضد النساء، ولم يضعه البيض لينتصروا على السود ولم يضعه الأقوياء ليبطشوا بالضعفاء وإنما وضعه رب الناس ملك الناس فكان يمثل العدل الإلهي.
Karakteristik ketiga Al-Qur’an sebagai konstitusi Ilahi adalah bahwa ia mewakili keadilan mutlak, yaitu keadilan Allah di bumi Allah terhadap hamba-hamba Allah. Ia tidak dibuat oleh suatu kelas tertentu agar berpihak melawan kelas lainnya. Ia tidak dibuat oleh orang-orang kaya agar berpihak melawan orang-orang miskin. Ia tidak dibuat oleh kaum laki-laki agar berpihak melawan kaum perempuan. Ia tidak dibuat oleh orang-orang kulit putih agar memenangkan mereka atas orang-orang kulit hitam. Ia tidak dibuat oleh orang-orang kuat agar dapat menindas orang-orang lemah. Akan tetapi, ia ditetapkan oleh Tuhan manusia, Raja manusia, sehingga ia mewakili keadilan Ilahi.
وفي معرض حديثه عن عدل القرآن ذكر الشيخ القرضاوي أن ذلك العدل جاء للمسلمين ولغير المسلمين وأشار إلى أن 9 آيات نزلت من السماء لتنصف يهوديا اتهمته جماعة من المسلمين ظلماً بالسرقة وكاد النبي صلى الله عليه وسلم أن يحكم ضده فنـزل قول الله تعالى:
Dalam pembicaraannya mengenai keadilan Al-Qur’an, Syaikh al-Qaradhawi menyebutkan bahwa keadilan tersebut berlaku bagi kaum muslimin maupun non-muslim. Beliau menunjukkan bahwa sembilan ayat turun dari langit untuk memberikan keadilan kepada seorang Yahudi yang dituduh secara zalim melakukan pencurian oleh sekelompok kaum muslimin, dan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam hampir menjatuhkan keputusan terhadapnya. Maka turunlah firman Allah Ta‘ala:
(إنا أنزلنا إليك الكتاب بالحق لتحكم بين الناس بما أراك الله ولا تكن للخائنين خصيماً ..)
“Sesungguhnya Kami telah menurunkan Kitab kepadamu dengan membawa kebenaran agar engkau mengadili antara manusia berdasarkan apa yang telah Allah perlihatkan kepadamu, dan janganlah engkau menjadi pembela bagi orang-orang yang berkhianat…”
إلى آخر الآيات.
Hingga akhir ayat-ayat tersebut.
وقارن بين عدل الله وعدل البشر فقال: إن العدل الإلهي مطلق لا ينحاز لأحد وعدل البشرية نسبي تحكمه الأهواء والميول والرغبات فتخرجه عن العدل.
Beliau membandingkan antara keadilan Allah dan keadilan manusia. Beliau berkata: Sesungguhnya keadilan Ilahi bersifat mutlak dan tidak berpihak kepada siapa pun, sedangkan keadilan manusia bersifat relatif, dikendalikan oleh hawa nafsu, kecenderungan, dan keinginan sehingga mengeluarkannya dari keadilan.
وآخر خصائص القرآن التي تحدث عنها د. القرضاوي هي: العموم والخلود والأبدية وفي ذلك المعنى أكد فضيلته أن القرآن دستور خالد ليس دستوراً لعام أو عامين ولا لقرن أو قرنين ولكنه دستور الأبد جاء للبشر في كل زمان ومكان، وهو رحمة للعالمين من حيث الامتداد المكاني وهو خالد من حيث الامتداد الزماني.
Karakteristik terakhir Al-Qur’an yang dibicarakan Dr. al-Qaradhawi adalah universalitas, kekekalan, dan keabadian. Dalam makna ini beliau menegaskan bahwa Al-Qur’an merupakan konstitusi yang kekal. Ia bukan konstitusi untuk satu atau dua tahun, bukan pula untuk satu atau dua abad, melainkan konstitusi untuk selama-lamanya, yang datang bagi manusia di setiap zaman dan tempat. Ia merupakan rahmat bagi seluruh alam dari sisi jangkauan tempat, dan bersifat kekal dari sisi jangkauan waktu.
وقال: إن القرآن رسالة امتدت طولاً حتى شملت الزمن وامتدت عرضاً حتى انتظمت آفاق الأمم وامتدت عمقاً حتى استوعبت شؤون الدنيا والآخرة.
Beliau berkata: Sesungguhnya Al-Qur’an adalah risalah yang memanjang hingga mencakup seluruh zaman, meluas hingga mencakup cakrawala berbagai umat, dan mendalam hingga mencakup urusan dunia dan akhirat.
واجبنا نحو القرآن
Kewajiban Kita terhadap Al-Qur’an
وخلص د. القرضاوي مما تقدم إلى أن القرآن دستور أنعم الله به على أمة الإسلام فيجب علينا أن نحمد الله عليه وأن نشكر الله على هذه النعمة والشكر يكون بالعمل بالقرآن والعمل للقرآن وأن نكون من أهل القرآن.
Dari uraian sebelumnya, Dr. al-Qaradhawi menyimpulkan bahwa Al-Qur’an merupakan konstitusi yang Allah anugerahkan kepada umat Islam. Karena itu, kita wajib memuji Allah atasnya dan bersyukur kepada Allah atas nikmat ini. Syukur tersebut diwujudkan dengan mengamalkan Al-Qur’an, bekerja untuk Al-Qur’an, dan menjadi bagian dari ahlul Qur’an.
واستطرد فضيلته موضحاً الفرق بين العمل بالقرآن والتبرك به فقال: إن بركة القرآن في اتباعه والعمل به وتلا قوله تعالى:
Beliau kemudian menjelaskan perbedaan antara mengamalkan Al-Qur’an dan sekadar mencari keberkahan dengannya. Beliau berkata: Sesungguhnya keberkahan Al-Qur’an terdapat pada mengikuti dan mengamalkannya. Kemudian beliau membaca firman Allah Ta‘ala:
(وهذا كتاب أنزلناه مبارك فاتبعوه واتقوا لعلكم ترحمون)
“Dan ini adalah Kitab yang telah Kami turunkan dengan penuh berkah, maka ikutilah ia dan bertakwalah agar kalian diberi rahmat.”
وذكر أنه ليس مهماً أن نقرأ القرآن على الأموات ولكن أن يحكم القرآن الأحياء وليس بركة القرآن في أن نعلقه “تميمة” وإنما لنقضي به في المحاكم بين الناس.
Beliau menyebutkan bahwa yang penting bukanlah kita membacakan Al-Qur’an kepada orang-orang mati, tetapi agar Al-Qur’an mengatur orang-orang hidup. Keberkahan Al-Qur’an bukan terletak pada menggantungkannya sebagai tamimah, melainkan agar dengannya kita memberikan keputusan di pengadilan di antara manusia.
وطالب المسلمين بأن يعطوا للقرآن حقه كما أعطته أمتنا في أول أمرها، وقال أن القرآن هو الذي غير أمة العرب من رعاة للغنم إلى سادة للأمم وبوأهم منـزلة الأستاذية للبشرية كلها.
Beliau menyeru kaum muslimin agar memberikan hak Al-Qur’an sebagaimana umat kita memberikannya pada masa-masa awal. Beliau mengatakan bahwa Al-Qur’anlah yang mengubah bangsa Arab dari para penggembala kambing menjadi para pemimpin bangsa-bangsa, serta menempatkan mereka pada kedudukan sebagai guru bagi seluruh umat manusia.
Alhamdulillah, selesai rangkaian artikel 2 (Dua) Seri
Sumber : Situs Dr. Yusuf al-Qaradhawi
Leave a Reply