الحرام حرام على الجميع
Yang Haram adalah Haram bagi Semua
Dr. Yusuf al-Qaradhawi
Alih Bahasa : Reza Ervani bin Asmanu
Artikel Yang Haram adalah Haram bagi Semua ini masuk dalam Kategori Dr. Yusuf Qaradhawi
الحرام في شريعة الإسلام يتسم بالشمول والاطراد، فليس هناك شيء حرام على العجمي حلال للعربي، وليس هناك شيء محظور على الأسود مباح للأبيض، وليس هناك جواز أو ترخيص ممنوح لطبقة أو طائفة من الناس، تقترف باسمه ما طوع لها الهوى، باسم أنهم كهنة أو أحبار أو ملوك أو نبلاء، بل ليس للمسلم خصوصية تجعل الحرام على غيره حلالا له.
Yang haram dalam syari’at Islam bersifat menyeluruh dan berlaku secara konsisten. Tidak ada sesuatu yang haram bagi orang non-Arab tetapi halal bagi orang Arab. Tidak ada sesuatu yang terlarang bagi orang kulit hitam tetapi dibolehkan bagi orang kulit putih. Tidak pula ada kebolehan atau izin yang diberikan kepada suatu kelas atau golongan manusia sehingga, dengan mengatasnamakan izin tersebut, mereka dapat melakukan apa saja yang dikehendaki hawa nafsu mereka dengan alasan bahwa mereka adalah para pendeta, rahib, raja, atau bangsawan. Bahkan seorang muslim pun tidak mempunyai kekhususan yang menjadikan sesuatu yang haram bagi orang lain menjadi halal baginya.
كلا، إن الله رب الجميع، والشرع سيد الجميع، فما أحل الله بشريعته فهو حلال للناس كافة، وما حرم فهو حرام على الجميع إلى يوم القيامة. السَّرقة مثلا حرام، سواء أكان السارق مسلما أم غير مسلم، وسواء أكان المسروق منه مسلما أو غير مسلم، والجزاء لازم للسَّارق أيًّا كان نسبه أو مركزه، وهذا ما صنعه الرسول وما أعلنه:
Tidak. Sesungguhnya Allah adalah Tuhan seluruh manusia, dan syari’at adalah penguasa atas seluruh manusia. Apa yang Allah halalkan melalui syari’at-Nya adalah halal bagi seluruh manusia, dan apa yang Dia haramkan adalah haram bagi semuanya hingga hari Kiamat. Pencurian, misalnya, adalah haram, baik pencurinya seorang muslim maupun bukan muslim, dan baik orang yang dicuri hartanya seorang muslim maupun bukan muslim. Hukuman wajib diberlakukan kepada pencuri, siapa pun nasab atau kedudukannya. Inilah yang dilakukan dan diumumkan oleh Rasulullah:
“وايم الله، لو أن فاطمة بنت محمد سرقت لقطعت يدها”(1)
“Demi Allah, seandainya Fatimah binti Muhammad mencuri, niscaya aku potong tangannya.”1
ولقد حدث في زمن الرسول أن ارتكبت سرقة حامت فيها الشبهة حول يهودي ومسلم، واستطاع بعض أقرباء المسلم أن يثيروا الغبار حول اليهودي ببعض القرائن، ويبعدوا التهمة عن صاحبهم المسلم ـ وهو في الواقع مرتكب السرقة ـ حتى همَّ النبي أن يخاصم عنه، اعتقادا ببراءته، فنزل الوحي الإلهي يفضح الخونة، ويبرئ اليهودي، ويعاتب الرسول، ويضع الحق في نصابه، وذلك قوله سبحانه:
Pada masa Rasulullah pernah terjadi suatu pencurian yang menimbulkan kecurigaan terhadap seorang Yahudi dan seorang muslim. Sebagian kerabat muslim tersebut berhasil mengarahkan kecurigaan kepada orang Yahudi itu dengan mengemukakan beberapa petunjuk, serta menjauhkan tuduhan dari sahabat mereka yang muslim — padahal dialah sebenarnya pelaku pencurian tersebut — hingga Nabi hampir membelanya karena mengira bahwa ia tidak bersalah. Maka turunlah wahyu Ilahi yang membongkar pengkhianatan mereka, menyatakan orang Yahudi itu tidak bersalah, menegur Rasulullah, dan menempatkan kebenaran pada tempatnya. Allah Subhanahu wa Ta‘ala berfirman:
{إِنَّا أَنْزَلْنَا إِلَيْكَ الْكِتَابَ بِالْحَقِّ لِتَحْكُمَ بَيْنَ النَّاسِ بِمَا أَرَاكَ اللَّهُ وَلَا تَكُنْ لِّلْخَائِنِينَ خَصِيمًا (105) وَاسْتَغْفِرِ اللَّهَ إِن اللَّهَ كَانَ غَفُورًا رَحِيمًا (106) وَلَا تُجَادِلْ عَنِ الَّذِينَ يَخْتَانُونَ أَنْفُسَهُمْ إِنَّ اللَّهَ لَا يُحِبُّ مَنْ كَانَ خَوَّانًا أَثِيمًا (107) يَسْتَخْفُونَ مِنَ النَّاسِ وَلَا يَسْتَخْفُونَ مِنَ اللَّهِ وَهُوَ مَعَهُمْ إِذْ يُبَيِّتُونَ مَا لَا يَرْضَى مِنَ الْقَوْلِ وَكَانَ اللَّهُ بِمَا يَعْمَلُونَ مُحِيطًا (108) هَا أَنْتُمْ هَؤُلَاءِ جَادَلْتُمْ عَنْهُمْ فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا فَمَنْ يُجَادِلُ اللَّهَ عَنْهُمْ يَوْمَ الْقِيَامَةِ أَمْ مَنْ يَكُونُ عَلَيْهِمْ وَكِيلًا} (النساء:105 – 109)
“Sesungguhnya Kami telah menurunkan Kitab kepadamu dengan membawa kebenaran, agar engkau mengadili antara manusia berdasarkan apa yang telah Allah perlihatkan kepadamu, dan janganlah engkau menjadi pembela bagi orang-orang yang berkhianat. Dan mohonlah ampun kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. Dan janganlah engkau berdebat untuk membela orang-orang yang mengkhianati diri mereka sendiri. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang yang selalu berkhianat lagi bergelimang dosa. Mereka bersembunyi dari manusia, tetapi mereka tidak dapat bersembunyi dari Allah, padahal Dia bersama mereka ketika pada malam hari mereka menetapkan perkataan yang tidak diridai-Nya. Dan Allah Maha Meliputi apa yang mereka kerjakan. Demikianlah, kalian adalah orang-orang yang membela mereka dalam kehidupan dunia. Maka siapakah yang akan membela mereka di hadapan Allah pada hari Kiamat? Atau siapakah yang akan menjadi pelindung bagi mereka?” (An-Nisa’: 105–109)
لقد زعمت اليهودية المحرَّفة أن الرِّبا حرام على اليهودي إذا أقرض أخاه اليهودي، أما غير اليهودي فلا بأس بإقراضه بالربا، هكذا يقول سفر تثنية الاشتراع (33: 19) “لا تقرض أخاك بربا فضة أو ربا طعام أو ربا شيء مما يقرض بربا، للأجنبي تقرض بربا، ولكن لأخيك لا تقرض بربا”.
Yudaisme yang telah mengalami penyimpangan mengklaim bahwa riba haram bagi seorang Yahudi apabila ia memberikan pinjaman kepada saudaranya sesama Yahudi. Adapun kepada orang non-Yahudi, tidak mengapa memberikan pinjaman dengan riba. Demikian disebutkan dalam Kitab Ulangan (33:19): “Janganlah engkau meminjamkan kepada saudaramu dengan riba, baik riba uang, riba makanan, maupun riba atas sesuatu yang dipinjamkan dengan riba. Kepada orang asing engkau boleh meminjamkan dengan riba, tetapi kepada saudaramu janganlah engkau meminjamkan dengan riba.”
وقد حكى القرآن عنهم مثل هذه النزعة، حيث استباحوا الخيانة مع غير أبناء جنسهم وملتهم، ولم يروا في ذلك حرجًا ولا إثما. وفي ذلك يقول القرآن:
Al-Qur’an telah menceritakan kecenderungan semacam ini pada diri mereka, yaitu bahwa mereka menganggap pengkhianatan terhadap orang-orang yang bukan dari bangsa dan agama mereka sebagai sesuatu yang diperbolehkan, dan mereka tidak melihat adanya kesalahan ataupun dosa dalam hal tersebut. Mengenai hal itu Al-Qur’an berfirman:
{وَمِنْهُمْ مَنْ إِنْ تَامَنْهُ بِدِينَارٍ لَا يُؤَدِّهِ إِلَيْكَ إِلَّا مَا دُمْتَ عَلَيْهِ قَائِمًا ذَلِكَ بِأَنَّهُمْ قَالُوا لَيْسَ عَلَيْنَا فِي الْأُمِّيِّينَ سَبِيلٌ وَيَقُولُونَ عَلَى اللَّهِ الْكَذِبَ وَهُمْ يَعْلَمُونَ} (آل عمران:75)
“Dan di antara mereka ada orang yang jika engkau mempercayakan kepadanya satu dinar, dia tidak akan mengembalikannya kepadamu kecuali jika engkau terus-menerus menagihnya. Yang demikian itu karena mereka berkata, ‘Tidak ada dosa bagi kami terhadap orang-orang ummi.’ Mereka mengatakan kebohongan terhadap Allah, padahal mereka mengetahui.” (Ali ‘Imran: 75)
نعم يقولون على الله الكذب؛ لأن شريعته لا تفرق بين قوم وقوم، وقد حرم الخيانة على لسان رسله وأنبيائه.
Benar, mereka mengatakan kebohongan terhadap Allah; karena syari’at-Nya tidak membeda-bedakan antara satu kaum dengan kaum lainnya, dan Dia telah mengharamkan pengkhianatan melalui lisan para rasul dan nabi-Nya.
ويؤسفنا أن هذه النزعة الإسرائيلية نزعة همجية بدائية، لا تليق أن تنسب إلى دين سماوي، فإن الأخلاق الفاضلة؛ بل الأخلاق الحقة هي التي تتسم بالإطلاق والشمول، فلا تحل لهذا ما تحرم على ذاك. والفرق بيننا وبين البدائيين إنما هو اتساع الدائرة الخُلُقية، لا في وجودها وعدمها، فالأمانة مثلا كانت عندهم خصلة محمودة، ولكنها خاصة بأبناء القبيلة بعضهم مع بعض، فإذا خرج الأمر عن نطاق القبيلة أو العشيرة جازت الخيانة؛ بل استحبت أو وجبت.
Sungguh disayangkan bahwa kecenderungan Israel semacam ini merupakan kecenderungan biadab dan primitif yang tidak pantas dinisbatkan kepada agama samawi. Sebab akhlak yang utama — bahkan akhlak yang sejati — adalah akhlak yang bercirikan kemutlakan dan keluasan cakupan; tidak menghalalkan bagi seseorang apa yang diharamkannya bagi orang lain. Perbedaan antara kita dan masyarakat primitif hanyalah pada luasnya lingkup moral, bukan pada ada atau tidak adanya moral tersebut. Amanah, misalnya, bagi mereka merupakan sifat yang terpuji, tetapi hanya berlaku di antara sesama anggota kabilah. Apabila urusannya keluar dari lingkungan kabilah atau suku, maka pengkhianatan menjadi boleh; bahkan dianggap dianjurkan atau diwajibkan.
قال صاحب “قصة الحضارة”: (إن كل الجماعات البشرية تقريبا تكاد تتفق في عقيدة كل منها بأن سائر الجماعات أحط منها، فالهنود الأمريكيون يعدون أنفسهم شعب الله المختار، خلقهم “الروح الأعظم” خاصة ليكونوا مثالا يرتفع إليه البشر.
Penulis Qishshat al-Hadharah berkata: “Hampir seluruh kelompok manusia memiliki kesamaan dalam keyakinan masing-masing bahwa kelompok-kelompok lainnya lebih rendah daripada mereka. Orang-orang Indian Amerika menganggap diri mereka sebagai bangsa pilihan Tuhan, yang secara khusus diciptakan oleh ‘Roh Agung’ agar menjadi teladan luhur yang dituju oleh umat manusia.
وقبيلة من القبائل الهندية تطلق على نفسها (الناس الذين لا ناس سواهم)، وأخرى تطلق على نفسها (الناس بين الناس). وقال الكاربيون: (نحن وحدنا الناس) … ونتيجة ذلك أن الإنسان البدائي لم يكن يدور في خلده أن يعامل القبائل الأخرى؛ ملتزما نفس القيود الخلقية التي يلتزم في معاملته لبني قبيلته، فهو صراحة يرى أن وظيفة الأخلاق هي تقوية جماعته، وشد أزرها تجاه سائر الجماعات، فالأوامر الخلقية والمحرمات لا تنطبق إلا على أهل قبيلته، أما الآخرون فما لم يكونوا ضيوفه، فمباح له أن يذهب في معاداتهم إلى الحد المستطاع) .
Salah satu kabilah Indian menyebut dirinya “manusia yang tidak ada manusia selain mereka”, sedangkan kabilah lainnya menyebut dirinya “manusia di antara manusia”. Orang-orang Karibia berkata, “Hanya kami yang merupakan manusia” … Akibatnya, manusia primitif tidak pernah terpikir untuk memperlakukan kabilah-kabilah lain dengan tetap mematuhi batasan-batasan moral yang sama seperti yang ia patuhi ketika berinteraksi dengan anggota kabilahnya sendiri. Secara terus terang ia memandang bahwa fungsi moral adalah memperkuat kelompoknya dan menopangnya dalam menghadapi kelompok-kelompok lain. Karena itu, perintah-perintah moral dan berbagai larangan hanya berlaku bagi anggota kabilahnya. Adapun orang-orang lain, selama mereka bukan tamunya, maka ia diperbolehkan memusuhi mereka sejauh yang mampu dilakukannya.”
………….
………….
*من كتاب “الحلال والحرام في الإسلام” لفضيلة الشيخ.
*Dari kitab Al-Halal wa al-Haram fi al-Islam karya Fadhilatusy Syaikh.
Sumber : Situs Dr. Yusuf al-Qaradhawi
Leave a Reply