الفصل بين النفس والعقل
Al-Fashl baina An-Nafs wa Al-‘Aql — Pemisahan antara Jiwa dan Akal (Bagian Pertama)
Alih Bahasa : Reza Ervani bin Asmanu
Artikel Al-Fashl baina An-Nafs wa Al-‘Aql — Pemisahan antara Jiwa dan Akal ini masuk dalam Kategori Syaikh Abdul Aziz Marzuq ath-Tharify
بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ
Dengan nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang.
المقدمة
Mukadimah
الحمد لله مستحق الحمد كله، والصلاة والسلام على النبي المصطفى، أما بعد:
Segala puji bagi Allah yang berhak atas seluruh pujian, serta shalawat dan salam semoga tercurah kepada Nabi yang terpilih. Amma ba‘du:
فإن عقول الأصحاء تتفق في خلق الله لها، ولكنه جعل الاختلاف في نفوسهم وميولها ورغباتها،
Sesungguhnya akal orang-orang yang sehat memiliki kesamaan dalam penciptaan Allah terhadapnya, tetapi Dia menjadikan perbedaan pada jiwa mereka, kecenderungan-kecenderungannya, dan keinginan-keinginannya.
والعقل لم يخلق ليشتهي؛ ولكنه خلق ليدل ويهدي ويفكر ويرى صاحبه الطريق،
Akal tidak diciptakan untuk bernafsu; tetapi ia diciptakan untuk menunjukkan, memberi petunjuk, berpikir, dan memperlihatkan jalan kepada pemiliknya.
والنفس خلقت لتشتهي وتهوى وترغب، تحب وتكره، وتفرح وتحزن، وترضى وتغضب،
Adapun jiwa diciptakan untuk berkeinginan, mengikuti hawa, dan menghendaki; mencintai dan membenci; bergembira dan bersedih; merasa ridha dan marah.
والعقل يريها الصحيح والخطأ، ويميز لها بين الشر والخير، والنافع والضار من طبائعها وشهواتها وأعراضها،
Akal memperlihatkan kepadanya mana yang benar dan mana yang salah, serta membedakan baginya antara keburukan dan kebaikan, yang bermanfaat dan yang membahayakan, dari tabiat-tabiat, syahwat-syahwat, dan keadaan-keadaan yang muncul padanya.
وذلك بحسب ما في العقل من علم ومعرفة وخبرة وتجربة في هذه الحياة.
Hal itu sesuai dengan kadar ilmu, pengetahuan, pengalaman, dan berbagai percobaan hidup yang terdapat pada akal dalam kehidupan ini.
وإذا اهتمت النفس بشيء؛ طوعت العقل ليسيره إليها،
Apabila jiwa menaruh perhatian kepada sesuatu, ia menundukkan akal agar berjalan menuju kepadanya.
فيتكلم المتحدثون أمام الألوف وتجري الأقلام، ومساحة المخاطبين في نفوسهم غير المساحة الحقيقية؛
Maka para pembicara berbicara di hadapan ribuan orang dan pena-pena pun menulis, sementara ruang orang-orang yang mereka ajak bicara di dalam jiwa mereka tidak sama dengan ruang yang sebenarnya.
فمن النفوس من تتكلم وتكتب وهي تستحضر شخصاً واحداً، وبعضها شخصين، وبعضها ثلاثة، وبعضها حزباً وجماعة، وبعضها قبيلة،
Di antara jiwa ada yang berbicara dan menulis sambil menghadirkan satu orang saja dalam benaknya; sebagian menghadirkan dua orang, sebagian tiga orang, sebagian sebuah kelompok dan jamaah, dan sebagian lagi sebuah kabilah.
ويستحضر بعضهم مصلحة خاصة به وتحقيق طمع خاص،
Sebagian dari mereka menghadirkan suatu kepentingan khusus bagi dirinya dan pencapaian suatu ambisi tertentu.
فاختزل جميع السامعين والقراء والأجيال المتعاقبة التي يمكن أن تقرأ له أو تستمع إليه – في حيز ضيق، أو مصلحة أو شهوة خاصة،
Dengan demikian, seluruh pendengar, pembaca, dan generasi-generasi yang datang silih berganti yang mungkin membaca tulisannya atau mendengarkan perkataannya, semuanya dipersempit ke dalam sebuah ruang yang sempit, suatu kepentingan tertentu, atau suatu syahwat khusus.
وهكذا تقيد النفوس العقول وتسوقها وتوجهها،
Demikianlah jiwa membelenggu akal, menggiringnya, dan mengarahkannya.
وإذا قويت النفس ضيقت واسعة؛ حتى تجمع العقل الواسع وتدخله في ثقب إبرة؛ لأن النفس تتنفس منها.
Apabila jiwa menjadi kuat, ia menyempitkan sesuatu yang luas, hingga menghimpit akal yang luas dan memasukkannya ke dalam lubang jarum; karena dari situlah jiwa tersebut bernapas.
وإذا لم يعرف الإنسان رغبة نفسه ومعرفة عقله، ولم يميز بين حقيقتهما، ومقدار كل واحد منهما أمام الآخر، اختلطت عليه الآراء بالأهواء،
Apabila seseorang tidak mengetahui keinginan jiwanya dan pengetahuan akalnya, serta tidak mampu membedakan hakikat keduanya dan kadar masing-masing di hadapan yang lain, maka berbagai pendapat akan bercampur baginya dengan hawa nafsu.
وأصبح يسير ويمشي في هذه الحياة لمجرد وجود دافع داخلي فيه، ولو لم يعرف حقيقة هذا الدافع.
Ia pun berjalan dan melangkah dalam kehidupan ini hanya karena adanya suatu dorongan di dalam dirinya, meskipun ia tidak mengetahui hakikat dorongan tersebut.
والنفس لها حق محدود، وفيها غريزة تحتاج إلى تحقيقها،
Jiwa memiliki hak yang terbatas, dan di dalamnya terdapat naluri yang membutuhkan pemenuhan.
ولكن العقل يعرف مقاديرها وأنواعها، ومصالحها ومنافعها،
Akan tetapi, akal mengetahui kadar-kadarnya, jenis-jenisnya, kemaslahatan-kemaslahatannya, dan manfaat-manfaatnya.
والعقل يحتاج إلى علم ومعرفة وخبرة؛ حتى يعرف ما للنفس عليه من حقوق فيحسن قيادتها وضبطها وسياستها،
Akal membutuhkan ilmu, pengetahuan, dan pengalaman agar mengetahui hak-hak jiwa yang menjadi tanggungannya, sehingga ia dapat memimpin, mengendalikan, dan mengaturnya dengan baik.
والنفس تمطي العقل الجاهل قليل الخبرة،
Jiwa menunggangi akal yang bodoh dan sedikit pengalamannya.
وأما العقل العالم كثير الخبرة، فإنه يقود النفس ويسيرها خلفه.
Adapun akal yang berilmu dan banyak pengalamannya, maka ia memimpin jiwa dan membuatnya berjalan di belakangnya.
والنفوس قد تكون قوية الشراهة والنهم، وقد تكون ضعيفة،
Jiwa terkadang sangat kuat kerakusan dan ketamakannya, dan terkadang lemah.
والعقول قد تكون كثيرة العلم والمعرفة طويلة التجربة، وقد تكون قليلة علم، قصيرة خبرة؛
Akal terkadang memiliki banyak ilmu dan pengetahuan serta pengalaman yang panjang, dan terkadang hanya memiliki sedikit ilmu dan pengalaman yang singkat.
ونفس الشاب ليست كنفس الشيخ الكبير؛ ولهذا غالباً يكون الإنسان في أول حياته ذا نفس قوية شرهة، وعلم قليل، وخبرة قصيرة،
Jiwa seorang pemuda tidaklah seperti jiwa seorang syaikh yang telah lanjut usia. Karena itu, pada awal kehidupannya seseorang biasanya memiliki jiwa yang kuat dan rakus, ilmu yang sedikit, serta pengalaman yang singkat.
وعكسه الشيخ الكبير؛ فتأثير نفوس الكبار في عقولهم أقل ممن دونهم،
Keadaan seorang syaikh yang telah lanjut usia adalah kebalikannya. Pengaruh jiwa orang-orang yang lebih tua terhadap akal mereka lebih sedikit daripada orang-orang yang lebih muda daripada mereka.
ما لم تطبعهم النفوس على أخطائها حتى صورتها مع الزمن بصورة الصواب، فيتيقنون عليها،
Hal itu selama jiwa tidak membiasakan mereka dengan kesalahan-kesalahannya, hingga seiring berjalannya waktu jiwa menggambarkan kesalahan-kesalahan itu dalam rupa kebenaran, lalu mereka menjadi yakin terhadapnya.
ليس لأنها أخطاء وأهواء؛ وإنما لأنها صواب،
Bukan karena mereka memandangnya sebagai kesalahan dan hawa nafsu, tetapi karena mereka memandangnya sebagai kebenaran.
أو كانت الشهوة آسرة كشهوة الجاه،
Atau karena syahwat tersebut telah menawan dirinya, seperti syahwat terhadap kedudukan.
وأما الشبان فإن تأثير نفوسهم في عقولهم أكثر ممن هو أكبر منهم سناً،
Adapun para pemuda, pengaruh jiwa mereka terhadap akal mereka lebih besar daripada orang-orang yang lebih tua usianya daripada mereka.
وهكذا يكون كذلك تأثير النفس في العالم أقل من الجاهل، وفي الخبير أقل من غير الخبير؛
Demikian pula, pengaruh jiwa terhadap orang yang berilmu lebih sedikit daripada terhadap orang yang bodoh, dan terhadap orang yang berpengalaman lebih sedikit daripada terhadap orang yang tidak berpengalaman.
لأن حقيقة قوة العقل ليست في مجرد مرور الزمن؛ وإنما لما يمر على الإنسان فيه عادة من علم وتجارب.
Sebab hakikat kekuatan akal bukanlah semata-mata karena berlalunya waktu, tetapi karena ilmu dan berbagai pengalaman yang biasanya dilalui manusia selama waktu tersebut.
والعلم في أصله أفضل من الخبرة، ولكن قلة العلم مع كثرة الخبرة أنفع للإنسان من كثرة العلم بلا خبرة؛
Pada asalnya, ilmu lebih utama daripada pengalaman. Akan tetapi, sedikit ilmu yang disertai banyak pengalaman lebih bermanfaat bagi manusia daripada banyak ilmu tanpa pengalaman.
لأن العلم إذا وضع في غير موضعه ضار، وربما يكون أضر من الجهل؛
Sebab ilmu apabila ditempatkan bukan pada tempatnya akan membahayakan, bahkan terkadang lebih berbahaya daripada kebodohan.
لأن العلم دواء، وترك المريض بلا دواء أفضل له من إعطائه علاجاً ليس لمرضه،
Sebab ilmu adalah obat, sedangkan membiarkan orang sakit tanpa obat lebih baik baginya daripada memberinya pengobatan yang bukan untuk penyakitnya.
فقد يهلك المريض بالدواء وهو دواء، ويهلك الجاهل بالعلم وهو علم.
Orang sakit dapat binasa karena obat, padahal itu memang obat; dan orang bodoh dapat binasa karena ilmu, padahal itu memang ilmu.
وجميع المؤثرات في العقل التي تجعله يخطئ في المدركات الممكنة – تدخل إليه من النفس؛ فهي البوابة لكل تأثير فيه،
Seluruh faktor yang memengaruhi akal dan membuatnya keliru dalam perkara-perkara yang dapat dipahami masuk kepadanya melalui jiwa; karena jiwa adalah pintu bagi setiap pengaruh yang masuk ke dalam akal.
ولكن المؤثرات متعددة الأنواع متكاثرة الجنس، لا تعد ولا تحصى في كتاب كهذا،
Akan tetapi, faktor-faktor yang memengaruhi itu beraneka ragam jenisnya dan sangat banyak macamnya; tidak mungkin dihitung dan dibatasi dalam sebuah kitab seperti ini.
ولكن لكل مجموعة منها وصف جامع يجمعها.
Namun setiap kelompok darinya memiliki suatu sifat umum yang menghimpunnya.
والمؤثرات تغطي بصيرة العقل فلا يستطيع رؤية المسارات كما هي، ولا التمييز بينها،
Faktor-faktor yang memengaruhi itu menutupi pandangan batin akal sehingga ia tidak mampu melihat berbagai jalan sebagaimana adanya dan tidak mampu membedakan antara satu dengan yang lainnya.
كما أن غطاء العين يحجب عنه بصيرة النظر فلا يستطيع رؤية الأشياء، ولا التمييز بينها.
Sebagaimana penutup mata menghalangi daya penglihatan sehingga seseorang tidak mampu melihat berbagai benda dan tidak mampu membedakan antara satu dengan yang lainnya.
Bersambung ke bagian berikutnya
Sumber : Kitab Al-Fashl baina An-Nafs wa Al-‘Aql — الفصل بين النفس والعقل, karya Syaikh ‘Abdul ‘Aziz bin Marzuq Ath-Tharifi.
Leave a Reply