Al-Fashl baina An-Nafs wa Al-‘Aql — Pemisahan antara Jiwa dan Akal (2)



الفصل بين النفس والعقل

Al-Fashl baina An-Nafs wa Al-‘Aql — Pemisahan antara Jiwa dan Akal (Bagian 2)

Alih Bahasa : Reza Ervani bin Asmanu

Artikel Al-Fashl baina An-Nafs wa Al-‘Aql — Pemisahan antara Jiwa dan Akal — Bagian 2 ini masuk dalam Kategori Syaikh Abdul Aziz Marzuq ath-Tharify

تمكُّن العقل والنفس

Dominasi Akal dan Jiwa

والنفس متمكنة في الإنسان أكثر من العقل؛ فقد يعيش الإنسان بنفس بلا عقل كما يعيش الحيوان، ولكنه لا يعيش بعقل بلا نفس،

Jiwa lebih kuat keberadaannya dalam diri manusia daripada akal; manusia dapat hidup dengan jiwa tanpa akal sebagaimana hewan hidup, tetapi ia tidak dapat hidup dengan akal tanpa jiwa.

ولكن في العقل من الدراية والسياسة وتقبُّل العلم – ما ليس في النفس من التحايل والمكر وتقبُّل التمرد؛

Akan tetapi, pada akal terdapat kemampuan memahami, mengatur, dan menerima ilmu; sedangkan pada jiwa terdapat kemampuan untuk bersiasat, melakukan tipu daya, dan menerima pembangkangan.

ولأجل هذا جرى التكليف على العقلاء مهما كانت طبائع نفوسهم؛ حادة أو رقيقة، عجلة أو متأنية، شديدة أو ضعيفة،

Karena itulah pembebanan syariat berlaku atas orang-orang yang berakal, apa pun tabiat jiwa mereka; apakah keras atau lembut, tergesa-gesa atau tenang, kuat atau lemah.

ومهما كانت شهوات نفوسهم ونهمها وشرهها إليها، وتتحد عقولهم في التكليف، ولكن يختلفون في مقدار المؤاخذة عليه بحسب ما في نفوسهم.

Apa pun syahwat jiwa mereka, ketamakannya, dan kerakusannya terhadap syahwat tersebut, akal mereka memiliki kedudukan yang sama dalam hal pembebanan syariat. Akan tetapi, mereka berbeda dalam kadar pertanggungjawaban atasnya sesuai dengan apa yang terdapat dalam jiwa mereka.

العقل المكلَّف

Akal yang Menjadi Dasar Taklif

والعقل الذي يحتاج إليه في معرفة التكاليف والعمل بها هو حد يشترك فيه جميع العقلاء؛

Akal yang diperlukan untuk mengetahui berbagai kewajiban syariat dan mengamalkannya adalah kadar akal yang dimiliki bersama oleh seluruh orang yang berakal.

لأن التكاليف الإلهية على الإنسان لا تحتاج إلى ما زاد عما يشترك فيه العقلاء،

Sebab berbagai pembebanan dari Allah atas manusia tidak membutuhkan kemampuan akal yang melebihi kadar yang dimiliki bersama oleh seluruh orang yang berakal.

وأما حدة الذكاء والحدق، فهذا قدر زائد عن التكليف؛

Adapun ketajaman kecerdasan dan kecakapan, maka hal itu merupakan kemampuan tambahan di luar batas yang diperlukan untuk taklif.

ولأجل هذا ابتدأ التكليف على البالغ في سن الخامسة عشرة كما هو على ابن الستين،

Karena itulah taklif mulai berlaku atas orang yang telah baligh pada usia lima belas tahun sebagaimana ia juga berlaku atas orang yang berusia enam puluh tahun.

ولكنه كلما زاد عمراً، ازداد مؤكدات وعظات، وتساقطت منه الأعذار مع كل شبر علم وخطوة خبرة،

Akan tetapi, semakin bertambah usianya, semakin bertambah pula berbagai penegasan dan pelajaran baginya, dan semakin berguguran alasan-alasannya seiring setiap bertambahnya ilmu dan setiap langkah pengalaman.

وفي هذا يروى في الخبر: «إنما يجازى العباد على قدر عقولهم» (١)،

Dalam hal ini diriwayatkan sebuah riwayat: إِنَّمَا يُجَازَى الْعِبَادُ عَلَى قَدْرِ عُقُولِهِمْ — “Sesungguhnya para hamba diberi balasan sesuai dengan kadar akal mereka.” (1)

ورُوي من قول غير واحد من السلف؛ كالحسن البصري وغيره.

Hal tersebut juga diriwayatkan sebagai perkataan lebih dari seorang dari kalangan Salaf, seperti Al-Hasan Al-Bashri dan yang lainnya.

(١) شعب الإيمان (٤٦٤٠)، وحلية الأولياء (٣/٢٢٢)، ومسند الحارث (٢/٨٠٤).

(1) Syu‘ab Al-Iman (4640), Hilyat Al-Auliya’ (3/222), dan Musnad Al-Harits (2/804).

العقول الذكية، والنفوس القوية

Akal yang Cerdas dan Jiwa yang Kuat

والذكاء قوة عقلية، كالشدة قوة بدنية، وكلاهما تزيد بالتمرس،

Kecerdasan adalah kekuatan akal, sebagaimana kekuatan fisik merupakan kekuatan badan. Keduanya dapat bertambah dengan latihan dan pembiasaan.

ولكل قوة أسباب زيادتها في الإنسان، تزيد في أشخاص، وتنقص في آخرين،

Setiap kekuatan memiliki sebab-sebab yang membuatnya bertambah pada manusia; ia bertambah pada sebagian orang dan berkurang pada sebagian yang lain.

والحد المطلوب في تكليف عقل الإنسان هو كالمشي لجسمه لحصول سعيه لكسب الرزق،

Batas kemampuan akal yang diperlukan bagi manusia dalam taklif adalah seperti kemampuan berjalan bagi tubuhnya agar ia dapat berusaha mencari rezeki.

وما زاد عن ذلك من الجري والركض قدر زائد ومواهب،

Adapun kemampuan yang melebihi hal tersebut, seperti berlari dan berlari cepat, merupakan kemampuan tambahan dan anugerah.

كذلك في العقول: ما يزيد فيها عن حد التكليف قدر زائد ومواهب.

Demikian pula pada akal: kemampuan yang melebihi batas yang diperlukan untuk taklif merupakan kemampuan tambahan dan anugerah.

والنفس القوية تحدد هواها وشهوتها للعقل الضعيف كما يحدد الرامي الصيد،

Jiwa yang kuat menentukan hawa dan syahwatnya bagi akal yang lemah sebagaimana seorang pemanah menentukan buruannya.

ثم تأمره بتدبير الوصول إليه، وتسهل الطريق وتذلله،

Kemudian jiwa memerintahkan akal untuk merancang cara mencapainya, memudahkan jalan menuju kepadanya, dan menundukkan berbagai rintangannya.

وبمقدار خبرة العقل ومعرفته تكون قوة أدلته واستخداماته؛ ليحقق للنفس مرادها من غير تأنيب الضمير ولا مواجهة لوم أو معارضة من الغير،

Sesuai dengan kadar pengalaman dan pengetahuan akal, demikian pula kekuatan dalil dan cara penggunaannya; agar ia dapat mewujudkan keinginan jiwa tanpa menghadapi teguran hati nurani, celaan, ataupun penentangan dari pihak lain.

وبمقدار المواجهة تكون مهمة العقل شاقة،

Semakin besar perlawanan yang dihadapinya, semakin berat pula tugas akal.

فإذا كانت العقبات بين النفس وهواها وشهواتها عقبات دينية احتاجت إلى استعمال أدلة دينية،

Apabila penghalang antara jiwa dengan hawa dan syahwatnya merupakan penghalang agama, maka jiwa membutuhkan penggunaan dalil-dalil agama.

وإن كانت فكرية أو سياسية، احتاجت إلى ما يحميها من براهين الفكر وتجارب السياسة؛

Apabila penghalang tersebut bersifat pemikiran atau politik, maka jiwa membutuhkan sesuatu yang dapat melindunginya berupa argumentasi pemikiran dan pengalaman politik.

فالنفس تستبد وتأطر العقل على استخدام الأدلة والبراهين المناسبة للحال،

Maka jiwa bertindak sewenang-wenang dan memaksa akal untuk menggunakan dalil dan argumentasi yang sesuai dengan keadaan.

كما يستخدم المحارب السلاح بمقدار قوة خصمه ونوع سلاحه.

Sebagaimana seorang pejuang menggunakan senjata sesuai dengan kadar kekuatan lawannya dan jenis senjata yang digunakannya.

وهذا الاستخدام للحماية من أمرين:

Penggunaan tersebut bertujuan memberikan perlindungan dari dua perkara:

الأول: حماية للنفس من تأنيب الضمير،

Pertama: melindungi jiwa dari teguran hati nurani.

وهذا تكون الحاجة إليه بمقدار ما في الإنسان من نفس لوامة حية، وبمقدار ما في عقله من علم وخبرة، وبمقدار ما في القلب من إيمان،

Kebutuhan terhadap perlindungan ini sesuai dengan kadar hidupnya nafs lawwamah dalam diri seseorang, kadar ilmu dan pengalaman yang terdapat pada akalnya, serta kadar keimanan yang terdapat dalam hatinya.

وربما لا تحتاج النفس إلى ما يحميها من لوم الضمير؛ وذلك إذا كان الضمير ميتاً، ولوم النفس منزوعاً، والإيمان في القلب شديد الضعف أو مفقوداً.

Boleh jadi jiwa tidak membutuhkan sesuatu untuk melindunginya dari celaan hati nurani; yaitu apabila hati nurani telah mati, kemampuan jiwa untuk mencela dirinya sendiri telah tercabut, dan keimanan di dalam hati sangat lemah atau bahkan telah hilang.

Bersambung ke bagian berikutnya

Sumber : Kitab Al-Fashl baina An-Nafs wa Al-‘Aql — الفصل بين النفس والعقل, karya Syaikh ‘Abdul ‘Aziz bin Marzuq Ath-Tharifi.



Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*


This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.