القرآن نزل ليحكم بين الأحياء لا ليقرأ على الأموات
Al-Qur’an Diturunkan untuk Menjadi Hukum bagi Orang-Orang Hidup, Bukan untuk Dibacakan kepada Orang-Orang Mati (Bagian Pertama)
Alih Bahasa : Reza Ervani bin Asmanu
Artikel Al-Qur’an Diturunkan untuk Menjadi Hukum bagi Orang-Orang Hidup, Bukan untuk Dibacakan kepada Orang-Orang Mati ini masuk dalam Kategori Dr. Yusuf Qaradhawi
مقدمة
Pendahuluan
في بداية المحاضرة انتهز د. القرضاوي فرصة شهر رمضان ليهنئ الحضور بالشهر الفضيل وقال: إن شهر رمضان هو شهر القرآن كان النبي صلى الله عليه وسلم يتدارس فيه القرآن مع جبريل أمين الوحي، ينـزل عليه في كل رمضان كما روى ابن عباس فيدارسه القرآن، وقال: ليس المهم أن نتلو القرآن ولكن المهم التدارس وجاء في الحديث الصحيح الذي رواه الإمام مسلم أن النبي عليه الصلاة والسلام قال:
Pada awal ceramah, Dr. al-Qaradhawi memanfaatkan momentum bulan Ramadhan untuk mengucapkan selamat kepada para hadirin atas datangnya bulan yang mulia. Beliau berkata: Sesungguhnya bulan Ramadhan adalah bulan Al-Qur’an. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mempelajari Al-Qur’an bersama Jibril, malaikat yang dipercaya membawa wahyu. Jibril turun menemui beliau pada setiap bulan Ramadhan, sebagaimana diriwayatkan oleh Ibnu ‘Abbas, lalu mempelajari Al-Qur’an bersama beliau. Beliau berkata: Yang penting bukanlah sekadar kita membaca Al-Qur’an, tetapi yang penting adalah mempelajarinya bersama-sama. Dalam hadits shahih yang diriwayatkan oleh Imam Muslim, Nabi ‘alaihish shalatu was salam bersabda:
“ما اجتمع قوم في بيت من بيوت الله ليتلون كتاب الله تعالى ويتدارسونه بينهم إلا غشيتهم الرحمة ونزلت عليهم السكينة وحفتهم الملائكة وذكرهم الله في ملأ عنده”
“Tidaklah suatu kaum berkumpul di salah satu rumah Allah untuk membaca Kitab Allah Ta‘ala dan mempelajarinya bersama-sama di antara mereka, melainkan mereka akan diliputi rahmat, ketenangan turun kepada mereka, para malaikat mengelilingi mereka, dan Allah menyebut mereka di tengah makhluk yang berada di sisi-Nya.”
ودعا المسلمين لتلاوة كتاب الله ومدارسته بينهم في ليالي شهر رمضان المبارك.
Beliau mengajak kaum muslimin untuk membaca Kitab Allah dan mempelajarinya bersama-sama pada malam-malam bulan Ramadhan yang diberkahi.
وذكر فضيلته أن القرآن نور تهتدي به العقول والقلوب ودستور ينظم حياة الجماعات والشعوب أنزله الله نوراً كما جاء في قوله تعالى:
Beliau menjelaskan bahwa Al-Qur’an adalah cahaya yang dengannya akal dan hati memperoleh petunjuk, serta merupakan konstitusi yang mengatur kehidupan berbagai kelompok dan bangsa. Allah menurunkannya sebagai cahaya, sebagaimana disebutkan dalam firman-Nya:
(يا أيها الناس قد جاءكم برهان من ربكم وأنزلنا إليكم نوراً مبيناً)
“Wahai manusia, sungguh telah datang kepada kalian bukti dari Tuhan kalian, dan Kami telah menurunkan kepada kalian cahaya yang terang.”
وقال عز وجل:
Dan Allah ‘Azza wa Jalla berfirman:
(فآمنوا بالله ورسوله والنور الذي أنزلنا)
“Maka berimanlah kepada Allah, Rasul-Nya, dan cahaya yang telah Kami turunkan.”
وقال عن الصحابة:
Dan Dia berfirman tentang para shahabat:
(واتبعوا النور الذي أنزل معه)
“Dan mereka mengikuti cahaya yang diturunkan bersamanya.”
وقال:
Dan Dia berfirman:
(قد جاءكم من الله نور وكتاب مبين * يهدي به الله من اتبع رضوانه سبل السلام ويخرجهم من الظلمات إلى النور بإذنه)
“Sungguh telah datang kepada kalian dari Allah cahaya dan Kitab yang menerangkan. Dengan Kitab itu Allah memberi petunjuk kepada orang yang mengikuti keridaan-Nya menuju jalan-jalan keselamatan dan mengeluarkan mereka dari berbagai kegelapan menuju cahaya dengan izin-Nya.”
واستشهد بقول الرافعي أديب العربية: هو نور من الكلام وكلام من النور.
Beliau mengutip perkataan ar-Rafi‘i, sastrawan Arab: “Ia adalah cahaya dari kata-kata, dan kata-kata dari cahaya.”
ويقول البوصيري:
Al-Bushiri berkata:
الله أكبـر إن ديـن محمـــد ** وكتابه أقوى وأقوم قيـلا
Allah Mahabesar, sesungguhnya agama Muhammad
dan Kitabnya adalah yang paling kuat dan paling lurus perkataannya.
لا تذكروا الكتب والسوالف عنده ** طلع الصباح فأطفأ القنديلا
Janganlah kalian menyebut kitab-kitab dan kisah-kisah terdahulu di hadapannya;
fajar telah terbit, maka padamlah lentera.
جواب على الأسئلة الخالدة
Jawaban atas Pertanyaan-Pertanyaan Abadi
وتابع فضيلته قائلاً: إن الله أنزل القرآن إلينا لتهتدي به عقولنا وقلوبنا وليجيب على الأسئلة الخالدة التي حيرت الإنسان من قديم منذ بدأ يفكر في أمر نفسه وأمر مصيره وهي: من أين جئت؟ وإلى أين سأذهب؟ ولماذا جئت؟ ولماذا أعيش بين الحياة والموت؟
Beliau melanjutkan: Sesungguhnya Allah menurunkan Al-Qur’an kepada kita agar akal dan hati kita memperoleh petunjuk dengannya, serta untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan abadi yang sejak dahulu membingungkan manusia, sejak ia mulai memikirkan dirinya dan nasib akhirnya, yaitu: Dari mana aku datang? Ke mana aku akan pergi? Mengapa aku datang? Dan mengapa aku hidup di antara kehidupan dan kematian?
واستعرض د. القرضاوي إجابات القرآن على تلك الأسئلة التي حيرت الإنسان من قديم فقال: “أما من أين جئت فقد جاء بك الله الذي خلقك
Dr. al-Qaradhawi kemudian memaparkan jawaban Al-Qur’an terhadap pertanyaan-pertanyaan yang sejak dahulu membingungkan manusia itu. Beliau berkata: “Adapun pertanyaan, ‘Dari mana aku datang?’ Maka Allah-lah yang menghadirkanmu, Dia yang menciptakanmu:
(يا أيها الإنسان ما غرك بربك الكريم * الذي خلقك فسواك فعدلك * في أي صورة ما شاء ركبك)
“Wahai manusia, apakah yang telah memperdayakanmu terhadap Tuhanmu Yang Mahamulia, yang telah menciptakanmu lalu menyempurnakan kejadianmu dan menjadikan susunan tubuhmu seimbang, dalam bentuk apa pun yang Dia kehendaki, Dia menyusunmu.”
وأول ما نزل من القرآن قوله تعالى:
Dan ayat yang pertama kali turun dari Al-Qur’an adalah firman Allah Ta‘ala:
(اقرأ باسم ربك الذي خلق)
“Bacalah dengan nama Tuhanmu yang menciptakan.”
فالخالقية لله والإنسان مطالب بأن يؤمن بأن هناك رباً خالقه.
Maka penciptaan adalah milik Allah, dan manusia dituntut untuk beriman bahwa ada Tuhan yang telah menciptakannya.
وأما إلى أين؟ فجوابه: إلى الخلود والإنسان لم يخلَق ليعيش أياماً وسنوات ثم ينتهي كما يقول الماديون إن هي إلا أرحام تدفع وأرض تبلع ولا شيء بعد ذلك “نموت ونحيا وما يهلكنا إلا الدهر”.
Adapun pertanyaan, “Ke mana?” Maka jawabannya adalah menuju keabadian. Manusia tidak diciptakan hanya untuk hidup beberapa hari dan beberapa tahun kemudian berakhir, sebagaimana dikatakan oleh kaum materialis: tidak ada selain rahim yang melahirkan dan bumi yang menelan, dan tidak ada sesuatu pun setelah itu: “Kita mati dan kita hidup, dan tidak ada yang membinasakan kita selain masa.”
القرآن يقول للإنسان أنك خلقت للأبد وإنما تنتقل بالموت من دار إلى دار، فالموت ليس نهاية المطاف وإنما هو بداية رحلة جديدة ولذلك قال عز وجل:
Al-Qur’an mengatakan kepada manusia bahwa engkau diciptakan untuk selama-lamanya. Dengan kematian, engkau hanya berpindah dari satu negeri menuju negeri lainnya. Kematian bukanlah akhir perjalanan, melainkan permulaan perjalanan baru. Karena itu Allah ‘Azza wa Jalla berfirman:
(الذي خلق الموت والحياة ليبلوكم أيكم أحسن عملاً)
“Yang menciptakan kematian dan kehidupan untuk menguji kalian, siapa di antara kalian yang paling baik amalnya.”
وأما سؤال لماذا خلقت؟ وما هو هدف الحياة فالجواب عليه: إن الإنسان مخلوق لمهمة وضحها القرآن هي في ثلاثة أهداف:
Adapun pertanyaan, “Mengapa aku diciptakan?” dan “Apakah tujuan kehidupan?” Maka jawabannya adalah: manusia diciptakan untuk suatu tugas yang telah dijelaskan oleh Al-Qur’an dalam tiga tujuan:
-عبادة الله
– Beribadah kepada Allah:
(وما خلقت الجن والإنس إلا ليعبدون)
“Aku tidak menciptakan jin dan manusia kecuali agar mereka beribadah kepada-Ku.”
-خلافة الله في الأرض
– Menjalankan kekhalifahan Allah di bumi:
(وإذ قال ربك للملائكة إني جاعل في الأرض خليفة)
“Dan ketika Tuhanmu berfirman kepada para malaikat: Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di bumi.”
-عمارة الأرض
– Memakmurkan bumi:
(هو أنشأكم من الأرض واستعمركم فيها)
“Dia telah menciptakan kalian dari bumi dan menjadikan kalian sebagai pemakmurnya.”
أي طلب منكم أن تعمروا الأرض.
Artinya, Dia meminta kalian untuk memakmurkan bumi.
وأوضح الشيخ القرضاوي أن الأهداف التي خلق الله الإنسان من أجلها أهداف متكاملة ومتلازمة، فالإنسان بعمارة الأرض يقوم بحق الخلافة وهو بالعمارة والخلافة يقوم بحق العبادة لله وتلك كلها عبادة الله في الأرض.
Syaikh al-Qaradhawi menjelaskan bahwa tujuan-tujuan yang karenanya Allah menciptakan manusia merupakan tujuan-tujuan yang saling melengkapi dan berkaitan satu sama lain. Dengan memakmurkan bumi, manusia menunaikan hak khilafah. Dengan memakmurkan bumi dan menjalankan khilafah, ia menunaikan hak ibadah kepada Allah. Semuanya merupakan ibadah kepada Allah di bumi.
وقال أن القرآن بإجاباته الصريحة عن الأسئلة الخالدة في حياة الإنسان صنع للإنسان عقله المؤمن الذي لا يحتار ولا يضل سبيلا .. يعرف غايته ويعرف طريقه، بعيداً عن حيرة الماديين وريبة وشك الملحدين الذين لا يعرفون لحياتهم هدفاً ولا غاية ولا طريقاً.
Beliau mengatakan bahwa Al-Qur’an, melalui jawaban-jawabannya yang tegas terhadap pertanyaan-pertanyaan abadi dalam kehidupan manusia, membentuk bagi manusia akal yang beriman, yang tidak kebingungan dan tidak tersesat dari jalan. Ia mengetahui tujuannya dan mengetahui jalannya, jauh dari kebingungan kaum materialis serta keraguan dan kebimbangan kaum ateis yang tidak mengetahui tujuan, sasaran, ataupun jalan bagi kehidupan mereka.
وأشار فضيلته إلى أن القرآن يبني عقيدة الإنسان على أساس عقلاني يقيني صحيح لا على هوى ولا على تقليد أعمى.
Beliau juga menunjukkan bahwa Al-Qur’an membangun ‘aqidah manusia di atas landasan rasional yang benar dan meyakinkan, bukan di atas hawa nafsu ataupun taqlid buta.
Bersambung ke bagian berikutnya in sya Allah
Sumber : Situs Dr. Yusuf al-Qaradhawi
Leave a Reply